Senin, 22 April 2013

The Corset's Runway



Dalam mitologi Yunani, kita mengenai Venus sebagai Dewi Cinta yang dilambangkan seorang perempuan cantik. Memang sejak jaman Yunani kuno, perempuan telah mendapatkan perhatian khusus dalam hal penampilan fisik. Itulah mengapa Dewi Cinta dilambangkan sebagai Venus sebagai seorang yang cantik nan gemulai.
Penampilan perempuan tidak terlepas dari apa yang dikenakannya baik dari dalam maupun luar. Dari segi pakaian dalam perempuan, kita mengenal bra atau beha yang hingga saat ini masih banyak digunakan. Pada dasarnya konsep bra yang saat ini masih digunakan oleh banyak perempuan di dunia tidak terlepas dari desain “penyangga dada” ala perempuan bangsa Kreta di jaman Yunani kuno pada tahun 2.500 sebelum masehi. Saat itu penyangga dada yang berbentuk seberti bra ini dikenakan di luar pakaian utama para perempuan di masa itu.
Mitos fungsi bra mulai kuat pada ketika ditemukanlah korset. Korset ditemukan oleh catherine de Medici, isteri raja Henri II pada abad pertengahan 15 catherine membuat pertaturan khusus bagi penampilan para bangsawan dan penghuni istana. yaitu mereka dilarang gemuk., sebaliknya harus berlekuk dalam alias ramping. Sejak saat itu catherine pun mulai menganjurkan pemakaian korset bagi para perempuan di kerajaannya. Anehnya semua perempuan mengabaikan rasa sakit untuk menjadi lebih ramping menggunakan korset. Selain itu penggunaan bra jenis korset ini juga merupakan symbol perempuan terhormat. Sehingga bagi para perempuan yang tidak menggunakan korset dianggap perempuan murahan.
Revolusi penggunaan pakaian dalam wanita mulai muncul ketika Mary phelps jacob penyelamat kaum hawa dari siksaan korset. Dialah yg menemukan BH pertama kali pada tahun 1913 tanpa sengaja, Ketika itu, perempuan New York ini berencana menghadiri sebuah pesta yang mewajibkannya berpenampilan resmi, tetapi penampilan korset justru memperjelek dirinya , lalu ia memiliki ide, saputangan sutranya dan beberapa pita. Tanpa sadar mary menemukan BH yang pertama. Dengan demikian citra perempuan terhormat dapat tetap dijaga (karena tidak menonjolkan puting susu) namun tidak terlalu menyiksa perempuan yang menggunakannya.
Penggunaan bra atau pakaian dalam perempuan ini dapat dikategorikan sebagai semiotika visual. Menurut kris Budiman, semiotika visual pada dasarnya merupakan salah satu bidang semiotika yang secara khusus menaruh minat pada penyelidikan terhadap segala jenis makna yang disampaikan melalui sarana indra lihatan. Semiotika sendiri baginya adalah ilmu yang mengkaji relasi tanda yang satu dengan tanda-tanda yang lain; relasi tanda-tanda dengan makna-maknanya, atau objek-objek yang dirujuknya (designatum) dan relasi tanda-tanda dengan para penggunanya, interpreter-interpreternya. Sehingga, ditilik dari sejarahnya, bra atau pakaian dalam perempuan-pun dapat dikategorikan sebagai unsure semiotika karena telah menjadi tanda bagi para perempuan dalam menjaga kehormatannya.
Sebegitu kuatnya mitos tentang penggunaan bra, para perempuan menjadi mengesampinkan factor kesehatan. Seperti pada jaman dulu mengenai siksaan bagi tubuh saat menggunakan korset. Bahkan saat inipun, juga telah diteliti di sebuah studi yang dipimpin oleh Sidney Ross Singer dan Soma Grismaijer membuktikan bahwa memakai bra terus menerus justru dapat meningkatkan risiko kanker payudara apabila menggunakannya lebih dari 12 jam sehari. 
Terlepas dari penelitian yang membuktikan bahaya penggunaan bra terlalu lama, di sisi lain justru industry pakaian dalam perempuan semakin berlomba-lomba untuk menciptakan kreasi bra sehingga semakin diminati sebagai ikon fashion, contohnya adalah Victoria’s Secret, industri pakaian dalam perempuan yang terinspirasi dari gaya pemakaian pakaian dalam perempuan (korset) di era Victoria.



Daftar Pustaka

Budiman, Kris. Semiotika Visual: Konsep, Isu dan Problem Ikonositas. 2011. Jalasutra: Yogyakarta

Minggu, 07 April 2013

Teori Jaringan Dalam Komunikasi Organisasi



Dalam suatu organisasi terdapat jaringan-jaringan yang memiliki persamaan atau biasa disebut dengan klik. Kumpulan dari beberapa “klik” dapat menimbulkan perbedaan di antara mereka. Oleh sebab itu diperlukan sosok yang dapat menjadi pemersatu di antara “klik” untuk lebih meminimalisir bertambahnya jumlah “klik” dalam organisasi tersebut.
Paling tidak ada 4 gagasan dari Mooney dan Reiley tentang jaringan organisasi :
1.         Koordinasi untuk menyatukan unit kerja yang mempunyai tujuan yang sama.
2.         Skala untuk menetapkan jarak berdasarkan hierarki.
3.         Fungsionalisasi, yang menerangkan gagasan tentang spesialisasi
4.         “Staff” dan “line” untuk menerangkan bahwa line bertugas melaksanakan tugas pokok sedangkan staff melaksanakan tugas adsministratif yang menunjang pekerjaan pokok.
            Oleh sebab itu, teori jaringan dipergunakan untuk mengakomodir ke-empat gagasan tersebut. Teori jariangan dalam komunikasi organisasi dapat meliputi komunikasi formal maupun informal. Dalam komunikasi formal, “penghubung” jaringan dapat menerapkan pola komunikasi secara vertikal (instruksional atau upward ke downward), horizontal (koordinasi antar level hierarki yang sama) dan diagonal (dari level hierarki yang lebih atas dari divisi lain ke level hierarki yang lebih bawah ke divisi lain, begitu pula sebaliknya): Bettinghaus, 1968 (dalam Alo Liliweri; 1997).
            “Penghubung” yang bisa dijalankan oleh pimpinan atau HRD atau PR perusahaan ini sebaiknya juga dapat menjalankan pola komunikasi informal dalam teori jaringan yaitu membentuk momen-momen khusus untuk berkomunikasi dengan tim secara santai misalkan melalui gathering, outbond dll.

Ket: Diunggah ke blog pribadi penulis: http://ardhiwidjaya.blogspot.com

Sumber:
Faisal Afiff, R. Paemeleire dan L. Uytterschaut. 1994. Seluk Beluk Organisasi Perusahaan Modern. Bandung : Penerbit PT Eresco
http://agustocom.blogspot.com/2010/12/teori-jaringan-dan-perubahan-sosial.html