Rabu, 29 Juni 2011

(Not) The Last Supper


Seperti mengalami déjà-vu ketika melihat poster film berjudul Surplus di atas. Iya, konfigurasi pose dalam poster itu mirip dengan lukisan tentang Yesus dengan ke-dua belas muridnya yang dilukis oleh Leonardo Da Vinci berjudul The Last Supper (Perjamuan Terakhir). Namun, makna yang terkandung dalam film Surplus yang menyajikan George W. Bush sebagai central dalam gambar posternya, tidaklah menyajikan sesuatu tentang “perjamuan terakhir”. Film ini justru menyajikan serangkaian perjamuan yang dirangkai sedemikian rupa untuk memegang kendali kehidupan masyarakat global.

Surplus diarahkan oleh Erik Gandini, diproduksi oleh Atmo untuk SVT 2003 dengan dukungan dari Institut Film Swedia dan Film Nordic dan TV-Fond;. Difoto oleh Carl Nilsson & Lukas Eisenhauer; diedit oleh Johan Soderberg; menampilkan John Zerzan, Kalle Lasn, Bill Gates, Steve Ballmer, George W. Bush, Fidel Castro, Tania, Svante Tidholm; ditembak di Genoa (Italia), Shanghai, Alang (India), Amerika Serikat, Kuba, Budapest dan Stockholm.

Berkisah tentang perbedaan dua Negara dalam hal memandang teror iklan, Film ini bercerita dalam sebuah gambar yang dinamis, mengenai seberapa pentingnya iklan bagi masyarakat, kebebasan berbelanja sampai dibuat sebuah aturan. Di Negara kuba dicontohkan dengan masyarakatnya yang sama sekali tidak pernah terpengaruh dengan tayangan televisi. Sedangkan di Negara Amerika bahkan kebiasaan berbelanja sampai mengantri panjang, Awal dari sebuah film ini digambarkan dengan adanya demo pengerusakan simbol-simbol makanan cepat saji dari Amerika, sampai pada pembelian boneka seks pun warga Amerika diberikan kebebasan dengan aneka pilihan bentuk dan rupa seseorang.

Film dokumenter ini juga menampilkan sebuah realitas dunia yang mayoritas dipengaruhi oleh budaya kapitalis yang berlawanan dengan budaya sosialis. Ditampilkannya video kerusuhan G8 di Genoa, beberapa adegan yang dikontraskan kehidupan barat dengan kehidupan pekerja kasar yang ada di India, kehidupan mewah penuh kesenjangan sosial dengan kehidupan rakyat di Kuba yang jauh dari hiruk pikuk budaya komersialisasi, cara doktrinasi dari masing masing paham tersebut dengan motivasi tertentu dan tentunya dapat kita jumpai di kehidupan nyata, terutama di negara negara dunia ketiga, testimoni dari para profesor tentang lembaga WTO yang secara gamblang dijelaskan sangat merugikan negara negara berkembang dan menekankan pada budaya komersial yang menguntungkan segelintir pihak tanpa memikirkan kehidupan dan imbasnya yang merusak keseimbangan alam. Surplus dapat secara akurat digambarkan sebagai sebuah film anti-kapitalis yang kritis dan tidak sopan terhadap otoritas. Isi dan gaya film ini lebih banyak mengecewakan dan keprihatinan pihak anti-kapitalis tentang realitas yang terjadi dewasa ini.

Kenapa film ini menjadi penting untuk diungkap dan dibahas, mari kita lihat realita yang ada di tengah kehidupan masyarakat. Atas nama globalisasi, masyarakat dunia sudah menjadi masyarakat konsumen. Globalisasi yang dibawa telah mengubah kehidupan. Tragedi ekonomi sosial dan ekologis dunia semakin tidak terkendali. Munculnya perusakan dan penghancuran properti bukan tanpa sebab, masyarakat merasa bahwa terjadi kekerasan di lingkungan sekitar mereka. Dalam hal ini kekuasaan berpengaruh terhadap kekerasan. Kekuasaan kapitalis global telah memberikan dampak kuat untuk menguasai masyarakat . Teror konsumerisme mengakibatkan masyarakat “dipaksa” untuk menjadi konsumen atas produk-produk kapitalis. Realita/ empirik sebagai konsumen tidak tahu persis apa yang mereka konsumsi. Kehendak konsumsi sudah meneror manusia dan membentuk dunia baru di mana masyarakat sudah tidak mampu untuk membedakan antara “kebutuhan” dan “keinginannya”.

Hal yang lebih mendalam lagi tentang teror konsumerisme yang direfleksikan melalui “Surplus” adalah Teror konsumerisme yang dilakukan warga amerika terhadap dunia telah menimbulkan kecaman dari berbagai Negara, salah satu contohnya ialah Negara kuba yang dipimpin oleh fidel castro. Sang pemimpin berpidato di depan rakyatnya, menyerukan jangan terpengaruh terhadap iklan dan tayangan televisi maka di Negara Kuba tidak ada iklan televisi yang menayangkan produk-produk untuk dikonsumsi. Sampai-sampai disepanjang jalan di Negara Kuba terpampang spanduk ataupun reklame yang menuliskan sekaligus mengingatkan bahwa konsumsilah apa yang penting saja. Pesan ini terus digembar gemborkan di Kuba, supaya rakyatnya tidak mengenal istilah berbelanja, apalagi berbelanja dengan keperluan yang tidak penting.  Secara signifikan bertolak belakang dengan prinsip yang diterapkan oleh Amerika, bahwa di Amerika warganya diajari untuk berbelanja dengan bebas.

Prinsip konsumerisme yang diglobalkan oleh Amerika, berkorelasi dengan pesan-pesan perusahaan kelas dunia untuk memotivasi karyawannya dengan slogan “I Love This Company” seperti cuplikan yang ditampilkan dalam konferensi Microsoft. Motivasi tersebut bertujuan untuk merealisasikan orang bekerja secara keras untuk memenuhi kebutuhan berbelanja mereka secara bebas dan yang diuntungkan tentu saja pasar global: sebuah perjamuan yang dipersembahkan oleh Amerika. Dalam hal ini, Globalisasi akan mengakibatkan terbentuknya “manusia robot” ketika manusia mengalami yang namanya “hilangnya identitas kemanusiaan” dikarenakan konsumerisme yang berlebihan. Kenyataannya, tanpa disadari terkadang seseorang mengidentifikasi dirinya sendiri berdasarkan apa yang ia tonton, apa yang ia baca, apa yang ia kenakan, apa yang ia makan di pagi hari, apa yang ia pilih sebagai perabot rumah tangganya, atau bahkan hal-hal (yang terlihat) sepele lainnya. Peradaban manusia saat ini rusak karena konsumerisme.

Lain halnya dengan Kuba yang mendeklarasikan anti konsumerisme dan semangat bekerja kepada rakyatnya sehingga prinsip sosialis dapat dicapai yaitu pemerataan kesejahteraan rakyat dengan adanya jatah kebutuhan pokok kepada semua masyarakat secara cuma-cuma. Karena dari sisi pandangan sosialis dikatakan bahwa tidak ada nilai lebih masyarakat atas kebudayaan consumerism. Bahkan tidak ada alasan mengapa hal ini akan terus dilestarikan. Kekerasan menurut pandangan mereka adalah merupakan suatu kondisi ketika manusia dipaksa untuk terus berbelanja dan bekerja.

Syok terapi yang dimunculkan dalam “Surplus” di awal adalah gambar tentang demonstrasi terhadap symbol-simbol restoran cepat saji Amerika. Demonstrasi maupun perang propaganda menentang kapitalisme bukanlah sesuatu hal yang terbentuk atau terjadi secara tiba-tiba. Kesadaran dan kemampuan berpikir masyarakat untuk mencetak sebuah “perubahan” akan menimbulkan gerakan-gerakan perlawanan terhadap produk kapitalis. Produk kapitalis merupakan simbol adanya kekuasan kapitalis terhadap masyarakat. Dalam kondisi seperti ini masyarakat mendambakan mempunyai kehidupan yang lebih baik dan  terlepas dari kendali kapitalis serta mempunyai sebuah kehidupan yang memungkinkan masyarakat dapat hidup secara “sederhana”, seperti apa yang pernah diungkap oleh Mahatma Ghandi "Bumi menyediakan banyak untuk kebutuhan semua orang, tapi tidak untuk keserakahan semua orang."

Disusun oleh: Ardhi Widjaya, Winanti P, Fajar DwiPa, Amelia Fresha, Priyadi & Friska Mayasari

Kamis, 16 Juni 2011

Motivasi "Plastic" Pembentuk Mental Masokis Bangsa



Saya memang sempat menjadi narrow minded dengan kata masokis yang sepemahaman saya hanya sebatas gangguan psikologis dalam hal seksualitas. Namun secara filsafat, masokis tidak hanya sebatas itu meski tetap mengacu pada merasa nyaman dan nikmat dengan mendramatisasi penderitaan diri.
     Sebuah hal yang lucu menurut saya ketika melihat rekan saya menanggapi tayangan Jika Aku Menjadi sebagai sebuah tayangan yang memotivasi. Sungguh, bagian mana yang memotivasi coba? Apakah kita rela dan tega melihat nenek-nenek tua memanggul batu di atas kepalanya tapi justru diatur oleh script, disyuting dan dipertontonkan dihadapan jutaan warga negara Indonesia demi profit yang berlipat-lipat? Tidak ada yang bisa dijadikan cerminan di sini kecuali ketika kejadian tersebut kita lihat secara fakta di alam nyata disekitar kita, bukan dari dunia virtual yaitu televisi. no real reality show shown in TVs.
    Tergelitik juga dengan sebuah tayangan dialog motivasi di sebuah TV swasta yang terkenal dengan "salam super"-nya itu ketika saya mulai merasa kurang "sreg" dengan cara tersenyum si motivator yang berkesan terlalu dibuat jaim itu. Fenomena menjual motivasi menurut saya lebih berorientasi pada menjual imej. Makin banyak orang yang merasa hidupnya perlu "dukungan" seorang motivator, makin larislah seorang motivator itu, dalam hal ini seolah-olah atmosfer yang ingin dimunculkan adalah "kultuskan aku".
    Tidak hanya itu saja tayangan motivasi di televisi, ada banyak memang meski tidak sebanyak sinetron. Even if many people consider that "sinetron" are not educating TV shows, such kind of these motivation shows are neither for me. Kenapa saya bisa menganalogikan seperti itu? Kita lihat sekarang siapa-siapa yang ada di balik dunia media khususnya pertelevisian di Indonesia? Kalau kita telusur satu persatu, muncullah nama-nama tokoh yang berpengaruh dalam dunia politik di negeri ini yang mungkin adalah orang yang Anda benci dan sering mengkritisinya, tapi tanpa disadari, kita mencintai produknya: tayangan dialog motivasi yang ada di dalam konglomerasi usahanya yaitu TV swasta. Mau tidak mau, secara langsung kita sudah memperkaya si tokoh politik yang kita benci itu, rating acara naik, iklan banyak masuk, profit membumbung, kita terdogma dengan acara itu untuk tetap bergantung dengan kata-kata motivasi orang lain yang kita anggap hebat namun kita tetap membenci politikus pemilik TV itu.
     Ironis, lagipula si politikus tidak peduli kita membenci mereka atau tidak? profit dan kapitalisasi adalah poin utama yang ingin mereka raih. Dan dengan banyaknya profit yang masuk, politikus ini akan makin mudah memperlebar konglomerasi usahanya ke bentuk-bentuk perusahaan kapital yang menguasai pasar di negara ini. Uang berbicara dan menentukan kekuasaan, itulah mengapa kasus korupsi tidak pernah ada yang dituntaskan. Tapi kita ada di sini, selalu sebal dengan tindakan pemerintah yang pasif tapi cenderung sok sibuk tapi tetap menikmati tayangan televisi dan selalu mensugesti diri (baca: menipu diri sendiri) "saya luar biasa hari ini" dan menjadi tidak luar biasa ketika tidak menonton atau mengikuti kata-kata super si motivator secara rutin. For me it's fake, it's plastic!