Sabtu, 26 Januari 2013

Bagaimana Konsep CSR Yang Ideal?


“The earth is my mother and on her bossom I will recline”

Kutipan tersebut di atas diungkapkan oleh seorang tokoh filsafat bernama Tecumseh. Membaca kutipan tersebut, kita diarahkan untuk memahami bahwa bumi ini bertindak sebagai induk (ibu) untuk keberlangsungan umat yang hidup di dalamnya sehingga sepantasnya untuk dijaga.
Kent Wertime, CEO Ogilvy Interactive Asia sebuah anak perusahaan konsultan periklanan besar dunia, Ogilvy & Mather, melalui bukunya yang berjudul Building Brands and Believers mengungkapkan bahwa, dalam pemasarannya sebuah perusahaan sebaiknya menerapkan prinsip “Ibu” sebagai lambang kebaikan, kemurnian, pengasuhan dan kehangatan. Karena seperti yang telah kita lihat saat ini teknologi dan rekayasa telah menjadi bagian yang integral dari banyak hal yang dikonsumsi konsumen. Ini tidak hanya berkaitan dengan produk-produk mekanis, tetapi juga produk-produk makanan dasar. Pertimbangkan, misalnya jumlah pemrosesan yang dilalui oleh banyak produk yang dipajang di rak-rak supermarket atau meningkatnya jumlah tanaman hasil “rekayasa genetik”. Konsekuensinya, walaupun teknologi merupakan kekuatan yang penting dalam industri modern, sebagian besar konsumen menentang proses-proses nonalamiah yang berlebihan. Dalam sejumlah kasus, teknologi justru menjadi fokus kecurigaan konsumen.
Mengingat peran teknologi tidak bisa dilepaskan dalam industri modern saat ini, maka fungsi dari Corporate Social Responsibility (CSR) dapat mengikis fokus kecurigaan konsumen terhadap teknologi yang digunakan industri tersebut sekaligus turut menjaga keberlangsungan perusahaan dan juga alam. Beruntunglah bagi para profesional di bidang komunikasi yang konsen terhadap implementasi CSR bagi perusahaannya. Karena saat ini, tanggung jawab sosial perusahaan adalah permasalahan bisnis yang makin penting.
Lalu, siapakah yang sebaiknya terlibat dalam praktik tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR itu sendiri? Idealnya, praktik CSR haruslah melibatkan seluruh stakeholder dari perusahaan tersebut, yang terdiri dari:
·         Pemegang saham/ pemilik
·         Pelanggan
·         Pemasok
·         Masyarakat sipil (LSM dan kelompok aktivis penekan)
·         Komunitas
·         Pemerintah dan pembuat undang-undang
Keterlibatan LSM dan atau kelompok aktivis penekan dalam pelaksanaan CSR tampak penting bila melihat kasus yang menimpa perusahaan pembuat boneka Barbie 2011 silam. Saat itu organisasi greenpeace mengecam Barbie karena dianggap telah berkontribusi dalam perusakan alam karena melakukan penebangan hutan sebagai bahan dasar pembuatan kardus kemasan mainan anak tersebut. Sehingga selayaknya Barbie juga harus memperhatikan aspek-aspek yang menjadi kepedulian masyarakat sipil dan kelompok-kelompoknya sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahannya.
Sebenarnya, komunikasi tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR dapat memberikan pengaruh terhadap cara brand atau perusahaan tersebut menghadapi pelanggan. Saat ini, hanya sedikit yang telah dilakukan pada penggunaan nilai tanggung jawab sosial perusahaan untuk pelanggan. BodyShop, Co-operative Bank, Ben and Jerry menjadi terkenal karena mereka itu luar biasa dan khas meskipun secara praktek individual berbeda. Namun mereka memiliki nilai-nilai non-bisnis atau origin yang membuatnya mampu menonjol dari mayoritas perusahaan lainnya.  
Mengapa praktik tanggung jawab sosial perusahaan yang dijalankan nama-nama tersebut di atas dapat dianggap sukses? Karena mereka mampu mengintergrasikan esensi dari CSR dengan peran stakeholder-nya. Apakah esensi dari CSR? Sebelum menuju ke sana, mari kita lihat fenomena yang terjadi saat ini tentang era Image War atau perang citra yang membuat peran, fungsi dan tugas Public Relations (PR) dari sebuah organisasi, perusahaan atau lembaga semakin diperlukan. PR-lah yang membentuk, meningkatkan dan memelihara citra dan reputasi organisasi/ perusahaan di mata stakeholder-nya. Kegiatan PR berupaya untuk terus menerus memperoleh dukungan dan simpati publik agar keberadaan organisasi/ perusahaan bisa terus berlangsung dan memberikan kontribusi yang berguna bagi publik internal maupun eksternal.
Secara konseptual, CSR adalah bagian dari PR. Sebelumnya, kegiatan PR yang bertujuan untuk membentuk dan memelihara hubungan dengan komunitas disebut Community Relations (Hubungan Komunitas) dan Community Development (pemberdayaan Masyarakat). Sehingga kegiatan CSR harus dilakukan dengan mengacu pada kedua konsep hubungan tersebut. Serta, kegiatan PR melalui CSR adalah khusus bagi komunitas yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kinerjanya dan pemberdayaan berbagai pilar CSR seperti pilar pendidikan, pilar ekonomi, pilar lingkungan, pilar sumber daya manusia, pilar keamanan, pilar kesehatan, pilar budaya, pilar agama dan lain sebagainya.

Community Development
            Community Development atau pemberdayaan masyarakat adalah salah satu bentuk aktualisasi CSR. Biasanya program ini dilakukan oleh perusahaan atas dasar sikap dan pandangan yang telah ada (inheren) dalam dirinya yaitu sikap filantropis (kedermaan). Umumnya perusahaan memiliki sikap tersebut atas dasar dua motif: altruisme dan self interest.  Sayangnya pendekatan altruisme yakni sifat mementingkan kepentingan orang lain masih belum menjadi kebiasaan banyak perusahaan. Sebagian besar pengambil keputusan di perusahaan memandang filantropi sebagai pencerahan atas kepentingan pribadi (self interest).
            Metodologi yang benar dalam pelaksanaan comdev harus dimulai dari “Parcipatory Rural Appraisal” (PRA). Dengan PRA diharapkan dapat memberi gambaran yang lebih faktual dan detail tentang kondisi masyarakat, baik dalam dimensi ekonomi, epndidikan, kesehatan, tersedianya basic infrastruktur, keberadaan serta aktivitas kelembagaan lokal maupun masalah-masalah pengangguran. DI samping itu, dengan PRA juga diharapkan akan lebih menjamin bahwa masyarakat yang dimaksud telah dilibatkan dalam perencanaan Community Dvelopment (Achda, 2006).

Community Relations
            Community Relations atau hubungan komunitas merupakan suatu perencanaan lembaga, aktif dan partisipasi yang terus menerus dengan dan dalam sebuah komunitas untuk memelihara dan meningkatkan lingkungan agar keduanya, baik lembaga maupun komunitas memperoleh manfaat (Baskin, Aronolf dan Lattimore, 1997: 274).

Penerapan CSR di perusahaan menjadi semakin penting dengan munculnya konsep sustainable development dari World Comission on Environment and Development. Hal ini tercermin dari definisi CSR yang diberikan oleh the Organization for Economic Cooperation and Dvelopment (OECD), yakni sebagai dampak lanjutan penerimaan konsep CSR dalam kerangka sustainable development maka seluruh dampak yang ditimbulkan oleh perusahaan terhadap ekonomi, sosial dan lingkungan harus dilaporkan dalam sustainable report mereka. Report ini akan menggambarkan sejauh mana tanggung jawab sosial perusahaan terhadap para pemangku kepentingan mereka (Tanri Abeng, dalam Kartini. 2009: XI-XII).
            Merujuk pada konsep yang ideal, tentu ada standardisasi dalam penerapan CSR. Terdapat lima dasar dari Corporate Social Responsibility Management System Standards (CSR MSSs) yang muncul dari Customer Protection dalam Global Market Working Group Report sebagai dasar untuk penerapan yang efektif pada setiap prinsip CSR adalah:
1.      Mengidentifikasi dan menyeleksi substansi dari norma dan prinsip yang relevan oleh ribuan perusahaan
2.      Cara-cara mendekatkan jarak antar-stakeholder oleh aktivitas perusahaan dalam kaitannya dengan peningkatan tanggung jawab sosial perusahaan dan pendekatan dalam implementasi
3.      Proses dan sistem untuk menjamin efektivitas operasional dari komitmen CSR
4.      Teknik-teknik untuk verifikasi kemajuan ke depan dari komitmen tanggung jawab sosial
5.      Teknik-teknik untuk stakeholder dan laporan publik serta komunikasi

Implementasi 3P

            Keberadaan suatu perusahaan tentu berorientasi pada P yang pertama yaitu Profit. Namun ternyata untuk menjaga keberlangsungan sebuah perusahaan, orientasi pada Profit saja tidaklah cukup, perusahaan perlu memiliki konsentrasi juga terhadap People (sosial) dan juga Planet (lingkungan). Konsep penerapan 3P ini sebenarnya adalah simpulan yang bisa didapat dari uraian-uraian sebelumnya mengenai penerapan CSR yang ideal. 
Konsep 3 BL yang diumpamakan oleh Engklington  3P Bahwa 3P ( PROFIT, PEOPLE, PLANET) harus saling terkait satu sama lainnya jika salah satu komponen ditinggalkan akan menimbulkan ketidakseimbangan sehingga menimbulkan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan.
Mengingat kembali mengenai mitologi ibu bijak dalam pemasaran, maka dengan berorientasi pada pemeliharan kasih ibu berupa apa yang ada di alam ini melalui pemberdayaan masyarakat dan lingkungan sosial, diharapkan keberlangsungan perusahaan dapat terus terjaga.

Daftar Pustaka

Achda, B. Tamam. 2006. Konteks Sosiologis Perkembangan Corporate Social Responsibility (CSR) dan Implementasinya di Indonesia. (Makalah). Seminar Nasional: A Promise of Gold Rating: Sustainable CSR, Jakarta. 23 Agustus 2006
Kartini, Dwi. 2009. Corporate Social Responsibility. Bandung: Refika Aditama.
Ardianto, Elvinaro, Dr., M.Si. & Machfudz, Dindin M., Drs. 2011. Efek Kedermawanan Pebisnis dan CSR. Jakarta: Elex Media Komputindo
Wertime, Kent. 2003. Building Brands & Believers. Jakarta: Penerbit Erlangga
Gregory, Anne. 2004. Public Relations Dlam Praktik. British Institute of Public Relations. Jakarta: Penerbit Erlangga

Rabu, 16 Januari 2013

What A Spokeperson Does






Saat ini kiprah Julian Aldrin Pasha sebagai juru bicara Presiden juga patut dikategorikan sebagai fungsi Public Relation dalam pemerintahan. Sebuah profesi yang menuntut kepiawaian dalam strategi berbicara dan menyampaikan informasi karena seorang spokeperson atau juru bicara harus menjaga citra organisasi atau pribadi yang diwakilinya, terlebih lagi seorang Presiden.
           Gerakan Presiden adalah hal yang menjadi sangat mudah diperbincangkan oleh masyarakat. Di sinilah pentingnya peran juru bicara Presiden sebagai bagian dari fungsi Public Relation pemerintahan. Melihat contoh kasus perbincangan masyarakat dalam menanggapi gerakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang “blusukan” ke Pasar Tradisional menjadi penting untuk dinetralisir oleh juru bicaranya. Mengapa demikian? Karena saat ini sinisme terhadap pemerintahan khususnya Presiden berkaitan dengan stereotype: pejabat terpilih atau "politisi" pada lingkungan yang skeptis, banyak komunikasi yang dilontarkan oleh aparat-aparat tersebut cenderung ditafsirkan sebagai lebih bersifat propaganda. Banyak yang meyakini bahwa kerja pemerintah semata-mata berujung politik dan selanjutnya dapat dipilih kembali. Contoh tanggapan Julian Aldrin Pasha ketika diwawancara oleh GMOL.com adalah sebagai berikut:

Apa benar kunjungan itu tidak dipersiapkan?
Betul. Pak SBY pergi tanpa mem­beritahukan siapa-siapa. Buk­tinya, tidak ada yang diper­siapkan seperti protokoler atau acara serimonial. Benar-benar murni mendadak untuk melihat kehidupan dan denyut pereko­nomian masyarakat di bawah.

Buat apa capek turun ke ba­wah, kan ada menteri ?
Indonesia di mata dunia me­mi­liki predikat yang cukup baik, te­ru­tama di mata negara-negara anggota  G-20.
Maka,  walau pe­re­­konomian kita dirasakan baik, Presiden merasa perlu melihat langsung ke bawah untuk menge­tahui apa saja masalah-masalah yang masih timbul.

        Dari jawaban yang tercantum, cukup terlihat bahwa sebagai jurubicara kepresidenan, apa yang disampaikan oleh Julian Aldrin Pasha lebih bersifat informasi. Konsep tersebut tidak terlepas dari 3 fungsi utama Public Relation dalam pemerintahan yaitu:
1.      Memberikan informasi kepada masyarakat tentang aktivitas dari instansi pemerintahan.
2.     Memastikan peran aktif masyarakat dalam program yang dibuat oleh pemerintahan, dan memastikan agar program tersebut dapat terlaksana, dan
3.      Memelihara dukungan masyarakat dalam menetapkan dan mengimplementasikan suatu bentuk kebijakan dan program.
Meski penting untuk mengefektifkan gerakan Public Relation dalam pemerintahan namun sebagai warga sipil, penulis mengharapkan bahwa apa yang disampaikan pada masyarakat adalah itikad progresif untuk bersama menuju pada kesejahteraan bangsa dan negara.


Daftar Pustaka
http://kasihkerja.blogspot.com/2011/07/peran-pr-dalam-pemerintahan.html
http://www.rmol.co/read/2013/01/07/93007/Julian-Aldrin-Pasha:-Kunjungan-Presiden-Bukan-Sosialisasi-Ibu-Ani-Yudhoyono-Menjadi-Capres-

Selasa, 15 Januari 2013

Stand By Our Own Boots



Memilih jalan dalam dunia karir dan bisnis ibarat memakai sepasang sepatu. Ketika kita masih bekerja di perusahaan milik orang lain, ini seperti kita melangkah dengan menggunakan sepatu pinjaman. Kadang sepatu pinjaman itu bisa saja tidak pas (kekecilan atau kebesaran), bisa saja bau-nya tidak enak atau justru sepatu pinjaman itu terlalu bagus sehingga kita harus ekstra hati-hati supaya sepatu bagus itu jangan sampai kotor atau rusak hingga membuat pemiliknya kecewa terhadap kita.
            Stand by our own boots: Membuat kita merasa makin mantap dalam melangkah, karena kaki terasa nyaman dengan menggunakan sepatu milik kita sendiri. Bayangkan bila kita meminjam sepatu dengan ukuran yang kurang pas, meski bagus tapi ini membuat tidak hanya kaki yang tidak nyaman tapi keseluruhan diri kita akan merasa tidak nyaman. Ini seperti ketika kita bekerja di perusahaan yang sebenarnya bagus namun idealisme dan konsep tidak sesuai dengan karakter kita, sungguh kondisi yang tidak nyaman bukan? Nah, ketika sepatu yang kita pinjam ini bau, kaki kita yang tidak bau-pun jadi ikut bau. Ini seperti kita yang bekerja pada sebuah perusahaan dengan manajemen yang kurang bagus. Kualitas kerja kita jadinya juga tidak maksimal dan lagi-lagi rasanya tidak nyaman.
            Berbeda kondisi ketika kita mendapat pinjaman sebuah sepatu yang pas, bersih dan bagus. Semua orang akan memandang kagum dan kitapun bangga memakainya. Tapi sayang, sebagus-bagusnya sepatu itu, tetaplah sepasang sepatu pinjaman. Memakai sepatu pinjaman yang sempurna ini ibarat bekerja di sebuah perusahaan ternama, kita memang bangga menyandang predikat sebagai karyawan di perusahaan tersebut namun tetaplah itu bukan perusahaan milik kita.

Lebih Baik Pakai Sepatu Pinjaman Dulu
            Dengan pernah merasakan kurang nyamannya menggunakan sepatu pinjaman, bagi saya ini akan menjadi sebuah pembelajaran supaya kita kedepannya mampu mendapatkan sepatu milik sendiri yang pas dan mantap bila digunakan melangkah.Seperti itulah membangun sebuah  bisnis. Sebelum kita menentukan untuk membangun usaha sendiri, ada baiknya belajar dengan bekerja pada perusahaan milik orang lain.
            Jenis perusahaan yang cocok digunakan untuk menggali ilmu adalah jenis perusahaan seperti sepatu yang ketiga yaitu pas, bersih, bagus namun bukan punya kita sendiri. Terkadang memang membuat kita menjadi harus begitu berhati-hati menggunakan sepatu pinjaman yang bagus, seperti pola kerja kita yang akhirnya diupayakan sebaik mungkin ketika kita dipercaya memegang suatu pekerjaan di sebuah perusahaan yang bagus. Meski demikian, bukan berarti sepatu bagus yang kita pakai tidak akan menginjak permen karet di jalan kan? Seperti halnya dengan masalah pekerjaan yang kemungkinannya selalu saja ada.
            Masalah, sebuah berkah berupa tantangan yang selalu membuat kita naik level ketika berhasil menyelesaikannya. Yah, meskipun tidak semua masalah bisa diselesaikan tapi seorang pemenang tidak akan pernah takut untuk menghadapinya. Ini adalah ciri mental seorang bos. Bagi saya, memiliki mental menjadi bos itu penting.
            Awali memasuki dunia kerja dengan pola pikir “I’m a future leader” dengan begitu kita akan selalu siap ketika diberi tantangan berupa masalah pekerjaan. Masalah dalam pekerjaan tidak hanya ditimbulkan oleh pihak-pihak lain tapi bisa juga oleh diri kita sendiri, why? Because human error does exist! Kita tidak bisa menyangkal hal itu. Kunci utama yang harus dijalankan adalah: hadapi masalah itu! Sehingga ketika kita membuat suatu kesalahan dalam melakukan pekerjaan yang akhirnya menimbulkan kesalahan, kita perlu melakukan introspeksi.
            Terus apa introspeksi saja sudah cukup? Tentu tidak, kita perlu bertindak proaktif sebagai bukti bahwa kita mampu memperbaiki kesalahan. Belajarlah dari kesalahan, kemudian  tentukan pola kerja baru sehingga mampu meningkatkan prestasi kerja kita. Dengan demikian, ketika kita kedepannya dihadapkan masalah-masalah yang lain. Tidak akan terasa berat untuk meng-handle-nya. Trust me, it works!
            Belajar menjadi bos dengan bekerja di perusahaan milik orang lain akan membuat kita berpikir untuk selalu dan selalu mencari tantangan baru. Oleh sebab itu, ketika kita mulai terbiasa menyelesaikan masalah dengan mudah, jangan terlena dengan zona nyaman tersebut. Ingat, kita masih perlu menantang diri dengan tantangan yang lebih besar: memiliki sepatu milik kita sendiri, membangun usaha milik kita sendiri!
            Bekerja di perusahaan juga membuat kita belajar akan pentingnya arti manajemen. Hal inilah yang perlu kita terapkan ketika mulai membangun usaha sendiri. Justru sejak usaha yang kita bangun masih kecil, alur manajemen mulai diterapkan, jangan menunggu usaha kita besar dulu baru berpikir soal manajemen. Kalau sudah terbiasa mengatur usaha kita dengan pola manajemen yang teratur, tim kita yang nanti bekerja di perusahaan kita juga akan lebih teratur dan nyaman dalam bekerja.
            Kalau dulu jaman kerja masih ikut sama orang, kita meyelesaikan masalah pekerjaan dalam lingkup yang lebih kecil meski saat itu kita sudah jadi direktur sekalipun. Tapi bagaimanapun juga perusahaannya bukan punya kita, ya kan?! Pola pikir seorang bos di perusahaan milik sendiri tentu akan menjadi berbeda. Pola pikir yang perlu dijalankan itu seperti:
1.    Bangga dengan usaha sendiri meski belum terkenal à Atur strategi supaya bisa outstanding dengan cepat.
2.  Membangun usaha atas dasar ibadah karena kita beritikad memperluas lapangan pekerjaan dan mengurangi jumlah pengangguran à Kembangkan SDM tim untuk mendukung kemajuan usaha kita.
3.   Membentuk usaha yang berkontribusi positif terhadap lingkungan, dengan demikian kita akan diberi dukungan oleh pihak lain dengan mudah.
Semua pola pikir itu bisa kita pelajari ketika masih bekerja di perusahaan milik orang lain dan harus diterapkan ketika memulai usaha sendiri.
            Buat saya, jadi bos atas usaha sendiri itu seru, terutama kita bisa eksplor sebebas mungkin tentang konsep perusahaan yang kita inginkan. Ide jadi terus berkembang dan hebatnya lagi, ketika perusahaan yang kita bangun sudah memiliki alur manajemen yang baik maka perlahan-lahan kita bisa percayakan pada orang lain untuk mengelolanya dan kita tinggal menikmati passive income yang dengan deras mengalir ke rekening tabungan kita. Nah, biar jadi bos itu tidak asal gaya-gaya’an aja, mental rendah hati perlu kita jaga sehingga karyawan nyaman, kitapun senang. Lalu, sudah berani jadi BOS?!

Rabu, 02 Januari 2013

Harmonisasi Antara PR, Marketing dan Marketing PR




            Bisa saja muncul pertanyaan dalam benak orang yang membaca judul di atas: Apa bedanya antara PR, Marketing dan Marketing PR? Bukannya sama saja? Sebenarnya adalah suatu kekeliruan ketika saat ini banyak pihak  menyamakan Public Relation dengan marketing (Cutlip, Center & Broom).
            Bila menilik pengertian para ahli, kita akan melihat bahwa konsep PR dengan marketing itu berbeda. Seperti contoh pengertian yang diungkapkan oleh Howard Bonhan, seorang penulis bisnis dan keuangan yang pernah bekerja untuk perusahaan riset indenpenden Houston, Texas: Public Relation adalah suatu seni untuk menciptakan pengertian publik yang baik, yang dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap seeorang atau organisasi tertentu. Definisi publik dalam Public Relation sendiri memiliki makna internal dan eksternal. Contoh publik internal adalah karyawan, peran PR dalam komunikasi terhadap Publik Internal menjadi penting untuk menjaga keseimbangan antara kebijakan perusahaan dengan keinginan pegawai. Sedangkan peran PR dalam komunikasi terhadap publik eksternal diharapkan mampu menjaga citra baik perusahaan di mata publik eksternal seperti supplier, konsumen dan juga masyarakat luas. Peran PR dalam komunikasi publik eksternal tersebutlah yang sering dianggap “sama” dengan peran marketing.
           Philip Kotler menerangkan arti marketing sebagai suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada pihak lain. Karena nilai produk ini perlu disampaikan kepada khalayak khususnya konsumen secara konsisten, diperlukanlah peran Public Relation yang dengan keahliannya merangkai dan membentuk citra digunakan untuk menanamkan citra produk kepada masyarakat. Peran PR dalam hal tersebut pada dasarnya adalah bagian dari komunikasi terhadap publik eksternal. Jadi bukan serta merta PR sama dengan marketing. Meskipun begitu, konsep kerja kedua bagian ini (PR & Marketing) mampu menjadi harmonisasi yang menguntungkan berbagai pihak; profit bagi perusahaan dan value bagi konsumen sehingga konsumen tidak akan pernah merasa dirugikan.
            Dalam perkembangannya, Philip Kotler sendiri pada akhirnya mengemukakan sebuah konsep baru yang disebut Marketing PR dengan pengertian sebagai berikut: pertukaran, yang merupakan inti dari konsep marketing, adalah proses mendapatkan produk yang diinginkan dari seseorang dengan menawarkan sesuatu sebagai imbalannya. “Imbalan sesuatu” inilah yang menurut penulis sebagai value atau nilai lebih dari produk yang dapat dieksplorasi cara mengkomunikasikannya kepada konsumen melalui strategi Public Relation.
            Simpulan yang bisa didapat adalah meskipun PR itu tidak sama dengan marketing namun PR memiliki peran dalam konsep marketing sehingga tercetuslah juga konsep baru yang bernama Marketing PR.