Rabu, 21 Desember 2011

Fait D'Excuse Dalam Pekerjaan


Kembali penulis melakukan analogi antara konflik di dalam lingkungan pekerjaan dengan istilah hukum. Kali ini penulis mengangkat tentang istilah hukum pidana "Fait D'Excuse" yakni hal-hal yang dapat membebaskan atau memaafkan pelaku atas tindak pidana yang dituduhkan kepadanya. Ada beberapa hal dalam KUHP yang mengungkap alasan kenapa seseorang dapat dibebaskan dari tuduhan tindak pidana. Namun artikel ini tidak akan membahas hal tersebut. Korelasi yang ingin ditunjukkan oleh penulis adalah antara pelanggaran aturan dalam lingkungan pekerjaan yang dapat dimaafkan.

Dalam suatu pekerjaan, penulis memiliki keyakinan bahwa tipikal executive yang memilih aman dengan selalu patuh pada rule, memperhatikan arahan dan melakukan semua seperti arahan yang diperintahkan atasan biasanya akan bekerja lebih lambat daripada yang suika mencari alternatif dalam penanganan suatu pekerjaan dan menemukan gayanya sendiri dalam bekerja. Hal ini bermaksud diorientasikan untuk hal-hal yang solutif jadi bukan bekerja sekenanya saja.

Kita pasti mengenal SOP atau Standard Operational Procedure untuk dijadikan acuan dalam melakukan suatu pekerjaan di sebuah perusahaan. Menurut penulis, pada dasarmya SOP adalah acuan garis besar yang dapat digunakan landasan oleh pekerja untuk menuntaskan pekerjaannya. Perusahaan yang tidak memiliki SOP besar kemungkinan tidak akan menjadi sustainable. Namun pertanyaannya adalah, haruskan karyawan menjalankan SOP secara detil? Bagi penulis tentu tidak. 

Ada pengecualian atau case-case tertentu untuk tidak terpaku pada SOP namun berorientasi pada hasil, hal ini biasanya terjadi di tengah-tengah deadline yang super ketat sehingga banyak pekerja yang mencari alternatif dan solusi terbaik serta tercepat untuk mencapai target meski kadang harus melanggar SOP. Perlakuan yang diperbolekan dalam hal pelanggaran SOP perusahaan ini biasanya berorientasi pada customer satisfactory prior. Dalam melaluinya biasanya muncul conflict of interest antar departemen. Karena tidak mungkin pelanggaran SOP hanya dilakukan oleh 1 departemen saja. Jadi intinya, apapun yang dilakukan ketika seseorang melakukan pelanggaran dalam suatu aturan operasional yang sudah ditetapkan oleh eprusahaan, tentulah harus mengacu pada hal-hal yang bersifat best output sehingga dukungan dapat direalisasikan oleh perusahaan terhadap pelanggaran tersebut.


Rabu, 12 Oktober 2011

Garage Sale Untuk Panti Gotong Royong


Setiap kali pulang dari beraktivitas rutin setiap harinya seperti bekerja, pasti ada saja momen yang dirindukan yaitu menyenangkan diri sendiri bagi para lajang. Berbeda dengan mereka yang sudah menikah, keinginan untuk menemui istri dan buah hati menjadi faktor utama ketika pekerjaan telah dirampungkan di hari tersebut. lalu, bagaimana cara para lajang menyenangkan diri mereka di waktu-waktu senggang? Baik, saya dengan beberapa rekan lain mungkin sering membutuhkan ruang untuk bersenang-senang dengan cara hura-hura. Tidak ada yang salah, apalagi selama ini kami sudah berusaha keras untuk menjadi mandiri. 
     Awal bulan Oktober 2011 ini, dengan dibantu beberapa rekan, kami mencoba mencari cara untuk menyenangkan diri dengan cara yang berbeda. Mengumpulkan pakaian dan pernik yang masih layak pakai, lalu kami jual secara Garage Sale untuk hasil penjualannya akan disumbangkan. 
     Rental komputer Dot.Co milik rekan saya Ratih Kusuma Dewi menjadi pilihan untuk digunakan sebagai venue Garage Sale. Berlokasi di Jln Prof. Dr. Soepomo Yogyakarta, kami menggelar lapak dagangan pada Sabtu 1 Oktober 2011 dari pukul 16.00 - 19.00. Semula agenda ini akan berdurasi selama empat jam hingga pukul 20.00, namun satu jam sebelumnya, barang dagangan kami sudah sold out. Selain Ratih, agenda berjualan ini juga dibantu oleh Winda Murod, Ika Tunggarwati serta Anssi Riana Sari.
    Seminggu kemudian, yakni Sabtu 8 Oktober 2011, bersama Widdy Oktadella, Toni Supomo dan Mbak Ayuk (kakak Widdy) kami menyambangi Panti Asuhan Gotong Royong untuk menyalurkan dana yang digalang melalui garage Sale dan beberapa sumber lain. Referensi supaya sumbangan tersebut disalurkan ke panti ini diberikan oleh Widdy, sudah sejak beberapa waktu lampau dia banyak bercerita tentang panti asuhan Balita ini namun baru kesempatan tersebut saya ikut untuk berkunjung ke sana. 
    Keceriaan anak-anak balita di dalam panti ini memancarkan optimisme bahwa mereka layak dicintai oleh semua orang. Mata mereka selalu ebrbinar-binar menyambut kedatangan setiap pengunjung, reaksinyapun macam-macam: ada yang suka digendong, diajak bermain atau dibantu makan jajan/ minum susu. Ternyata selain balita, masih banyaks sekali bayi yang dititipkan di panti ini. Bayi-bayi itu terlihat nyaman dalam kain gedhong.
    Bagi warga Jogja dan sekitar yang ingin berkunjung ke Panti Asuhan balita "Gotong Royong" alamatnya ada di ringroad selatan. Saya tidak terlalu hafal jalan, tapi kalau bisa sedikit digambarkan: dari utara, lewat Dongkelan ke arah jalan bantul, sampai di perempatan ringroad belok kiri, lalu cari patahan jalan untuk putar balik. Gotong Royong ada di selatan jalan. Tidak lupa juga, terimakasih kepada Eko Harry Saputra , Dinik  Fitri dan Cita Adati atas kerjasamanya dalam Garage Sale tersebut serta Ibu Asih selaku pengurus Panti Asuhan Gotong Royong.

Jumat, 22 Juli 2011

Korupsi dan Pemiskinan Perempuan dalam "Lagu Duka Kali Garing"



Sejak Ibu Kartini tidak pernah lelah memperjuangkan emansipasi wanita hingga akhir hayatnya dan kata-kata Habis Gelap Terbitlah Terang begitu menginspirasi gerakan para perempuan, sekarang memang tampak sudah banyak perempuan yang tampak mampu mensejajarkan dirinya dengan pria dalam banyak hal seperti karir, menyatakan pendapat dan lain sebagainya. Namun fenomena yang seperti penulis sampaikan tersebut akan terdisonansi apabila menonton refleksi tentang kehidupan perempuan yang terekam dalam film “Lagu Duka Kali Garing” yang bercerita tentang korupsi dan perempuan.
    Terlihat gambaran kehidupan keluarga miskin, si istri memasak dengan kayu dan si suami bekerja sebagai buruh, itulah yang diungkap dalam film ini. Bahasa yng lugas juga disampaikan ketika si suami mengeluh kenapa si istri bisa hamil lagi padahal mereka sudah tidak mampu untuk mencukupi kehidupan anak-anak mereka, si istri hanya bisa menjawab bahwa bagaimana tidak hamil apabila sehabis notnon televisi di malam hari, si suami selalu meminta “jatah”. Di sisi lain tampak perangkat desa yang dengan tanpa merasa berdosa memanfaatkan uang rakyat untuk kepentingan pribadi serta meminta pungutan-pungutan liar. Pengakarkteran tersebut yang dapat membentuk konstruksi sosial emosi. Menurut James Averill, emosi adalah sistem kepercayaan yang akan memandu definisi seseorang mengenai situasi yang dihadapinya (Averill, 85).
    Berbicara mengenai definisi, paska menonton film tersebut, berdasar konstruksi skala emosi yang terbentuk, memang film tersebut lebih banyak mengacu pada apa yang dialami oleh perempuan sebagai dampak korupsi. Sudut pandang tersebut memiliki persamaan pandangan tentang feminisme sebagai hal yang lebih dari sekedar studi mengenai gender, tetapi juga menawarkan berbagai teori yang memfokuskan perhatiannya pada pengalaman wanita dan menjelaskan hubungan antar gender sebagai salah satu kategori sosial dengan kategori social lainnya seperti ras, etnik, kelas dan seksualitas (Morissan dkk, 158)
Mengambil sudut analisis dari segi perempuan dan korelasi dengan konstruksi emosi penulis terhadap dialog si istri miskin dengan suaminya tentang problem “hamil lagi” maka pada dasarnya pada scene tersebut, film ini ingin mengklasifikasikan tingkat kerentanan antara pria dan wanita dalam hal reproduksi yaitu:


Laki-laki:
1.    Sunat
2.    Mimpi basah
3.    Berkhayal
4.    kawin/menghamili
Perempuan:
1.    Menstruasi
2.    Perkawinan
3.    Hamil
4.    Melahirkan
5.    Menyusui
6.    Menopouse

Dari data tersebut, terlihat bahwa perempuan memiliki kerentanan yang lebih tinggi dalam hal reproduksi sehingga dari program pemerintah, semestinya program lebih banyak ditujukan kepada perempuan. Jadi jika terjadi korupsi di bidang kesehatan, maka perempuan yang lebih banyak terkena dampaknya. Itulah gambaran pesan yang ingin ditampilkan film ini dari sudut feminisme.
    Penulis juga melihat dari sisi etika komunikasi yang dimunculkan dalam film ini. Menurut Englehardt, etika adalah merupakan suatu tipe pembuatan keputusan yang bersifat moral dan menentukan apa yang benar atau salah dipengaruhi oleh peraturan dan hukum yang berlaku di masyarakat (Richard West, Lynn H. Turner, 16). Film Lagu Duka di Kali Garing memperlihatkan perilaku perangkat desa yang dalam mengkomunikasikan kebijakannya telah melanggar etika komunikasi. Sebagai contoh penyalahgunaan dana pembangunan jalan serta pungutan liar untuk administrasi warga. Penyalahgunaan dana yang pada dasarnya untuk kepentingan pribadi di film ini disampaikan sebagai bagian untuk kepentingan bersama atau umum.
    Korelasi yang lebih jelas antara korupsi dan pemiskinan perempuan telah coba disampaikan oleh Laili Khairnur selaku direktur eksekutif Lembaga Gemawan. Lembaga Gemawan didirikan pada 21 April 1999 oleh sekelompok aktivis mahasiswa yang peduli akan situasi Negara demokratis setelah turunnya Suharto. Lembaga ini berupaya untuk mencapai perubahan sosial melalui gerakan sosial untuk memberdayakan kelompok yang lemah dan terpinggirkan, perempuan miskin dan anak-anak. Analisis yang diungkapkan oleh Laili Khairnur tentang korupsi dan pemiskinan perempuan adalah sebagai berikut:
1.   Korupsi menyebabkan penyelenggaraan pemerintahan menjadi high cost, karena dana yang digunakan untuk masyarakat maupun operasional  justru dikorup, Sujatmoko (Begawan Ekonom  Indonesia) pernah menyatakan bahwa 30% dana APBN bocor.
2.     Pelayanan publik menjadi mahal dan lama, karena birokrasi yang selalu mengutamakan siapa yang punya uang yang akan mudah mendapatkan pelayanan. Dan kelompok miskin yang tidak punya uang pelicin akan mendapatkan dampaknya, kemudian kalau kita petakan  siapa yang miskin dalam masyarakat maka faktanya perempuan adalah kelompok yang paling miskin.
3.     Infrastruktur publik yang tidak memadai, kondisi jalan dan bangunan-bangunan public (sekolah-sekolah, rumah sakit dll) yang cepat rusak dan ambruk, karena proyek yang tidak sesuai dengan bestek (untuk jalan) dan bahan bangunan yang digunakan dari kualitas yang rendah.
4.      Hak-hak dasar perempuan tidak terpenuhi, khususnya pendidikan dan kesehatan, kita tahu bahwa dalam APBN dan APBD alokasi dana untuk hak-hak dasar ini sangatlah kecil, karena dianggap tidak prioritas.  Kemudian dari dana yang kecil itu pula selalu dikorup. Kita bisa lihat harusnya jaminan sosial untuk hak dasar ini bisa diberikan gratis, namun karena pengelolaan negara yang korup, maka Negara merasa selalu merugi dan berdalih tidak punya dana untuk pemenuhan hak-hak dasar ini. Kita bisa lihat karena hak-hak dasar  tidak menjadi prioritas maka anggaran yang dialokasikan juga kecil dan hasilnya bisa kita lihat tingginya tingkat Angka Kematian Ibu melahirkan, gizi buruk dan busung lapar serta tingginya angka putus sekolah (dan anak perempuan angkanya lebih tinggi dibanding anak laki-laki)
5.      Ekonomi biaya tinggi, dimana dunia usaha harus membayar pungutan-pungutan liar untuk izin usahanya, dan salah satu pengalihan yang dilakukan oleh pengusaha adalah dengan  menaikkan harga-harga barang dan jasa untuk menutupi pengeluaran akibat pungutan-pungutan tersebut. Dan dalam konteks ini perempuan menjadi korban utamanya. Karena kehidupan perempuan sangat dekat  dengan persoalan ini.
6.      Karena ekonomi biaya tinggi ini pula, pengusaha juga akan menekan upah buruh untuk menutupi pengeluaan biaya yang ada, dan fakta menunjukkan bahwa upah buruh perempuan akan lebih murah dari upah buruh laki-laki.
7.    Semakin maraknya korupsi yang dilakukan maka semakin mempersulit kehidupan perempuan, kelompok miskinlah yang akan merasakan secara langsung dampak dari korupsi. Karena korupsi akan semakin melanggengkan kemiskinan yang dialami oleh perempuan. Misalnya raskin, askeskin dan dana BLT subsidi BBM yang tidak tepat sasaran.
8.     Keinginan untuk korupsi pula yang menyebabkan, para pengambil kebijakan selalu memperkecil bahkan meniadakan  partisipasi masyarakat dalam proses kebijakan anggaran dan kebijakan lainnya, karena mereka khawatir dengan kontrol yang akan diberikan masyarakat akan memperkecil peluang korupsi yang akan mereka lakukan, bukankah korupsi terjadi di “wilayah yang gelap dan remang-remang”
Berdasarkan dari analisis singkat yang disampaikan oleh Laili Khairnur tersebut, tampak apa yang dikomunikasikan dalam film Lagu Duka di Kali Garing merujuk pada delapan poin di atas. Terlihat dalam pelayanan publik yang lama dan tidak efisien, ketika anak perempuan dalam film tersebut terserang demam berdarah dan si bapak berusaha mendapatkan kartu miskin untuk mendapatkan pengobatan secara gratis namun pungutan liar demi realisasi pembuatan kartu miskin justru dibebankan kepada si orang miskin tersebut. Ceritapun berujung pada kematian si anak perempuan.
    Dalam film tersebut juga terlihat secara jelas infrastruktur daerah yang tidak memadai. Korupsi untuk pembangunan jalan telah membuat pembangunan terbengkalai sehingga jalan di daerah Kali Garing tidak representatif untuk dimanfaatkan warga. Diperlihatkan dampaknya bagi perempuan dalam scene si ibu hamil yang akhirnya meninggal karena kecelakaan di jalan yang kondisinya tidak segera diperbaiki oleh pemerintah setempat.
    Meski diawali dengan konstruksi sosial emosi ketika menonton film ini, penulis juga mendapati disonansi kognitif ketika menonton film bertema korupsi dan pemiskinan terhadap perempuan ini. Disonansi yang didapat adalah; alur cerita yang disampaikan dalam film tersebut, bagi penulis seolah-olah memberikan justifikasi terhadap tindak KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) bagi suami di keluarga miskin terhadap istrinya karena kondisi mereka yang miskin disebabkan korupsi oleh pihak-pihak yang lebih memiliki kuasa di masyarakat. Terlepas dari disonansi kognitif yang dialami oleh penulis terhadap film ini, paling tidak film Lagu Duka di Kali Garing telah menyajikan pengalaman empirik kepada penulis untuk menunjukkan alur tentang pemiskinan terhadap perempuan karena korupsi. Secara ringkas, komunikasi yang disampaikan adalah penekanan terhadap isu tentang perempuan karena memfokuskan perhatiannya pada pengalaman perempuan dan menjelaskan hubungan antara gender sebagai salah satu kategori sosial dengan kategori sosial lainnya yang berupa pelanggaran etika yang dilakukan oleh koruptor sebab mereka membuat keputusan tidak didasarkan pada azas moralitas.

Daftar Pustaka

Morissan, MA dkk. Teori Komunikasi Massa. Bogor: Ghalia Indonesia. 2010

West, Richard & Turner, Lynn H. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika. 2009

Khairnur, Laili. http://www.gemawan.org/artikel/114-korupsi-dan-pemiskinan-perempuan.html

   
   
   


Senin, 18 Juli 2011

ANAK CERDAS = ANAK PAHAM TEKNOLOGI ?

Apa yang ada di pikiran orang tua jaman sekarang tentang kecerdasan anaknya? Apakah mengenal teknologi sejak dini? Sebenarnya, apakah relevan apabila penguasaan teknologi dikaitkan dengan kecerdasan terutama anak? Sebelum kita sama-sama menjawab pertanyaan tersebut, penulis ingin menyampaikan tentang pesan apa yang terlihat dalam iklan susu anak-anak Procal Gold.
    Dalam iklan susu Procal Gold, bisa kita lihat seorang anak usia balita sedang bermain dengan ipad dan juga ikan di dalam aquarium. Pada bagian akhir iklan tersebut ditunjukkan bahwa si anak berhasil menggunakan ipad sebagaimana fungsinya (dalam hal browsing gambar) dan bukan lantas mencelupkan Ipad tersebut ke dalam aquarium sebagai bagian dari hiasan aquarium. Korelasi yang ingin dimunculkan di sini menurut penulis adalah produk susu tersebut mampu meningkatkan kecerdasan balita dengan ditunjukkan kepiawaian si balita dalam mengoperasikan Ipad sebagai contoh produk berteknologi mutakhir.
    Seolah-olah, iklan tentang balita yang pandai bermain Ipad tersebut telah menunjukkan transformasi besar yang dialami masyarakat kita karena teknologi. Seperti teori yang diungkapkan oleh Jacques Ellul bahwa masyarakat teknologi merupakan gambaran masyarakat dimana teknologi secara fungsional telah begitu berkuasa bahkan pada peran yang substansial mengatur jalan dan pola pikir masyarakat. Jadi, secara simpulan ketika penguasaan teknologi secara dini dikaitkan terhadap kecerdasan anak menjadi relevan karena memang teknologi secara fungsional telah mempengaruhi pola pikir kita termasuk si pembuat iklan tersebut.

Sumber:
Ellul, Jacques. The Technological System. New York: Continuum. 1980

Minggu, 17 Juli 2011

Institusi “Popol Vhu” Yang Terusik Propaganda Media Massa


Dedikasi terhadap kemajuan Negara tidak memandang pamrih, rela berkorban dan selalu mengupayakan yang terbaik untuk kemakmuran bersama. Setidaknya menurut penulis, Hugo Chavez, presiden Venezuela saat ini mengacu pada prinsip-prinsip sosialis untuk mewujudkan sikap tersebut. Bagaimanapun juga, penerapan prinsip-prinsip yang dilakukan oleh seorang pemimpin Negara tidak menutup kemungkinan memunculkan disonansi dalam persepsi masyarakat, apalagi bila media massa memegang peranan dalam eksplorasi disonansi persepsi masyarakat terhadap apa yang menjadi kebijakan pemimpinnya tersebut.
   Awal dikenalnya Hugo Chavez adalah ketika muncul kudeta yang erinspirasi oleh Simon Bolivar, seorang tokoh pembebasan yang memperjuangkan kemerdekaan Venezuela dari penjajahan Spanyol dan menyatukan Amerika Latin, sebuah kelompok perwira junior yang berpangkat Kapten membentuk Pergerakan Revolusioner Bolivarian 200, atau MBR-200. Kelompok ini terdiri dari Felipe Acosta Carlos, Jesus Urdaneta Hernandez, Rafael Baduel dan Hugo Chavez Frias. Mereka berkomitmen membentuk gerakan revolusioner untuk membebaskan Venezuela dari belenggu penindasan. Gerakan MBR-200 dimulai dalam bentuk kelompok diskusi, namun kemudian mereka berinisiatif merancang sebuah kudeta.
   Pada tanggal 27 November, MBR-200 meluncurkan pemberontakan militer mereka. Namun percobaan kudeta mereka mampu dipatahkan. Pada saat percobaan kudeta militer tersebut, tidak ada dukungan dari rakyat pekerja sama sekali. Rakyat pekerja tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka tidak dimobilisasi sama sekali. Karena mereka tidak tahu apakah kudeta ini adalah progresif atau reaksioner, maka mereka pasif saja.
   Ketika kudeta MBR-200 dipatahkan dan terungkap bahwa kudeta ini punya maksud progresif, Hugo Chavez lalu dilihat sebagai simbol perjuangan oleh rakyat miskin. Ia dianggap sebagai pahlawan anti korupsi karena berani melawan pemerintahan yang korup.
   Pada tahun 1996-1997 sebuah survey dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kepopuleran Chavez di mata massa rakyat. Dan ternyata 70% dari hasil survey menunjukan bahwa massa rakyat menginginkan Chavez maju menjadi kandidat presiden. Keyakinan Chavez semakin besar untuk maju menjadi kandidat presiden. Ia menginginkan agar massa rakyat benar-benar berdaulat dan memiliki kekuasaan.
   Di tahun 1997, MBR-200 memutuskan untuk maju dalam Pemilu 1998. Sebagai kendaraan politik di tahun yang sama mereka membentuk partai baru yang dinamakan Pergerakan Republik Kelima (Movimiento V [Quinta] República, MVR). Partai ini mengusung ideologi Bolivarianisme, sebuah ide populis pro-rakyat miskin dengan figur Simon Bolivar, sang pembebas Amerika Latin. Dengan mengangkat isu anti kemiskinan dan anti korupsi, Chavez mampu meraih 56% suara dan memenangkan Pemilu 1998. Kemenangan ini disambut dengan suka cita oleh rakyat miskin Venezuela.
   Tugas-tugas berat sudah menanti Chavez dan kekuatan-kekuatan politik yang mendukungnya. Hal pertama yang dilakukan oleh pemerintahan Chavez adalah perubahan konstitusi yang lama, yang merupakan warisan dari pemerintahan oligarki lama dan hanya menguntungkan kaum kapitalis dan pemilik tanah besar di Venezuela. Dibutuhkan sebuah konstitusi yang perancangannya dan penyetujuannya dilakukan oleh seluruh rakyat Venezuela, sebuah konstitusi yang berpihak pada rakyat miskin. Dalam langkah-;angkah untuk memperbaiki sistem inilah kontroversi terhadap kebijakan Chavez-pun terjadi.
   Kebijakan ekonomi yang dinilai kontroversial terutama menyangkut Undang-undang Reformasi kepemilikan tanah, diantaranya memberi kekuasaan pada pemerintah untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan real estate yang luas dan tanah-tanah pertanian yang dianggap kurang produktif mengundang protes jutaan orang di ibukota, Caracas (11 Desember 2001). Selain, mata uang Bolivar jatuh terpuruk 25% terhadap dolar AS setelah pemerintah menghapuskan kontrol terhadap nilai tukar uang yang sudah dipertahankan lima tahun.
   Bulan April 2002, sekitar 150.000 orang berunjuk rasa, yang dipelopori oleh Carlos Ortega dan Pedro Carmona, yang bertujuan untuk mendukung pemogokan dan protes minyak. Sementara pada waktu yang hampir bersamaan, ribuan pendukung Chavez berada di sekitar istana, menunjukkan kesetiaan mereka pada presiden yang terpilih dengan demokratis tersebut.
   Secara sepihak, pihak oposisi yang melancarkan demo pemogokan tersebut tiba-tiba merubah rute yang sudah ditentukan, berputar ke arah istana sehingga kekhawatiran akan terjadinya bentrokan memacu protes dari walikota Caracas pada Carlos Ortega sebagai orang yang dianggap bertanggung-jawab pada demonstran yang dibawanya.
   Bentrokan pun terjadi diantara dua massa besar tersebut, yang dicoba lerai oleh pihak keamanan. Namun di tengah bentrokan, suara-suara tembakan terdengar. Jelas sekali di kemudian hari, dari hasil dokumentasi dan pengumpulan informasi, diketahui ada penembak gelap yang bersembunyi.
   Pada saat tersebut, nyaris dari 25% penduduk Venezuela memiliki pistol. Tidak terkecuali dengan mereka yang berada dalam demonstrasi besar tersebut. Tembakan-tembakan pun diarahkan, baik oleh pendukung Chavez maupun pihak oposisi yang tidak tahu apa-apa, ke arah tembakan dari penembak gelap. Namun dalam tayangan yang ditampilkan oleh televisi swasta yang sebagian besar dimiliki oleh pihak yang beroposisi pada Chavez, dikesankan seakan penembakan dilakukan oleh pendukung Chavez dengan brutal pada pihak demonstran oposisi.
   Kejadian itu menelan korban 10 orang tewas dan 110 lainnya cedera. Presiden Chavez bukannya melarang aksi-aksi kekerasan tersebut diliput televisi, bahkan aksi-aksi tersebut dibesar-besarkan oleh pihak media yang anti dengan Chavez sebagai kesalahan dan tanggung-jawab Chavez. Meskipun pada kenyataannya mereka menyembunyikan fakta bahwa baik pendukung Chavez maupun oposisi, pada saat tersebut sama-sama menjadi sasaran penembak gelap. Pada saat itu, para perwira militer pembangkang mengharapkan Chavez mengundurkan diri.
   Pada poin yang berujung pada keinginan para perwira militer pembangkang supaya Chavez mengundurkan diri tersebut, mari kita menggaris bawahi tentang tayangan media yang ditampilkan televisi swasta yang sebagian besar dimiliki oleh pihak yang beroposisi pada Chavez. Dalam kasus tersebut, media massanya dikuasai secara oligopoli oleh dua keluarga besar yakni, keluarga Cisneros dan Bottome & Granier Group. Keluarga Cisneros adalah pemilik Venevisión, salah satu stasiun televisi terbesar di Venezuela yang memiliki 70 saluran media di 30 negara, termasuk DirecTV Latin America, AOL Latin America, Caracol Television (Colombia), the Univisión Network di AS, Galavisión, dan Playboy Latin Amerika. Sementara itu, Bottome & Granier Group menguasai Radio Caracas Televisión (RCTV) dan Radio Caracas Radio.
   Sedangkan untuk media cetak, enam media cetak harian terbesar dikontrol oleh kelompok-kelompok keluarga yang juga terbatas. Padahal para pemilik media cetak ini juga memiliki majalah, harian, dan perusahaan hubungan masyarakat (humas).
   Dengan kepemilikan yang oligopolisitik itu, bisa diterka bagaimana besar pengaruh politik mereka dalam menentangan rejim Bolivarian. Sebagai contoh, lima jaringan televisi swasta terbesar yakni, Venevisión, Radio Caracas Televisión (RCTV), Globovisión, Televan dan CMT, mengontrol 90 persen pasar. Sisanya, 5 persen dikontrol oleh televisi swasta kecil. Contoh lain, ketika Teodoro Petkoff, editor El Mundo, sebuah koran sore yang dimiliki oleh Capriles Group bergabung dalam oposisi, ia menggunakan El Mundo untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan politiknya. Belakangan ia juga mendirikan hari Tal Cual, salah satu dari sepuluh besar media cetak di Venezuela sebagai ajang propaganda politiknya menentang Chávez . Satunya-satunya televisi publik adalah Venezolana de Televisión (atau Channel 8).
   Demikian juga, ketika berlangsung pemogokan besar-besaran 64 hari di bulan Desember 2002 sampai Januari 2003, empat stasiun televisi terbesar membiayai sendiri program yang mendukung pemogokan sepanjang hari. Tak ada program komersial, tak ada opera sabun, tak ada film, tak ada kartun dan juga sitcoms. Dalam hari-hari itu, tak kurang dari 17.000 propaganda yang disiarkan untuk melawan pemerintah.
   Dengan demikian, selama pergolakan politik itu rakyat hanya mendapatkan berita dan gambar yang bersifat sepihak dan manipulatif. Di sini media tidak menyampaikan realitas yang sebenarnya. Realitas yang ditampilkan adalah realitas yang dibentuk oleh pemilik media sesuai dengan kepentingan politiknya. Akibatnya, rakyat tidak memperoleh informasi yang benar dan menyeluruh. Potret media ini jelas sekali bertolakbelakang dengan gambaran suci bahwa media bersifat independen, bekerja berdasarkan prinsip check and balance, dan non-partisan.
   Mengenai berita yang bersifat sepihak, bagaimana berita di media massa tersebut dapat begitu signifikan mempengaruhi pikiran rakyat Venezuela di saat itu? Mari kita lihat efek-efek yang dapat ditimbulkan media massa:

1. Efek Kognitif
Efek kognitif adalah akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informative bagi dirinya. Dalam efek kognitif ini akan dibahas tentang bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitif.
   Menurut Mc. Luhan, media massa adalah perpanjangan alat indera kita (sense extention theory; teori perpanjangan alat indera). Dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan oleh media massa adalah relaitas yang sudah diseleksi. Kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa. Televisi sering menyajikan adegan kekerasan, penonton televisi cenderung memandang dunia ini lebih keras, lebih tidak aman dan lebih mengerikan.
Ketika televisi yang telah dimonopoli pihak oposisi Chavez tersebut menyiarkan berita tentang kebijakan-kebijakan Chavez yang anti kapitalisme dan Amerika, rakyat menjadi terprovokasi dengan anggapan bahwa Chavez anti kemajuan dan mendukung komunisme.

2. Efek Afektif
Efek ini kadarnya lebih tinggi daripada Efek Kognitif. Tujuan dari komunikasi massa bukan hanya sekedar memberitahu kepada khalayak agar menjadi tahu tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu, setelah mengetahui informasi yang diterimanya, khalayak diharapkan dapat merasakannya.
Setelah propaganda dilancarkan, masyarakat oleh media massa di Venezuela pada waktu itu diarahkan untuk merasakan apa yang akan menjadi efek dari kebijakan Chavez. Karena mulai terbentuk pikiran Chavez anti Amerika dan mendukung komunisme. Masyarakat Venezuela saat itui menjadi khawatir akan mengalami ketertinggalan terhadap globalisme.

3. Efek Behavioral
Efek behavioral merupakan akibat yang timbul pada diri khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan. Adegan kekerasan dalam televisi atau film akan menyebabkan orang menjadi beringas.
   Demonstrasi besar-besaran yang menuntut kemunduran Chavez adalah bagian dari efek behavioral tayangan berita di televisi-televisi Venezuela yang sudah dimonopoli pihak oposisi Chavez tersebut. Bahkan dalam film The Revolution Will Not Be Televised ditunjukkan ada warga yang berteriak bahwa Hugo Chavez adalah pendukung komunisme, anti kemajuan dan lebih baik mengasingkan diri ke Kuba saja.
    Merujuk pada efek media massa yang telah dimonopoli tersebut, rejim Bolivarian (pro Chavez) kemudian meresponnya dengan menciptakan sendiri makna tentang ”Fairness Doctrine.” Dewan Nasional Venezuela kemudian memperkenalkan reformasi media melalui Law of Social Responsibility in Radio and Television (LSRRT), yang mengusulkan tentang jaminan akses publik terhadap media. Usulan LSRRT ini kemudian memperoleh persetujuan Dewan Nasional Komisi Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Komunikasi Sosial Media pada Mei 2003. Usulan ini kontan ditentang oleh asosiasi pengelola media tradisional seperti Venezuelan Broadcasting Guild (Cámara Venezolana de la Indsutria de la Radiofusión). Setelah melalui perdebatan yang alot, LSRRT akhirnya disahkan oleh Dewan Nasional sebelum akhir 2004.
   Dalam usulannya, LSRRT ingin mereformasi struktur kepemilikan media dan juga isi media. Dalam hal isi, LSRRT tidak mengeluarkan peraturan-peraturan yang secara ketat mengontrol isi program media milik swasta. Reformasinya lebih bertujuan untuk memperkuat peraturan yang berkaitan dengan kepantasan tayangan selama masa jam tayang untuk anak-anak, dukungan terhadap saluran-saluran media independen, demokratisasi radio dan televisi, serta akses publik dan partisipasi rakyat dalam komunikasi media.
Dari sudut struktur kepemilikan, langkah konkret yang ditempuh rejim Bolivarian adalah membantu organisasi-organisasi komunitas di seluruh Venezuela untuk memperoleh lisensi bagi penyiaran lokal. Di samping itu, pemerintah juga menjamin hak hidup tidak kurang dari 500 surat kabar komunitas dan tak terhitung website yang ada. Dengan mendorong dan menjamin keragaman media, maka struktur kepemilikan media diharapkan menjadi lebih demokratis. Dari segi isi berita, media-media lokal dan komunitas yang dikelola secara ”amatiran” tersebut, sanggup menangkal monopoli informasi yang selama ini didistribusikan oleh oligarki; mereka mencari dan menceritakan sendiri kehidupannya; dan menyuarakan peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman lokal setempat yang tidak diliput oleh media komersial. Hanya dengan cara seperti ini, rejim Bolivarian percaya bahwa media adalah salah satu pilar demokrasi.
   Melalui jalur media massa juga, setelah Hugo Chavez ditahan di Pulau La Orchila oleh para pejabat senior militer dan Pedro Carmona terpilih menjadi presiden menggantikan Chavez, rakyat Venezuela mulai diarahkan untuk terkena disonansi kognitif terhadap pemerintahan Carmona. Berita-berita yang diatur antara lain; intervensi CIA terhadap Venezuela paska Carmona memimpin sehingga memungkinkan terjadinya perdagangan bebas dan kapitalisme. Sekali lagi aspek-aspek kognitif, afektif dan behavioral masyarakat Venezuela terusik oleh media sehingga berujung pada demosntrasi untuk menuntut kembali kepemimpinan Chavez di Negara lading minyak nomor lima terbesar di dunia tersebut.
   Tuntutan rakyat akhirnya dipenuhi, Chavez kembali memimpin Venezuela hingga sekarang, di awal pidatonya ketika kembali, Chavez juga menyampaikan bahwa Negara adalah Institusi “Popol Vhu” yang merupakan symbol demokrasi. “Anda dapat menentang saya. Tapi tidak terhadap institusi ini” demikian diungkapkan oleh Chavez.

Daftar Pustaka

Jhi, Amri. Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara-Negara Dunia Ketiga, Jakarta: PT. Gramedia, 1988

Karlinah, Siti. Komunikasi Massa. Jakarta: Penerbitan UT. 1999
Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Eosdakarya. 2007

Thea, Adi. http://www.militanindonesia.org/teori/sejarah/8086-gerak-menuju-sosialisme.html

Kamis, 14 Juli 2011

Gentayangan Via HandPhone

Tidak ada hal yang menyeramkan tentang gentayangan di dalam artikel ini. Gentayangan di sini justru menebarkan sensasi pedas bagi masyarakat yang menginginkan untuk bertemu sosok gentayangan tersebut. Sebutlah Jendral Maicih, reseller keripik pedas yang berasal dari Bandung yang hanya gentayangan pada waktu-waktu tertentu dan tempat-tempat tertentu di beberapa kota besar di Indonesia antara lain; Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan sebagainya. Sekalinya para jendral tersebut gentayangan maka icihers (sebutan bagi penggemar keripik maicih) akan langsung menyerbu hingga membentuk antrian yang panjang untuk membeli keripik tersebut.



    Sebelum membahas tentang bagaimana cara pemasaran keripik maicih, sedikit penulis sampaikan tentang awal mulanya bisnis ini. Adalah Reza Nurhilman yang akrab disapa Axl telah mendapatkan resep keripik pedas dari neneknya pada tahun 2007 lalu. Akhirnya brand Maicih mulai dipasarkan pada Juni 2010 dan setelah setahun pemasarannya, telah dicapai omzet miliaran rupiah.
    Mengenai gebrakan keripik Maicih tersebut, penulis mencoba menganalisis apa yang dilakukan oleh Axl bersama brand-nya tersebut. Sejak 2010 lalu, pengguna twitter di Indonesia sudah berada pada posisi tertinggi di Asia, hal tersebut tampak dalam trending topics yang terdapat dalam twitter tidak jarang didominasi oleh para pekicau dari Indonesia. Fenomena tersebut semacam dimanfaatkan oleh Axl untuk menjaring cucu maicih (konsumen). Trik yang dibuat adalah menjaring jenderal maicih atau reseller dari beberapa kota dengan karakter tertentu seperti usia antara 20 – 28 tahun, penampilan menarik dan memiliki mobil serta ada syarat-syarat lain. Sesuai dengan sebutannya yang menggunakan istilah jendral, jadi cara mendapatkan keripik maicihpun secara gerilya yaitu menunggu si jenderal gentayangan pada waktu dan tempat-tempat tertentu yang diinfokan melalui twitter.


Demi mempermudah akses cucu maicih untuk mencari jenderal maicih, tidak jarang juga para jenderal menyampaikan nomor telepon dan pin Blackberry mereka supaya dapat dengan mudah dikontak oleh para cucu.
    Apa yang dilakukan keripik maicih berupa mobile marketing pada dasarnya merupakan implementasi dari ekonomi pasca-industri yaitu ekonomi yang didasarkan pada teknologi intelektual dan bertumbuh dalam penyampaian pengetahuan (informasi). Kondisi seperti inilah yang melibatkan sekumpulan masyarakat yang disebut masyarakat informasi yang dalam melakukan kegiatan ekonomi untuk mendapatkan keuntungan tidak lagi berdasarkan pada otot atau energy melainkan pada informasi. Karena, proses manufaktur sekarang sedemikian kompleks sehingga tanah, bangunan, mesin-mesin tidak lagi menjadi bentuk utama modal melainkan justru informasi yang mengambil peran.
    Penyebaran informasi memang menjadi kunci kesuksesan mobile marketing yang dijalankan oleh maicih. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan dalam Yories Sebastian (pemilik yahoo OMG) bahwa seharusnya mobile marketing tidak hanya berorientasi pada SMS broadcast saja karena akan dianggap spam. Nyatanya, maicih telah mengambil cara pemasaran melalui mobile dengan cara yang lebih nyaman dan efektif karena memang iya, masyarakat Indonesia suka memastikan handphone mereka selalu dalam genggaman dan juga suka berkicau melalui twitter.

Sumber:

http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/8952-reza-nurhilman-sang-presiden-keripik-pedas-maicih.html
http://yorissebastian.com/mobile-marketing-is-not-just-sms-blast/

Minggu, 10 Juli 2011

Apa Kata New York Tentang Cinta?


Year after years, thousands of twenty something girls arrive to New York for the reason of two – L – Labels and Love… When trends always come and go, but friendship is never out of style”


Carrie Bradshaw, seorang jurnalis gaya hidup majalah Vogue adalah sentral dari serial Sex & The City yang beredar luas di dunia pada tahun 1998-2004 dengan lisensi penayangan oleh HBO (Hollywood Box Office). Carrie-lah yang terus menerus mengucapkan kata-kata yang seperti tercantum di atas pada awal dan akhir serial tersebut berlangsung. Berawal dari tema besar yang diusung oleh Sex & The City tentang cinta dan gaya hidup di Manhattan-New York, penulis sajikan ulasan yang menyampaikan doktrin cinta dan korelasinya dengan propaganda budaya populer.
            Sebuah teori menarik tentang cinta yang dikemukakan oleh Robert Sternberg, cinta adalah sebuah kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan (Tambunan, 2001). Sex & The City adalah kumpulan kisah tentang cinta yang menggambarkan persepsi tokoh-tokoh di dalamnya tentang minat dan perasaan mereka akan arti hubungan cinta dan persahabatan. Proses penggambaran tersebut, dapat dilihat dari kutipan dialog di serial ini:
Carrie: He was like the flesh and blood equivalent of a DKNY dress -- you know it's not your style, but it's right there, so you try it on anyway.
Carrie, to Big: You can't leave New York! You're the Chryslar Building! The Chryslar Building would be all wrong in a vineyard!
Dari kutipan yang pertama, Carrie mendeskripsikan memilih pria idamannya seperti mengenakan gaun DKNY yang bukan tipenya tapi ternyata cocok. Pada kutipan yang kedua, Carrie mengasumsikan Big kekasihnya memiliki karakter seperti Chryslar Building yang menjadi salah satu symbol kemegahan New York. Meski cinta adalah suatu perasaan yang terkadang sulit untuk diungkapkan, tapi deskripsi Sex & The City tentang cinta sangat mengorientasikan penonton drama TV tersebut untuk mengkorelasikan cinta dengan materi.
            Lalu, efek apa yang secara fakta sudah muncul dengan doktrin cinta dan gaya hidup New York yang disimbolkan melalui Sex & The City? Baru-baru ini muncul pemberitaan yang berasal dari Inggris, seorang gadis bernama Christina Saunders yang dalam sepuluh tahun belakangan telah mencatat kegiatannya bersetubuh dengan seribu pria. Hal itu dilakukannya karena terobsesi dengan tokoh Samantha Jones (sahabat Carrie) sebagai seorang perempuan yang sukses berkarir dan selalu lebih berkuasa terhadap pria dalam kisah cintanya. Dikabarkan kini Saunders lebih memilih banyak diam dan menyesali obsesi yang pernah dijalankannya tersebut.
            Dampak dari doktrin tentang cinta yang dimunculkan oleh Sex & The City, berkorelasi dengan teori yang dikemukakan oleh Paul Hauck yang menyatakan kebutuhan cinta merupakan fase sementara dalam pertumbuhan manusia dan merupakan penggerak ke fase-fase selanjutnya. (Hauck, 1993). Dalam hal ini, penulis sampaikan bahwa seharusnya kebutuhan akan cinta kita orientasikan untuk tujuan yang lebih bermanfaat sehingga akan mengembangkan fase-fase yang bermanfaat juga buat diri kita. Hal tersebut seperti merujuk pada teori cinta yang lebih baik lagi dari Erich Fromm tentang cinta yang dewasa adalah penyatuan didalam kondisi tetap memelihara integritas seseorang, individualitas seseorang. Cinta adalah kekuatan aktif dalam diri manusia, kekuatan yang meruntuhkan tembok yang memisahkan manusia dari sesamanya, yang menyatukan dirinya dengan yang lain.(Fromm, 2005).
            Apa yang media ungkapkan dengan apa yang dikemukakan para ahli tentang cinta tentu saja sangat berbeda. Sex & The City berani mengkorelasikan cinta dengan barang-barang fashion bermerk karena memang produk-produk tersebut menjadi sponsor drama televisi itu. Anda ingin cinta yang dinamis? Kehidupan yang ideal dengan persahabatan yang menawan? Jadikan kehidupan New York sebagai bagian dalam mimpi Anda dan inilah Sex & the City! Hanya sebatas itulah yang disajikan drama yang dianggap fenomenal ini.

Sumber:
          Fromm, Erich. 2005. The Art Of Loving. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
www.allgreatquotes.com/sex_andthe_city_quotes.shtml
Tambunan, Raymond. 2001. CINTA. Search : http://www.e-psikologi.com/remaja/cinta.htm

Sabtu, 02 Juli 2011

Feminisme Dibalik Abaya & Niqab

 

Tercipta memiliki kecantikan, itulah perempuan. Sebagaimana kecantikan yang sudah melekat padanya semenjak lahir, dalam Islam, perempuan disebutkan memiliki tiga perhiasan yang melekat dalam dirinya. Tiga perhiasan itu adalah; perhiasan jiwa, perhiasan jasmani dan perhiasan eksternal. Perhiasan jiwa seperti ilmu dan keimanan, perhiasan jasmani adalah kekuatan dan penampilan fisik serta perhiasan eksternal seperti harta dan kekuasaan.

Sesuai kodratnya, pada dasarnya setiap perempuan menyukai berhias dan perhiasan. Tidak hanya perhiasan jiwa dan jasmani saja yang ingin mereka lengkapi, melainkan juga perhiasan eksternal yang akan mampu membuat mereka tampak punya kuasa atas peran mereka sebagai perempuan. Kuasa itulah yang dalam tulisan ini penulis sebut sebagai feminisme.

Seperti diberitakan dalam harian Republika edisi Kamis, 23 Juni 2011, 40 wanita Arab mengampanyekan program Women2Drive sebagai upaya membebaskan hak perempuan Arab mengemudikan mobil. Kontroversi akan gerakan ini dimunculkan oleh sekelompok organisasi pemuda muslim di Saudi Arabia dengan juru bicara Hattan Ras yang menyatakan “Kami akan mengambil gambar mereka dan memberikan kepada polisi pelat nomor mereka berikut waktu dan tempat dimana mereka melaju. Mereka perempuan yang melawan syariah dan Dewan Tinggi Ulama dan kami akan melakukan apa saja untuk menjaga mereka dari jalanan". Namun tampaknya bagi aktifis Women2Drive ini, kata “menjaga” tersebut justru menghambat kelancaran hak mereka sebagai perempuan dalam hal penyama rataan gender. Apalagi dalam akun twitter @Women2Drive disampaikan bahwa salah satu perempuan Arab bernama Manal Al Sharif dipenjara karena telah mengendarai mobil pada pertengahan bulan Mei silam. Melalui kampanye dan meminta perhatian public dalam social media seperti youtube, twitter dan facebook, akhirnya Manal dibebaskan pada 31 Mei 2011.

Peran perempuan muslim, khususnya di Saudi Arabia dilambangkan dengan abaya, yakni jubah penutup yang berfungsi menutup lekuk tubuh sekaligus menjadi pelindung kulit di daerah Timur Tengah, ada juga niqab yang digunakan oleh sebagian perempuan berupa penutup muka. Atribut tersebut merasa wajib mereka kenakan sebagai perwujudan ketaatan terhadap agama dan menghargai peran laki-laki yang dalam Al Quran disampaikan kewajibannya menjaga istri dan perempuan yang muhrim dengannya untuk menggunakan pakaian tertutup. Jadi, selain sebagai bagian untuk melindungi dirinya, penggunaan atribut ini juga merupakan wujud ketaatan perempuan muslim terhadap syariat. Dalam hal ini, menurut penulis, para aktivis tersebut merasa tidak salah untuk menuntut hak mereka supaya bisa menyetir mobil sendiri mengingat keinginan perempuan untuk menghias eksternal diri mereka dengan optimalisasi peran mereka sebagai perempuan yang mempunyai kuasa atas diri mereka sendiri.

Di belahan dunia bagian lain, Amerika Serikat, sebut saja Amina Wadud yang membuat gebrakan dengan melakukan sebuah kegiatan di luar kelaziman yang biasa dilakukan oleh perempuan muslim. Dilakukan di sebuah kota besar yang dianggap menjadi bagian dari mimpi seluruh penduduk dunia: Manhattan, New York, pada 18 Maret 2005, Amina Wadud memimpin (menjadi imam) pada sebuah sholat Jumat dengan jamaah tidak hanya perempuan melainkan juga laki-laki. Dalam gerakan feminisme Islam, nama Amina Wadud cukup mendominasi. Lalu, siapakah dia sebenarnya?

Amina Wadud adalah seorang muslimah Amerika kelahiran 1952 yang telah banyak mengambil studi formal tentang kajian Islam. Pendidikan terakhir yang dia tempuh adalah studi tafsir Qur’an di Cairo University serta filsafat Islam di Universitas Al Azhar. Banyak buku telah dihasilkan oleh Amina Wadud. Salah satunya adalah “The Gender Jihad”.

Dalam bukunya, Inside The Gender Jihad, ia menulis bahwa ia telah menjadi the single parent lebih dari 30 tahun bagi empat orang anaknya. Hal ini, menurutnya, merupakan awal jihadnya dalam memperjuangkan hak-hak keadilan bagi para wanita Islam. Beberapa Konsep Keadilan Jender (Gender Justice) dalam Al-Qur`an oleh Amina Wadud diuraikan beberapa hal terkait dengan ayat-ayat tentang keadilan jender dalam al-Qur`an serta sejumlah kontroversi hak dan peran wanita yang kerapkali ditafsirkan sebagai bentuk superioritas pria atas wanita yang berhubungan dengan kasus Women2drive di Saudi Arabia.

1.  Penciptaan manusia
Meskipun terdapat perbedaan antara perlakuan terhadap pria dan perlakuan terhadap wanita ketika al-Qur`an membahas penciptaan manusia, Amina berpendapat tidak ada perbedaan nilai esensial yang disandang oleh pria dan wanita. Oleh sebab itu tidak ada indikasi bahwa wanita memiliki lebih sedikit atau lebih banyak keterbatasan dibanding pria.

Semua catatan al-Qur`an mengenai penciptaan manusia dimulai dengan asal-usul ibu-bapak pertama : “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan ibu-bapakmu dari surga..”(QS, 7:27). Amina menjelaskan bahwa kita menganggap ibu-bapak kita yang pertama serupa dengan kita. Meskipun anggapan ini benar, tetapi tujuan utama bab ini lebih menekankan pada satu hal: proses penciptaan mereka. Semua manusia setelah penciptaan kedua makhluk ini, diciptakan di dalam rahim ibunya.

2. Persamaan Ganjaran di Akhirat
Laki-laki dan wanita adalah dua kategori spesies manusia yang dianggap sama atau sederajat dan dianugerahi potensi yang sama atau setara. Tak satupun terlupakan dalam al-Qur`an sebagai kitab petunjuk bagi umat manusia yang mengakui dan mempercayai kebenaran yang pasti. Al-Qur`an menghimbau semua orang beriman, laki-laki dan perempuan untuk membarengi keimanan mereka dengan tindakan, yang dengan begitu mereka akan diganjar dengan pahala yang besar. Jadi, Al-Qur`an tidak membedakan pahala yang dijanjikannya.

Dalam menjelaskan QS, 40:39-40, (wa man ‘amila shalihan min dzakarin aw untsa wa huwa mukmin fa ulaika yadkhuluna al-jannah), Amina menekankan kata man dan ulaika. Kedua kata tersebut mengandung pengertian netral, tidak laki-laki dan tidak pula khusus perempuan. Sehingga masing-masing manusia akan memperoleh ganjaran bukan berdasarkan jenis kelamin, melainkan atas tindakan yang dilakukan oleh setiap individu.

Merujuk pada dua prinsip kesetaraan gender yang dikemukakan oleh Amina Wadud itulah yang melandasi gerakan feminisme oleh umat muslimah di Negara-negara lain meskipun ada modifikasi dan gerakannya tidak se-ekstrim yang dilakukan oleh Amina Wadud. Women2drive sendiri sekedar berkeinginan memiliki kesempatan seperti pria dalam hal tidak adanya perbadaan yang esensial dalam hal penciptaan antara pria dan wanita sehingga tidak layak wanita memiliki lebih banyak keterbatasan untuk melakukan sesuatu dari seorang pria. Banyak juga gerakan feminism muslimah yang berlandaskan melihat perjuangan istri-istri nabi Muhammad yang turut memimpin  perang dengan gagah di atas kuda seperti Aisyah dan Nasibah binti Ka’Ab.

Oleh penulis, kampanye kesetaraan gender seperti Women2drive sebaiknya tidak dianggap sebagai wujud perlawanan perempuan terhadap syariat dan juga kaum laki-laki. Menyambungkan dengan apa yang ditulis oleh Syasya Azisya dalam bukunya Rich Mom Poor Mom tentang ghirah (semangat) bagi para perempuan muslim, penulis berpikir bahwa gerakan seperti Women2drive direalisasikan untuk membangkitkan semangat di kalangan muslimah.

Menurut Syasya Azisya, ghirah atau semangat perlu ditumbuhkan pada setiap kaum muslimah secara konsisten dan sebaiknya berlandaskan pada tiga hal yaitu: dengan mengingat manfaatnya, dengan reward and punishment untuk diri sendiri dan dengan bergabung di komunitas yang mendukung. Oleh sebab itu daripada menghadapi gerakan seperti Women2drive dengan frontal, lebih baik diberikan pendampingan yang merujuk pada tiga hal tersebut supaya keyakinan para muslimah terhadap peran pria (muslimin) tetap terjaga dan semangat mereka tetap eksis secara konsisten.

Daftar Pustaka
Al Hilwi, Abir Ayyub. The Beauty of Woman. Bekasi: Duha Khasanah, 2009
Ali Quthb. Wanita-wanita Penghias Surga. Yogyakarta: Salma Pustaka, 2004
Azisya Syasya. Rich Mom Poor Mom. Depok: Penerbit Etera, 2010
Wadud, Amina. Inside the Gender Jihad, Women’s Reform in Islam. England: Oneworld Publications, 2006
http://en.wikipedia.org/wiki/Amina_Wadud
           

Rabu, 29 Juni 2011

(Not) The Last Supper


Seperti mengalami déjà-vu ketika melihat poster film berjudul Surplus di atas. Iya, konfigurasi pose dalam poster itu mirip dengan lukisan tentang Yesus dengan ke-dua belas muridnya yang dilukis oleh Leonardo Da Vinci berjudul The Last Supper (Perjamuan Terakhir). Namun, makna yang terkandung dalam film Surplus yang menyajikan George W. Bush sebagai central dalam gambar posternya, tidaklah menyajikan sesuatu tentang “perjamuan terakhir”. Film ini justru menyajikan serangkaian perjamuan yang dirangkai sedemikian rupa untuk memegang kendali kehidupan masyarakat global.

Surplus diarahkan oleh Erik Gandini, diproduksi oleh Atmo untuk SVT 2003 dengan dukungan dari Institut Film Swedia dan Film Nordic dan TV-Fond;. Difoto oleh Carl Nilsson & Lukas Eisenhauer; diedit oleh Johan Soderberg; menampilkan John Zerzan, Kalle Lasn, Bill Gates, Steve Ballmer, George W. Bush, Fidel Castro, Tania, Svante Tidholm; ditembak di Genoa (Italia), Shanghai, Alang (India), Amerika Serikat, Kuba, Budapest dan Stockholm.

Berkisah tentang perbedaan dua Negara dalam hal memandang teror iklan, Film ini bercerita dalam sebuah gambar yang dinamis, mengenai seberapa pentingnya iklan bagi masyarakat, kebebasan berbelanja sampai dibuat sebuah aturan. Di Negara kuba dicontohkan dengan masyarakatnya yang sama sekali tidak pernah terpengaruh dengan tayangan televisi. Sedangkan di Negara Amerika bahkan kebiasaan berbelanja sampai mengantri panjang, Awal dari sebuah film ini digambarkan dengan adanya demo pengerusakan simbol-simbol makanan cepat saji dari Amerika, sampai pada pembelian boneka seks pun warga Amerika diberikan kebebasan dengan aneka pilihan bentuk dan rupa seseorang.

Film dokumenter ini juga menampilkan sebuah realitas dunia yang mayoritas dipengaruhi oleh budaya kapitalis yang berlawanan dengan budaya sosialis. Ditampilkannya video kerusuhan G8 di Genoa, beberapa adegan yang dikontraskan kehidupan barat dengan kehidupan pekerja kasar yang ada di India, kehidupan mewah penuh kesenjangan sosial dengan kehidupan rakyat di Kuba yang jauh dari hiruk pikuk budaya komersialisasi, cara doktrinasi dari masing masing paham tersebut dengan motivasi tertentu dan tentunya dapat kita jumpai di kehidupan nyata, terutama di negara negara dunia ketiga, testimoni dari para profesor tentang lembaga WTO yang secara gamblang dijelaskan sangat merugikan negara negara berkembang dan menekankan pada budaya komersial yang menguntungkan segelintir pihak tanpa memikirkan kehidupan dan imbasnya yang merusak keseimbangan alam. Surplus dapat secara akurat digambarkan sebagai sebuah film anti-kapitalis yang kritis dan tidak sopan terhadap otoritas. Isi dan gaya film ini lebih banyak mengecewakan dan keprihatinan pihak anti-kapitalis tentang realitas yang terjadi dewasa ini.

Kenapa film ini menjadi penting untuk diungkap dan dibahas, mari kita lihat realita yang ada di tengah kehidupan masyarakat. Atas nama globalisasi, masyarakat dunia sudah menjadi masyarakat konsumen. Globalisasi yang dibawa telah mengubah kehidupan. Tragedi ekonomi sosial dan ekologis dunia semakin tidak terkendali. Munculnya perusakan dan penghancuran properti bukan tanpa sebab, masyarakat merasa bahwa terjadi kekerasan di lingkungan sekitar mereka. Dalam hal ini kekuasaan berpengaruh terhadap kekerasan. Kekuasaan kapitalis global telah memberikan dampak kuat untuk menguasai masyarakat . Teror konsumerisme mengakibatkan masyarakat “dipaksa” untuk menjadi konsumen atas produk-produk kapitalis. Realita/ empirik sebagai konsumen tidak tahu persis apa yang mereka konsumsi. Kehendak konsumsi sudah meneror manusia dan membentuk dunia baru di mana masyarakat sudah tidak mampu untuk membedakan antara “kebutuhan” dan “keinginannya”.

Hal yang lebih mendalam lagi tentang teror konsumerisme yang direfleksikan melalui “Surplus” adalah Teror konsumerisme yang dilakukan warga amerika terhadap dunia telah menimbulkan kecaman dari berbagai Negara, salah satu contohnya ialah Negara kuba yang dipimpin oleh fidel castro. Sang pemimpin berpidato di depan rakyatnya, menyerukan jangan terpengaruh terhadap iklan dan tayangan televisi maka di Negara Kuba tidak ada iklan televisi yang menayangkan produk-produk untuk dikonsumsi. Sampai-sampai disepanjang jalan di Negara Kuba terpampang spanduk ataupun reklame yang menuliskan sekaligus mengingatkan bahwa konsumsilah apa yang penting saja. Pesan ini terus digembar gemborkan di Kuba, supaya rakyatnya tidak mengenal istilah berbelanja, apalagi berbelanja dengan keperluan yang tidak penting.  Secara signifikan bertolak belakang dengan prinsip yang diterapkan oleh Amerika, bahwa di Amerika warganya diajari untuk berbelanja dengan bebas.

Prinsip konsumerisme yang diglobalkan oleh Amerika, berkorelasi dengan pesan-pesan perusahaan kelas dunia untuk memotivasi karyawannya dengan slogan “I Love This Company” seperti cuplikan yang ditampilkan dalam konferensi Microsoft. Motivasi tersebut bertujuan untuk merealisasikan orang bekerja secara keras untuk memenuhi kebutuhan berbelanja mereka secara bebas dan yang diuntungkan tentu saja pasar global: sebuah perjamuan yang dipersembahkan oleh Amerika. Dalam hal ini, Globalisasi akan mengakibatkan terbentuknya “manusia robot” ketika manusia mengalami yang namanya “hilangnya identitas kemanusiaan” dikarenakan konsumerisme yang berlebihan. Kenyataannya, tanpa disadari terkadang seseorang mengidentifikasi dirinya sendiri berdasarkan apa yang ia tonton, apa yang ia baca, apa yang ia kenakan, apa yang ia makan di pagi hari, apa yang ia pilih sebagai perabot rumah tangganya, atau bahkan hal-hal (yang terlihat) sepele lainnya. Peradaban manusia saat ini rusak karena konsumerisme.

Lain halnya dengan Kuba yang mendeklarasikan anti konsumerisme dan semangat bekerja kepada rakyatnya sehingga prinsip sosialis dapat dicapai yaitu pemerataan kesejahteraan rakyat dengan adanya jatah kebutuhan pokok kepada semua masyarakat secara cuma-cuma. Karena dari sisi pandangan sosialis dikatakan bahwa tidak ada nilai lebih masyarakat atas kebudayaan consumerism. Bahkan tidak ada alasan mengapa hal ini akan terus dilestarikan. Kekerasan menurut pandangan mereka adalah merupakan suatu kondisi ketika manusia dipaksa untuk terus berbelanja dan bekerja.

Syok terapi yang dimunculkan dalam “Surplus” di awal adalah gambar tentang demonstrasi terhadap symbol-simbol restoran cepat saji Amerika. Demonstrasi maupun perang propaganda menentang kapitalisme bukanlah sesuatu hal yang terbentuk atau terjadi secara tiba-tiba. Kesadaran dan kemampuan berpikir masyarakat untuk mencetak sebuah “perubahan” akan menimbulkan gerakan-gerakan perlawanan terhadap produk kapitalis. Produk kapitalis merupakan simbol adanya kekuasan kapitalis terhadap masyarakat. Dalam kondisi seperti ini masyarakat mendambakan mempunyai kehidupan yang lebih baik dan  terlepas dari kendali kapitalis serta mempunyai sebuah kehidupan yang memungkinkan masyarakat dapat hidup secara “sederhana”, seperti apa yang pernah diungkap oleh Mahatma Ghandi "Bumi menyediakan banyak untuk kebutuhan semua orang, tapi tidak untuk keserakahan semua orang."

Disusun oleh: Ardhi Widjaya, Winanti P, Fajar DwiPa, Amelia Fresha, Priyadi & Friska Mayasari

Kamis, 16 Juni 2011

Motivasi "Plastic" Pembentuk Mental Masokis Bangsa



Saya memang sempat menjadi narrow minded dengan kata masokis yang sepemahaman saya hanya sebatas gangguan psikologis dalam hal seksualitas. Namun secara filsafat, masokis tidak hanya sebatas itu meski tetap mengacu pada merasa nyaman dan nikmat dengan mendramatisasi penderitaan diri.
     Sebuah hal yang lucu menurut saya ketika melihat rekan saya menanggapi tayangan Jika Aku Menjadi sebagai sebuah tayangan yang memotivasi. Sungguh, bagian mana yang memotivasi coba? Apakah kita rela dan tega melihat nenek-nenek tua memanggul batu di atas kepalanya tapi justru diatur oleh script, disyuting dan dipertontonkan dihadapan jutaan warga negara Indonesia demi profit yang berlipat-lipat? Tidak ada yang bisa dijadikan cerminan di sini kecuali ketika kejadian tersebut kita lihat secara fakta di alam nyata disekitar kita, bukan dari dunia virtual yaitu televisi. no real reality show shown in TVs.
    Tergelitik juga dengan sebuah tayangan dialog motivasi di sebuah TV swasta yang terkenal dengan "salam super"-nya itu ketika saya mulai merasa kurang "sreg" dengan cara tersenyum si motivator yang berkesan terlalu dibuat jaim itu. Fenomena menjual motivasi menurut saya lebih berorientasi pada menjual imej. Makin banyak orang yang merasa hidupnya perlu "dukungan" seorang motivator, makin larislah seorang motivator itu, dalam hal ini seolah-olah atmosfer yang ingin dimunculkan adalah "kultuskan aku".
    Tidak hanya itu saja tayangan motivasi di televisi, ada banyak memang meski tidak sebanyak sinetron. Even if many people consider that "sinetron" are not educating TV shows, such kind of these motivation shows are neither for me. Kenapa saya bisa menganalogikan seperti itu? Kita lihat sekarang siapa-siapa yang ada di balik dunia media khususnya pertelevisian di Indonesia? Kalau kita telusur satu persatu, muncullah nama-nama tokoh yang berpengaruh dalam dunia politik di negeri ini yang mungkin adalah orang yang Anda benci dan sering mengkritisinya, tapi tanpa disadari, kita mencintai produknya: tayangan dialog motivasi yang ada di dalam konglomerasi usahanya yaitu TV swasta. Mau tidak mau, secara langsung kita sudah memperkaya si tokoh politik yang kita benci itu, rating acara naik, iklan banyak masuk, profit membumbung, kita terdogma dengan acara itu untuk tetap bergantung dengan kata-kata motivasi orang lain yang kita anggap hebat namun kita tetap membenci politikus pemilik TV itu.
     Ironis, lagipula si politikus tidak peduli kita membenci mereka atau tidak? profit dan kapitalisasi adalah poin utama yang ingin mereka raih. Dan dengan banyaknya profit yang masuk, politikus ini akan makin mudah memperlebar konglomerasi usahanya ke bentuk-bentuk perusahaan kapital yang menguasai pasar di negara ini. Uang berbicara dan menentukan kekuasaan, itulah mengapa kasus korupsi tidak pernah ada yang dituntaskan. Tapi kita ada di sini, selalu sebal dengan tindakan pemerintah yang pasif tapi cenderung sok sibuk tapi tetap menikmati tayangan televisi dan selalu mensugesti diri (baca: menipu diri sendiri) "saya luar biasa hari ini" dan menjadi tidak luar biasa ketika tidak menonton atau mengikuti kata-kata super si motivator secara rutin. For me it's fake, it's plastic!





Senin, 09 Mei 2011

Berawal Dari "Harap Bayar Di Muka!"




            “Harap Bayar Di Muka!” Tulisan itu terpampang di meja kasir dan beberapa dinding di warung angkringan ini. Dua temanku, Bhrata dan Bayu yang datang dari Malang ingin merasakan sensasi kuliner tradisional Jogja, apalagi yang menurutku khas Jogja dan merakyat selain angkringan? Warung angkringan ini terletak di pusat kota Jogja, berada di areal keraton, terdiri dari dua gerobak; satu berisi sayur dan makanan berat serta lauk dan yang satunya lagi berisi jajanan. Di angkringan ini juga bisa memilih minum dengan gula batu atau gula pasir biasa. Sensasi itulah yang ingin dicari oleh dua orang temanku yang merasa menjadi turis asing di Jogja tersebut. Tapi, begitu kami masuk ke warung itu dan disodori tulisan “Harap Bayar Dimuka” langsung menjadi pergunjingan kami sembari membayangkan uang seratus ribu rupiah kami tempelkan tepat di muka si penjual angkringan, kalau penjualnya marah tinggal kami jawab “kan bayar di muka Pak?” Tapi lewat tulisan ini, bukan poin itu yang aku ingin bicarakan.
        Gaya hidup mahasiswa di Malang ternyata secara signifikan berbeda dengan di Jogja. Berhubung topik itu yang tercetus dari dua orang temanku tersebut, akhirnya aku berusaha membaca sekeliling kira-kira orang mana saja yang mereka maksud sebagai “perwujudan” dari mahasiswa Jogja. Akupun memutuskan untuk mengeksplorasi gaya mahasiswa yang malam itu makan di angkringan tersebut.
            Selain karena menu makan yang variatif, hal yang membuat Bhrata kagum dan diamini oleh Bayu adalah; betapa menyenangkan banyak “pemandangan berjalan” di warung angkringan ini. Mereka melihat para gadis yg datang ke angkringan tersebut (yang tampak seperti mahasiswa dengan sepatu kets dan membawa tas casual) terlihat santai dan tidak gengsi makan di angkringan, berbeda dengan rata-rata mahasiswi Malang yang gengsi untuk “gaul” di tempat yang terkesan merakyat seperti sebuah warung angkringan.
            Dari apa yang diungkapkan dua temanku itu, aku mencoba menelaah; mahasiswa Jogja, setidaknya yang diwakilkan dari para pengunjung angkringan ini ternyata cukup memperhatikan penampilan mereka namun untuk urusan makan, mencari tempat dengan “harga mahasiswa” tetaplah menjadi pilihan utama. Di luar cerita tentang “pemandangan berjalan” yang menyegarkan mata itu, ternyata kami juga mendapati “pemandangan fenomena” yang dalam istilahku aku menyebutnya “jemari lincah”.
Angkringan ini tentu saja pencahayaannya hanya redup, tidak terlalu terang. Sepasang muda-mudi yang duduk di meja seberang tempat aku dan dua orang temanku duduk terlihat sangat menikmati momen mereka berdua. Pemuda-nya yang menurutku melancarkan gerakan “jemari lincah” tersebut, tangan kanannya dimulai dengan merangkul pundak si gadis lalu bergerak ke pinggul, ke pantat, mengelus-elus punggung, ke pundak lagi dan dilakukan berulang-ulang sambil sesekali kepala si gadis menggelayut mesra di pundak pemuda yang mungkin adalah kekasihnya itu. Dalam benakku, meski tempat umum, namun pemuda itu tampaknya tidak ingin kehilangan momen untuk melewatkan momen bagi dirinya yang dalam istilah psikologi disebut jouissance (kenikmatan bersifat seksual yang setelah dicapai ingin dilakukan lagi). Joissance*) sendiri, dari yang aku baca, dipopulerkan oleh Jacques Lacan (Perancis) dalam seminarnya "The Ethics of Psychoanalysis" (1959–1960).
Mengorientasikan diriku untuk mengamati fenomena-fenomena seperti itu di angkringan ini, membuatku seperti Bradshaw (tokoh dalam Sex & The City) dan tiga orang temannya yang sedang berada di sebuah restoran di Abu Dhabi dan mengamati; apa yang dilakukan perempuan Arab dengan jilbab besar dan niqab (penutup muka) ketika mereka akan makan? Saat itu Bradshaw benar-benar melihat secara detil dari mulai si perempuan Arab membuka niqab-nya untuk memasukkan kentang goreng ke mulutnya tanpa memperlihatkan bentuk wajahnya. Sama seperti aku dan dua orang temanku yang melihat dari awal si pemuda yang menggerayangi bagian belakang tubuh gadis-nya dan melihat reaksi si gadis. Ketika melihat reaksi si gadis yang menggelayutkan kepalanya di pundak si pemuda, menurutku mungkin jouissance itu dialami oleh mereka berdua.
Ketika aku merasa mulai bosan mengamati fenomena “jemari lincah” tersebut. Aku mengarahkan mataku ke tulisan “Harap Bayar Di Muka” sambil melihat muka perempuan yang menjaga meja kasir. Sepertinya dia tidak ingin terlena sedetikpun supaya tidak ada pengunjung yang tidak membayar makanannya. Tapi ternyata, cara mengamati orang lain haruslah lebih lembut supaya tidak berkesan sebagai mata-mata. Karena si kasir mendadak melihatku yang beberapa menit sempat mengamatinya aku jadi merasa tidak enak sendiri. Beberapa menit setelah itu, begitu Bhrata dan Bayu menghabiskan makanan mereka, kamipun meninggalkan angkringan yang ternyata memberiku inspirasi untuk menulis artikel ini.

*) baca: http://en.wikipedia.org/wiki/Jouissance
Sumber Gambar: http://undas.co/2015/06/suka-di-angkringan-tipe-yang-mana-kamu/