Selasa, 14 Desember 2010

Unique Selling Point of Manchester United



Ini mengenai brand internasional yang unik. Brand ini mengusung pertunjukan yang termasuk pertunjukan mahal dunia. Brand ini adalah Barclays Premiere League yang di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Liga Inggris. Apa yang menjadikan BPL begitu mahal? Season kali ini saja, hak siarnya dijual senilai $ 8.000.000. Hal tersebut tentu saja tidak lepas dari tingkat kredibiltas klub – klub yang bermain di dalamnya.
            Klub Setan Merah atau yang secara resmi disebut Manchester United ini, mungkin bukan tim terfavorit di liga Inggris tapi yang jelas, MU adalah tim termahal. Dari belasan klub yang bertanding di liga ini, laba bersih Manchester United dalam satu tahun (musim lalu) mencapai sembilan puluh juta poundsterling, lebih tinggi sembilan juta dolar dari Chelsea, pesaing utamanya.
            Kekuatan Manchester United sebagai sebuah brand tidak lepas dari cara Sir Alex Fergusson dalam melakukan maintenance. Diferensiasi yang dimiliki oleh MU adalah kemampuan mencetak pemain – pemain yang diibaratkan “from zero to hero”. Fergie selaku manajer tim begitu piawai dan jeli dalam mendapatkan bakat baru yang kemudian berubah menjadi pemain mahal. Setelah pemain – pemain ini memiliki kestabilan dalam posisi puncak (peak performance), Fergie tidak lantas berusaha keras mempertahankan mereka untuk tetap berada di klub Setan Merah melainkan membiarkan mereka pindah ke klub lain bahkan pesaing dan Fergie akan mencari bakat baru yang siap dijadikan bintang. Bintang – bintang alumni dari klub Inggris termahal ini seperti David Beckham, Christiano Ronaldo, serta Carlos Tevez. Saat ini MU memiliki pemain dengan karakter yang menonjol seperti Rooney, Berbatov dan Chicarito.
            Kekuatan karakter MU sebagai sebuah klub sekaligus sebuah brand membawa ketertarikan pada perusahaan – perusahaan besar untuk mensponsori klub ini, seperti AON, Nike, Audi, 3 dan sebagainya. Selain itu, trik unik yang digunakan MU untuk mendekatkan diri dengan pemujanya adalah dengan membuat brand activation berupa eksistensi “Manchester United Cafe & Bar” yang tersebardi beberapa kota besar di dunia. Kontinuitas klub ini begitu menyenangkan bagi Malcolm Glazer sebagai investor terbesar yang akan menerima deviden sebanyak 75% dari laba MU setiap tahunnya.

Senin, 22 November 2010

Ketika Komunikasi Internasional Itu Bernama: Obama



Pada pertengahan November 2010 lalu, selama beberapa hari kedatangan presiden Amerika; Barrack Obama menjadi headline berita pada sebagian besar emdia di Indonesia dan dunia. Apa yang menarik dari lawatan beliau tersebut? Apa lantaran beliau mewakili negara adidaya seperti Amerika Serikat? Atau karena beliau adalah presiden Amerika Serikat yang pernah tinggal di Indonesia? Atau karena dua – duanya?
Banyak pendapat bermunculan mengenai kedatangan presiden negara adidaya tersebut di Indonesia. Apapun pendapat itu, saya mempunyai pendapat tersendiri mengenai kemampuan komunikasi Barrack Obama selama mengunjungi Indonesia ditinjau dari perspektif komunikasi internasional.
     Ketika Obama menjalankan misi diplomatiknya di Indonesia, cara verbal yang ingin diungkapkannya adalah dengan mendalami cara berkomunikasi dengan budaya bangsa Indonesia yang secara teori disebut sebagai Komunikasi Antarbudaya. Hal ini tampak ketika Obama berbicara sebagai berikut (sudah diterjemahkan oleh courtessy US Embassy Jakarta) :

“Seperti negara-negara Asia lain yang saya kunjungi dalam perjalanan ini, Indonesia sangat spiritual -– tempat di mana orang menyanjung Tuhan dengan banyak cara berbeda. Bersamaan dengan keragaman yang kaya raya ini, Indonesia juga memiliki populasi Muslim terbesar –- sebuah fakta yang saya temui sebagai anak kecil ketika saya mendengar panggilan untuk shalat di seluruh Jakarta. “

Selain itu, memang banyak ungkapan Obama dalam kuliah singkatnya di Universitas Indonesia pada 10 November silam yang mengacu pada pemahaman antarbudaya terutama Indonesia Amerika.
Dengan berbicara dalam format komunikasi kelompok di UI tersebut, Obama seolah – olah mengeksplorasi interpersonal audines dengan menyisipkan kata – kata yang menggugah tepuk tangan karena dianggap dekat dengan hati dan karakter audiensinya seperti menyapa dengan “Pulang kampong nih…” menyanjung ideology Negara kita tentang Bhinneka Tunggal Ika dan sebagainya.
     Apa kepentingan Obama menyentuh sisi – sisi kognitif audiensinya hingga mengundang tepuk tangan dan kekaguman tersebut? Tentu saja karena dia memliki misi politik. Komunikasi politik dalam kuliah singkatnya terasa begitu halus dan abstrak karena dikemas dengan bahasa – bahasa yang personal-oriented tersebut. Namun saya mencoba menangkap pesan politik yang ada dalam pidato Obama ketika berada di Indonesia tersebut, kutipannya adalah sebagai berikut;

“Bergandengan tangan, inilah makna pembangunan dan demokrasi, bahwa nilai-nilai tertentu bersifat universal. Kemakmuran tanpa kebebasan adalah bentuk lain kemiskinan. Karena ada aspirasi yang dirasakan umat manusia –- kebebasan untuk mengetahui bahwa pemimpin anda bertanggung jawab kepada anda, dan bahwa anda tidak akan dipenjara karena ketidaksepakatan dengan mereka; kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan untuk dapat bekerja dengan martabat; kebebasan untuk beribadah tanpa rasa takut atau pembatasan. “

Dalam materi di atas, Obama nampak menyanjung konsep pemerintahan kita yaitu demokrasi, namun dia juga menyisipkan kepentingan politis negaranya berupa ideology liberalisme yang tampak melalui kata “kebebasan….. bahwa anda tidak akan dipenjara karena ketidaksepakatan dengan mereka…”
     Sebagaimana proses penyebaran komunikasi internasional pada umumnya, misi Obama-pun tidak lepas dari peran media massa sebagai media yang berperan aktif dalam menyebarnya pesan – pesan yang dikomunikasikan Obama di Indonesia secara internasional. Tentu saja hal yang membuat media massa dengan suka rela melibatkan mereka ke dalam penyebaran komunikasi Obama di Indonesia adalah kepiawaian Obama mengelaborasi unsur – unsur komunikasi internasional secara smooth dan efektif. Setidaknya hal itulah yang mampu mebuatnya sebagai seorang kepala Negara dengan predikat “outstanding” setidaknya dalam beberapa waktu ke depan.

Rabu, 13 Oktober 2010

Paternalistik Atau Karismatik? Bukan Pilihan Untuk Memimpin


Pada majalah SWA edisi September 2010 menampilkan headline “Momen Titik Balik”. Edisi tersebut sebanyak enam puluh persen (60%) mengulas tentang profil para Chief Executive Officer (CEO) dan pengusaha yang tetap konsen dengan tugasnya di saat sedang mengalami masa – masa kritis melewati cobaan hidup berupa penyakit. Salah satu profil yang “menggelitik” penulis untuk diulas melalui artikel ini adalah mengenai Direktur Power Generation - General Electric Energy yang memimpin di tingkat region Indonesia, Kamboja, Filipina dan Vietnam (4 negara). Direktur tersebut bernama Handry Satriago.
    Bukan hanya lantaran membaca profil Handry di SWA lalu penulis tertarik mengulas tipikal kepemimpinan beliau, melainkan setelah Handry mengirimkan email ringkasan disertasinya ke saudara kandung penulis (kakak) yang kebetulan wisuda bersamaan dengan Handry di fakultas ekonomi Universitas Indonesia, Agustus silam. Melalui disertasinya yang berjudul Examining the Followers’ Influence on Leader’s Performance: A “Reverse” Pygmalion Effect penulis akan mengulas tipikal kepemimpinan beliau yang bisa jadi telah diterapkan pada posisinya saat ini sebagai Direktur di General Electric.
    Dimulai dari efek Pygmalion: sebuah mitologi Yunani tentang filosofi berpikir positif, Handry menerapkan efek tersebut sebagai landasan dasar membangun performa-nya sebagai pemimpin. Vonis kanker dan keterbatasan gerak fisik karena menggunakan kursi roda tidak membuat semangatnya untuk mendedikasikan ilmu dan kemampuannya menurun.
    Pada awal disertasinya, Handry mengutip kata – kata dari Edith Warton (1902) “There are two ways of spreading light: to be the candle or the mirror that reflects it” , ada dua cara menyebarkan cahaya: menjadi lilin atau bisa juga menjadi cermin yang memantulkan cahaya itu. Cahaya sendiri merupakan lambang pengharapan. Mari kita korelasikan dengan tipe paternalistik pada diri seorang pemimpin. Paternalistik tidak dapat terlepas dari harapan – harapan yang dimiliki oleh pengikut atau bawahan kepada atasan yang memimpinnya. Tipe paternalistik juga kuat dipengaruhi oleh status quo yang ada di masyarakat (kebetulan kultur organisasi di empat Negara tempat Handry memimpin GE tidak banyak berbeda) bahwa pemimpin adalah tempat untuk berlindung dan bertanya. Hal ini juga didasari atas dasar adat kebiasaan masyarakat kita khususnya yang menginginkan suasana kekeluargaan yang kental. Melihat kutipan dari Edith Warton di atas, apabila pemimpin diibaratkan sebagai lilin maka peran paternalistik berlaku di sini yaitu pemimpin sebagai pemberi inspirasi dan karyawan menerapkannya untuk menjaga keterlangsungan misi dan visi sebuah perusahaan.
    Handry mengulik dari sisi yang beda tentang kutipan tersebut bahwa pengikut atau karyawan juga bisa menjadi lilin dengan memberikan ide atau inspirasi kepada atasan sehingga atasan dapat mengkomunikasikannya. Hal ini penulis artikan bahwa pemimpin sebaiknya tidak hanya dapat memberikan arahan (paternalistik) melainkan dia juga bias mengeksplorasi kemampuan bawahannya (kharismatik).
    Kembali pada cara Handri Satriago memimpin GE Energy di empat Negara, berdasarkan pengamatan penulis ata disertasi yang sudah ditulis Handry, Dia berusaha mengeksplorasi kemampuan karyawan yang ter-mindset sebagai pengikut dari pemimpin paternalis dengan mengeksplorasi kelebihan – kelebihan yang dimiliki Handry untuk dijadikan karisma pada dirinya.
    Bagaimana menciptakan karisma itu? Penulis mencoba menganalisis, yang pertama, sesuai dengan efek Pygmalion yang dijadikan bagian dari judul disertasinya, Handry selalu mengatur pola pikir positif sebagai direktur GE Energy. Dia tidak memikirkan sakit yang diidapnya, tidak memikirkan keterbatasannya dengan kursi roda tapi dia terpusat pada pandangan positif mengenai objek profesi dia: Direktur. Yang kedua adalah, Handry menganggap staf sebagai asset, seperti yang ditulis pada disertasinya “Leadership is a relationship between leader and follower. Leadership will be enacted if there is a relationship between leader and follower”. Dari pernyataan tersebut yang diterima oleh penulis adalah; pimpinan dimata seorang Handry Satriago harus saling melengkapi. Sebab bagaimana mungkin seseorang bisa disebut pimpinan kalau tidak mempunyai bawahan. Maka perlakuan terhadap bawahan sebaiknya tidak hanya satu arah saja. Instruksi memang berasal dari pimpinan, namun bukan berarti bawahan tidak dapat mengekspresikan keinginannya (followers’ endorsemen). Intinya kepemimpinan merupakan sebuah proses yang melibatkan pemimpin, pengikut dan situasi.
    Hal yang dapat disimpulkan oleh penulis, memadukan tipe kepemimpinan pternalistik dan karismatik adalah hal yang sangat esensial. Ketika seseorang dipercaya memimpin pada sebuah organisasi yang secara kultural membentuk pola kepemimpinan paternalistic seharusnya tidak serta merta memanfaatkan momen tersebut untuk pola kepemimpinan vertial saja. Demi menjaga kelangsungan visi dan misi organisasi serta efektifitas kinerja bersama, perlu memunculkan karisma dari seorang pemimpin dengan cara fokus pada tujuan positif dan pemeliharaan staf sebagai aset dengan cara mengarahkan mereka untuk mengeksplorasi kapabilitas masing – masing demi kemajuan bersama.



   


Minggu, 10 Oktober 2010

SOCIAL JUDGMENT THEORY OLEH MUZAFER SHERIF


Apa yang muncul dalam benak Anda ketika mendapatkan tawaran kredit 0% dari sebuah produk kartu kredit? Bisa macam – macam, mulai dari muncul pertanyaan “Do I need this?”, nanti kalau terlambat pembayaran bunganya akan membumbung, kok bisa bunga 0%? Ah jadi curiga sama banknya nih, bagus dan menarik (sekedar pernyataan begitu saja) atau malah “Aku mau!”. Dari beberapa frasa tersebut, mana yang menurut Anda paling sesuai dengan diri Anda? Dengan begitu, dapat diketahui mengenai Teori Penilaian Sosial (Social Judgment Theory) yang muncul dari perspektif Anda tentang kredit bunga 0% kartu kredit tersebut.
Social Judgment Theory (selanjutnya disebut SJT) dipopulerkan oleh Muzafer Sherif, seorang psikolog yang berasosiasi dengan Oklahoma University (meninggal 16 Oktober 1988). Teori ini berarti sebuah penilaian atau pertimbangan atas pesan yang diterima dengan membandingkannya terhadap isu terkini.

EGO LATITUDES: ACCEPTANCE, REJECTION & NON COMMITMENT
Ungkapan – ungkapan yang muncul setelah tawaran kredit bunga 0% di paragraf pertama, oleh SJT disebut sebagai respon. Ketika sebuah bujukan atau persuasif muncul, menurut Sherif respon yang akan muncul terbagi dalam tiga zona: 1. Latitude of acceptance (zona penerimaan), dalam hal ini persuader mampu merubah sikap orang yang dibujuk. 2. Latitude of rejection (zona penolakan) jika persuasif yang disampaikan jauh berseberangan dengan persepsi penerima maka penerima tidak akan merubah sikapnya. 3. Latitude of non commitment (zona tanpa pertanyaan) kondisi tidak adanya tanggapan atau keputusan dari suatu bujukan.
Bagi Sherif, sebagai komunikator, khususnya persuader seharusnya ,memahami interkorelasi dari ketiga latitude tersebut. Dengan demikian dapat dengan lebih mudah untuk mengetahui pola/ struktur kebiasaan dan tingkah laku tiap – tiap personal dan tentu saja memudahkan peran kita sebagai komunikator ke depannya.

EGO INVOLVEMENT: HOW MUCH DO YOU CARE?
Jika Anda pengguna kartu kredit, seberapa penting bunga cicilan 0% bagi Anda? Pertanyaan seperti inilah yang disebut Sherif sebagai konsep ego-involvement. Ego-involvement mengacu pada tingkatan seberapa penting sebuah “tawaran” terhadap kehidupan seseorang. Ego-involvement merupakan kunci utama munculnya latitude of acceptance atau bahkan rejection. Konsep ini dilatarbelakangi dengan pertanyaan – pertanyaan sebagai berikut: “Apakah ini hal utama bagi kita?”, “Apa kita sangat memikirkannya?”, “Apakah sudah sesuai dengan pola hidup kita?”
Ego-involvement menggambarkan kemampuan kognitif seseorang akan suatu isu tertentu. Penulis coba ungkapkan contoh lain misalkan efek rumah kaca karena lapisan ozon yang berlubang. Hal ini mungkin tidak begitu penting bagi kita karena tidak banyak menyinggung sisi kognitif dalam diri kita (low ego involvement). Lain halnya ketika yang diungkap adalah; berlubangnya lapisan ozon menyebabkan sinar UV dapat dengan mudah masuk ke bumi tanpa filter sehingga kemungkinan penyakit kanker kulit dapat dengan mudah menyerang. Isu yang kedua ini akan memunculkan tingkatan ego involvement yang lebih tinggi karena lebih menyentuh pada aspek kognitif kita tentang kepedulian terhadap diri sendiri.

JUDGING THE MESSAGE: CONTRAST & ASSIMILATION ERRORS
Sherif menyatakan bahwa kita menggunakan pola dasar pemikiran kita sebagai perbandingan ketika menerima berbagai macam tipe pesan. Dalam penilain terhadap pesan tersebut, dapat terjadi dua hal yaitu Contrast atau Assimilation. Contrast terjadi karena gangguan penerimaan informasi (distorsi persepsi) yang memicu penolakan terhadap suatu pesan/ ide. Sedangkan assimilation adalah daya tangkap yang kuat akan suatu pesan sehingga terkesan antara persuader dan si penerima terlihat saling memahami yang tentu saja berujung pada latitude of acceptance. Hal ini tentu saja bertentangan dengan error of judgment.

DISCREPANCY AND ATTITUDE CHANGE
Menilai atau mempertimbangkan suatu pesan berdasarkan dengan tingkat kedekatan dengan pola pikir kita sebagai langkah awal menuju pada perubahan perilaku inilah yang disebut dengan discrepancy.
Discrepancy yang akan memunculkan perubahan perilaku ini bisa didasari tidak hanya dari latitude of acceptance tapi juga dari latitude of rejection. Apabila dilandasi zona penolakan dapat memunculkan efek boomerang yaitu perubahan sikap yang sangat berlawanan dengan arahan pesan/ bujukan yang sudah disampaikan.
Contohnya adalah kampanye “Stop Telanjang di Depan Kamera” ketika maraknya berita tentang beredarnya foto telanjang dan video mesum baik dari kalangan public figure atau masyarakat biasa. Dalam zona penerimaan, si penerima pesan akan merubah sikapnya menuju pada penyelamatan imej dengan berhati – hati ketika berekspresi di depan kamera, jangan sampai hal tersebut menjadi foto atau video mesum. Akan menjadi efek boomerang, ketika si penerima berada pada zona penolakan, dia memiliki ego involvement yang kuat tentang ekspresi di depan kamera adalah hak asasi setiap orang sehingga kampanye tersebut justru menjadikannya inspirasi untuk bertindak sebaliknya.

EVIDENCE THAT ARGUES FOR ACCEPTANCE
Berikut merupakan bukti – bukti pesan yang mendapat latitude of acceptance dari penerimanya:

1. A highly credible speaker can stretch the hearer’s latitude of acceptance
Seperti mantan presiden USA: Al Gore ketika mensosialisasikan masalah isu global warming, hal ini banyak mempengaruhi perilaku penduduk dunia (mengamini sosialisasinya) melihat kredibilitas dia dulu ketika memimpin USA.
2. Ambiguity can often serve better than clarity
Contohnya adalah salah satu kata – kata dari Bung Karno ketika mendapati intimidasi terhadap wilayah Indonesia yang dilakukan oleh Malaysia: “Ganyang Malaysia” kata tersebut artinya tidak hanya bisa dijelaskan dalam 1 arti saja. Tapi rakyat menyukainya dan justru menjadi bagian dari sejarah hingga sekarang.
3. There are some people who are dogmatic on every issue
Contohnya adalah apa yang dilakukan Rhonda Byrne, penulis buku The Secret yang mengemukakan tentang kekuatan kata – kata.

TIPS
Untuk mendapatkan penilaian social yang baik (positive social judgment) sebaiknya seorang persuader tidak mengekspos kekurangan atau kelemahan ideology persuader lawan. Misal, belajar dari contoh kampanye Sarah Palin vs Barrack Obama.
Pada masa kampanye-nya Palin meributkan masalah apa agama Obama sebenarnya. Sedangkan Obama justru menunjukkan empati dan dukungan-nya ketika putri Palin terkena rumor hamil di luar nikah.
Hal tersebut mempermudah Obama mendapatkan latitude of acceptance (kepercayaan) publik ketika Obama mempersuasi masyarakat untuk memilihnya sebagai The Greatest Future - American Leader.

THE CONCLUSION IS….
Tingkat kredibilitas seorang persuader sangat ditentukan oleh penilaian sosial (Social Judgment). Oleh sebab itu, cara menjadi persuader yang hebat adalah dengan selalu berorientasi pada perilaku setiap personal dan cara mereka membentuk latitude of acceptance, rejection atau non-commitment.

Selasa, 03 Agustus 2010

Bukan Absolutisme “Sabda Pandita Ratu”


Ilustrasi gambar: Louis XIV sebagai pencetus absolutisme

Ini tentang menerapkan jurisprudensi dalam politik di dunia kerja. Jurisprudensi sendiri merupakan istilah hukum dimana putusan - putusan yang diputuskan dalam pengadilan dan dinilai kuat sehingga dianggap sama kekuatannya dengan undang – undang. Melalui tulisan ini, aku mencoba menganalogikan keberadaan jurisprudensi di dalam dunia kerja demi tercapainya profesionalism satisfaction.

Jurisprudensi dalam dunia kerja aku asumsikan sebagai pernyataan personal yang mampu dijadikan sebagai acuan kinerja orang lain. Namun yang perlu digaris bawahi di sini adalah fungsinya yang bukan bagian dari absolutisme karena tujuan utamanya adalah untuk kepuasan profesionalisme. Kepuasan profesionalisme sendiri mampu memunculkan output yang optimal untuk: peningkatan kinerja, efektifitas penggunaan sarana prasarana official dan kepuasan pelanggan.

Bagaimana Mengolahnya?

1.    BELAJAR DARI PENGALAMAN – Ya memang ini kunci utamanya. Jangan takut menjadi multi tasking mendapatkan presur tinggi atau hal – hal menantang dan sedikit “menyebalkan” lainnya dalam dunia kerja, hadapi dan coba selesaikan semuanya secara rapi. Dengan begini, kita mempunyai banyak pengalaman yang bisa kita arsipkan. Sebab, penyampaian nasihat, solusi atau tindakan alternatif ke staf atau rekan kerja tidak dapat sampi secara efektif tanpa kita menyertakan contoh kasus “serupa” yang sudah pernah kita alami sebelumnya.

2.    ING MADYA MANGUN KARSA – yang berarti pemimpin yang berada di tengah – tengah. Jadi penting untuk memposisikan diri sebagai pendamping, bukan “atasan” sehingga staf kita merasa aman kita bisa dekat dengan mereka.

3.    DELEGASIKAN TUGAS – menjadi pimpinan juga harus pandai mendelegasikan tugas supaya staf-nya akan naik self esteemnya karena merasa dipercaya. Kita tidak harus tahu dan bisa melakukan semua hal yang harus dikerjakan staf, tapi kita harus bisa mengelola potensi mereka dan memberikan solusi dari masalah kinerja yang mereka hadapi.

4.    MENDEM JERO MIKUL DHUWUR – Ini penting sekali dilakukan oleh semua level karyawan. Jangan sekali – sekali kita mengumbar kekesalan terhadap rekan satu tim pada divisi lain yang berseberangan karena akan membuat kita dianggap tidak kompeten. Jangankan mampu menciptakan jurisprudensi, di dengarkan aspirasinya saja akan sulit. Jadi, jelek dan bagusnya tim adalah milik bersama.
Mari kita mencoba mengolah empat poin tersebut dan semoga membuat kita lebih mudah untuk meminta orang di lingkungan kerja untuk melakukan apa yang kita inginkan tanpa mereka merasa diperintah melainkan akan merasa bahwa mereka itu: eksis, kapabel dan kredibel.
Apabila menginginkan sharing dan coaching mengenai Jurisprudensi atau penanganan conflict of interest lingkungan kerja dalam Bahasa Inggris silakan hubungi Ardhi Widjaya & Co. melalui hotline 081 392 081 312 atau messenger: ardhi_widjaya

Senin, 12 Juli 2010

Poise...


Adalah sebuah kata yang mengibaratkan ketenangan penuh dengan gaya. Poise juga melambangkan kepercayaan diri tinggi yang mampu memotivasi sekelilingnya. Setidaknya itu menurutku. Lalu, bagaimana menempelkan label Poise pada diri kita?

Start Our Day With Smile
Itu kunci pertama di saat kita bangun tidur, hindari menyalakan tv yang berisikan infotainment pagi atau berita kerusuhan yang membuat kening kita berkerut. Nyalakan mp3 atau radio yang berisikan lagu – lagu riang seperti I’ll be there for you dari The Rembrandts atau Friday I’m in Love miliknya The Cure. Jadikan lagu – lagu riang untuk mengiringi aktifitas awal kita di pagi hari seperti sarapan dan minum teh, susu atau kopi.

Problem? Gimme more...
Ini memang perlu latihan ekstra dan konsistensi: menjadi multi tasking sekaligus problem solver. Kerjaan bertubi – tubi, orang tua menelepon, sahabat curhat melalui instant messenger dalam satu waktu tentu akan membuat kebanyakan orang pusing dan lebih memilih defensif sehingga terkesan sok sibuk dengan mengatakan ke orang tua atau sahabat yang ingin ngobrol dengan kita dengan kata – kata “aku sibuk banget nih” . Jika ingin label Poise melekat di diri kita, perlihatkan style kita yang penuh ketenangan. Perhitungkan skala prioritas dan selesaikan satu – satu. Pekerjaan, adalah sumber penghidupan (pendapatan untuk kelangsungan hidup saat ini), buatlah pengaturan yang praktis untuk penyelesainnya. Bila di tengah – tengah proses itu ibu kita menelepon, kita bisa bilang “Hai ma.... mama lagi nyantai ya sekarang? Mmm kalo jam 12 ntar aku telpon balik gimana? Si adik baik – baik aja kok, dia kliatan gampang adaptasi sama temen – temen kuliahnya, ntar aku ceritain lebih banyak deh ma soal adek, soalnya bos bisa melotot nih, hehe...”. Di saat yang sama juga, ada sahabat yang lagi ingin curhat lewat IM. Sahabat yang baik biasanya akan menanyakan dulu “sibuk ga?” Meski memang benar kita sibuk, tapi tidak ada salahnya menjawab seperti ini “Iya nih, tapi buru – buru mau gw kelarin. Knapa lu? Ada masalah? Lu drop aja via chat, ntar gw cermatin crita lu, ini gw kelarin kerjaan dulu... take it easy, be my guess ” Kecuali kalau kita benar – benar sibuk, kita bisa membuat IM invisible, mudah kan?! Yang penting adalah, kemampuan menyelesaikan setiap masalah mulai dari sekecil apapun akan makin mematangkan kita. Sehingga kita bisa muncul menjadi pribadi dengan pembawaan yang lebih mature.

Act as if A –Not It- Person
Bergaya cupu atau nampak tidak tahu apa – apa di tengah – tengah komunitas baru juga penting. Tidak peduli anggapan anggota komunitas tersebut bahwa kita adalah orang yang culun dan tidak paham dengan hal – hal yang mereka bicarakan. Justru ini adalah hal termudah bagi kita untuk mengenail siapa mereka dan seperti apa mereka sebenarnya. Karena biasanya dalam komunitas seperti ini, satu sama lain saling show off dan tanpa mereka sadari (karena berpikir kita culun dan tidak tahu apa – apa) kita justru bisa memegang poin penting tentang karakteristik mereka. Tapi hal ini juga bukan berarti kita pasang tampang bengong. Tetap senyum dan pasang mata berbinar – binar tapi tidak perlu banyak bicara dan show off seperti mereka.

Me Time
Sediakan waktu menyendiri untuk sekedar menikmati diri sendiri seperti mengakses media sosial, berbelanja, menonton dvd atau apapun tergantung kesenangan masing – masing pribadi. Dan jangan lupa sediakan waktu untuk berpikir tentang segala hal yang sudah kita lakukan entah itu baik atau buruk (introspeksi).

Dunia Sosialita
Meski kita perlu waktu untuk menikmati diri sendiri tapi bukan berarti kita tidak bergaul. Tentang dunia sosialita, kita tidak perlu untuk menjadi selebritis dengan mendekati kaum – kaum jet set sehingga tampak mewah dan penuh gaya: Itu bukan Poise tapi Poison (racun) sebab hanya memberi tampilan glitter di permukaan tapi menggerogoti kesadaran moral dan dedikasi mental. Dunia sosialita bisa kita bentuk sendiri dan tidak harus identik dengan dunia selebritas. Berkolonilah dengan rekan – rekan yang benar – benar “seiman” buatlah forum – forum diskusi yang menarik via tagging foto pada jejaring sosial kita, buat pesta kecil dengan konsep pengumpulan dana untuk amal. Koloni seperti ini dimungkinkan memiliki karakter yang “terbuka” sehingga siapa saja tidak akan enggan untuk bergabung sehingga terbentuk “sosialita positif” yang lebih besar lagi.

Cost & Worth are Significantly Different Things
Pada bagian ini merupakan penyeimbang ketika kita ingin tampil penuh gaya. Tidak bisa dipungkiri, sesuatu hal akan menjadi prestigious apabila secara kasat mata terlihat “wow”. Tapi ingat, supaya tampilan atau lifestyle kita tersebut tidak hanya tampil di permukaan atau sekedar untuk gaya – gaya-an saja (Poison) kita harus benar – benar punya prinsip yang bijak tentang perhitungan Cost (biaya) secara runtut dan runut. Intinya seberapa bernilai (worth it) ketika kita akan mengeluarkan budget untuk bergaya. Apakah itu akan memunculkan respon positif dan membangun diri kita secara material, emosional dan spiritual ataukah justru memunculkan tekanan batin (detrimental effect)?

I Can Do The Best and This What They Are Waiting for
Seseorang yang membiasakan memberi label Poise pada dirinya, biasanya muncul menjadi subjek kredibel untuk tampil di garis depan dalam berbagai macam hal, entah dalam dunia kerja (paling sering), pertemanan atau juga keluarga. Meski muncul kemungkinan rasa tidak percaya diri dalam diri kita ketika harus tampil di garis depan, gunakan mantra ajaib dengan mengatakan ini pada diri kita “I can do the best and this what they are waiting for”. Percayalah, dengan begitu, mereka akan melihat diri kita muncul di garis depan dengan POISE.

Minggu, 20 Juni 2010

Basi Tanpa "Point of Information"?


"..... At the point Sir" salah satu dari panelis berdiri sambil mengajukan tangannya ke depan podium speaker. Inilah cara interupsi di debate dengan model asian atau british parliamentary system yang disebut Point of Information. Rasanya jadi kangen debat jaman kuliah dulu, dan memang, debat tanpa POI rasanya garing dan bikin gregetan, soalnya harus nunggu giliran ketika jadi speaker. Luckily dari beberapa kompetisi yang pernah aku ikutin, semuanya menggunakan sistem Australasian dimana POI tidak digunakan.
    POI dalam kehidupan...... terkadang kita sendiri emang merasa sesuatu hal bakalan ga' asik kalo ga' disela. Misalkan ada yang memberi pendapat ke kita, belum selesai pendapatnya kita potong dengan mengajukan argumen sendiri. Mempelajari politik kehidupan melalui debate, menurutku POI bukanlah materi yang cukup efektif untuk menunjukkan sisi kuat kita (walau terkadang intervensi dari orang juga perlu di-cut).
   Bila belajar dari sistem Australasian, memang tidak ada POI di sistem debat ini. Tapi bila kita terapkan dalam kehidupan, bila kita merasa ada pihak yang memberikan pernyataan agresif atau kritikan intervensif, jangan disela dulu karena giliran kita pasti tiba. Setelah itu atur strategi dengan A.R.E.L. Assertion: Nyatakan kepada publik (khususnya pihak A/B yg kita tuju) bahwa kita punya prinsip dan rule yang dimana itu akan annoying sekali apabila dijajah oleh pihak lain. Selanjutnya ungkapkan Reason : alasan yang efektif bahwa kita mempunyai landasan yang established untuk melakukan sesuatu. Munculkan Example : contoh konkret tentang implementasi prinsip ang kita punya beserta bukti - bukti yang akan memunculkan Link Back atau menjadi suatu hal yang dapat membuat lawan terbelalak bahwa "Iya" kita tidak seperti apa yang dia nyatakan sebelumnya. Tapi ingat, kita tidak perlu naif untuk meminta pengakuan dari pihak lawan tersebut. bagaimanapun juga, berdasar dari teori dunia debating, antara government dan opposition tidak akan pernah ada kata mufakat. Yang ada hanyalah which one is the stronger than another one. Jadi tidak perlu mencari pengakuan atas kemenangan kita tapi bagaimana kita merancang diri kita menjadi "Standing Speaker".

Rabu, 05 Mei 2010

Sendiri dalam “Pesta”


Beberapa waktu yang lalu aku membaca artikel di blog milik Haris, temanku SMA yang menulis tentang suatu istilah psikologi bernama Jouissans, semoga aku tidak salah menulisnya. Waktu itu Haris mengambil tokoh Rebecca Blomwood dalam Confessions of A Shopaholic sebagai studi kasus. Rebecca, oleh Haris disebut mengalami –jouissans yaitu sesuatu yang dia lakukan dengan menggebu – gebu untuk memenuhi kepuasannya namun setelah terpenuhi ada sisi yang dirasa kosong sehingga dia selalu ingin melakukannya lagi: gila belanja. Anyhow, thanks for Haris buat artikelnya, that was really enrich me.

Lajang kota dengan segala problematikanya, hal itulah yang diangkat dalam novel Sophie Kinsella yang akhirnya difilmkan oleh Jerry Buckheimmer tersebut. Membahas masalah yang dialami lajang, menurutku memang tidak lepas dari istilah jouissans. Contoh kasus lalin, bisa seperti obsesi dalam mengejar karir, ambisi untuk mempercantik atau memperindah diri dan satu hal yang ingin aku angkat lebih dalam adalah tentang ambisi akan sex sebagai usaha mewujudkan eksistensi sebagai lajang perkasa (diorientasikan untuk lajang laki – laki).

“Aku mungkin melakukan free sex dengan rekan one night stand atau a hi-class slut yang tentu aja aku harus ngumpulin kocek dulu kalo mau ngedapetinnya sih, tapi aku pengen cewek yang aku nikahi nanti adalah seseorang yang sangat aku cintai dan tentunya dia masih virgin...” Wow, ada yang berkata seperti itu padaku secara enteng sambil menunjukkan sekotak kondom bertuliskan “earthquake”, apa maksudnya kondom ini bisa membuat gempa bumi? Yah sebut saja semacam gempa bumi lokal. Aku memang bukan manusia dan laki – laki yang sempurna, di satu sisi, terima kasih telah dipercaya untuk mendengar cerita semacam itu, tapi aku pikir dia mengalami satu hal apa yang disebut jouissans itu tadi.

Dalam analisisku, apa yang dialami oleh si pencerita ke aku ini, seolah – olah dalam pikirannya dia (yang terbaca olehku) ‘Aku ingin seorang perempuan mampu mencintaiku apa adanya, tidak melihat kekuranganku ini, tapi aku menyenangi hal ini (ML everywhere), kalau belum ada yang mampu melihat isi hatiku, ya sudah aku akan tetap begini...(free-safe sex kemana – mana)” Dan dia akan melakukan itu di saat dia merasa hatinya –sepi- selanjutnya merasa puas dan sepi lagi sambil jauh di hatinya dia bergumam “ayolah, ada dong cewek baik – baik yang melihat sisi baikku, biar aku bisa berhenti”

Aku jelas tidak bisa memberi solusi hanya melalui sebuah media tulisan seperti ini. Karena hidup adalah pilihan, bila seseorang sudah menentukan sesuatu yang ingin dijalaninya, ya dia harus dan mau bertanggung jawab terhadap jalan yang sudah dia pilih sendiri.


Rabu malam 20.00, angkringan Wijilan Jogja

Selasa, 27 April 2010

Mempertegas Karakter Solutif dengan Mengolah Obiter Dictum

figure: Socrates, source- http://teamsuperforest.org/superforest/wp-content/uploads/2009/12/socrates.jpg

“Kak, aku sebel deh sama pacarku, dia bawaannya curiga melulu...” atau “Mbak, saya tuh kalau ngomong sama klien di telepon lancar tapi kalau presentasi kayaknya saya nggak bakat deh..” atau “Gimana nih bro, gue dah nglamar ke mana – mana tapi blom dapet kerjaan juga...”. Beberapa dari kita kemungkinan sering menerima curhatan dengan nada seperti itu meskipun kita sendiri lagi pusing ditengah menghadapi bermacam – macam masalah. Memang terkadang kita juga perlu defense terhadap buangan keluhan – keluhan dari berbagai macam human being yang ada di sekitar kita. Namun satu hal yang perlu disyukuri adalah: Kita diberi kepercayaan oleh orang – orang yang melihat kapabilitas, stabilitas kita berada di atas mereka dikarenakan mereka sedang bergejolak.

Adalah Obiter Dictum, suatu istilah hukum dimana hakim memberikan pernyataan persuasif yang sebenarnya bukan suatu esensi dari kasus yang sedang dihadapi melainkan untuk memberikan persuasi secara moral kepada khalayak di ruang sidang tentang suatu contoh yang bisa diteladani (berkorelasi dengan kasus tersebut, thus... no objection when the point has it!). Hakim juga manusia, tentu saja dia juga mempunyai masalah pribadi. Tapi setiap orang yang sedang punya masalah yang harus diselesaikan secara hukum, menganggap hakim adalah subjek tertinggi yang akan menuntaskan masalahnya. Tentu saja yang diharapkan dari Sang hakim tidak hanya judgement tapi juga Obiter Dictum itu sendiri.

Siap menerima berkah dengan mendapat level hierarki yang lebih tinggi berarti juga siap menghadapi level masalah yang lebih kompleks. Pada posisi ini, kita sudah tidak bisa lagi hanya sekedar memberikan judgement seperti “ya itu sudah betul, lanjutkan aja....” (tanpa ada tips – tips khusus supaya lebih bagus kedepannya) atau “itu jelas kamu yang salah, lain kali jangan kayak gitu yah” (tanpa mengarahkan solusi apa kira – kira yang sesuai untuk membayar kesalahan tersebut). Memang tidak bisa dibilang mudah untuk bisa memunculkan solusi persuasif yang membuat objek pengeluh menjadi paham tentang apa yang harus dia lakukan sekaligus tetap menganggap kita kredibel sebagai problem solver. Tapi hal ini juga bukan berarti –tidak mungkin-, semuanya itu bisa diawali dengan menjadi “tempat sampah” yang menampung segala macam hal yang dengan berani harus kita hadapi dan tampung; keluhan orang, kritikan orang, komplain bahkan pujian sekaligus karena memang benar adanya bahwa Obiter Dictum akan mudah diungkapkan bila berdasar dari pengalaman. Kalau tidak bagaimana mungkin hal ini bisa persuasif? Percayalah, bila kita berada dalam posisi tempat sampah, suatu saat pasti bisa meng-upgrade diri dari recycle bin menjadi wikipedia atau bahkan google.

Senin, 01 Maret 2010

Executives Justification On Habeas Corpus



Aku terinspirasi dari sebuah iklan tentang LCD TV yang mengusung tagline “Borderless”. Di dalam iklan tersebut ditunjukkan bahwa, manusia sejak lahir sudah mulai dibatasi untuk mengekspresikan dan mendapatkan segala keinginannya. Oke, bagaimanapun juga, pemaknaan hidup harus mengandung batasan – batasan tertentu supaya banyak manfaat yang akan didapat oleh kita.

Satu hal yang ingin aku angkat pada tema kali ini adalah tentang pengejaran obsesi yang borderless. Ini merupakan hal positif yang apabila kita mendapat border, justru akan membuat sempitnya mindset kita mengenai masa depan kita nantinya. Hal tersebut adalah justifikasi untuk kita sebagai manusia, khususnya kaum muda untuk terus mencari kesuksesan tanpa batas berdasar atas Habeas Corpus (hak istimewa yang mampu dipergunakan untuk melawan suatu aturan tertentu). Dan Habeas Corpus itu adalah sesuatu yang kita miliki sejak kita lahir ke dunia, untuk belajar bernafas, belajar melihat, belajar berbicara: INTELEKTUALITAS.

Dalam dunia kerja, di mana seorang eksekutif muda tampil sebagai objek yang mendapat banyak aturan untuk melakukan sesuatu termasuk untuk mendapatkan sesuatu-pun juga penuh aturan: gaji lebih tinggi, jenjang karir dll sering membuat sang eksekutif muda tersebut merasa jengah dengan kondisinya sendiri. “Apakah aku bodoh? Apakah aku tidak kompeten?” Asumsi – asumsi negatif seperti itu muncul karena hierarki yang strict pada sebuah perusahaan yang seolah – olah mengalokasikan keberadaan SDM-nya pada level “Karyawan” bukan sebagai seorang mitra dengan segala kemampuannya yang bisa dieksplor untuk dikembangkan bersama seiring dengan perkembangan perusahaan.

Apa salah, apabila seorang yang semula berlabel “karyawan” oleh sebuah perusahaan menjadi berontak untuk pindah ke perusahaan lain dengan dalih “Di sana aku bisa expand kualifikasiku sehingga prestasiku diakui untuk naik level”? tentu saja tidak, karena ini adalah kondisi yang menurut Habeas Corpus sah – sah saja: Ya karena kita semua punya intelektualitas. Karena intelektualitas adalah hasil karya Tuhan yang sempurna, bukankah sayang kalau kita membiarkannya menjadi sempit karena adanya “border”.