Minggu, 09 September 2007

Pesta Piyama Anak 90an



Sleepover (pesta menginap) atau Pajamas Party (pesta sebelum tidur), bisa jadi bukanlah sekedar pesta. Baik Sleepover maupun Pajamas Party adalah dua jenis pesta yang bisa dibilang mirip; identik dengan curhat – curhatan, main kartu dan yang tak kalah serunya tentu saja Truth or Dare – spin d bottle.

Pajamas party tidak harus melulu pakai piyama. Dalam aktivitas ini yang penting keakrabannya. kegiatan seperti ini bisa juga disebut private party karena biasanya yang terlibat adalah sekumpulan saudara atau sahabat. Meski pesta identik dengan hura – hura, kedua pesta ini pada dasarnya bisa memperdalam brotherhood dan humanity. Intinya bisa dijadikan salah satu cara untuk menyeimbangkan pola hidup. Ya contohnya esensi dari dua pesta ini bisa melatih kecerdasan emosi kita, how could it be so??

Dulu ketika penulis, juga saudara-saudara sepupu masih berusia anak-anak, orang tua kami sering membawa kami menginap ke rumah sepupu saat malam Minggu tiba dan begitu pula bergantian dengan mereka yang menginap di rumah kami. banyak acara seru yang kami buat seperti membangun kemah – kemahan di bawah pohon mangga depan rumah. Waktu itu rasanya seperti sudah membuat sebuah petualangan saja. Di dalam kemah yang kami buat dari sarung dan selimut itu, sudah disiapkan berbagai macam jajanan dari warung dekat rumah, sebut saja Anak Mas, Krip-Krip, Wafer Superman dan banyak lagi jajanan khas anak 90an. Kami juga main tebak – tebakan, ular tangga, monopoli dan sejenisnya.

Ketika waktu mulai menunjukkan lewat jam sembilan malam, orang tua kami mulai cerewet untuk mengingatkan kami segera cuci muka, sikat gigi dan kemudian tidur, Namun pesta tetap saja berlanjut; gebuk bantal, dan tidak akan berhenti kalau ibu/ tante/ bude membuka pintu kamar sambil mengomel. Meski demikian, acara menginap tetap saja ada hampir tiap minggu dan berhenti dengan sendirinya seiring dengan bertambahnya usia dan meningkatnya kedewasaan kami.

Generasi 90an memang sudah mulai bergaul dengan gadget yang terkenal di masa-nya seperti game watch atau Tamagotchi. Namun aktivitas bersosialisasi secara tradisional masih mendominasi saat itu. Jadi, memori tahun 90an apa yang paling Anda ingat?

Minggu, 12 Agustus 2007

Semangat Moo-Goong-Hwa Dalam Kanggangsuwollae


(The 3rd Winner in the National Essay Competition about Korea 2005)
Tak terbayangkan bila hidup ini tanpa warna dan aroma. Bunga merupakan hasil ciptaan Tuhan yang memberikan warna sekaligus aroma yang dapat menambah cantiknya dunia. Bungapun dapat memberikan semangat bagi para pecintanya tak terkecuali bangsa Korea yang menganggap Moo-goong-hwa sebagai bunga kebangsaan.
     Sebagai bunga yang berkembang di negara beriklim sedang seperti Korea, Moo-goong-hwa mempunyai banyak ciri khusus. Bunga dengan mahkota lebar berwarna merah muda dan serbuk sari ke-oranyean ini mampu mekar selama lebih dari tiga bulan. Berbeda dengan bunga lain yang apabila rontok akan menjadi sampah kering yang tidak sedap dipandang, Moo-goong-hwa sebelum gugur akan mengatupkan mahkotanya dan setelah gugur akan tetap indah bagi bangsa Korea. Ternyata tidak hanya karisma dan keindahan saja yang dimiliki oleh Moo-goong-hwa. Bunga kebangsaan ini juga memiliki khasiat yang manjur sebagai bahan obat – obatan yang membuatnya terkenal sebagai ramuan dari timur.
     Jenis tanaman yang mempunyai sebutan Rose of Sharon atau bunga yang berkembang selamanya ini merupakan pemacu semangat bagi bangsa Korea. Bunga yang dapat mekar hingga lebih dari serauts hari selama akhir musim semi hingga awal musim gugur (akhir Juli hingga awal Oktober) ini, oleh rakyat Korea dianggap memiliki karakteristik yang mirip dengan mereka. Kemiripan karakter itu adalah mampu “bertahan” di masa “penderitaan”. Filosofi tersebut hingga saat ini membuat bunga yang mempunyai nama botani Hibiscus Syriacus L ini begitu berarti bagi bangsa Korea. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Jepang sebagai penjajah Korea selama tiga puluh lima tahun (1910 -1945) untuk meredupkan semangat patriotik rakyat Korea di masa itu, yaitu dengan usaha pemusnahan bunga Moo-goong-hwa. Harapan bangsa Korea pada masa itu hampir pupus karena hampir punahnya bunga yang mereka cintai ini. Di sisi lain rakyat Korea tetap memiliki usaha untuk terus mengobarkan semangat perlawanan melalui berbagai macam media. Dengan membawa semangat Moo-goong-hwa, mereka juga berjuang melalui meda kesenian.
     Kanggangsuwollae, tarian yang sarat akan keindahan dan kekuatan seperti Moo-goong-hwa telah tampil sebagai wujud perjuangan bangsa Korea. Kanggangsuwollae ditarikan oleh puluhan wanita ber-hanbok (pakaian tradisional wanita Korea) yang tentunya juga mencintai Moo-goong-hwa. Berdasarkan sejarah, Kanggangsuwollae yang diciptakan sejak abad ke-16 tersebut dimaksudkan untuk mengecoh musuh tentang kekuatan bangsa Korea. Kanggangsuwollae umumnya ditarikan pada saat perayaan Chusok, yaitu festival untuk bersyukur kepada Penguasa alam yang telah memberikan hasil panen yang baik. Ketika menari Kanggangsuwollae, puluhan wanita ber-hanbok tersebut bergandengan tangan satu sama lain membentuk lingkaran untuk menunjukkan persatuan yang kuat. Lingkaran yang mereka buat berputar perlahan searah jarum jam dengan iringan senandung lagu tentang cinta dan perdamaian yang dinyanyikan oleh para penari.
     Memang Kanggangsuwollae bukan merupakan satu – satunya trik untuk mengusir musuh seperti Jepang. Namun pada masa itu, tarian ini juga telah menjadi perjuangan bangsa Korea dalam wujud seni. Kanggangsuwollae dapat membuat musuh gentar di saat mereka sedang menikmati tarian ini sebaga tontonan. Hal tersebut merupakan nilai yang berharga dari sebuah perjuangan yang penuh kedamaian dan kecantikan ini. Para penari wanita inipun telah membawa semangat Moo-goong-hwa dalam kanggangsuwollae yaitu “tetap bertahan” untuk menjadi indah, kuat, cantik dan ampuh dalam situasi apapun. Sejak lebih dari empat ratus tahun lalu, tari kanggangsuwollae telah dipercaya mampu mengecoh musuh. Tarian ini juga menyiratkan bahwan kekuatan dan persatuan bangsa Korea lebih besar dan kuat dari perkiraan musuh. Sebab, Kanggangsuwollae sendiri berarti “mengawasi serta menjaga sekeliling”. Secara singkat, Kanggangsuwollae adalah tarian yang memancarkan kelembutan karena ditarikan oleh para wanita dengan baju tradisional yang feminin sambil menyanyikan lagu bertema cinta. Namun, tarian ini juga menggambarkan unsur kekuatan seperti ditunjukkan pada gerakan puluhan penari yang bergandengan tangan. Kanggangsuwollae akan berakhir dengan putaran yang semakin cepat. Makna pedagogis atau moral yang dapat disampaikan adalah menjaga dan mengawasi negara dengan persatuan dan kekuatan demi tercapainya suatu kejayaan yang pesat.
Banyak perjuangan yang telah ditempuh oleh bangsa Korea untuk melawan penderitaan terhadap penjajahan Jepang selama tiga puluh lima tahun. Hal yang paling membuat rakyat Korea bersedih adalah nyaris punahnya Moo-goong-hwa akibat gerakan pemusnahan Moo-goong-hwa oleh Jepang sebagai penjajah waktu itu. Namun, Kanggangsuwollae sebagai tarian yang “mengawasi serta menjaga sekeliling” juga telah mengecoh para penjajah Jepang dan membuat mereka berasumsi bahwa Korea merupakan negara yang kuat melebihi dugaan mereka.
     Baik Moo-goong-hwa maupun Kanggangsuwollae, keduanya begitu terkenal di Korea. Kanggangsuwollae masih tetap ditarikan untuk mengobarkan semangat persatuan sekaligus persembahan syukur kepada Penguasa alam atas nikmat yang diberikan yaitu berupa hasil panen yang baik. Untuk menjaga rasa cinta bangsa Korea terhadap Moo-goong-hwa, pemerintah Korea telah mendirikan Persatuan Penyuplai Bunga Moo-goong-hwa sejak Juli 1985 yang bertujuan untuk melestarikan keberadaan bunga nasional yang hampir punah di masa penjajahan itu.
     Kanggangsuwollae merupakan tarian yang indah seperti Moo-goong-hwa ketika mekar maupun gugur, tarian ini juga memancarkan kecantikan para penari wanitanya bagai ceahnya warna Moo-goong-hwa. Selain itu sebagai bunga dan tarian, mereka sama – sama kuat. Moo-goong-hwa mampu mekar selama seratus hari dan Kanggangsuwollae mampu menyiratkan kekuatan bangsa Korea dengan bergandengan tangan pada gerakannya. Dan yang paling penting keduanya memiliki keampuhan, Moo-goong-hwa manjur sebagai bahan obat-obatan, Kanggangsuwollae ampuh untuk mengecoh asumsi mush mengenai kekuatan rakyat Korea.
     Banyak kekuatan yang tersembunyi dari sekuntum bunga dan sekelumit pertunjukan tari seperti Moo-goong-hwa dan Kanggangsuwollae. Dan kekuatan adalah potensi tesembunyi yang selayaknya tidak untuk dipamerkan. Moo-goong-hwa memiliki kekuatan yang membuat bangsa Korea selalu mencintainya dalam mekar dan gugur serta membuat bangsa Korea selalu tegar dan tetap bertahan di tengah penderitaan. Sama halnya dengan Kanggangsuwollae yang menyiratkan kekuatan dan ketegaran rakyat Korea yang mencintai Moo-goong-hwa serta tanah air mereka.
(Ardhi Sept 2005)

AIPA Dalam Hubungannya Dengan Kemajuan Pendidikan Negara - Negara ASEAN


“The high minded man must care more for the truth
than for what people think”
(Aristoteles)

Seorang manusia cerdas harus lebih memedulikan fakta daripada pendapat orang. Pada faktanya (truth) menjadi seorang yang high minded, berpikiran cerdas, tidak semudah memahami pernyataan Aristoteles tersebut di atas. Bisa jadi, demi predikat manusia cerdas, banyak orang telah menempuh berbagai cara untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Bagaimanapun juga, definisi pendidikan terbaik itu sendiri masih tergantung pada ideologi tiap – tiap individu.
Juru bicara Depdiknas, Teguh Juwarno sempat mengungkapkan bahwa sistem pendidikan yang kita anut adalah hasil perbandingan dengan negara – negara tetangga yang dirasa telah cukup maju sistem pendidikannya. Ungkapan tersebut seperti yang tertulis pada sebuah harian nasional pada salah satu edisinya di Bulan Mei kemarin.
Memang terdapat justifikasi atas ungkapan juru bicara depdiknas kita. Hal tersebut bisa terbaca pada butir f, g dan i pada ayat 3 pasal 36 BAB X Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional mengenai kurikulum. Pada poin tersebut disebutkan; Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: tuntutan dunia kerja, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dan dinamika perkembangan global. Kalau melihat dinamika perkembangan global, rasanya iri memang ketika melihat Singapura yang telah mampu membuat National University of Singapore memiliki level yang lebih tinggi dari universitas- universitas manapun di Australia seperti hasil survei versi Newsweek baru – baru ini.
Indonesia tentu ingin mengejar ketinggalan dalam hal mutu pendidikan. Saat ini, pada prakteknya, Indonesia masih menganut sistem output oriented bukan job oriented. Seperti yang diungkapkan Eman Suparto selaku menteri tenaga kerja dan transmigrasi, jumlah sekolah kejuruan di Indonesia jauh lebih sedikit dibanding sekolah umum. Fakta tersebut menyebabkan kurangnya keterampilan pada Sumber Daya Manusia kita ketika memasuki dunia kerja. Perbandingan jumlah sekolah kejuruan dan sekolah umum di Indonesia saat ini memiliki kondisi yang terbalik dengan negara – negara ASEAN lain di mana mereka memiliki jumlah sekolah kejuruan sebanyak 70% dan sekolah umum sebanyak 30%.
Pernyataan yang telah diungkapkan oleh menakertrans tersebut ternyata memiliki korelasi dengan survei United Nations Development Program (UNDP) belum lama ini. Hasil penelitian terhadap 174 negara tersebut menunjukkan Indonesia berada pada peringkat 109 untuk penilaian terhadap kualitas SDM yang ada. Sungguh jauh berada di bawah negara - negara ASEAN yang lain di mana Singapura berada pada tingkat tertinggi di antara sesamanya yaitu pada peringkat 22.
Bagaimanapun juga, Indonesia sebagai salah satu anggota ASEAN tidak perlu meratapi nasib. Apa yang terdapat di dalam ASEAN bisa dijadikan fasilitas untuk Indonesia menuju ke arah kemajuan agar tidak tertinggal jauh dengan negara anggota ASEAN yang lain. Di dalam ASEAN terdapat AIPO (ASEAN Inter Parliamentary Organization) yang baru saja bertransformasi menjadi AIPA (ASEAN Inter Parliamentary Assembly). Perubahan nama tentu tidak semata – mata dilakukan hanya untuk perubahan secara sebagian saja. Enggan dinilai mirip dengan NGO (nongovernment organization), alasan itulah yang kemudian membawa AIPO menjadi AIPA selain adanya keinginan untuk membuat parlemen ASEAN seperti parlemen Eropa. Memang definisi organisasi lebih mengacu pada suatu perkumpulan yang memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga serta program kerja untuk kemajuan internal perkumpulan tersebut sedangkan assembly yang pada dasarnya berarti perkumpulan, mempunyai tujuan yang lebih meluas, dalam hal peningkatan mutu kerja untuk memajukan kepentingan para anggotanya.
AIPA sendiri secara eksplisit terbentuk untuk tujuan salah satunya adalah berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat di negara – negara anggota ASEAN. Demi kesejahteraan jangka panjang, kepedulian terhadap sistem pendidikan adalah titik awal yang sangat penting. Sama halnya seperti yang dilaksanakan oleh parlemen di negara kita – Indonesia, AIPA pasti juga akan melakukan banyak pembahasan demi memenuhi aspirasi rakyat di negara – negara anggota ASEAN. Sebagai proses realisasinya, transformasi dari “Organization” ke “Assembly” semoga tidak menjadi “disfungsi” untuk mewujudkan aspirasi rakyat di bidang kemajuan pendidikan.
Di sini mulai bisa kita tangkap bahwa pentingnya kesepahaman atau persamaan persepsi mengenai pendidikan terbaik. Hal tersebut sebaiknya berorientasi pada persamaan sistem pendidikan, apapun lembaga pendidikannya. Melihat masalah sistem pendidikan di Indonesia yang juga termasuk sering berganti kurikulum, melalui AIPA, Dewan Perwakilan Rakyat kita bisa melakukan legislasi atau pembahasan untuk menciptakan perundang – undangan yang bisa membantu pelajar Indonesia untuk cepat beradaptasi dengan sistem pendidikan sebaik mungkin.
Dalam pelaksanaannya, AIPA dapat meminta kepada setiap wakil parlemen dari negara – negara anggota ASEAN untuk mengajukan proposal sistem pendidikan yang diinginkan. Ketika berada pada proses legislasi, selanjutnya dicari untuk kemudian diputuskan sistem pendidikan yang setara untuk semua negara anggota ASEAN. Setelah itu, AIPA bisa mensosialisasikan hasil legislasi mengenai penyamaan dan perbaikan sistem pendidikan di ASEAN kepada Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) yang anggotanya juga merupakan anggota ASEAN. Karena, sesuai dengan pernyataan presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada konferensi ke-42 SEAMEO Maret 2007 lalu di Bali, SEAMEO telah berperan aktif di bidang pengembangan sumber daya manusia untuk pendidikan , ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya.
Sebagai perkumpulan badan legislatif negara – negara se-ASEAN, usaha penyamaan sistem pendidikan tersebut merupakan sistem kerja yang produktif bagi AIPA sebagai hasil dari legislasi bersama. Untuk menuju pada “aksi” atau tindakan, AIPA lalu menyerahkan hasil pembahasan kepada SEAMEO agar setiap menteri pendidikan di ASEAN bisa membawa blue print dari perundangan baru yang telah dihasilkan. Disinilah peran badan eksekutif: Menteri pendidikan melalui departemen pendidikan untuk melaksanakan program yang telah disepakati di AIPA tersebut.
Proses terbentuknya sistem pendidikan baru (terbaik) yang sudah disepakati harus benar – benar ditunjukkan secara transparan kepada masyarakat. Langkah seperti itu untuk mengantisipasi agar tidak memunculkan ambiguitas atau berbagai pemahaman atas itikad baik AIPA yang kemudian dijalankan oleh pemerintah di negara – negara anggota ASEAN masing – masing. Tujuan selanjutnya adalah supaya rakyat, khususnya di Indonesia, bisa menerima dengan tanggapan positif dan menjalankannya dengan optimis untuk perwujudan meningkatnya kualitas pendidikan yang mengacu pada peningkatan kesejahteraan.
Dalam pandangan masyarakat sipil, mungkin keberadaan AIPA dianggap belum segagah ASEAN. Apapun anggapan itu, AIPA harus tetap melaju gagah untuk mendukung kelangsungan ASEAN. Tidak hanya kelangsungan yang dijaga, tapi keberadaan AIPA memang akan diusahakan untuk membuat ASEAN lebih mendunia. Kenapa tidak? Uni Eropa saja bisa.