Sabtu, 20 Desember 2014

Politic Finesse


Kita sering mendengar pepatah “ bila ingin abadi, tulislah sebuah buku”. Sedikit menimpali pepatah tersebut, penulis memiliki pemahaman baru mengenai “keabadian” yakni “jika ingin abadi, berpolitiklah”. Kesannya memang begitu empiris-materialis sekali. Namun jangan berprasangka buruk terlebih dahulu. Mari kita kaji substansi dari politik dan membuat nama seseorang menjadi seolah-olah abadi meskipun dia sudah mati.

Kodrat manusia sebagai mahluk sosial (homo homini socious) memang benar adanya, namun tidak dipungkiri politik akan menjadi bumbu di dalamnya. Politik tumbuh menjadi momok bagi publik karena pelaku politik yang menjalankan misi homo homini lupus atau manusia adalah serigala bagi sesamanya telah membuat politik yang semula sebagai seni bersosialisasi menjadi senjata dalam bersosialisasi.

Penulis coba kutip pemikiran dari St. Thomas Aquinas yang mengembangkan pemikiran Aristoteles mengenai dasar filsafat politik adalah alam (nature):

... semua makhluk dalam tingkatan tertentu, terlibat dalam hukum alam sejauh mereka mendapatkan dari hukum tersebut kecenderungan tertentu pada tindakan –tindakan dan tujuan-tujuan yang pantas bagi mereka. Tetapi, di antara makhluk-makhluk tersebut, makhluk rasional (manusia) tunduk pada hukum ketuhanan dengan cara yang khusus; mereka sendiri adalah pelaku dalam hukum ini, dalam arti mereka mengendalikan tindakan mereka sendiri serta tindakan makhluk lain.

Dalam kutipan pemikiran St. Thomas Aquinas tersebut tampak hakikat politik adalah mengenai kendali, kendali yang dijalankan manusia atas hukum ketuhanan terhadap diri sendiri maupun manusia yang lain. Kutipan ini seolah-olah identik dengan pola kepemimpinan. Namun bagi penulis, menjadi seorang yang menjalankan politik tidaklah harus menjadi pemimpin. Karena mengendalikan lebih berkorelasi dengan memiliki kuasa atas sesuatu/ seseorang, sedangkan pemimpin sendiri bisa dikendalikan oleh politik (yang idealnya tunduk pada hukum ketuhanan).

Mengenai dasar politik terhadap hukum ketuhanan, secara “kulit” hal ini sangat mudah dicitrakan oleh pelaku politik saat ini. Dengan demikian, secara substansi, hal tersebut juga bisa dirasakan melalui hukum ketuhanan. Melakukan telaah atau literasi terhadap citra politikus tentang peran politiknya yang berdasar hukum ketuhanan akan sulit bila landasan yang kita cari hanyalah dari hukum “kemanusiaan” belaka.

Di Indonesia yang etnis-nya “Divergent” ini, memang memiliki tantangan yang cukup besar dalam meliterasi hukum ketuhanan di ruang lingkup politik. Bagi penulis, satu hal yang perlu diyakini dalam menjunjung hukum ketuhanan di ranah politik adalah antar pemain politik tidak bisa menyombongkan hukum ketuhanan yang mereka usung. Karena dengan begitu, bukankah substansi dari hukum ketuhanan dalam politik itu sendiri akan hilang? Dan alur politikpun kemudian akan mengacu pada misi homo homini lupus. Meski demikian, selayaknya untuk menjadi pribadi yang punya “peran” kita tidak boleh memandang politik dengan stigma negatif karena kita harus berkutat di dalamnya dan berusaha menjalankannya dengan substansi hukum ketuhanan.

Daftar Pustaka
Aquinas, Thomas. 1944. Basic Writings of St. Thomas Aquinas. New York: Random House

Schmandt, Henry, J. 1960. Political Philosophy. USA: The Bruce Publishing Company

Rabu, 29 Oktober 2014

Public Relation: Bina Relasi Dengan Publik Mana?


Stigma yang berkembang di masyarakat saat ini mengenai peran seorang praktisi Public Relation masih banyak didominasi oleh perannya di kalangan publik eksternal. Padahal apabila melihat bagan yang disampaikan penulis di atas, banyak alur komunikasi yang perlu dijaga seorang praktisi PR di lingkup publik internal dengan rincian sebagai berikut:

Publik Internal:
  1. Pemegang saham: tugas PR terhadap pemegang saham adalah menyelaraskan keinginan antar pemegang saham terhadap misi perusahaan untuk meraih visi
  2. Direktur: tugas PR terhadap level direktur adalah mampu menjadi perwakilan direksi dalam menyampaikan keputusan perusahaan
  3. Manager: tugas PR terhadap para level manajerial adalah menggali informasi mengenai conflict of interest di antara staf dan bersama-sama para manajer mencari solusi atas hal tersebut
  4. Staf: tugas PR di antara staf adalah lebih kepada monitoring motivasi
  5. Pemerintah: tugas PR sehubungan dengan pemerintah adalah memahami aturan-aturan hukum yang berlaku di pemerintahan yang disesuaikan dengan pola kerja organisasi tempat PR tersebut bekerja
  6. Konsultan: seiring sejalan dengan konsultan untuk menjaga pola komunikasi poin 1-5 tersebut di atas.
  7. Vendor: PR bisa memberikan ide kepada manajemen organisasi untuk membina hubungan baik dengan vendor demi keberlangsungan organisasi

Pihak Eksternal:
  1. Konsumen/ audiens: PR wajib menyampaikan value organisasi kepada mereka supaya loyalitas sebagai audiens/ konsumen tetap terjaga
  2. Media: Hubungan organisasi dengan media perlu dijaga oleh praktisi Public Relation supaya ketika organisasi membutuhkan media sebagai penyampai informasi kepada khalayak maka proses tersebut akan dapat berjalan dengan lebih lancar
  3. Target: sekumpulan masyarakat yang akan diajak oleh PR untuk menjadi bagian sebagai audiens/ konsumen


Memang seringkali tugas PR diidentikkan dengan citra organisasi. Berdasar konsep yang disampaikan oleh penulis, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa: Bagaimana cara PR menyampaikan citra organisasi kepada publik eksternal melalui bantuan media sangat dipengaruhi oleh alur komunikasi yang ada di lingkup publik internal dalam sebuah organisasi.

Rabu, 15 Oktober 2014

Berlo: Ketika Komunikasi Tidak Hanya Soal Berbicara



Dalam berbagai ruang lingkup pergaulan, baik di dunia kerja, dengan teman maupun keluarga, sering kita dengar bahwa komunikasi adalah kunci utama dalam membina sebuah hubungan. Lalu, apakah komunikasi hanya melulu soal berbicara?
                Penulis mencoba mengangkat teori model komunikasi menurut David K. Berlo. Penulis mencoba mengangkat teori model komunikasi menurut David K. Berlo. Melalui pemikirannya tentang model komunikasi, David K. Berlo mengungkapkan bahwa komunikasi itu saluran yang digunakan tidak hanya berpaku pada sebuah dialog atau tulisan saja. Pada model komunikasinya, Berlo menyampaikan bahwa terdapat unsur-unsur utama komunikasi yang dikenal dengan SCMR, yaitu Source (sumber), Channel (saluran), Message (pesan), dan Receiver (penerima). Selain 4 unsur utama tersebut, kelengkapan sebuah komunikasi juga didukung tiga unsur lain, yaitu Feedback (tanggapan balik), Efek , dan Lingkungan. Kolaborasi antar unsur itulah yang bagi Berlo akan mampu menyajikan sebuah konsep komunikasi yang ideal.

1. Sumber
Disebut juga informan atau pemberi informasi. Intinya dalam sebuah komunikasi, harus diawali dengan pihak yang memiliki informasi untuk disampaikan kepada pihak lain.

2. Pesan
Merupakan hal yang dibawa oleh sumber untuk disampaikan kepada audiens-nya

3. Saluran
Disebut juga sebagai media untuk menyampaikan pesan. Saluran di sini yang oleh Berlo telah dieksplorasi secara lebih meluas (lihat bagan)

4. Penerima
Merupakan pihak yang menerima informasi.

5. UmpanBalik
Adanya respon atau tanggapan dari penerima pesan,

6. Efek
Dalam suatu komunikasi, si sumber bisa saja menampilkan informasi yang memberikan efek kepada si penerima pesan, entah efek tersebut adalah: hanya sekedar tahu, atau berujung pada perubahan perilaku.

7. Lingkungan
Lingkungan bisa juga menjadi pendukung dalam efektif atau tidaknya penyampaian suatu pesan dalam komunikasi.

Dari empat unsur utama dan tiga unsur pendukung tersebut, dapat disederhanakan dalam bagan berikut:


Dari bagan model komunikasi ala Berlo tersebut, penulis menyimpulkan bahwa saluran/ media dalam berkomunikasi tidaklah hanya berupa verbal atau tulisan saja. Ternyata dengan penciuman, sentuhan, antusiasme dalam mendengar juga bisa menjadi saluran yang efektif dalam berkomunikasi. Oleh sebab itu kita juga sering mendengar tentang komunikasi non verbal seperti senyuman tanda orang senang atau mata melotot sebagai tanda terkejut/ marah.


Selasa, 30 September 2014

Men Endorser Magnum Vs Haagen Dazs


Banyak sekali kini brand yang melakukan leveraging market baik yang secara soft maupun hard. Seperti es krim yang baik oleh Magnum maupun Haagen Dazs bisa dirubah imej-nya bahwa es krim tidak hanya sebagai konsumsi anak-anak. Awalnya, justru positioning Haagen Dazs maupun Magnum memang diarahkan untuk target perempuan muda-dewasa yang menurut asumsi penulis di kisaran usia 20-35 tahun. 

     Kini, dua brand es krim ini (yang didahului oleh Haagen Dazs) mencoba berani memunculkan endorser sosok pria muda-dewasa. Awal tahun 2014 ini, penulis agak kaget ketika mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Yogyakarta, melihat tampang Bradley Cooper telah memenuhi wall cover di outlet Haagen Dazs, padahal sebelumnya dihiasi oleh model cantik dengan rambut panjang bergelombang. Beberapa minggu kemudian, penulis mendapati TV Commercial Haagen Dazs yang menceritakan si pria yang sangat menyukai es krim ini digoda oleh seorang perempuan yang ternyata hanya ingin merebut es krim darinya. Mengenai ide tersebut, dalam benak penulis berkata "come on, cowok rebutan es krim sama cewek?" Thus, it names as: over-positioning bagi penulis. 

    Berbeda dengan apa yang disajikan oleh Magnum di bulan Agustus 2014 ini ketika Magnum co-branding dengan sebuah brand otomotif besar dunia yakni Porsche. Dalam TV Commercial-nya, si cewek Magnum "melarikan diri" dari sebuah kejaran paparazzi yang diselamatkan oleh si Pria penunggang Porsche yang dipercayakan pada Orlando Bloom. Berbicara mengenai peran gender dalam dua brand yang berkompetisi ini, bagi penulis peran Orlando Bloom sebagai endorser terbaru di es krim Magnum lebih make sense, wajar jika pria elegan penunggang Porsche menyukai perempuan berani sekaligus elegan penyuka es krim Magnum.
     Apabila Anda penggemar es krim, mana yang lebih sesuai dengan jiwa Anda, Magnum atau Haagen Dazs?

Selasa, 09 September 2014

Batik Chic: Merk Lokal Yang Co-Branding Dengan Brand Dunia

Seindah-indahnya pekerjaan impian, akan terasa lebih nikmat apabila menjalani bisnis sendiri. Hal itulah yang telah dialami oleh Novita Yunuz, pengusaha yang mencintai budaya lokal berwujud karya seni batik. Novita telah menggeluti profesi impiannya sebagai seorang banker selama sebelas tahun, she did love her job, hingga dia sadari banyak waktu berkualitas yang dia lewatkan bersama keluarga. Berdasar kecintaannya pada Batik, akhirnya pada April 2010, Novita membuka gerai pertama "Batik Chic". Kini Novita telah menemukan bisnis yang sesuai dengan passion-nya dan tetap menghargai ilmu yang didapatnya selama sebelas tahun menjadi banker.

sumber gambar: http://www.u-fm.com/whats.on.you/detail/86/batik.chic
     
       Perjalanan karir Novita Yunus dalam pengembangan bisnisnya ternyata memiliki jenis passion yang sama dengan yang ditawarkan oleh Oriflame kepada konsultannya yaitu "lebih nikmat menjalani bisnis sendiri". Hal ini menjadi sisi menarik bagi Oriflame, perusahaan direct selling kosmetik dari Swedia untuk mengkolaborasikannya. Alhasil, terbitlah promo "mencengangkan" bagi konsultan baru Oriflame Indonesia yang join mulai 25 Agustus - 30 September 2014 ini, yakni free clutch dan bag :Chic Batik" bagi konsultan yang lolos Welcome Program. Tentu saja kolaborasi ini juga turut membanggakan produk lokal kita yang berkualitas seperti Batik Chic yang telah Co-Branding dengan perusahaan kosmetik dunia seperti Oriflame.
     
     

Rabu, 03 September 2014

I Know U Love Me: XoXo


Rumor, sebuah fenomena yang tanpa disadari tumbuh sebagai sosok yang dicinta oleh khalayak yang terutama sangat mudah merebak (rapid) di dunia maya di kalangan netizen. Penulis jadi teringat dengan novel serial karangan Cecily Von Ziegezar yang juga telah dijadikan serial TV berjudul "Gossip Girl" yang menjadikan rumor sebagai komoditi untuk stabilitas eksistensi diri para tokohnya. Ternyata rumor yang jadi komoditi di cerita tersebut tidak hanya mempengaruhi eksistensi objek dari rumor tersebut saja, mengingat rumor tidak seru tanpa pengikut (follower), jadilah rumor yang berpengaruh terhadap semua pergerakan publik yang menjadi target komunikasi dari rumor itu.
       "I Know U Love Me: Gossip Girl" menjadi semacam salam penutup bagi si penguntit (stalker) kehidupan para sosialita di serial ini ketika membagi rumor ke khalayak dan dia memiliki tanda tangan berupa tanda "XoXo". Kata "I Know U Love Me" seperti menunjukkan bahwa publik suka rumor, publik cinta dan haus akan gosip. Gosip membuat hidup mereka berwarna karena gosip adalah cinta. Korelasi antara rumor, gosip dan cinta ini yang saat ini penulis lihat telah bergulir di ranah politik dan (politik) kehidupan kita begitu mudah, cepat dan merebak menggoyang labilnya pendirian khalayak hingga semakin labil.
      Penyebaran berita (baca: rumor) di media sosial mudah sekali menyebar ibarat efek bola salju. Penggunaan social media celebrity sebagai penggerak efek ini terasa begitu berperan penting. Para pengikutnya merasa apa yang disampaikan oleh celeb ini menjadi hal yang penting untuk digulirkan pembahasannya meskipun itu bukanlah hal yang penting sekalipun namun menjadi sangat penting kemudian. Rumorpun akan semakin berkembang menjadi: apakah celeb ini melakukan "publikasi berbayar" atau murni ungkapan pemikiran sendiri atas suatu isu tersebut. Apapun itu, publik sudah terlanjur terpengaruh, respon yang memunculkan rumor baru kemudian bisa diukur oleh si "dalang rumor" untuk kepentingan eksistensi diri dan materialisme si dalang. 
       Tanpa disadari, netizen (baca: kita) adalah responden tak berbayar yang telah "membayar" kepuasan si dalang yang juga stalker atau penguntit kehidupan kita. Kita sebagai publik bisa merasa menjadi orang yang terkini dan cerdas ketika mengikuti perguliran dari stalker/ dalang/ penguntit itu. Alhasil, kita akan mencintai sesuatu yang kita benci dan vice versa. Lalu, sanggupkah kita lepas dari jeratan kata manis "I Know U Love Me"?


     

Rabu, 14 Mei 2014

Seksualitas Dalam Iklan Dior Homme


      Sophistication merupakan kemasan utama yang ingin disajikan pada produk parfum Dior Homme, itulah sebabnya kenapa produk Dior Homme selalu menyajikan endorser pria-pria dengan gaya rapi dengan menggunakan setelan jas dan sepatu fantofel layaknya yang ditampilkan pada endorser sebelumnya seperti Jude Law dan yang terkini Robert Pattinson.
video

Melalui tampilan model yang elegan memberi maksud pada auidens bahwa Dior Homme merupakan produk yang sesuai dengan pria-pria elegan: menyukai setelan klasik, mobil dengan tampilan berkelas dan tentu saja penampilan pribadi menggoda.
Parfum sendiri tampil sebagai sebuah produk yang mampu membuat pemakainya tampil lebih bergaya melalui aroma yang dipancarkannya. Aroma yang muncul dari tubuh seseorang juga dapat memunculkan imajinasi bagi orang lain yang menciumnya termasuk imajinasi yang berhubungan dengan kegairahan seksual seperti yang diungkapkan teori Freud berikut: "Dari mana datangnya ketegangan seksual yang muncul bersamaan dengan kepuasan zona rangsangan, serta apa yang menjadi sifat dasar ketegangan tersebut masih belum dapat dijelaskan. Anggapan yang ada, bahwa ketegangan ini berasal dari kenikmatan itu sendiri, tidak saja mustahil tetapi juga tidak dapat dipertahankan, karena selama  berlangsungnya kenikmatan terbesar yang berkaitan dengan pengosongan zat-zat seksual, tidak terjadi produksi ketegangan melainkan pelepasan ketegangan. Dengan demikian, kenikmatan dan ketegangan seksual hanya dapat dihubungkan secara tidak langsung"
Penulis akan mencoba membahas satu persatu yang mengkorelasikan antara parfum Dior Homme, iklan dan seksualitas serta Robert Pattinson dengan Camille Rowe sebagai pemeran pendukung dalam iklan tersebut.

Dior Homme
      Merupakan parfum keluaran rumah fashion tertua di dunia: Dior yang ditujukan untuk pria yang ingin menonjolkan sisi maskulinnya. Parfum ini terbuat dari aroma Virgina Cedar dan wewangian akar kayu. Aroma tumbuhan dan kayu yang diberikan oleh Dior Homme selain memunculkan sisi maskulin juga mampu meningkatkan kepercayaan diri pemakainya termasuk dalam memunculkan seduction atau godaan terhadap para perempuan.

Seksualitas dalam Iklan Dior Homme
       Hal ini jelas sekali tergambar pada beberapa adgennya seperti ciuman, pemeran pendukung perempuan (Camille Rowe) yang menunjukkan agresifitasnya serta bagian kaki dan paha yang terekspos.

       Reichert & Lambiase (2003) menyebutkan bahwa ada 5 jenis cara mensisipkan unsur-unsur seksual di dalam iklan, yaitu:

1. Nudity/dress
Menampilkan model dengan pakaian yang vulgar

2.Sexual behavior
Perilaku yang menjurus ke arah seksual, seperti, pose dan gerakan tubuh yang ‘menggoda’. Adapun interaksi antar 2 orang atau lebih yang menjurus ke arah perilaku seksual, seperti memeluk, mencium, dan hal-hal lainnya yang menjurus.

3. Physical attractiveness
Ketertarikan fisik yang ditonjolkan dengan kecantikan/keanggunan dari si fisik si model yang seksi.

4. Sexual referents Menampilkan suasana yang menampilkan arti ‘seksualitas’. Seperti setting cahaya yang remang-remang atau musik yang merepresentasikan keseksian (biasanya musik jazz tertentu).

5. Sexual embeds
Konten yang diinterpretasikan secara seksual oleh alam bawah sadar kita. Seperti benda-benda yang jauh dari kesan seksual namun dapat dikonotasikan sebagai salah satu bagian tubuh pria/wanita

Robert Pattinson & Camille Rowe
       Camille Rowe adalah sosok model muda asal Perancis kelahiran tahun 90 yang digambarkan menjadi selera para pria pemakai parfum Dior Homme. Lalu kenapa Dior memilih Robert Pattinson untuk menjadi endorser terbaru parfum Dior Homme? 
       Menurut penulis, alasan dipilihnya Robert Pattinson karena public mengenal Pattinson dalam film-filmnya (terutama sebagai vampire dalam Trilogi Twilight Saga), muncul sebagai tokoh pria yang selalu berpenampilan rapi dan menggoda tokoh-tokoh perempuan dalam film tersebut, contoh lain ada di film Cosmopolis serta Water for The Elephant. Hal ini dirasa sesuai dengan positioning yang dibangun oleh Dior Homme sebagai parfum bagi pria rapi berpenampilan klasik yang menggoda.
Berbicara mengenai seksualitas dalam iklan, menurut penulis, memang sebaiknya ada ikatan antara seksualitas dengan produk yang diusung konsep kreatifnya dalam sebuah iklan. Bila memang Dior Homme ditujukan untuk membangkitkan gairah seksual orang lain yang mencium aroma parfum tersebut dari si pemakainya maka memasukkan unsur seksualitas dalam iklan parfum Dior Homme sudah sesuai dengan positioning yang diusung merk tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Freud, Sigmund. 1910. Three Contributions to The Sexual Theory. Journal of Nervous and Mental Disease Publishing Company
Reichert, T. & Lambiase, J. 2003. Sex in Advertising: Perspectives on the Erotic Appeal. USA: Routledge

http://en.wikipedia.org/wiki/Nan_Goldin diakses pada Senin, 12 Mei 2014 pukul 14.23
http://en.wikipedia.org/wiki/Romain_Gavras diakses pada Senin, 12 Mei 2014 pukul 14.25


Kamis, 17 April 2014

Tipe Konsumen Berdasar 5 Karakter Anak Dalam Cerita "Charlie & The Chocolate Factory"


Benar memang bila pepatah mengatakan bahwa "pelanggan adalah Raja" namun, raja seperti apakah pelanggan yang kita sebagai orang marketing hadapi sehari-hari? Pelanggan memang bagian dari konsumen, tentunya sebelum menjadi pelanggan, mereka adalah konsumen kita terlebih dahulu. Melalui tulisan ini, penulis ingin mengajak pembaca blog ini untuk mengenali tipe konsumen berdasar 5 karakter anak dalam cerita "Charlie & The Chocolate Factory". 

Augustus Gloop
Tipe Konsumtif - Ini adalah tipe konsumen yang tidak peduli berapa harga dan kualitas produk kita, kalau menurutnya layak dia konsumsi maka dia akan membelinya tanpa pertimbangan apapun. Konsumen tipe ini, membeli produk hanya untuk kepuasan belaka. Misal seorang shopaholic yang memang dia akan terus belanja tanpa suatu alasan apapun, dia hanya suka belanja, that's it!
Tips mengahadapi konsumen seperti ini, tawarkan diskon-diskon menarik dan tetap jangan lupa sampaikan value dari produk kita karena itu juga merupakan bagian dari mengedukasi target market kita.

Veruca Salt
Tipe Penuntut - Dia memiliki standard ekspektasi yang tinggi akan suatu produk atau jasa yang dia konsumsi. Ini adalah tipikal konsumen yang mementingkan value for money, ketika dia spending more money itu berarti dia harus mendapat more value. Ini tipikal konsumen yang apabila komplain sering mengucapkan "Mana manager Anda? saya mau bicara!" atau "Saya ini temannya bosmu!". Ya, dia tidak ingin hanya sekedar komplein dengan staf customer service karena baginya hal tersebut kurang ber-value. Tips menghadapi konsumen seperti ini, tanyakan dengan sopan dan tegas kronologi hal yang dia keluhkan, jangan serta merta menurutinya untuk memanggilkan manager/ supervisor kita kecuali hal tersebut sudah berhubungan dengan masalah kebijakan.

Violet Beauregarde
Tipe Pencela - Contoh peristiwa saja, misal konsumen tipe ini datang di sebuah butik yang sebenarnya lumayan terkenal bagus dan mahal, niatnya kurang jelas apakah untuk membeli atau survey kebutuhannya. Dia akan bilang kepada shopkeeper bahwa barang-barang di butik tersebut itu jauh kualitasnya lebih rendah dibandingkan dengan produk yang dia beli di luar negeri padahal harganya sama atau lebih tinggi butik itu. Pada akhirnya dia hanya akan membeli satu item produk termurah atau bahkan tidak membeli apa-apa.
Biasanya durasi mencela 70% lebih banyak daripada durasi untuk memilih barang. Tips menghadapi konsumen seperti ini, intinya tetap jaga senyum kita dan pertajam product knowledge baik produk sendiri maupun milik kompetitor.

Mike Teavee
Tipe Kepo - Ini konsumen yang kepo secara agresif untuk mendapatkan harga murah, misalnya dengan mengatakan "saya tau lho, suppliermu itu kan di sini to? harga produksi barangmu ini rendah, menang merk doang!". Tips untuk menghadapi konsumen seperti ini, kita harus paham mengenai value produk kita, disampaikan bahwa supplier itu adalah tukang produksi, sedangkan ide dan originalitas itu yang tidak ternilai dan hal itulah yang dimiliki produk kita.



Charlie Bucket
Tipe Cerdas - Enaknya kalau semua konsumen yang kita hadapi seperti Charlie. Dia loyal dan merasa punya ikatan dengan produk kita, sehingga apabila ada kekecewaan dia akan dengan senang hati memberikan masukan, hal ini mirip seperti orang yang sedang dikecewakan kekasihnya, meski kecewa, namun dia tetap mencintainya bukan? Makanya tips menghadapi konsumen seperti ini, kita harus jadi pendengar yang baik, jangan lupa beri special gift atau diskon sebagai ungkapan maaf. Apabila kita apatis menghadapi komplein konsumen seperti ini, siap-siap kita akan ditinggalkannya selamanya.


Selasa, 15 April 2014

Seberapa Pantas “Ayo Memilih” Disebut Iklan Layanan Masyarakat?


Pesta demokrasi: demikian pemilu 2014 yang berlangsung 9 April 2014 kemarin disebut. Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya arti sebuah pesta demokrasi bernama pemilu, dibuatlah iklan layanan masyarakat untuk mensosialisasikan agenda ini.“Ayo Memilih” adalah kampanye yang diciptakan pemerintah untuk mensosialisasikan pemilihan Umum 2014 ini. Kampanye ini divisualkan dengan maskot kotak suara yang memiliki anggota tubuh layaknya manusia dan tanpa ketinggalan kelingking berwarna ungu yang berarti sebagai symbol masyarakat yang sudah menggunakan hak suaranya dalam pemilu.
     Dalam kampanye “Ayo Memilih” ini, kemudian dibuatlah beberapa jenis iklan yang memiliki tema sama dengan kampanye utamanya yaitu “Ayo Memilih”. Tujuannya supaya masyarakat dapat terus teringat mengenai arti pentingnya menggunakan hak suara dalam pemilihan umum. Beberapa iklan layanan masyarakat dengan tema “Ayo Memilih” untuk Pemilihan Umum 2014 ini antara lain adalah:
           

1.      TV Commercial
Iklan TV ini menggambarkan sosok public figure yang juga seorang penyanyi yakni Judika yang memiliki kepedulian mengenai arti pentingnya menggunakan hak pilih dalam pemilu termasuk memunculkan kepedulian terhadap kaum difabel yang bagaimanapun juga mereka layak dibantu untuk menggunakan hak suaranya. Iklan ini dikemas dengan lagu yang liriknya mudah diingat dan sarat akan pesan lugas mengenai pentingnya menggunakan hak pilih pada Pemilihan Umum 2014 ini. 

 2.      Banner

Digital banner seperti ini juga banyak bermunculan di website pemerintah daerah atau website institusi pemerintahan lainnya. Diberi penegas dengan font warna merah untuk kata “Ingat!” dantanggal 9 April  2014, seolah memberikan instruksi kepada masyarakat untuk mengingat tanggal 9 April 2014 sebagai momen penting berupa Pemilihan Umum untuk memilih anggota DPR, DPD serta DPRD. Dalam banner tersebut terdapat catatan kaki juga mengenai tanggal Pemilihan Umum untuk Warga Negara Indonesia yang  sedang berada di luar negeri.

     

     Dari 2 contoh Iklan Layanan Masyarakat dalam kampanye “Ayo Memilih” sebagai sosialisasi untuk mengajak masyarakat Indonesia menggunakan hak suara mereka dalam Pemilihan Umum 2014 ini, akan dikritisi oleh penulis, benarkah iklan layanan masyarakat tersebut sudah melayani masyarakat?      

     Kita perlu mengetahui landasan teori dari Iklan Layanan Masyarakat itu sendiri. Menurut Crompton dan Lamb, Iklan Layanan Masyarakat adalah suatu pengumuman atau pemberitahuan yang bersifat non komersial yang mempromosikan program-program kegiatan, layanan pemerintah, layanan organisasi non-bisnis dan pemberitahuan-pemberitahuan lainnya tentang layanan kebutuhan masyarakat di luar ramalan cuaca dan pemberitahuan yang bersifat komersial.        
     Menurut Ad Council dunia, Iklan Layanan Masyarakat yang memiliki etika, unsur cerita atau pesan yang di dalamnya harus bersifat:
(1)   Non komersial,
(2)   Tidak bersifat keagamaan,
(3)   Non-politik
,(4)   Berwawasan nasional,
(5)   Diperuntukkan bagi seluruh lapisan masyarakat
,(6)   Diajukan oleh organisasi yang telah diakui atau diterima,
(7)   Dapat diiklankan,
(8)   Mempunyai dampak dan kepentingan tinggi, sehingga patut memperoleh dukungan media lokal maupun nasional.

    Dari 8 sifat yang tercantum di atas, penulis akan menekankan pada sifat nomor 3 yaitu non politik. Mengingat Iklan Layanan Masyarakat ini nantinya bertujuan supaya masyarakat memilih salah satu dari beberapa partai politik, namun kita harus pastikan bahwa iklan ini tidak bermuatan politik sedikitpun. Hal ini merujuk pada teori semiotika milik Pierce  terkait dengan tanda dan interpretasi terhadap tanda yang selalu dihubungkannya dengan logika. Yakni segitiga tanda antara ground, denotatum, dan interpretant. Ground adalah dasar atau latar dari tanda, umumnya berbentuk sebuah kata. Denotatum adalah unsur kenyataan tanda. Interpretant adalah interpretasi terhadap kenyataan yang ada dalam tanda. Dimana dari ketiga konsep tersebut dilogikakan lagi ke dalam beberapa bagian yang masing-masing pemaknaannya syarat akan logika.
     Dalam hal Iklan Layanan Masyarakat “Ayo Memilih” ini, secara spesifik penulis lebih mengacu pada logika Denotatum dari Pierce: Dalam Denotatum terdapat konsep berupa icon, index, symbolIcon adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang serupa dengan bentuk objeknya (terlihat pada gambar atau lukisan), Index adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan petandanya. Simbol adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang oleh kaidah secara konvensi telah lazim digunakan dalam masyarakat. Kembali pada Iklan Layanan Masyarakat“Ayo Memilih”, penulis menganggap creator Iklan Layanan Masyarakat ini sungguh berhati-hati untuk menentukan symbol maupun icon yang digunakan sehingga index yang muncul dalam persepsi masyarakat tidak akan bermuatan politik atau condong pada salah satu parta tertentu. Sehingga menurut penulis, kampanye “Ayo memilih” ini layak disebut sebagai Iklan Layanan Masyarakat yang memang bertujuan untuk mensosialisasikan layanan terhadap masyarakat.


Senin, 31 Maret 2014

Social Marketing & Anti Poverty


World Bank menyampaikan hal seperti berikut: kemiskinan adalah hal yang butuh penanganan. Hal ini berarti perlu penanganan dari si kaya terhadap si miskin. Penanganan terhadap kemiskinan merupakan sebuah panggilan supaya lebih banyak orang lagi dapat merasakan cukup makan, mendapat tempat berteduh, pendidikan layak, kesehatan terjamin, perlindungan terhadap kejahatan dan memiliki hak untuk bersuara.
            Saatnya kita melihat apa yang ada di sekitar kita, masih banyak sekali kemiskinan yang belum tertangani dengan baik. Philip Kotler dan nancy R. Lee dalam buku mereka yang berjudul “Up and Out of Poverty: The Social Marketing Solution” menyampaikan fokus pada aspek-aspek upaya penanggulan kemiskinan secara spesifik pada kelaparan, penyakit, pendidikan yang kurang layak, perencanaan keluarga, ketersediaan air bersih dan beberapa hal lainnya.
            Sehubungan dengan isu tersebut, pengembangan pemasaran sosial diperlukan melalui integrasi konsep, sarana dan penerapannya sehingga bisa menjadi bauran penanganan masalah kemiskinan. Sebagai permulaan, kita perlu menyampaikan gambaran mengenai siapa yang berada dalam kemiskinan? Berapa banyak mereka? Di mana mereka tinggal? Dan apa yang menyebabkan mereka mengalami kemiskinan?
            Menurut World Bank, seseorang dianggap miskin apabila mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan dan pendidikan secara layak. Jeffrey Sachs dalam bukunya yang berjudul “The End of Poverty” menyampaikan ada tiga tingkatan dalam kemiskinan yaitu:
1.   Extreme Poverty: yakni orang-orang yang bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka. Mereka benar-benar kelaparan dan tidak mendapatkan pelayanan kesehatan, kurang mengkonsumsi air bersih, sanitasi yang tidak terjamin, tidak memiliki pendidikan formal dan juga tempat berlindung.
2.    Moderate Poverty: beberapa kebutuhan dasar terpenuhi misal mereka masih memiliki pakaian, tidak mutlak kelaparan, punya tempat tinggal walaupun kurang layak, namun belum mendapatkan pendidikan ataupun pelayanan kesehatan.
3.      Relative Poverty: orang-orang dengan pendapatan di bawah upah minimum yang diterapkan pemerintah namun masih bisa memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Dominasi Kemiskinan Di Dunia
            Lebih dari 90% extreme poor berada di tiga wilayah berikut: Sub-Sahara Afrika, Asia Timur dan Asia Selatan. Pada data statistik tahun 2005, tiga negara termiskin di dunia adalah India, China dan Nigeria. Sedangkan Indonesia berada pada peringkat ke-delapan sebagai negara termiskin di dunia.

Mengapa Kemiskinan Terjadi?
            Berikut adalah beberapa faktor penyebab utama kemiskinan: kesehatan, lingkungan, perekonomian, infrastruktur, pendidikan, sosial dan perencanaan keluarga. Contoh-contohnya antara lain:
·      Kesehatan yang buruk: hal ini mungkin disebabkan tidak didapatkannya pelayanan kesehatan, nutrisi yang cukup, depresi tinggi, tidak mendapat vaksin serta terjangkit wabah atau virus seperti HIV-Aids, malaria dan TBC.
·     Faktor kerusakan lingkungan: seperti terjadinya erosi, penebangan hutan, pencemaran air, perubahan iklim secara drastis dan sebagainya.
·      Kondisi perekonomian yang sulit: seperti banyaknya pengangguran, upah minimum daerah yang rendah dll.
·     Akses pendidikan rendah: anak-anak tidak bisa bersekolah karena harus membantu menopang hidup keluarga.
·       Faktor sosial yang kuat: meliputi kriminalitas, KDRT, perang, diskriminasi RAS dll.
·      Kurangnya perencanaan keluarga: mulai pemilihan agama dan kepercayaan, perancangan jumlah anak dll.

Kenapa Kita Perlu Peduli?
            Beberapa alasan yang membuat kita harus peduli terhadap kemiskinan adalah sebagai berikut:
1.  Kemiskinan berarti menyia-nyiakan hidup. Kehidupan yang seharusnya diisi dengan penuh hal-hal potensial menjadi tidak berjalan dengan baik. Kemiskinan menghambat hubungan masyarakat untuk dapat saling memberikan kontribusi bagi sesamanya.
2.      Kemiskinan mampu menyebarkan demotivasi, bahkan secara ekstrim mampu memunculkan kriminalitas.
3.    Kemiskinan membuat masyarakat mudah terserang penyakit yang tentu saja mengurangi produktivitas mereka.
4.    Kemiskinan membuat seseorang mudah terhasut dan terprovokasi terhadap paham-paham yang akan mengiming-imingi mereka pendapatan lebih.
5.      Mengentaskan kemiskinan membantu kita untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat dunia

Strategi Utama Mengurangi Kemiskinan
1.      Strategi pertumbuhan ekonomi: strategi ini menjadi ukuran untuk meningkatkan perkembangan ekonomi kerakyatan. Dimulai dengan mengoptimalkan usaha rakyat untuk memperluas lapangan pekerjaan.
2.      Strategi redistribusi: strategi ini berupa kemudahan akses bagi masyarakat miskin untuk mendapatkan layanan pendidikan ataupun kesehatan untuk membantu meningkatkan produktivitas mereka.
3.      Bantuan pihak asing: biasanya dikarenakan negara yang terlalu miskin susah untuk mendongkrak kemakmuran rakyatnya sehingga diperlukan bantuan dari pihak negara lain. Bantuan
4.      Mengontrol populasi: ini juga merupakan strategi yang penting, berupa menekan angka kelahiran dengan keluarga berencana.

Konsekuensi Yang Tidak Diingankan Dari Program Pengentasan Kemiskinan
            Sebagian besar program pengentasan kemiskinan dikonsep untuk membantu masyarakat miskin membutuhkan perubahan pola pikir dari masyarakat itu sendiri untuk menerima masukan, merubah pola pikir dan melakukan tindakan perubahan. Dalam upaya perubahan pola pikir ini tentu mereka membutuhkan intervensi yang sesuai. Karena terkadang, upaya baik ini tidak diimbangi dengan perubahan pola pikir masyarakat miskin tersebut sehingga hasil yang dicapai menjadi tidak maksimal.

Kenapa Konsep Pemasaran Perlu Dimasukkan Sebagai Solusi Terhadap Kemiskinan?
            Pemahaman mengenai perencanaan serta penerapan program anti kemiskinan ini perlu sebuah pola pikir strategi pemasaran untuk mengarahkan pola pikir masyarakat miskin tersebut dan bertindak dalam ruang lingkup solusi pengentasan kemiskinan itu sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Stephen Smith dalam bukunya yang berjudul “The Fortune at the Bottom of the Pyramid” perlu dijelaskan kepada masyarakat miskin dalam bahasa yang sederhana mengenai bagaimana pemasaran dapat memicu kesuksesan mereka. Misal, sebelum mereka menginginkan mengkonsumsi sesuatu, mereka harus berpikir untuk membentuk lingkungan sosial yang berbasis kapital, sehingga mereka harus produktif untuk menghasilkan uang termasuk juga mengatur angka kelahiran dan berorientasi pada menjaga kesehatan serta memahami pentingnya arti pendidikan.

Enam hal Utama Untuk Memahami Kemiskinan
1.   Kemiskinan itu terdiri dari grup heterogen: di beberapa negara miskin, masyarakat miskin cenderung menjadi populasi mayoritas meskipun jenis kemiskinan yang mereka alami tidaklah sama. Perlu dipahami juga bahwa kemiskinan memiliki segmen yang berbeda-beda.
2.     Segmen kemiskinan yang berbeda juga memerlukan penanganan yang berbeda: perlu dilakukan penelitian baik secara kualitatif maupun kuantitatif untuk mengetahui segmen kemiskinan yang dialami oleh suatu kelompok masyarakat tertentu.
3.   Masyarakat miskin butuh dukungan berbagai institusi: perlu diketahui bahwa kemiskinan bukanlah semata-mata urusan pemerintah saja. Pemerintah dengan instansi baik negeri maupun swasta harus bersinergi untuk memberantas kemiskinan.
4.     Masyarakat miskin memiliki persepsi yang berbeda mengenai cara merubah pola pikir dan perilaku: sekali lagi perlu dipahami mengenai segmen kemiskinan yang terjadi di suatu masyarakat tertentu sehingga penanganan yang disampaikan dapat tepat sasaran.
5.  Masyarakat miskin sering keluar masuk dalam masalah kemiskinan: pergerakan masyarakat miskin tidaklah statis melainkan dinamis. Kadang mereka bisa mencapai titik kemakmuran namun tidak memiliki pemahaman untuk mempertahankannya sehingga jatuh miskin lagi.
6.    Wajah asli kemiskinan berasal dari masyarakat lokal: kecenderungan kemiskinan lebih banyak dialami oleh masyarakat lokal.

Apakah Pemasaran Sosial Itu?
Pemasaran sosial merupakan sebuah proses yang menggunakan konsep-konsep marketing serta tekniknya untuk membuat, mengkomunikasikan, dan menyampaikan makna untuk mempengaruhi perilaku target sehingga mampu meningkatkan manfaat sosial mereka seperti kesehatan publik, keamanan, lingkungan dan komunitas.
Beberapa hal yang perlu diketahui mengenai pemasaran sosial antara lain:
1.   Jangan sampai rancu antara pemasaran sosial dengan periklanan sosial. Kampanya seperti dua anak cukup adalah bagian dari periklanan sosial. Keberadaan periklanan sosial sendiri sangat mendukung pemasaran sosial.
2.      Pastikan kepada kolega kita, anggota dewan yang terpilih dan penyantun dana bahwa pemasaran sosial bukanlah sebuah cara manipulasi dari hard-selling.
3.      Memahami bahwa pemasaran sosial itu tidak sama dengan jaringan sosial atau media sosial, walaupun untuk taktik promosi bisa menggunakan jaringan ataupun media sosial sebagai sarananya.
4.      Mengetahui bahwa strategi pemasaran sosial bisa meliputi penyediaan barang-barang seperti obat HIV, logistik dsb.

Prinsip-prinsip Utama Pemasaran Sosial
1.      Fokus pada perilaku:
a.    Mampu dan mau menerima perubahan perilaku seperti menempatkan jaring anti nyamuk di tempat tidur
b.      Menolak perilaku yang tidak diinginkan seperti merokok
c.    Memodifikasi perilaku yang ada saat ini, misla bagi yang terbiasa berganti-ganti pasangan maka harus menggunakan kondom
d.      Menghentikan kebiasaan atau perilaku buruk seperti kecanduan alkohol
2.   Mengenali pola perubahan perilaku: dalam banyak hal, pemasar sosial tidak bisa banyak menjanjikan peningkatan taraf perekonomian masayarakat miskin kalau mereka tidak melakukan perubahan perilaku secara konsisten.
3.   Gunakan prinsip dan teknik marketing tradisional: ingat bahwa pemasaran yang efektif adalah dengan berorientasi pada kebutuhan konsumen. Demikian pula yang harus dilakukan dalam pemasaran sosial.
4.      Pilih dan pengaruhi sebuah target pasar
5.      Pastikan bahwa penerima donasi adalah individu atau kelompok masyarakat dan bukan suatu organisasi profit.

Pemasaran sosial dan perubahan sosial
            Berdasar pada Ross & Mico (1980) bahwa perubahan sosial dapat dibawa melalui berbagai metode yang berbeda. Variasi ini bisa berupa penerimaan pasif atau aktif dari masyarakat tersebut, antara lain:
1.      Penyebaran ide, barang-barang dan layanan kepada masyarakat dengan bantuan publikasi media dan opini para pemimpin
2.      Pengorganisasian konsensus oleh partai politik tertentu
3.      Perencanaan dan atau gerakan politik seperti lobi, legislasi dan kampanye politik
4.      Metode konfrontasi melalui ancaman apabila tidak mencapai kesepakatan
5.      Protes tanpa kekerasan seperti mogok atau pemboikotan
6.      Tindak kekerasan berupa kerusuhan dan revolusi
Untuk membawa perubahan sosial yang lebih baik melalui pemasaran sosial, maka diperlukan sarana-sarana sebagai berikut:
1.  Pendidikan, motivasi dan regulasi: masyarakat miskin perlu diberikan edukasi berupa informasi dan peningkatan keahlian, perlu diberikan motivasi serta advokasi.
2.   Pemasaran sosial dan promosi kesehatan: berupa membuat kebijakan kesehatan publik, menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan, menguatkan gerakan komunitas, meningkatkan kemampuan personal dan re-orientasi layanan kesehatan
3.      Pemasaran sosial dan mobilisasi sosial: adanya gerakan perubahan yang dilakukan bersama-sama.

Kesimpulan

            Kemiskinan adalah suatu kondisi yang harus dihadapi bersama dan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, melainkan instansi negeri, instansi swasta, masyarakat umum dan masyarakat miskin itu sendiri. Mengentaskan kemiskinan dapat dilakukan dengan mengambil strategi-strategi dalam ilmu marketing atau pemasaran. Hal ini seperti melakukan perubahan terhadap pola pikir masyarakat miskin dengan menggali latar belakang serta kebutuhan mereka. Dengan demikian pemasar sosial mampu membuat perencanaan dan aksi yang tepat untuk menyelesaikan masalah kemiskinan di suatu lingkungan tertentu untuk mengajak mereka melakukan perubahan bersama-sama