Jumat, 10 Januari 2014

ZARA: And Anywhere Could Be Runways


Seorang teman (lajang perempuan) pernah menulis status di social media twitter miliknya: “pelukanmu tidak sehangat Zara Coat”. Sederhana, itu hanyalah sebuah kicauan, tetapi mengapa bisa pelukan seseorang dibandingkan kehangatannya dengan sebuah jaket bikinan produk fashion asal Spanyol bernama Zara ini? Penulis sendiri tidak yakin kalau teman penulis ini pengguna jaket ber-merk Zara, tapi dia senang menjadi buzzer atau promotor brand ini secara gratis di twitter karena dia menyukai brand ini.
            Zara bisa menjadi sebuah impian bagi lajang seperti teman penulis itu untuk menjadi sebuah simbol yang mampu mendefinisikan dirinya apabila dia memiliki salah satu atau beberapa produk fashion milik Zara ini. Awal mula Zara bisa menjadi salah satu impian bagi penggemar fashion dunia adalah dimulai dari Armancio Ortega dan Rosallia Mera yang mendirikan Zara pada tahun 1975 dan bermarkas di Arteixo, Gallicia – Spanyol. Produknya variatif dari jaket, shirt, dress, sepatu dan kids wear. Di Indonesia, Zara memiliki 9 toko yang tersebar di beberapa kota besar. Louis Vuitton Fashion Director Daniel Piette mendeskripsikan Zara sebagai "retailer yang paling inovatif dan sangat efektif di dunia ini." Oleh CNN, Zara juga disebut sebut sebagai "Spanish success story”. Zara bisa dibilang inovatif karena 1 model produknya hanya diproduksi terbatas dan disebarkan ke lebih dari 500 outlet di 73 negara, sehingga tidak aka nada kesan “pasaran” ketika mengenakan produk ini. Kerennya lagi, Zara berinovasi dengan mengeluarkan 10.000 desain terbaru setiap tahunnya.
            Melalui tulisan ini, akan dibahas mengenai segmentasi dan positioning dari Zara.   Menurut Kotler (2006 : 281) mengatakan bahwa : “Segmentasi pasar membagi sebuah pasar ke dalam kelompok-kelompok yang khas berdasarkan kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang terpisah”.
            Menurut Kasali (2000 : 118) segmentasi adalah : “Suatu proses untuk membagi-bagi atau mengelompokkan konsumen ke dalam kotak-kotak yang lebih homogen". Berdasarkan teori tersebut, penulis mencoba menelaah segmentasi pasar brand Zara sebagai berikut:
Sociographic:
1.      Urban area citizen
2.      SES A & B
Demographic:
1.      Laki-laki 40%
2.      Perempuan 50%
3.      Anak-anak 10% (70% perempuan & 30% laki-laki)
4.      Usia Dewasa 20 – 40 tahun
5.      Usia Anak-anak 3-12 tahun
6.      Lajang 70%
7.      Menikah 30%
Psychographic:
1.      Classy
2.      Warm & humble
3.      Mixed casual & sophisticated
Berdasarkan segmentasi yang dibentuk oleh Zara, maka penulis menyampaikan simpulan positioning yang ingin dibentuk oleh Zara adalah sebagai: brand sebuah produk fashion yang berkelas namun tetap berkarakter membaur dengan harga yang lebih terjangkau dibanding produk yang dianggap “branded” lainnya. Merujuk pada teori positioning menurut Phillip Kotler (2001) merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk membuat citra produk dan hal-hal yang ingin ditawarkan oleh perusahaan sehingga berhasil mendapatkan posisi yang khusus dalam pikiran sasaran pasarnya.
Zara: And Anywhere Could Be Runways. Demikian pendapat yang penulis kemukakan, karena dengan segmentasi dan positioning yang dibentuk oleh Zara, konsumen atau pemakainya dapat merasa seolah-olah sedang berjalan di catwalk untuk memamerkan produk fashion Spanyol ini yang sedang mereka kenakan.