Jumat, 08 November 2013

Tips Membuat Si Kecil Fashionable

Keceriaan anak-anak dapat tercermin dari caranya berpakaian. Sebagai orang tua, kita bisa membuat gaya buah hati kita supaya terlihat ceria dan fashionable sesuai dengan karakter dan usia mereka. Berikut adalah beberapa tips memilih pakaian yang cocok buat si kecil:

     Perhatikan bahannya: Anak-anak biasanya memiliki kulit yang masih lembut dan sensitif, sehingga pemilihan bahan menjadi pertimbangan utama. Pilihlah kain yang menyerap keringat seperti katun. Dalam produk jenis kaos, meski lebih elastis namun bukan berarti tidak ada bahan katun untuk kaos. Bila ingin membelikan si kecil kaos, pilihlah yang menggunakan bahan kaos katun combed.

     Pilih ukuran yang pas: Terkadang, banyak orangtua merasa khawatir bila buah hatinya cepat besar sehingga sering membelikan mereka baju yang berukuran lebih besar dari tubuh si anak. Ingatlah, anak juga layak tampil modis, pilihlah baju dengan ukuran yang pas, tidak terlalu besar dan jangan kesempitan juga.

     Warna yang ceria: Hindari memilih warna-warna gelap seperti cokelat kopi, ungu tua, merah hati dan sebagainya. Buat anak-anak tampil sesuai usia mereka dengan memilih warna yang cerah seperti hijau apel, merah, biru muda, pink atau oranye. Meski warna putih dapat menimbulkan kesan bersih, namun kita juga harus ingat, gerakan si kecil yang banyak dapat membuat bajunya cepat kotor.
    
    Ajak dia pilih baju favorit: Ajari si kecil untuk menentukan pilihan sejak dini termasuk pilihan baju yang disukai untuk dibeli. Jangan lupa juga untuk tetap mengarahkan pilihannya supaya baju yang dipilih si kecil sesuai baik model-nya maupun harganya.
    
    Jangan mudah terbujuk SALE: Anda tentu tidak ingin menyesal bukan ketika setelah membeli pakaian untuk anak Anda dengan harga murah namun cepat rusak? Maka perlu diperhatikan kualitas produk dari segi jahitan, aplikasi-nya apakah bordir atau sablon dan sebagainya.


Salah satu alternatif pilihan produk fashion anak yang dapat Anda gunakan adalah KUTUBUKU Kaos Anak Indonesia. Produk lokal dari Yogyakarta ini menjadi pilihan yang sesuai untuk buah hati kita. Bahan-nya berasal dari katun combed warna cerah dan kualitas jahitan yang kuat dengan metode jahit rantai di sekitar pundak dan lengan yang rawan sobek ketika si kecil banyak bergerak. Cari tahu lebih banyak tentang produk ini dengan mengunjungi website www.kaosanakindonesia.co.id atau via telepon 0274-7490269

Rabu, 06 November 2013

Dibalik Krisis Toyota Tahun 2010

Toyota yang dikenal sebagai raksasa perusahaan otomotif dari jepang-pun ternyata pernah mengalami krisis pada tahun 2010. Diawali dengan ditariknya 3,8juta unit mobil Toyota di Amerika Serikat pada September 2009 menyusul ratusan ribu unit lainnya di negara-negara lain seperti Timur Tengah, Amerika Latin dan Afrika. Amerika Serikat menjadi Negara yang pertama dengan jumlah penarikan unit mobil Toyota terbesar dikarenakan Kementrian Transportasi AS telah menerima sekitar 100 laporan mengenai kecelakaan akibat pedal gas yang terblokir. 17 laporan diantaranya berakhir dengan kecelakaan di mana 5 orang tewas. Namun pada akhirnya Toyota mulai bernafas lega, sistem elektronik pedal gas mobil yang diproduksinya terbukti tidak bermasalah. Teknisi badan antariksa NASA memeriksa kemudian meloloskan mobil Jepang itu usai inspeksi yang berlangsung selama 10 bulan. Masalah gas pedal Toyota disorot khusus, karena sejumlah orang mengalami kecelakaan, bahkan tewas, setelah mobil yang dikendarai semakin cepat meluncur akibat pedal-gas yang tak bisa dikontrol. 
            Meski penelitian pada akhirnya membuktikan bahwa tidak ada kesalahan produksi dalam mobil Toyota, namun pemberitaan miring mengenai perusahaan ini bergulir dengan cepat. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh cara penyampaian pihak Toyota ke publik melalui media yang berkesan kurang ramah, seperti yang dicantumkan pada website resminya sebagai berikut:

            Opini publik yang muncul ketika membaca klarifikasi tersebut adalah pihak Toyota seolah-olah seperti lepas tanggung jawab dan menyerahkan penanganan komplain kepada dealer. Di sisi lain, ternyata rilis pernyataan tersebut ke website maupun media adalah dalam rangka publikasi upaya penanganan krisis yang dialami oleh Toyota. Mengapa demikian sebab ternyata, CEO Toyota waktu itu yang bernama Akio Toyoda, mengunjungi sendiri dealer-dealer di negara-negara yang tercantum di atas dan memastikan penarikan mobil Toyota dalam jumlah besar baik yang dianggap bermasalah maupun tidak. Kunjungan CEO Toyota tersebut tentu saja untuk mengarahkan pihak dealer supaya turut membantu penanganan komplain atau memberikan klarifikasi atas isu yang menerpa Toyota saat itu.
            Krisis yang terjadi pada Toyota di tahun 2010 menjadi momen titik balik yang dapat membuat sesuatu tambah baik atau tambah buruk. Membangun citra Toyota yang menurun sangat sulit, karena mereka merupakan perusahaan yang sudah bertahun-tahun mendapat kepercayaan fanatik masyarakat. Tanpa dipungkiri isu krisis yang dialami Toyota tersebut juga berimbas pada Toyota Indonesia. Langkah Toyota Indonesia dalam membangun citra yang sempat terpuruk adalah dengan membuat iklan Toyota besar-besaran serta memberikan layanan call center 24 jam dalam 7 hari, gratis ganti oli terhadap mobil Toyota, dan memberikan diskon khusus bagi pengguna innova untuk makan gratis di food court di supermarket besar yang sudah bekerja sama dengan Toyota.

Daftar Pustaka
Rosady Ruslan, S.H.,M.M. 2006. Etika Kehumasan (Konsepsi dan Aplikasi). PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
http://blog.tempointeraktif.com/ekonomi-bisnis/memulihkan-merek/
http://maverick.co.id/pr-communications/2010/02/toyota-crisis-management-not-a-good-example/





Kamis, 10 Oktober 2013

The Sophisticated XXI


            Coba sebutkan nama-nama bioskop di kota Anda? Adakah Cinema21 atau XXI di antaranya? Sedikit kilas balik sekitar dua puluh tahun lalu, penulis mengenal “Cepu Theatre” satu-satunya bioskop di Cepu, kota kecil penghasil minyak di Jawa Tengah, tempat penulis lahir dan besar. Saat itu menjadi momen yang tidak terlupakan ketika setiap Sabtu siang jelang sore penulis bersama anak-anak lain seumuran penulis menunggu mobil penyebar selebaran iklan bioskop lewat di depan rumah kami untuk berebut mengambil brosur promo film terbaru yang disebar. Kami begitu antusias mengkoleksi brosur-brosur film tersebut yang diantaranya adalah film favorit kami yakni Saur Sepuh yang telah dibuat beberapa sekuel-nya. Cepu Theatre itu memiliki bangku panjang sebagai kursi penonton yang diatur berundak-undak seperti layaknya pengaturan kursi bioskop masa sekarang.
            Kini, hal yang penulis ketahui tentang bioskop adalah gedung dengan pintu kaca, beralas karpet tebal sehingga membuat orang yang masuk ke dalamnya tidak ingin sembarangan memakai alas kaki, kursi penonton dengan sandaran yang nyaman, pop corn dengan aroma lelehan menteganya yang khas, layar putih yang mengembang sempurna memancarkan gambar film dan tak ketinggalan kualitas suara dolby. Deskripsi yang khas tersebut bagi penulis identik dengan bioskop XXI.
            Iya, penulis mengetahui XXI sebagai sister brand dari bioskop Cinema21 yang telah berkembang lama di Indonesia serta memiliki banyak cabang di berbagai kota besar di negara ini. Lalu, kenapa penulis lebih memilih XXI sebagai tujuan utama saat menonton film dan bukan Cinema21 yang merupakan kakaknya? Alasannya cukup sederhana, karena di Jogja, kota tempat tinggal penulis sekarang, XXI lebih sering menayangkan film Box Office Hollywood yang kebetulan lebih penulis gemari dibandingkan Cinema21 yang lebih banyak menayangkan film Indonesia. Lagipula layar di XXI lebih lebar daripada di 21 sehingga membuat penulis ketika menonton film merasa lebih mantap di XXI.
      Meskipun terlahir setelah Cinema21 berkembang besar, namun XXI juga dapat tumbuh sebagai kelas bioskop premium dari jaringan bioskop 21 yang tersebar di seluruh Indonesia. Tingginya awareness publik terhadap positioning XXI sebagai kategori bioskop premium tentu tidak lepas dari perjuangan Cinema21 yang berhasil menjadi pelopor bioskop dengan desain ruangan nyaman dan selalu menayangkan film-film Box Office terbaru sehingga mampu memberikan kesegaran bagi para penikmat film di beberapa kota besar. Positioning yang dibentukoleh XXI tidakterlepasdariteori Phillip Kotler yang mengungkapkan positioning sebagai suatu tindakan yang dilakukan untuk membuat citr aproduk dan hal-hal yang ingin ditawarkan oleh perusahaan sehingga berhasil mendapat posisi yang khusus dalam pikiran sasaran pasarnya.
            Cinema21 apabila dikorelasikan dengan mitologi kuno seperti yang diungkap Kent Wertime dalam bukunya yang berjudul Building Brands and Believers, maka brand ini memiliki karakter sebagai The Creator atau pencipta. Secara mendasar, pencipta mewakili pesan-pesan universal mengenai inspirasi kreatif dan potensi dari imajinasi. Figur pencipta-pun akan muncul sebagai dinamika abadi karena dia adalah ikon dari kekuatan penemu dan kreativitas. Sehingga ketika Cinema21 membuat brand baru bernama XXI yang muncul sebagai segmen premium, audiens atau publik secara naluriah langsung memahami kemungkinan munculnya ide baru tersebut dan menyambutnya dengan gembira. Menurut penulis, XXI juga telah sukses mewarisi “DNA” pendahulunya yaitu Cinema21 meski di antara mereka memiliki perbedaan karakter yang berpengaruh pada segmentasi audiens atau target konsumen.
            Keberadaan XXI sebagai “adik’ dari Cinema21, apabila penulis korelasikan dengan formula dari Markplus Institute of Marketing mengenai managing brand system bases on branding strategy and hierarchy, maka Cinema21 telah menjalankan “Branded Benefits” yang merupakan suatu manfaat atau keunggulan tertentu yang ingin ditonjolkan oleh perusahaan dengan pemberian merk tertentu. XXI sebagai suatu merk dalam positioning yang dibentuknya bertujuan untuk melayani para penikmat film dengan cara sophisticated yang berarti mewah, nyaman dan semuanya itu priceless.
            Memang saat ini XXI menjadi tujuan utama penikmat film Box Office Hollywood di Jogja. Di kota besar lain seperti Bandung dan Jakarta sebenarnya sudah muncul pesaing sejak beberapa tahun belakangan yakni Blitz Megaplex. Tentu saja, anugerah yang dimiliki jaringan grup bioskop Cinema21 sebagai creator telah membuat perusahaan ini mengakar kuat di benak auidens-nya. Namun sebaiknya hal ini tidak memunculkan brand arrogancy bagi mereka. Sebagai salah satu konsumennya, penulis melihat berbagai fasilitas sophisticated yang dimiliki bioskop XXI belum diimbangi layanan sophisticated dari CS-nya yang masih banyak beberapa di antaranya kurang rela untuk sekedar memberikan seutas senyum bagi para pelanggannya. Padahal, positioning premium yang diusung bioskop XXI seharusnya mampu mengenali juga karakter konsumen premium yang lebih menyukai pelayanan secara excelent.
           
Daftar Pustaka

MIM Academy Team. Brand Operation. 2010. Esensi-Kelompok Penerbit Erlangga: Jakarta
Wertime, Kent. Building Brands & Believers. 2003. Penerbit Erlangga: Jakarta


Rabu, 03 Juli 2013

Mitos Roro Mendut Dalam Periklanan



Tersebutlah kecantikan seorang gadis dari kalangan rakyat jelata pada legenda Babad Tanah Jawa di abad ke-17 yang bernama Roro Mendut. Pesona Roro Mendut telah memikat Tumenggung Wiraguna. Sebagai seorang penguasa, Tumenggung Wiraguna merasa memiliki kuasa untuk mendapatkan Roro Mendut. Namun, sebagai seorang gadis Jawa yang mandiri dan berkepribadian teguh, Roro Mendut dengan tegas menolak cinta Tumenggung Wiraguna dan lebih memilih Pranacitra, kekasih yang dicintainya. Melalui kekuasaan yang dimilikinya, Tumenggung Wiraguna menurunkan perintah pada Roro Mendut untuk membayar pajak yang tinggi kepada pemerintahan Wiraguna. 
Roro Mendut yang cerdas menggunakan daya kreasinya supaya mampu memenuhi tuntutan penguasa-nya yang lalim itu. Dengan mengandalkan kecantikan serta pesona erotisme-nya, Roro Mendut berjualan rokok kretek lintingan dengan cara melinting dan mengelem rokok itu dengan gaya jilatan lidahnya yang khas. Teknik berjualan rokok kretek yang seperti ini membuat para pria-pria kaya rela mengeluarkan banyak uang demi mendapatkan rokok yang telah dijilat Roro Mendut tersebut. Meski berhasil membayar pajak yang tinggi namun Wiraguna sekali penguasa tetaplah penguasa yang tidak ingin gagal. Akhirnya demi mempertahankan cinta sejatinya, Roro Mendut dan Pranacitra-pun memilih untuk mati bersama.
Cara Roro Mendut menggunakan pesona erotisme serta kecantikannya sehingga berhasil menjual rokok kretek-nya hingga mendapatkan omzet yang besar inilah yang kini secara implisit tampil sebagai mitos dalam periklanan yang sering kita temui saat ini: kecantikan dalam pemasaran. Meski cerita Roro Mendut hanya sebuah legenda namun penyajian iklan saat ini yang banyak mengeksploitasi kecantikan serta tubuh perempuan akan sama dengan cerita Roro Mendut yang seolah-olah menyajikan realitas akan keinginan publik padahal itu hanyalah bentukan imajinasi kreator belaka untuk menyajikan “realitas baru” seperti konsep bentukan kapitalis dari si pembuat iklan. 
Seperti teori yang disampaikan oleh Jean Baudrillard “Iklan menggambarkan citra/ sistem tanda, iklan merupakan bagian dari fenomena sosial yang disebut dengan consumer society. Objek yang ada dalam iklan sebenarnya terbentuk oleh sistem tanda.
Iklan dibentuk dari sign system untuk mengatur makna dari objek/komoditas. Iklan juga dipandang sebagai perangkat ideologis dari kapitalisme”. 
Secara lebih mendalam lagi, Jean Baudrillard memiliki pandangan tentang teori simulasi teknologi (technologies of simulacra). Melalui teorinya ia menyatakan bahwa budaya kontemporer yang semakin berkembang merupakan hasil simulasi teknologi (media massa). Teknologi media massa berupaya mengemas sebuah realitas jauh dari realitas yang sebenarnya (hyper reality). Baudrillard memodifikasi teori McLuhan yang menyebutkan “medium is the message” menjadi “medium is the model”.
Mengenai media sebagai model untuk mengemas hiper-realitas bentukan kapitalisme, penulis sinkronkan dengan apa yang dilakukan oleh seorang pengusaha kelas dunia bernama Donald Trump. Trump memiliki sebuah media berupa majalah yang menjadi icon dunia kecantikan internasional yaitu: Harper’s BAZAAR magazine. Sebagai sebuah integrasi, melalui yayasan yang dibentuknya, Trump membuat sebuah ajang kompetisi kecantikan bergengsi tingkat internasional yang bernama Miss Universe. Setiap tahunnya dipilihlah Ratu Sejagad yang diseleksi dari perwakilan perempuan cantik dari berbagai negara di dunia ini. Berikutnya, tampillah mereka dalam BAZAAR untuk menarik minat produk-produk kapital supaya menggunakan mereka sebagai model iklan sehingga tersajilah hiper-realitas hasil bentukan kapitalisme seperti yang diungkapkan oleh Baudrillard. 
Berikut adalah contoh-contoh iklan yang dibintangi oleh para Miss Universe:


Jennifer Hawkins dalam iklan “Grand Waterfront”



Zuleyka Rivera dalam Iklan “You C1000”

Apa yang dianalogikan penulis di awal tulisan ini adalah sebagai gambaran bahwa pemasaran produk dalam iklan seperti dibayangi mitos Roro Mendut yang bilamana ingin produk ini sukses di pasaran, juallah dengan mengandalkan kecantikan serta pesona tubuh perempuan.



Daftar Pustaka
Lechte, John. 2001. 50 Filsuf Kontemporer. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
http://www.wikipedia.com/jennifer_hawkins
http://www.wikipedia.com/zuleyka_rivera
http://www.wikipedia.co.id/roro_mendut

Selasa, 04 Juni 2013

Aku Korup Maka Aku Ada



Popularitas saat ini sepertinya sudah menjadi sebuah komoditi yang mampu merealisasikan keinginan seseorang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan tak terkecuali untuk meraih jabatan dan melakukan korupsi. Semuanya dikonsep secara manis menjadi tontonan yang patut dan layak diperbincangkan dan dikupas secara dramatis oleh media. Berita menjadi tidak ada ubahnya dengan infotainment hanya beda saja cara penyampaiannya namun konsep yang disajikan tetap sama yaitu: DRAMA.
Penulis mengamati, siapa sih yang berminat untuk membicarakan mengenai sekolah-sekolah yang tertinggal, termasuk SMA 17 Jogja yang bangunannya dirusak secara paksa oleh pihak-pihak yang sedang rebutan warisan tanah sekolah itu? Nyaris tidak ada. Tetapi membicarakan koruptor dan para gundiknya, akan menjadi rumpian seru di saat ibu-ibu sedang berkumpul bersama tukang sayur atau saat bapak-bapak main kartu di pos ronda. Media Indonesia sepertinya sangat tahu mengenai hal ini, sehingga berita seperti itu yang selalu di blow up. Sepanjang rating maupun traffic untuk berita-berita tersebut tinggi maka media akan terus menyajikannya karena pasar (kita sendiri) yang menginginkannya.
Dalam perkembangannya, korupsi bukan lagi merupakan hal tabu atau aib yang tidak layak untuk dikuak karena masyarakat sangat menyukai berita tersebut. Para koruptor-pun tampil bak selebriti ketika pemberitaannya muncul di televisi, nama-nama yang sebelumnya tidak diketahui oleh publik akhirnya mencuat dan didapatlah popularitas tersebut. Bila itu yang menjadi tujuan media maka agenda setting yang diaplikasikan bisa dikatakan berjalan tepat sasaran. Dari studi yang dilakukan oleh McCombs dan Shaw pada tahun 1972, agenda setting media terdiri dari dua variabel yaitu media sebagai variabel independen dan publik sebagai variabel dependen. Maka, terlihat jelas bahwa publik akan lebih tergantung pada variabel independen yang ada yakni media. Seberapa besar agenda setting ini berpengaruh adalah melalui bukti-bukti eksperimental (Iynenger & Kinder, dalam Haryanto:2003) menunjukkan bahwa efek agenda setting akan meningkat pada individu-individu yang memberikan perhatian lebih terhadap isu-isu yang dikaji, sedangkan intensitas perhatian sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan derajat kepentingannya.
Di sisi lain, pada dasarnya korupsi bukanlah sesuatu yang baik namun dari agenda setting yang dibuat oleh media, hal yang buruk tersebut dikemas menjadi sebuah berita yang menarik dan membuat publik senang untuk membicarakannya. Secara teori, kata korupsi, kita dapatkan dari Bahasa Belanda yaitu korruptie, dari inilah kata itu turun ke bahasa Indonesia yaitu korupsi. Korupsi mengandung arti: kejahatan, kebusukan, tidak bermoral dan kebejatan. Dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2001 terdapat 30 rumusan bentuk/jenis tindak pidana korupsi. Pasal-pasal tersebut menerangkan secara terpisah dan terperinci mengenai perbuatan-perbuatan yang dikenakan pidana korupsi. Namun pada dasarnya 30 bentuk/ jenis korupsi itu dapat dikelompokan menjadi: 
a. Kerugian keuangan negara
b. Suap menyuap
c. Pengelapan dalam jabatan 
d. Pemerasan 
e. Perbuatan curang
f. Benturan kepentingan dalam pengadaan, dan 
g. Gratifikasi
Melalui agenda setting yang terbentuk, tokoh-tokoh politik yang semula tidak begitu populer menjadi sedemikian populer ketika berita korupsinya diangkat oleh media, apalagi jika dibalut cerita perselingkuhan atau pernikahan siri. Apa yang diberitakan media-pun tidak serta merta mempengaruhi untuk memperberat tuntutan atau hukuman bagi para koruptor karena ternyata penjara yang ada untuk koruptor pun berfasilitas layaknya apartemen, narapidana korupsi yang bebas hang out kemana saja dan lain sebagainya, semuanya juga diketahui lagi-lagi karena publikasi media. Publik menyukainya dan membicarakannya.
Maka akan menjadi logis bila asas “Aku Korup Maka Aku Ada” berlaku di sini karena dengan korupsi seseorang dapat menjadi terkenal tanpa peduli terkenal baik atau buruk karena nyatanya hidup sang koruptor juga tetap nikmat akibat lemahnya hukum yang berlaku di Indonesia.

(Ardhi Widjaya)

Jumat, 31 Mei 2013

HIPERSEMIOTIKA


Berbicara mengenai hipersemiotika, akan menjadi terasa terlampau jauh apabila belum menguraikan mengenai apa itu semiotika. Dimulai dari Umberto Eco yang mendefinisikan semiotika sebagai sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu untuk berdusta (lie). Maksud definisi Umberto Eco tersebut adalah “bila sesuatu tidak dapat digunakan untuk mengungkapkan dusta, maka sebaliknya sesuatu tersebut juga tidak dapat digunakan untuk mengungkapkan kebenaran, sehingga pada dasarya tidak dapat digunakan untuk mrngungkapkan apa-apa”. Merujuk pada apa yang dinyatakan Umberto Eco tersebut, dapat disimpulkan bahwa selain sebagai teori kedustaan, semiotika juga menjadi sebuah teori kebenaran.
        Sebagai teori kedustaan sekaligus teori kebenaran,  semiotika digunakan untuk mempelajari tanda yang ada dalam segala aspek sosial untuk mengungkap kedustaan atau kebenaran itu sendiri. Hal ini berkorelasi dengan apa yang dijelaskan oleh Ferdinand de Saussure yang menyampaikan bahwa semiotika merupakan ilmu yang mempelajari peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Selain adanya muatan dusta dalam relasi antara tanda dan realitas, terdapat pula muatan kepalsuan (pseudo), yaitu ketika sebuah tanda berpura-pura mengungkapkan sebuah realitas padahal ungkapan tersebut palsu. Contoh yang paling sederhana dalam hal ini adalah penggunaan perhiasan emas imitasi. Orang tersebut ingin menunjukkan realitas mengenai kepemilikan “emas” sebagai atribut perhiasan bagi dirinya padahal sesungguhnya “emas” yang digunakan itu bukanlah emas yang sebenarnya (palsu/ imitasi).

Bagaimana dengan Hipersemiotika?
       Hipersemiotika sebagai terminologi baru (neologi) tentunya memerlukan lebih lanjut penjelasan mengenai makna, prinsip dan aspek-aspeknya. Hipersemiotika yang berarti melampaui batas semiotika digunakan di sini untuk menjelaskan sebuah kecenderungan yang berkembang dengan mengembangkan beberapa prinsip yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Prinsip perubahan dan transformasi. 
Hipersemiotika menekankan pada perubahan tanda ketimbang struktur tanda, produksi tanda-tanda ketimbang reproduksi kode dan makna, dinamika pembiakan tanda yang tak terhingga ketimbang relasi yang tetap.
2. Prinsip imanensi. 
Hipersemiotika menekankan sifat imanensi sebuah tanda ketimbang sifat transedensinya. Dalam hal ini hipersemiotika bersifat menekankan berpikir dengan diri sendiri atau subyektif dan cenderung mengabaikan prinsip yang berasal dari ketuhanan.
3. Prinsip perbedaan atau pembedaan (difference). Hipersemiotika menekankan perbedaan ketimbang identitas, konvensi dan kode sosial. Hipersemiotika bukanlah mesin kebaruan (progress machine) seperti mesin modernisme yang mengharuskan adanya kebaruan melainkan lebih memproduksi perbedaan-perbedaan tanda yang tidak selalu baru.
4. Prinsip permainan bahasa (language game). 
Hipersemiotika menekankan permainan bahasa yang mementingkan pesona dalam tindak produksi tanda itu sendiri bukan makna yang terkandung di dalamnya.
5. Prinsip simulasi. 
Simulasi adalah penciptaan realitas yang tidak lagi mengacu pada realitas di dunia nyata sebagai referensinya dan kini ia menjelma menjadi semacam realitas kedua yang referensinya adalah dirinya sendiri. Dalam pengertian inilah tanda melebur dengan realitas. Artinya lewat kecanggihan teknologi simulasi, antara tanda dan realitas tidak ada lagi bedanya. Fenomena seperti ini mudah di temui di internet seperti profil di media sosial.
6. Prinsip diskontinuitas. 
Menampilkan ekstensi yang penuh interupsi, keterputusan dan persimpangan yang di dalamnya tercipta sebuah ruang bagi perbedaan-perbedaan dan permainan bebas tanda dan kode-kode,

       Hipersemiotika dengan demikian adalah sebuah ilmu tentang produksi tanda yang melampaui realitas yang berperan dalam membentuk dunia hiper-realitas. Dunia hiper-realitas, dalam hal ini adalah dunia yang tercipta akibat penggunaan hyper-signs atau tanda yang berlebihan dan system pertandaan yang berlebihan (hyper signification) dalam penggambaran realitas, sehingga perbedaan antara realitas/ non realitas, tanda/ realitas di dalamnya menjadi lebur.


Di resume dari:

Piliang, Yasraf Amir. Semiotika dan Hipersemiotika: kode, gaya dan matinya makna. 2010. Bandung: 
            Jalasutra

Kamis, 09 Mei 2013

Tipe-Tipe Iklan


Commercial Advertising


Merupakan iklan komersial yang bertujuan untuk mengenalkan sebuah produk sehingga publik berkeinginan untuk membelinya. Salah satu iklan komersial yang menurut saya baru-baru ini cukup menarik dan mencuri perhatian publik adalah minuman kopi instan dalam kemasan “Kopiko 78 degrees” yang kebetulan menggunakan lagu One More Night dari Maroon5 sebagai backsound iklannya.



Corporate Advertising

Konsep iklan yang bertujuan untuk menyampaikan citra perusahaan. Konsep pada iklan korporat lebih bersifat softsell karena yang ditunjukkan adalah citra perusahaan bukan produk yang ingin dijual pada publik. Chevron sebagai sebuah perusahaan minyak kelas dunia pada tahun 2011, membuat iklan yang cukup mengejutkan berupa kampanye sosial “We Agree (kami setuju). Dalam iklan tersebut, Chevron mencitrakan dirinya sebagai sebuah perusahaan minyak yang setuju untuk menjaga lingkungan serta tidak melakukan  monopoli perdagangan. 

Public Service Advertising

Diartikan sebagai iklan layanan masyarakat, yakni iklan dari program pemerintah yang memberikan himbauan pada masyarakat untuk menjalankan program pemerintah. Contoh iklan layanan masyarakat yang terbilang cukup sering ditampilkan adalah himbauan perencanaan pernikahan dan kehamilan dari BKKBN. 

Senin, 22 April 2013

The Corset's Runway



Dalam mitologi Yunani, kita mengenai Venus sebagai Dewi Cinta yang dilambangkan seorang perempuan cantik. Memang sejak jaman Yunani kuno, perempuan telah mendapatkan perhatian khusus dalam hal penampilan fisik. Itulah mengapa Dewi Cinta dilambangkan sebagai Venus sebagai seorang yang cantik nan gemulai.
Penampilan perempuan tidak terlepas dari apa yang dikenakannya baik dari dalam maupun luar. Dari segi pakaian dalam perempuan, kita mengenal bra atau beha yang hingga saat ini masih banyak digunakan. Pada dasarnya konsep bra yang saat ini masih digunakan oleh banyak perempuan di dunia tidak terlepas dari desain “penyangga dada” ala perempuan bangsa Kreta di jaman Yunani kuno pada tahun 2.500 sebelum masehi. Saat itu penyangga dada yang berbentuk seberti bra ini dikenakan di luar pakaian utama para perempuan di masa itu.
Mitos fungsi bra mulai kuat pada ketika ditemukanlah korset. Korset ditemukan oleh catherine de Medici, isteri raja Henri II pada abad pertengahan 15 catherine membuat pertaturan khusus bagi penampilan para bangsawan dan penghuni istana. yaitu mereka dilarang gemuk., sebaliknya harus berlekuk dalam alias ramping. Sejak saat itu catherine pun mulai menganjurkan pemakaian korset bagi para perempuan di kerajaannya. Anehnya semua perempuan mengabaikan rasa sakit untuk menjadi lebih ramping menggunakan korset. Selain itu penggunaan bra jenis korset ini juga merupakan symbol perempuan terhormat. Sehingga bagi para perempuan yang tidak menggunakan korset dianggap perempuan murahan.
Revolusi penggunaan pakaian dalam wanita mulai muncul ketika Mary phelps jacob penyelamat kaum hawa dari siksaan korset. Dialah yg menemukan BH pertama kali pada tahun 1913 tanpa sengaja, Ketika itu, perempuan New York ini berencana menghadiri sebuah pesta yang mewajibkannya berpenampilan resmi, tetapi penampilan korset justru memperjelek dirinya , lalu ia memiliki ide, saputangan sutranya dan beberapa pita. Tanpa sadar mary menemukan BH yang pertama. Dengan demikian citra perempuan terhormat dapat tetap dijaga (karena tidak menonjolkan puting susu) namun tidak terlalu menyiksa perempuan yang menggunakannya.
Penggunaan bra atau pakaian dalam perempuan ini dapat dikategorikan sebagai semiotika visual. Menurut kris Budiman, semiotika visual pada dasarnya merupakan salah satu bidang semiotika yang secara khusus menaruh minat pada penyelidikan terhadap segala jenis makna yang disampaikan melalui sarana indra lihatan. Semiotika sendiri baginya adalah ilmu yang mengkaji relasi tanda yang satu dengan tanda-tanda yang lain; relasi tanda-tanda dengan makna-maknanya, atau objek-objek yang dirujuknya (designatum) dan relasi tanda-tanda dengan para penggunanya, interpreter-interpreternya. Sehingga, ditilik dari sejarahnya, bra atau pakaian dalam perempuan-pun dapat dikategorikan sebagai unsure semiotika karena telah menjadi tanda bagi para perempuan dalam menjaga kehormatannya.
Sebegitu kuatnya mitos tentang penggunaan bra, para perempuan menjadi mengesampinkan factor kesehatan. Seperti pada jaman dulu mengenai siksaan bagi tubuh saat menggunakan korset. Bahkan saat inipun, juga telah diteliti di sebuah studi yang dipimpin oleh Sidney Ross Singer dan Soma Grismaijer membuktikan bahwa memakai bra terus menerus justru dapat meningkatkan risiko kanker payudara apabila menggunakannya lebih dari 12 jam sehari. 
Terlepas dari penelitian yang membuktikan bahaya penggunaan bra terlalu lama, di sisi lain justru industry pakaian dalam perempuan semakin berlomba-lomba untuk menciptakan kreasi bra sehingga semakin diminati sebagai ikon fashion, contohnya adalah Victoria’s Secret, industri pakaian dalam perempuan yang terinspirasi dari gaya pemakaian pakaian dalam perempuan (korset) di era Victoria.



Daftar Pustaka

Budiman, Kris. Semiotika Visual: Konsep, Isu dan Problem Ikonositas. 2011. Jalasutra: Yogyakarta

Minggu, 07 April 2013

Teori Jaringan Dalam Komunikasi Organisasi



Dalam suatu organisasi terdapat jaringan-jaringan yang memiliki persamaan atau biasa disebut dengan klik. Kumpulan dari beberapa “klik” dapat menimbulkan perbedaan di antara mereka. Oleh sebab itu diperlukan sosok yang dapat menjadi pemersatu di antara “klik” untuk lebih meminimalisir bertambahnya jumlah “klik” dalam organisasi tersebut.
Paling tidak ada 4 gagasan dari Mooney dan Reiley tentang jaringan organisasi :
1.         Koordinasi untuk menyatukan unit kerja yang mempunyai tujuan yang sama.
2.         Skala untuk menetapkan jarak berdasarkan hierarki.
3.         Fungsionalisasi, yang menerangkan gagasan tentang spesialisasi
4.         “Staff” dan “line” untuk menerangkan bahwa line bertugas melaksanakan tugas pokok sedangkan staff melaksanakan tugas adsministratif yang menunjang pekerjaan pokok.
            Oleh sebab itu, teori jaringan dipergunakan untuk mengakomodir ke-empat gagasan tersebut. Teori jariangan dalam komunikasi organisasi dapat meliputi komunikasi formal maupun informal. Dalam komunikasi formal, “penghubung” jaringan dapat menerapkan pola komunikasi secara vertikal (instruksional atau upward ke downward), horizontal (koordinasi antar level hierarki yang sama) dan diagonal (dari level hierarki yang lebih atas dari divisi lain ke level hierarki yang lebih bawah ke divisi lain, begitu pula sebaliknya): Bettinghaus, 1968 (dalam Alo Liliweri; 1997).
            “Penghubung” yang bisa dijalankan oleh pimpinan atau HRD atau PR perusahaan ini sebaiknya juga dapat menjalankan pola komunikasi informal dalam teori jaringan yaitu membentuk momen-momen khusus untuk berkomunikasi dengan tim secara santai misalkan melalui gathering, outbond dll.

Ket: Diunggah ke blog pribadi penulis: http://ardhiwidjaya.blogspot.com

Sumber:
Faisal Afiff, R. Paemeleire dan L. Uytterschaut. 1994. Seluk Beluk Organisasi Perusahaan Modern. Bandung : Penerbit PT Eresco
http://agustocom.blogspot.com/2010/12/teori-jaringan-dan-perubahan-sosial.html

Rabu, 06 Februari 2013

Belajar Personal Branding Ala Hansel & Gretel



Pernahkah Anda membayangkan terasing sejak kecil dan harus melawan berbagai macam mara bahaya? Hal tersebut telah coba divisualkan dalam sebuah film yang ceritanya dikembangkan dari sebuah dongeng klasik: Hansel & Gretel. Film yang dibintangi Jeremy Renner dan Gemma Arterton ini menceritakan tentang kakak beradik (Hansel & Gretel) yang dibuang oleh orang tuanya sejak kecil di tengah hutan. Di dalam hutan itulah mereka melihat sebuah rumah dari permen. Tanpa mereka sadari sebelumnya, ternyata pemilik rumah permen tersebut adalah seorang nenek sihir. Berawal dari situlah, Hansel & Gretel mulai berusaha untuk bagaimana supaya mereka dapat bertahan hidup dengan cara melawan kekuatan penyihir. 
     Berawal dari keberhasilan upaya Hansel & Gretel mengalahkan penyihir itulah lalu mereka bertekad untuk menyelamatkan anak-anak lain dari ancaman penyihir. Hansel & Gretel-pun terus berusaha meningkatkan keahlian mereka hingga orang-orang mengenal mereka sebagai "The Witch Hunters".
     Perjalanan Hansel & Gretel hingga dikenal sebagai pemburu penyihir dan melakukan pekerjaan itu hingga mendapatkan bayaran tentu tidak terlepas dari upaya Hansel & Gretel untuk terus menerus mengasah dan memfokuskan keahlian mereka. Inilah personal branding yang dapat kita pelajari, bagaimana membuat publik mempercayai keahlian kita adalah dengan terus mengasah dan fokus terhadap pengembangan serta pertahanan kompetensi kita. 
     Bagaimana membuat kompetensi kita menjadi kuat sehingga tampil sebagai top of mind di dalam pandangan publik (orang lain) adalah dengan menekuni kompetensi kita dari level yang terbawah. Seperti Hansel & Gretel yang tidak serta merta dikenal orang lain sebagai pemburu penyihir. Mereka memulai dari nol, sebaggai anak kecil yang polos lalu berusaha sekuat tenaga sebagai survivor melawan penyihir dan disitulah mereka temukan kompetensi mereka yang sesungguhnya. 
     Setelah kita mengenal dan mulai fokus terhadap kompetensi kita, sudah saatnya kita melengkapi diri dengan tools berupa properti dan pencitraan. Hansel & Gretel melakukan pencitraan dengan blow up media koran (karena setting cerita film sekitar di abad 16-17) serta melengkapi properti berupa pakaian yang memudahkan mereka dalam berburu penyihir serta persenjataan yang komplet. Kita yang hidup dalam dinamika modernpun selayaknya melengkapi personal branding dengan tools tersebut. Properti untuk kita dapat disesuaikan dengan kompetensi yang kita miliki, misal bila ingin mem-branding diri sebagai seorang arsitek ya kita harus memiliki perangkat yang mendukung kompetensi kita tersebut. Lalu soal pencitraan, minimal saat ini kita bisa memanfaatkan social media dan gathering profesi/ komunitas untuk melakukan pencitraan.
     Sayangnya dalam pandangan penulis, saat ini masih banyak orang yang mengira personal branding hanya sebatas mempercantik kemasan diri dengan properti dan kemudian mem-blow up-nya melalui pencitraan saja. ketahuilah bahwa personal branding itu bersifat lebih komprehensif dan memiliki impact lebih sustainable. Semoga sukses buat kita semua!

Sabtu, 26 Januari 2013

Bagaimana Konsep CSR Yang Ideal?


“The earth is my mother and on her bossom I will recline”

Kutipan tersebut di atas diungkapkan oleh seorang tokoh filsafat bernama Tecumseh. Membaca kutipan tersebut, kita diarahkan untuk memahami bahwa bumi ini bertindak sebagai induk (ibu) untuk keberlangsungan umat yang hidup di dalamnya sehingga sepantasnya untuk dijaga.
Kent Wertime, CEO Ogilvy Interactive Asia sebuah anak perusahaan konsultan periklanan besar dunia, Ogilvy & Mather, melalui bukunya yang berjudul Building Brands and Believers mengungkapkan bahwa, dalam pemasarannya sebuah perusahaan sebaiknya menerapkan prinsip “Ibu” sebagai lambang kebaikan, kemurnian, pengasuhan dan kehangatan. Karena seperti yang telah kita lihat saat ini teknologi dan rekayasa telah menjadi bagian yang integral dari banyak hal yang dikonsumsi konsumen. Ini tidak hanya berkaitan dengan produk-produk mekanis, tetapi juga produk-produk makanan dasar. Pertimbangkan, misalnya jumlah pemrosesan yang dilalui oleh banyak produk yang dipajang di rak-rak supermarket atau meningkatnya jumlah tanaman hasil “rekayasa genetik”. Konsekuensinya, walaupun teknologi merupakan kekuatan yang penting dalam industri modern, sebagian besar konsumen menentang proses-proses nonalamiah yang berlebihan. Dalam sejumlah kasus, teknologi justru menjadi fokus kecurigaan konsumen.
Mengingat peran teknologi tidak bisa dilepaskan dalam industri modern saat ini, maka fungsi dari Corporate Social Responsibility (CSR) dapat mengikis fokus kecurigaan konsumen terhadap teknologi yang digunakan industri tersebut sekaligus turut menjaga keberlangsungan perusahaan dan juga alam. Beruntunglah bagi para profesional di bidang komunikasi yang konsen terhadap implementasi CSR bagi perusahaannya. Karena saat ini, tanggung jawab sosial perusahaan adalah permasalahan bisnis yang makin penting.
Lalu, siapakah yang sebaiknya terlibat dalam praktik tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR itu sendiri? Idealnya, praktik CSR haruslah melibatkan seluruh stakeholder dari perusahaan tersebut, yang terdiri dari:
·         Pemegang saham/ pemilik
·         Pelanggan
·         Pemasok
·         Masyarakat sipil (LSM dan kelompok aktivis penekan)
·         Komunitas
·         Pemerintah dan pembuat undang-undang
Keterlibatan LSM dan atau kelompok aktivis penekan dalam pelaksanaan CSR tampak penting bila melihat kasus yang menimpa perusahaan pembuat boneka Barbie 2011 silam. Saat itu organisasi greenpeace mengecam Barbie karena dianggap telah berkontribusi dalam perusakan alam karena melakukan penebangan hutan sebagai bahan dasar pembuatan kardus kemasan mainan anak tersebut. Sehingga selayaknya Barbie juga harus memperhatikan aspek-aspek yang menjadi kepedulian masyarakat sipil dan kelompok-kelompoknya sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahannya.
Sebenarnya, komunikasi tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR dapat memberikan pengaruh terhadap cara brand atau perusahaan tersebut menghadapi pelanggan. Saat ini, hanya sedikit yang telah dilakukan pada penggunaan nilai tanggung jawab sosial perusahaan untuk pelanggan. BodyShop, Co-operative Bank, Ben and Jerry menjadi terkenal karena mereka itu luar biasa dan khas meskipun secara praktek individual berbeda. Namun mereka memiliki nilai-nilai non-bisnis atau origin yang membuatnya mampu menonjol dari mayoritas perusahaan lainnya.  
Mengapa praktik tanggung jawab sosial perusahaan yang dijalankan nama-nama tersebut di atas dapat dianggap sukses? Karena mereka mampu mengintergrasikan esensi dari CSR dengan peran stakeholder-nya. Apakah esensi dari CSR? Sebelum menuju ke sana, mari kita lihat fenomena yang terjadi saat ini tentang era Image War atau perang citra yang membuat peran, fungsi dan tugas Public Relations (PR) dari sebuah organisasi, perusahaan atau lembaga semakin diperlukan. PR-lah yang membentuk, meningkatkan dan memelihara citra dan reputasi organisasi/ perusahaan di mata stakeholder-nya. Kegiatan PR berupaya untuk terus menerus memperoleh dukungan dan simpati publik agar keberadaan organisasi/ perusahaan bisa terus berlangsung dan memberikan kontribusi yang berguna bagi publik internal maupun eksternal.
Secara konseptual, CSR adalah bagian dari PR. Sebelumnya, kegiatan PR yang bertujuan untuk membentuk dan memelihara hubungan dengan komunitas disebut Community Relations (Hubungan Komunitas) dan Community Development (pemberdayaan Masyarakat). Sehingga kegiatan CSR harus dilakukan dengan mengacu pada kedua konsep hubungan tersebut. Serta, kegiatan PR melalui CSR adalah khusus bagi komunitas yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kinerjanya dan pemberdayaan berbagai pilar CSR seperti pilar pendidikan, pilar ekonomi, pilar lingkungan, pilar sumber daya manusia, pilar keamanan, pilar kesehatan, pilar budaya, pilar agama dan lain sebagainya.

Community Development
            Community Development atau pemberdayaan masyarakat adalah salah satu bentuk aktualisasi CSR. Biasanya program ini dilakukan oleh perusahaan atas dasar sikap dan pandangan yang telah ada (inheren) dalam dirinya yaitu sikap filantropis (kedermaan). Umumnya perusahaan memiliki sikap tersebut atas dasar dua motif: altruisme dan self interest.  Sayangnya pendekatan altruisme yakni sifat mementingkan kepentingan orang lain masih belum menjadi kebiasaan banyak perusahaan. Sebagian besar pengambil keputusan di perusahaan memandang filantropi sebagai pencerahan atas kepentingan pribadi (self interest).
            Metodologi yang benar dalam pelaksanaan comdev harus dimulai dari “Parcipatory Rural Appraisal” (PRA). Dengan PRA diharapkan dapat memberi gambaran yang lebih faktual dan detail tentang kondisi masyarakat, baik dalam dimensi ekonomi, epndidikan, kesehatan, tersedianya basic infrastruktur, keberadaan serta aktivitas kelembagaan lokal maupun masalah-masalah pengangguran. DI samping itu, dengan PRA juga diharapkan akan lebih menjamin bahwa masyarakat yang dimaksud telah dilibatkan dalam perencanaan Community Dvelopment (Achda, 2006).

Community Relations
            Community Relations atau hubungan komunitas merupakan suatu perencanaan lembaga, aktif dan partisipasi yang terus menerus dengan dan dalam sebuah komunitas untuk memelihara dan meningkatkan lingkungan agar keduanya, baik lembaga maupun komunitas memperoleh manfaat (Baskin, Aronolf dan Lattimore, 1997: 274).

Penerapan CSR di perusahaan menjadi semakin penting dengan munculnya konsep sustainable development dari World Comission on Environment and Development. Hal ini tercermin dari definisi CSR yang diberikan oleh the Organization for Economic Cooperation and Dvelopment (OECD), yakni sebagai dampak lanjutan penerimaan konsep CSR dalam kerangka sustainable development maka seluruh dampak yang ditimbulkan oleh perusahaan terhadap ekonomi, sosial dan lingkungan harus dilaporkan dalam sustainable report mereka. Report ini akan menggambarkan sejauh mana tanggung jawab sosial perusahaan terhadap para pemangku kepentingan mereka (Tanri Abeng, dalam Kartini. 2009: XI-XII).
            Merujuk pada konsep yang ideal, tentu ada standardisasi dalam penerapan CSR. Terdapat lima dasar dari Corporate Social Responsibility Management System Standards (CSR MSSs) yang muncul dari Customer Protection dalam Global Market Working Group Report sebagai dasar untuk penerapan yang efektif pada setiap prinsip CSR adalah:
1.      Mengidentifikasi dan menyeleksi substansi dari norma dan prinsip yang relevan oleh ribuan perusahaan
2.      Cara-cara mendekatkan jarak antar-stakeholder oleh aktivitas perusahaan dalam kaitannya dengan peningkatan tanggung jawab sosial perusahaan dan pendekatan dalam implementasi
3.      Proses dan sistem untuk menjamin efektivitas operasional dari komitmen CSR
4.      Teknik-teknik untuk verifikasi kemajuan ke depan dari komitmen tanggung jawab sosial
5.      Teknik-teknik untuk stakeholder dan laporan publik serta komunikasi

Implementasi 3P

            Keberadaan suatu perusahaan tentu berorientasi pada P yang pertama yaitu Profit. Namun ternyata untuk menjaga keberlangsungan sebuah perusahaan, orientasi pada Profit saja tidaklah cukup, perusahaan perlu memiliki konsentrasi juga terhadap People (sosial) dan juga Planet (lingkungan). Konsep penerapan 3P ini sebenarnya adalah simpulan yang bisa didapat dari uraian-uraian sebelumnya mengenai penerapan CSR yang ideal. 
Konsep 3 BL yang diumpamakan oleh Engklington  3P Bahwa 3P ( PROFIT, PEOPLE, PLANET) harus saling terkait satu sama lainnya jika salah satu komponen ditinggalkan akan menimbulkan ketidakseimbangan sehingga menimbulkan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan.
Mengingat kembali mengenai mitologi ibu bijak dalam pemasaran, maka dengan berorientasi pada pemeliharan kasih ibu berupa apa yang ada di alam ini melalui pemberdayaan masyarakat dan lingkungan sosial, diharapkan keberlangsungan perusahaan dapat terus terjaga.

Daftar Pustaka

Achda, B. Tamam. 2006. Konteks Sosiologis Perkembangan Corporate Social Responsibility (CSR) dan Implementasinya di Indonesia. (Makalah). Seminar Nasional: A Promise of Gold Rating: Sustainable CSR, Jakarta. 23 Agustus 2006
Kartini, Dwi. 2009. Corporate Social Responsibility. Bandung: Refika Aditama.
Ardianto, Elvinaro, Dr., M.Si. & Machfudz, Dindin M., Drs. 2011. Efek Kedermawanan Pebisnis dan CSR. Jakarta: Elex Media Komputindo
Wertime, Kent. 2003. Building Brands & Believers. Jakarta: Penerbit Erlangga
Gregory, Anne. 2004. Public Relations Dlam Praktik. British Institute of Public Relations. Jakarta: Penerbit Erlangga

Rabu, 16 Januari 2013

What A Spokeperson Does






Saat ini kiprah Julian Aldrin Pasha sebagai juru bicara Presiden juga patut dikategorikan sebagai fungsi Public Relation dalam pemerintahan. Sebuah profesi yang menuntut kepiawaian dalam strategi berbicara dan menyampaikan informasi karena seorang spokeperson atau juru bicara harus menjaga citra organisasi atau pribadi yang diwakilinya, terlebih lagi seorang Presiden.
           Gerakan Presiden adalah hal yang menjadi sangat mudah diperbincangkan oleh masyarakat. Di sinilah pentingnya peran juru bicara Presiden sebagai bagian dari fungsi Public Relation pemerintahan. Melihat contoh kasus perbincangan masyarakat dalam menanggapi gerakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang “blusukan” ke Pasar Tradisional menjadi penting untuk dinetralisir oleh juru bicaranya. Mengapa demikian? Karena saat ini sinisme terhadap pemerintahan khususnya Presiden berkaitan dengan stereotype: pejabat terpilih atau "politisi" pada lingkungan yang skeptis, banyak komunikasi yang dilontarkan oleh aparat-aparat tersebut cenderung ditafsirkan sebagai lebih bersifat propaganda. Banyak yang meyakini bahwa kerja pemerintah semata-mata berujung politik dan selanjutnya dapat dipilih kembali. Contoh tanggapan Julian Aldrin Pasha ketika diwawancara oleh GMOL.com adalah sebagai berikut:

Apa benar kunjungan itu tidak dipersiapkan?
Betul. Pak SBY pergi tanpa mem­beritahukan siapa-siapa. Buk­tinya, tidak ada yang diper­siapkan seperti protokoler atau acara serimonial. Benar-benar murni mendadak untuk melihat kehidupan dan denyut pereko­nomian masyarakat di bawah.

Buat apa capek turun ke ba­wah, kan ada menteri ?
Indonesia di mata dunia me­mi­liki predikat yang cukup baik, te­ru­tama di mata negara-negara anggota  G-20.
Maka,  walau pe­re­­konomian kita dirasakan baik, Presiden merasa perlu melihat langsung ke bawah untuk menge­tahui apa saja masalah-masalah yang masih timbul.

        Dari jawaban yang tercantum, cukup terlihat bahwa sebagai jurubicara kepresidenan, apa yang disampaikan oleh Julian Aldrin Pasha lebih bersifat informasi. Konsep tersebut tidak terlepas dari 3 fungsi utama Public Relation dalam pemerintahan yaitu:
1.      Memberikan informasi kepada masyarakat tentang aktivitas dari instansi pemerintahan.
2.     Memastikan peran aktif masyarakat dalam program yang dibuat oleh pemerintahan, dan memastikan agar program tersebut dapat terlaksana, dan
3.      Memelihara dukungan masyarakat dalam menetapkan dan mengimplementasikan suatu bentuk kebijakan dan program.
Meski penting untuk mengefektifkan gerakan Public Relation dalam pemerintahan namun sebagai warga sipil, penulis mengharapkan bahwa apa yang disampaikan pada masyarakat adalah itikad progresif untuk bersama menuju pada kesejahteraan bangsa dan negara.


Daftar Pustaka
http://kasihkerja.blogspot.com/2011/07/peran-pr-dalam-pemerintahan.html
http://www.rmol.co/read/2013/01/07/93007/Julian-Aldrin-Pasha:-Kunjungan-Presiden-Bukan-Sosialisasi-Ibu-Ani-Yudhoyono-Menjadi-Capres-