Senin, 28 Desember 2015

Gengsi Sales Executive


Citra pekerjaan sales sempat mendapat stigma negatif (dalam pandangan penulis) di kurun waktu tahun 90-an hingga awal 2000-an. Apa hal yang melatarbelakangi itu? Kemungkinan dikarenakan cara kerja atau strategi berjualan yang agresif (mendesak). Sebagai contohnya adalah hal yang pernah dialami penulis ketika masih kecil. Saat itu pintu rumahnya diketuk oleh seorang sales pisau dapur. Mbak-mbak sales ini menyapa dengan memberikan kuis: "Adek, apa nama negara yang terkenal sebagai produsen jam tangan?" dengan spontan oleh penulis yang baru berusia sepuluh tahun dijawab "Jerman". Kemudian sales tersebut menyampaikan bahwa "si adek" berhak mendapatkan jam tangan digital gratis dengan cara membeli seperangkat pisau dapur senilai Rp. 100.000.
     Itulah yang penulis sebut sebagai strategi komunikasi yang agresif atau mendesak: kalau mau dapat hadiah ya harus beli produk utamanya. Pada akhirnya di setiap kompleks perumahan atau gang-gang perkampungan kemudian dimunculkan mini baliho bertuliskan "Sales harap lapor RT/ RW". Sehingga saat itu pekerjaan sales sempat mendapatkan stigma negatif dari masyarakat sebagai si tukang maksa untuk beli atau tukang tipu-tipu jualan produk biasa dengan harga tinggi.
     Padahal sales person adalah lini terdepan di perusahaan yang memegang peranan penting untuk tingkat ekuitas perusahaan (dalam hal keuntungan tentunya). Berbeda dengan marketing yang melakukan pemetaan supaya brand yang diusung lebih merata persebarannya untuk mencapai target market, maka sales executive (sebutan terkini) adalah eksekutor di lapangan akan pemetaan target market yang sudah dibuat oleh marketing supaya brand yang berwujud produk tersebut mampu membuat target market yakin akan value-nya sehingga mereka terpacu (memiliki desire) untuk mengkonsumsi-nya.
     Memang seorang sales executive harus jualan atau istilahnya hard selling. Dalam melakukan hard selling juga selayaknya tidak perlu gengsi. Karena gengsi membuat target market tidak kenal dengan produk dari brand yang kita usung, mereka tidak paham value-nya apalagi ada keinginan untuk mengkonsumsinya. 
     Pola komunikasi yang dijalankan sales executive saat ini memang sudah banyak yang berorientasi pada tindakan asertif yakni lugas dan efektif daripada sekedar agresif: belilah! Salah satu contoh hal sederhana dalam hal ini adalah; semisal kita sudah pernah memiliki database konsumen potensial, lalu kita kirimi SMS/ email blast mengenai informasi produk/.layanan baru yang kita jual. Konsumen akan sepintas lalu saja ketika menerima informasi yang diberikan secara blasting, namun apabila setelah blasting kita kontak satu persatu dari database tersebut, sebut namanya dan tanyakan "Bapak/ Ibu (nama) sudah menerima informasi terbaru produk kami yang saya kirimkan via email kemarin?" lalu tanyakan pula kesediaannya untuk bertemu supaya bisa menyajikan presentasi mengenai keunggulan produk/ layanan terbaru tersebut. Upaya ini akan lebih elegan, kita lugas pada tujuan kita yakni jualan dan jujur terhadap nilai produk/ layanan yang kita jual. Ingat tidak ada istilah gengsi untuk menjadi seorang sales executive, tapi kita bisa menjadi sales executive yang bergengsi!

Sumber gambar: 

Minggu, 13 Desember 2015

Perencanaan Media (Sosial)

Melakukan promosi di media konvensional seperti televisi, radio, koran dan sebagainya tentu memerlukan biaya yang bisa dibilang cukup besar. Bagi pelaku bisnis start up maupun UMKM tentu hal ini menjadi hal yang perlu dipikirkan berkali-kali untuk mengeluarkan budget dalam pembelanjaan iklan atau promosi di media. Namun dengan semakin maraknya media sosial, usaha yang baru merintis tidak terlalu pusing lagi memikirkan cara berpromosi karena media jenis ini dapat menjadi sarana berpromosi secara gratis. 
     Tentu saja ada hal yang perlu dipahami supaya cara berpromosi kita di media sosial ini bisa berhasil. Dengan melihat apa yang sudah dilakukan oleh pelaku start up sebelumnya, berikut penulis rangkum cara perencanaan media sosial yang dapat dicontoh:

Identifikasi Target
       Kenali produk yang ingin kita promosikan, apakah target konsumennya perempuan dengan range usia tertentu, remaja putra dan sebagainya. Lihat perilaku target market kita di media sosial, mereka lebih sering mengakses media sosial apa. Dengan demikian kita bisa memilih untuk berpromo menggunakan media sosial yang paling banyak diakses oleh target market kita. 
   Di Yogyakarta, dikenal salah satu ethnic fashion designer yakni Lulu Lutfi Labibi yang membangun brand awareness melalui Instagram. Menurut penulis sasaran yang ingin dicapai Lulu Lutfi Labibi adalah para penggemar fashion yang memiliki benchmark para selebriti dengan konsen terhadap kesederhanaan budaya dan falsafah lokal, setidaknya, itu pesan yang tampak dibangun dalam akun instagram yang berfollower lebih dari 36ribu akun ini.




Mengemas Pesan
    Setiap produk yang ingin kita promosikan harus mempunyai nilai sehingga keberlangsungan produk ini bisa bertahan lama di benak target marketnya. Misal produk makanan, sejauh mana sih makanan ini layak dikonsumsi target market? Kita sentuh sisi kecenderungan mereka dalam memilih produk makanan. Kalau banyak yang waspada terhadap kandungan msg dan bahan pengawet, kita bisa mengedukasi target market akan kandungan yang baik bagi kesehatan dalam bahan-bahan makanan yang kita promosikan.
     Konsep edukasi kepada target market bisa kita lihat pada apa yang dilakukan oleh Little Bee Boutique online yang menjual produk fashion muslim anak-anak perempuan ini.


   
Pahami Perbedaan Peran Media Sosial
      Terdapat beberapa media soaial yang paling sering digunakan untuk berpromosi para start up maupun UMKM, yakni Facebook, Instagram, Twitter dan Path. Memang dengan media sosial, interaksi antara produk dengan target market terasa begitu dekat. Facebook dan Instagram cocok untuk hardsell serta membangun story telling, Twitter bisa digunakan seperti blasting promotion atau pesan satu arah dan biarkan konsumen yang tertarik bisa mem-viralkan promo tersebut dan Google+ bisa digunakan untuk memunculkan pesan produk kita ke dalam grup-grup diskusi yang aktif yang disesuaikan dengan target market kita. 

Tuntaskan perencanaan media sosial ini dengan mengatur jam-jam atau waktu untuk posting materi. Lebih efektif kalau di saat kita posting, banyak netizen yang sedang mengakses media sosial mereka kan?
      

Senin, 07 Desember 2015

Segarnya Pasar Muslim Indonesia

Syariah di dunia marketing saat ini tidak hanya bertindak sebagai arahan atau standardisasi untuk keabsahan suatu merk yang dibangun atau dibentuk sesuai kaidah dan ajaran agama islam saja. Syariah menjadi label yang muncul dalam ekspektasi audiens sebagai bagian dari produk atau merk yang layak mereka konsumsi. Keberadaan syariah sebagai label di dunia marketing ini, bagi penulis kemudian telah memunculkan insights atau beberapa pandangan para audiens akan merk yang mereka konsumsi sebagai berikut:

Harus Syar'i (Halal):
Karakteristik konsumen yang menginginkan hal-hal murni syariah. Audiens tipikal ini memiliki konsen untuk berusaha mematuhi ajaran yang disampaikan sesuai syariat Islam, tingkat ke-halal-an produk dan merk yang dikonsumsi-pun akan diperhatikan secara detil. Dalam dunia perbankan misalnya. Seorang konsumen yang menuntut totalitas syariah bisa saja mengajukan pertanyaan detil mengenai konsep bagi hasil bank tersebut. Bahkan bisa saja ketika dia menyimpan uang di bank (syariah) yang diharapkan hanya faktor keamanan saja, dia tidak mengharapkan bagi hasil. Dalam hal ini, contohnya bank Muamalat memberikan fasilitas produk Tabungan dengan skema Wadiah yakni tabungan yang tidak memberikan bagi hasil. Nasabah bisa merasa nyaman atas keabsahan nilai syariah dana yang disimpannya di bank tersebut.

Sumber gambar: bankmuamalat.co.id 


Syariah dan Kekinian:
Ada juga tipe audiens yang menginginkan mengkonsumsi produk syariah sebagai tuntutan label kekinian. Semenjak hijab tutorial marak di dunia maya, banyak netizen perempuan menganggap bahwa menggunakan hijab (mengikuti syariat Islam) adalah hal terkini yang harus diikuti supaya tidak ketinggalan trend. Keinginan audiens ini contohnya, sudah cukup diakomodir oleh produsen fashion hijab terkemuka seperti Dian Pelangi dan Jenahara. Pergerakan dua brand tersebut di dunia maya juga cukup gencar mengingat dari sanalah viral fashion hijab tersebut berasal.

Sumber gambar: jenahara.blogspot.co.id




Nyamannya Produk Halal:
Suatu produk dinyatakan halal tentu setelah melewati berbagai macam uji coba terutama secara klinis. Ketika sebuah produk telah dilabeli sesuai syariat yaitu halal maka konsumen akan merasa lebih nyaman untuk mengonsumsinya. Sekali lagi konsumen perempuan yang memiliki sifat dasar konsumtif namun selektif menjadi sasarn utama produk seperti ini. Disaat mereka ingin tampil cantik maka kecantikan merekapun harus alami dan mereka harus nyaman untuk tampil cantik. Seperti kemunculan kosmetik Wardah, label halal dan varian produknya ternyata tidak hanya diminati konsumen muslim saja. Mengapa demikian? sederhana saja, kosmetik halal membuat pemakainya merasa yakin produknya aman (karena bahan-bahan yang dinyatakan halal sudah tentu baik untuk dikonsumsi) dan tetap bisa untuk mempercantik diri.



Dari ketiga hal yang ditemukan penulis akan konsen audiens terhadap merk dan produk syariah, apakah pembaca memiliki konsen lain?

Minggu, 15 November 2015

Halo BCA Ciptakan Suasana Kampus Bagi SDM-nya


Dalam dunia public relations, kita mengenal  ruang lingkup publik internal yakni yang terdiri dari karyawan, jajaran manajemen, vendor, investor serta pemegang saham. Bagi praktisi public relations, proses menjaga hubungan di lingkup publik internal ini jelas tidak kalah penting dengan hubungan yang dijalin terhadap publik eksternal. Tidak bisa dipungkiri bahwa proses pemeliharaan hubungan dengan publik internal akan mempengaruhi budaya korporat untuk berkomunikasi dengan publik eksternal.
      Bank Central Asia atau BCA dirasa telah memahami alur tentang pemeliharaan relasi antara korporat dengan publik internal tersebut. Penulis mengambil contoh yang terdapat dalam divisi Halo BCA, sebagai divisi yang memiliki pengaruh kuat untuk bersinggungan langsung dengan publik eksternal seperti konsumen dan pelanggan (nasabah) BCA. Dalam hal ini, BCA memiliki fokus untuk menciptakan budaya ala kehidupan kampus di divisi Halo BCA, sehingga karyawan senantiasa akan merasa muda, pantang menyerah untuk terus belajar dan tentu saja sebagai outputnya, mampu memunculkan energi positif serta memberikan pelayanan proaktif kepada setiap pelanggan yang menghubungi call center Halo BCA.
      Menghadapi nasabah secara langsung melalui telepon bukanlah perkara sederhana. Seorang contact center perlu memastikan kondisi mentalnya tahan banting dan suara yang disampaikan kepada nasabah tetap harus berkesan ramah serta solutif meski si nasabah sedang komplain habis-habisan. Cara BCA membentuk perilaku contact center-nya tersebut adalah dengan program Smart Halo BCA yang merupakan program motivasi internal sebagai bentuk apresiasi kepada karyawan supaya mampu menjaga prestasinya. 
     
     Program Smart Halo BCA ini diadakan untuk mewadahi serta meng-apreasiasi kompetensi 1.200 contact center Halo BCA (6% dari total karyawan BCA yang mencapai 20.000 karyawan). Contoh programnya adalah dengan mengadakan kompetisi-kompetisi di internal yang cukup digandrungi oleh generasi Y (kelahiran 80-90an) yang mendominasi di ruang lingkup Halo BCA. Kompetisi-kompetisi itu antara lain: Presenter Contest, Speech Contest, Writing Contest bahkan ada juga ekstrakurikuler seru-seruan seperti club olahraga, otomotif juga cosplay sekalipun. Dengan demikian, kantor-pun serasa kampus bagi SDM Halo BCA. Program Smart Halo BCA ini sendiri digulirkan setiap bulan pada periode April - Oktober.
      Dimas Fajar Wicaksono selaku narasumber sekaligus salah satu supervisor Halo BCA menyatakan kebanggaannya terlibat dalam tim ini "Menjadi contact center BCA persyaratannya cukup ketat, IPK harus di atas 3.0 dan attitude menjadi hal utama, meski pintar kalau kerja tim-nya tidak bagus, akan terseleksi sendiri dari Halo BCA" ungkap Dimas. 
      BCA memahami bahwa generasi Y adalah sekumpulan SDM yang dinamis, apabila tidak mendapat apresiasi dengan baik, maka turn over perusahaan akan tinggi sebab mereka tidak ragu menjadi kutu loncat. Ternyata program Smart Halo BCA-pun tidak hanya berkutat di internal BCA saja sebab bank ini senantiasa mengapresiasi SDMnya bahkan hingga diikutkan ke kompetisi World Contact Center Competition seperti yang pernah diadakan di Las Vegas 2014 silam.
      Cara BCA menciptakan suasana kerja yang menyenangkan ini juga telah mendapatkan apresiasi dari Gallup Workplace Award pada 2015. Gallup sendiri merupakan lembaga survei paling kredibel di Amerika Serikat yang kerap digunakan sebagai acuan saat negara tersebut mengadakan pemilihan umum. 

     Tren saat ini memang selayaknya menjalankan hubungan antara korporat dengan SDM-nya adalah sebagai mitra yang mampu tumbuh dan berkembang bersama dan tidak hanya sebatas sebagai pekerja saja. Dengan demikian, sustainabilitas dari perusahaan dapat terus terjaga.

Minggu, 01 November 2015

Kata-kata Ajaib Bernama Copywriting

Advertentie poenja kaperloean soeda kentara, kerna advertentie perloenja boeat perkenalken barang-barang dagangan kita pada publiek. Kaloe barang jang kita dagangken tidak dikenal, bagaimana bisa dapatken pembeli? 

-Liem Kha Tong-
(Pelopor periklanan di Indonesia pada masa Hindia Belanda 1930-an)


     Merancang sebuah iklan yang menarik tidak terlepas dari penggunaan kata-kata yang mampu menancap di benak target audiens sehingga mereka akan teringat terus dengan brand (produk) tersebut dan berakhir pada keputusan untuk mengonsumsinya. Seperti tagline permen Kopiko: Gantinya Ngopi yang dirancang oleh pakar branding Subiakto selama hampir dua dekade lalu. Hal ini menjadi contoh kekuatan copywriting untuk menempatkan positioning yang tepat bagi brand di benak konsumennya. Konon dalam perkembangannya Kopiko pernah mencoba mengganti tagline-nya seiring dengan pengembangan produknya ke arah RTD (Ready To Drink) dengan brand 78degrees - Kopiko. Namun untuk tagline permen Kopiko sendiri ternyata "Gantinya Ngopi" menjadi tagline yang paling cocok. 

     Rexona yang memahami kekuatan tagline awalnya yakni "Setia Setiap Saat" tetap menggunakan tagline ini meski varian produk mulai tumbuh dan jenis marketing campaign yang digalakkan berbeda-beda. Intinya Rexona sebagai merk produk deodoran tetap setia dengan "Setia Setiap Saat"nya.

     Menilik pada kesuksesan beberapa brand besar dalam pembuatan tagline-nya, selayaknya kita mencoba menyelami bagaimana cara mengolah ide kreatif dalam pembuatan tagline sebuah brand melalui copywriting:
  1. Attention -> Carilah kata utama yang paling merepresentasikan brand yang ingin kita promosikan. Yakinkan diri kita bahwa kata ini mampu menarik perhatian (attention) dari target audiens.
  2. Interest -> Kemas kata-kata yang menarik perhatian tersebut dengan konteks yang unik, mudah dicerna dan mudah diingat.
  3. Credibility -> Biarpun menarik, namun kata yang kita gunakan dalam berpromosi haruslah jujur dan tidak over-promise.
  4. Desire -> Buat kata-kata yang senantiasa membangkitkan keinginan audiens untuk membeli dan mengkonsumsi brand kita. 
  5. Action ->  Ajak mereka untuk mencicipi pengalaman bersama brand yang kita promosikan. Karena mengajak merasakan pengalaman lebih persuasif ketimbang kata perintah seperti "belilah, cobalah, buktikanlah" dll.
sumber gambar: 44doors.com

Data Pustaka:

Trijanto, Agus. Copywriting: Seni Mengasah Kreativitas dan Memahami bahasa Iklan. Remaja       
         Rosda Karya. Jakarta: 2002

Minggu, 18 Oktober 2015

Experiential Marketing Pesona Indonesia Dalam My Trip My Adventure

sumber gambar: twitter @myTrip_myAdvntr

Melakukan eksplorasi terhadap tempat-tempat baru untuk berpetualang tentu saja akan menjadikan momen berkesan bagi orang-orang berjiwa dinamis dan pemberani. Hal tersebut dapat terlihat dalam tayangan My Trip My Adventure yang rutin ditayangkan setiap Jumat-Minggu pagi di Trans TV. Acara yang pada September 2015 lalu sudah tayang selama 2 tahun ternyata mampu memunculkan trend tersendiri di kalangan penggemar travelling. Judul acara yang seolah-olah menjadi bagian diri "Aku" ini kemudian lebih mudah memberikan persuasi kepada khalayak untuk mengeksplorasi destinasi wisata di Indonesia sehingga mereka merasa menjadi bagian dari "My Trip My Adventure". Sehingga tak jarang kini sering ditemui netizen yang latah mengikuti trend My Trip My Adventure ini dengan cara pergi mengunjungi destinasi-destinasi wisata yang unik dengan menggunakan kaos bertuliskan acara milik Trans TV ini.
     Merujuk pada implikasi yang dimunculkan oleh acara ini, Kementrian Pariwisata pada awal 2015 akhirnya menjadikan acara My Trip My Adventure sebagai salah satu kampanye marketing "Pesona Indonesia". Seperti yang dikutip dari laman rri.co.id, Arif Yahya selaku menteri Pariwisata mengungkapkan bahwa "Pesona indonesia atau Wonderful  Indonesia itu  adalah country branding, jenis branding itu ada namanya umbrella branding. Dan itu harus digunakan seluruh destinasi wisata  di indonesia kalau kita mau menang. Jakarta boleh menggunakan  enjoy Jakarta, tapi dibawahnya harus di tulis by wonderfull indonesia atau pesona indonesia, jadi semua orang tahu  bahwa ini adalah Indonesia." 
     Bagi penulis, cara Pesona Indonesia menggandeng My Trip My Adventure sebagai bagian dari kampanye kementrian pariwisata ini adalah dengan menyajikan konsep experiential marketing yakni promosi yang mengajak target konsumennya merasakan pengalaman melalui brand yang ditawarkan. Namun experience di sini tidak hanya dari cara berpromosi-nya saja tetapi experience atau pengalaman merasakan sensasi berwisata di destinasi dalam negeri ini juga merupakan brand yang sedang dipromosikan. Gaung experiential marketing Pesona Indonesia dalam My Trip My Adventure manakala jumlah host ditambah yang semula hanya dua orang saja, kini di tahun keduanya, jumlah host acara ini ada lima orang. Dengan demikian target audiens akan merasa diajak merasakan pengalaman Pesona Indonesia ini oleh lebih banyak teman (baca: endorser).



Minggu, 27 September 2015

Personal Branding or Personally Branded?


Sudah banyak berbagai profesi yang dijalankan oleh seseorang yang kini mulai didengungkan aktivitasnya supaya publik lebih mudah mengidentifikasi orang tersebut sebagai seorang ahli dalam bidang tertentu. Seperti itulah peran dari "personal branding". Iya, ini merupakan istilah pemasaran modern yang ditujukan bagi personal yang menggunakan profesi-nya sebagai sarana dalam pengembangan bisnis. Misal seorang desainer interior yang menampilkan dokumentasi hasil karyanya yang digunakan oleh hotel-hotel berbintang melalui akun media sosialnya. Salah satu harapan sederhana dari aktivitas ini adalah ingin orang lain mengenalnya sebagai seorang desainer interior profesional dengan karakteristik desain yang elegan setara hotel berbintang sehingga akan muncul tawaran untuk menggarap proyek baru.  
     Karena personal branding adalah bagian dari cara pemasaran, si personal tentu saja tidak serta merta akan mempublikasikan berapa nilai tarif jasa yang dia kerjakan atau seberapa besar omset bisnis yang sedang dia kembangkan. Sebagai sarat implisit untuk menunjukkan "nilai" dalam personal branding seseorang adalah dengan menggunakan prinsip "jer basuki mawa beya" atau yang berarti: modal kesuksesan adalah pengorbanan (baca: biaya). Dalam hal ini kita bisa mengambil contoh si desainer interior lagi. Misal saat diajak meeting untuk membicarakan suatu proyek dia memilih tempat-tempat yang berkelas atau menggunakan penanda lain berupa ikon fesyen yang dikenakan: tas, baju, jam tangan dengan merk tertentu. Penulis menyebut tindakan ini sebagai "personally branded". Yakni dalam upaya menjalankan personal branding, si personal tersebut melabeli dirinya dengan citra yang diidentikan dengan barang yang mengandung nilai tertentu supaya membentuk asumsi publik (orang lain) bahwa pekerjaan yang dia jalankan sepadan dengan nilai merk yang biasa dia kenakan atau gunakan.
     Sah-sah saja memang memadukan personally branded dalam aktivitas personal branding. Secara harmonis, perpaduan tersebut tentu saja akan tampak memukau di depan publik. Namun seberapa yakin personally branded yang kita lakukan sudah cukup seimbang? Atau jangan-jangan berlebihan?

Sumber gambar: jeffcarter.me

     

Sabtu, 12 September 2015

The Extra Care That Counts

Sumber gambar: mr-jordan.net

Saat berbagai macam program MarComm digiatkan untuk membangun engagement dengan para konsumen dari sebuah brand, maka sekedar memberikan service atau pelayanan akan menjadi kurang relevan sebagai upaya menjaga hubungan dengan konsumen. Ketika sebuah brand berorientasi untuk menjadi bagian dari kehidupan target konsumennya, hal ini dirasa perlu untuk menjaga hubungan di antara keduanya dengan fasilitas berupa "Customer Care". Kenapa care? Karena care atau peduli memiliki makna lebih dalam kepada konsuman daripada sekedar service atau layanan.
     Namun mengganti istilah customer service menjadi customer care juga bukan hanya sekedar mengikuti tren atau latah belaka. Lalu, bagaimana sih menciptakan care bagi konsumen? Simak tips berikut:
  1. Caring Inside: Memberikan care kepada konsumen haruslah dilakukan secara substansi. Oleh sebab itu, perusahaan perlu menerapkan budaya care juga di internal. Misal dengan diwadahi-nya employee community, adanya social activity kepada tim dll. Dengan demikian harapannya secara output, karyawan dapat mentransfer energi care tersebut kepada para konsumen/ pelanggan.
  2. Competency Maintenance: Tim garis depan yang bertugas sebagai customer care haruslah memiliki kompetensi yang cukup di bidang ini. Tak lupa perusahaan perlu senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas kompetensi tersebut dengan coaching maupun training.
  3. Operational Process: Perlu dibuatkan alur yang jelas dalam hal penanganan komplein dari pelanggan. Cukup tampilkan alur ini secara sederhana, mudah dipahami dan diaplikasikan. Ajak tim customer care untuk simulasi dengan role play.
  4. Customers as Stakeholders: Jangan pernah memposisikan konsumen/ pelanggan sebagai raja. Mereka adalah stakeholder yang senantiasa juga memiliki kontribusi untuk pengembangan brand atau perusahaan. Kita bisa mengedukasi mereka dan mereka juga bisa dnegan nyaman memberi saran pada kita melalui customer care
  5. Bring Our Heart On: Lakukan semuanya dengan tulus, sesuatu yang simpel untuk disampaikan memang tapi memerlukan tantangan tersendiri untuk dijalankan.
     Kadang sebagai pemasar ataupun penjual, kita juga akan berperan sebagai konsumen/ pelanggan juga bukan? Tentulah kita akan lebih menyukai diberi kepedulian daripada sekedar sebuah pelayanan. Need the extra care that counts? Yes please!

Minggu, 06 September 2015

Kabar Baru Bernama Harian Bernas

Nama koran Bernas dikenal penulis sejak kasus pembunuhan salah satu wartawannya yang bernama Udin belasan tahun silam. Sebagai salah satu "dedengkot" media cetak di Jogja, dalam satu dekade terakhir, kehadiran Bernas terasa kurang gaungnya di Yogyakarta. Setidaknya begitu menurut pengamatan penulis apabila dibandingkan dengan harian Kedaulatan Rakyat yang memang eksis sebagai koran tertua di Yogyakarta. Terlebih lagi KR telah bekerja sama dengan asosiasi periklanan untuk membentuk perhelatan akbar insan periklanan bernama Pinasthika yang biasa digelar tahunan. Kemudian, seiring dengan munculnya koran lain seperti Harian Jogja maupun Tribun Jogja, kehadiran Bernas Jogja semakin jarang terlihat.
        Salut ketika media cetak yang muncul sejak 1946 ini masih terus bertahan di tengah persaingan media yang begitu ketat. Sebagai apresiasi terhadap perjuangan Bernas dalam menjaga eksistensinya, di usia media ini yang ke-69, seorang pengusaha bernama Putu Putrayasa yang sebelumnya lebih dikenal sebagai entrepreneur di bidang properti mulai mengambil alih industri media cetak tertua kedua di Jogja ini. 
Edisi lama Bernas Jogja (sumber: wayang.co.id)


Menjadi "Harian Bernas" di usia ke-69 tahun
sumber: wayang.co.id

     Gebrakan awal di "lahir kembali-nya" Bernas ini adalah dimunculkannya promo: langganan Harian Bernas, Gratis Pasang Iklan. Mengingat digitalisasi semakin erat dengan kehidupan masyarakat, Harian Bernas-pun sudah menyiapkan portal berita online-nya yang kini versi Beta-nya sudah bisa diakses di harianbernas.com. Sebagai praktisi Public Relation, penulis menganggap pembaharuan dari Bernas Jogja yang kini menjadi Harian Bernas ini telah menjadi angin segar untuk memperluas cakupan publisitas bagi industri-industri yang mempercayakan kepada Ardhi Widjaya & Co untuk pembuatan strategi Public Relation-nya. 

Minggu, 30 Agustus 2015

Nike Usung Daya Magis Feminin Dalam Sepakbola



Sepakbola, sebuah olahraga yang cukup populer di dunia. Olahraga yang dikenal sejak abad pertengahan ini mempertandingkan  11 lawan 11 pemain. Memang sebagian besar perhelatan olahraga ini lebih banyak melibatkan kaum adam, yang lekat dengan unsur maskulinitas. Namun demikian, tidak membuat kaum hawa tidak mengenal atau terlibat di olahraga bola sepak ini. Berawal dari sekedar menggemari, kaum hawa  ini kemudian juga turut membentuk tim untuk bertanding dan mengadu skill dengan pemain lawan. Bak gayung bersambut, badan otoritas sepakbola dunia, FIFA, mulai melirik sepakbola wanita untuk dimasukkan dalam agenda resmi mereka terhitung sejak 1991. Amerika Serikat, Brazil, Nigeria, Jepang, adalah negara – negara yang  mengirimkan wakilnya di perhelatan piala dunia wanita dan menjela menjadi tim yang kuat dibanding kontestan lainnya. Pada perhelatan dunia wanita edisi perdana Amerika Serikat menjadi juaranya, melahirkan nama Carin Jennings sebagai pemain terbaiknya.

Kini sejak sepakbola wanita mendapat pengakuan dari dunia atas eksistensinya, sepakbola wanita menjadi ajang untuk tidak sekedar mengadu skill akan tetapi jadi lahan basah bagi merk-merk dunia untuk menancapkan taringnya di industri kelas dunia ini. Setidaknya hal itu yang dilakukan oleh Nike, brand kenamaan asal Amerika Serikat ini menjadi “juara” dalam turnamen piala dunia wanita 2015  yang dihelat di Kanada beberapa waktu yang lalu. Berlaga seperti di tanah sendiri, Alex Morgan dkk berhasil menjadi jawara dengan mengalahkan juara bertahan Jepang sekaligus mencatatatkan rekor sebagai juara dunia sepakbola wanita terbanyak dengan merengkuh 3 kali juara. Tidak hanya itu, sponsor apparel tim sepakbola AS, Nike juga meluncurkan sepatu sepakbola edisi khusus untuk wanita. Sepatu yang didominasi dengan warna biru dan hijau ini di klaim menjadi kombinasi warna yang cukup padu ketika dipakai oleh para punggawa timnas AS. Tidak cuma soal urusan desain, Nike juga secara khusus mendesain sepatu edisi khusus tersebut disesuaikan dengan konstruksi kaki para wanita. Menurut pihak Nike, konstruksi kaki pria dan wanita yang berbeda membuat Nike berinovasi pada produk sepatu bola.

Inovasi brand swoosh itu nyatanya membawa dampak positif tidak hanya di lapangan namun juga di luar lapangan.  Kesuksesan tersebut di dapat manakala Alex Morgan yang merupakan ikon dari timnas AS sekaligus brand ambassador Nike USA berhasil membuat decak kagum kala bermain di lapangan dan attitudenya di luar lapangan. Alex Morgan, bagi penulis adalah karakter atlet yang kuat secara personality  dan skill layak disebut bintang lapangan hijau di dunia sepakbola wanita. Wanita kelahiran California 26 tahun lalu Ini berhasil meruntuhkan hati para lelaki pemujanya dengan skill-nya mengolah si kulit bundar juga karena parasnya yang cantik. Bila dikomparasi dengan lawan jenisnya di dunia sepakbola pria, barangkali Alex Morgan ini dapat “disejajarkan” dengan Christiano Ronaldo, mega bintang yang juga bagian dari Nike.

Dipilihnya Alex Morgan oleh Nike bukan tanpa sebab tentu, di tim AS sendiri masih punya Hope Solo, kiper sekaligus kapten kesebelasan timnas AS yang lebih senior dibandingkan dengan Alex Morgan. Namun, keputusan tersebut nyatanya tidak salah, Meski Alex Morgan sendiri tidak tercatat namanya dalam daftar pencetak gol di laga final melawann Jepang, namun aksinya telah membuat mata para lelaki dan wanita tentunya jadi semakin terbuka. Keharmonisan kehidupannya di luar lapangan bersama sang suami juga menjadi alasan kenapa Alex Morgan layak dijadikan ikon oleh Nike. Kini, meski perhelatan piala dunia wanita sudah usai, rasanya masih pantas kita menyebut Alex Morgan sebagai primadona lapangan hijau. Di sisi lain seperti yang dikutip penulis dari Fortune.com yang dirilis pada 6 Juli 2015 lalu juga menyebutkan bahwa “pemenang” dari piala dunia wanita 2015 adalah Nike. Hal tersebut dikuatkan dengan tidak hanya kesuksesan AS dan nike di lapangan tapi juga kesuksesan Nike memenuhi timeline di dunia maya. Lengkap sudah kesuksesan sebuah brand dalam mengangkat image di sebuah ajang kelas dunia. Kesuksesan yang direngkuh Alex Morgan pun dijadikan role model bagi para wanita di dunia untuk terus berprestasi di berbagai bidang dan olahraga adalah salah satunya.
(Ditulis oleh: Eduardo Herlangga).

Sabtu, 15 Agustus 2015

Ajakan "Move On" Di HUT RI Ke-70


Apa yang kita rayakan setiap tanggal 17 Agustus? Iya, hari kemerdekaan Republik Indonesia. Lalu bagaimana cara kita merayakannya? Tahun ini, di ulang tahun kemerdekaan negara kita yang ke-70, kita (seolah-olah) diajak ikut merayakan pesta kemerdekaan ini dengan cara "Ayo Kerja". Hal ini menjadi demikian dengan ditunjukkannya logo HUT RI ke-70 yang sudah mulai beredar di awal Agustus 2015 ini. 
     Sesuai dengan pemahaman semiotika visual ala Roland Barthes bahwa terdapat dua klasifikasi tanda di dalam sebuah komunikasi visual yakni tanda implisit dan juga tanda eksplisit. Tanda implisit dalam logo HUT RI ke-70, menurut penulis bisa dimaknai dari gambar siluet burung Garuda yang membentuk angka 70 melambangkan karakter bangsa Indonesia yang perkasa dengan latar belakang merah yang menandakan keberanian bangsa serta warna putih di siluet tersebut menunjukkan kemurnian jiwa bangsa. Simbol eksplisit tampak dari siluet burung Garuda yang membentuk angka "70" karena memang tahun ini negara kita telah merdeka 70 tahun dan juga tulisan 'Ayo Kerja" secara eksplisit menunjukkan ajakan untuk bergerak di usia yang baru ini. Shafiq Muljanto selaku creative director dari Dentsu Strat, sebuah agensi periklanan di Jakarta yang memenangkan pitching pembuatan logo HUT RI ke-70 ini juga menjelaskan makna dari logo baru tersebut yang dapat Anda cermati di sini.
      Selama sepuluh tahun terakhir, pemaknaan logo HUT RI, bagi penulis lebih kepada penjelasan bahwa logo tersebut merupakan logo untuk merayakan HUT RI ke-sekian dan dijelaskan dengan frasa "Kemerdekaan Republik Indonesia". Inilah yang membuat pemerintahan baru ingin menyajikan diferensiasi di HUT RI ke-70 ini.
     Apa yang dipaparkan sebagai makna dari logo HUT RI ke-70 ini seperti mengetengahkan "Move On" sebagai topik utama: move on dari 10 tahun pemerintahan sebelumnya serta move on dari cara gerak kita sebagai rakyat untuk Indonesia di usianya yang baru dengan cara "Ayo Kerja".
     
     

Sabtu, 08 Agustus 2015

Periscope: Cara Public Figure Makin Dekat Denganmu!




Adakah yang masih ingat di medio 2005 muncul istilah SMS PREMIUM dari artis kenamaan? “SMS yang kamu terima langsung dari hp aku” kira – kira demikian bunyi salah satu iklan yang muncul. Kala itu, dimana sosial media belum se-bombatis sekarang dari jumlah user dan dampaknya, sms premium muncul sebagai sarana bagi artis untuk “menjual” informasi kegiatannya. Wajar saja demikian, karena sebagai public figure segala aktivitasnya jadi terkesan layak untuk diikuti. Di sisi lain, provider telepon selular melihat peluang lain yakni dengan menjual ketenaran artis tadi berbungkus SMS Premium. Penulis sendiri tidak melakukan penelusuran lebih jauh soal tingkat keberhasilan kampanye ini tapi setidaknya ini membuka pintu lain di era sekarang untuk berbagi informasi tentang apa yang sedang kita kerjakan, kita lihat, dan dengarkan.
     Dimulai dengan suatu pertanyaan,tentang apa yang sedang dilihat seseorang di belahan bumi lain saat itu atau berbagi pengalaman melihat tentang menikmati keindahan sunset di sebuah dermaga nan aduhai di salah satu pantai tropis di dunia. Setahun lalu, dengan berbekal pertanyaan tersebut yang ada di kepalanya seorang pemuda bernama Kayvon Beykpour asal Stanford University bersama rekannya Tom O’Neill dan Harry Glaser menciptakan  sebuah aplikasi bernama Periscope. Meski baru setahun umurnya, nampaknya Periscope mulai digandrungi oleh para pegiat social media.  Tak terkecuali para public figure di negeri ini. Berdasarkan fungsi yang terlihat saat ini, Periscope dimanfaatkan para public figure (selebtwit masuk di dalamnya) untuk lebih mendekatkan diri dengan para followers-nya melalui sebuah interaksi audio visual. Setidaknya para followers-nya pun jadi lebih tahu apa yang sedang dikerjakan atau yang menjadi concern sang public figure tersebut. Terlepas dari isu penting tidaknya setidaknya ada konten dan interaksi antara 2 pihak di situ.
    Mengaca pada kasus tersebut, terlihat ada kemiripan antara konten SMS premium dengan pemanfaatan Periscope yakni sebagai sarana untuk meng-grab followers dan menjalin interaksi lebih dekat. Ada unsur kedekatan yang kemudian para followers terkesan lebih dekat meski interaksi video di media sosial ini hanya 1 sisi saja yakni dari sisi sang broadcaster dalam hal ini artis yang bersangkutan, yak si followers tak lain hanya sebagai viewer yang interaksinya terjadi dengan menuliskan komentar yang dapat dibaca oleh semua pihak yang saat itu turut menjadi viewer. Di sisi lain, Periscope tampak diminati karena pemanfaatannya yang nyaris gratis. Benar, kedua pihak baik broadcaster maupun followers tidak perlu membeli aplikasi tersebut namun ada biaya lain tak lain adalah langganan internet atau wifi. 
    Periscope sebagai media sosial ini tentu saja sudah bisa dimanfaatkan lebih jauh lagi untuk mengajak dan menggerakkan orang terhadap sebuah isu (yang positif). Mengajak followers untuk peduli seperti yang dilakukan oleh Pandji (Pragiwaksono) yang sering mengajak followersya untuk ngobol banyak topik yang tak melulu soal jualan produknya tapi juga mengajak followersnya berinteraksi soal topik sepakbola dan mengajak iuran untuk renovasi sebuah masjid paska insiden di Tolikara. Menarik? Tentu saja. Jadi, setidaknya lewat media sosial ini frasa “ langsung dari hp aku” yang diucapkan sang artis terpenuhi kan? 
(Ditulis oleh: Eduardo Herlangga)

Minggu, 02 Agustus 2015

Fortais Sentuh Etnografi Kaum Jomblo

Antara ingin menikmati masa kejayaan menjadi lajang bahagia tanpa ikatan, namun juga keinginan memenuhi kebutuhan naluriah untuk hidup berpasangan layaknya kebanyakan orang yang menikah lainnya adalah problematika etnografi kaum jomblo pada umumnya. Fortais atau Forum Ta'aruf Indonesia menyentuh sisi etnografi kaum jomblo tersebut dengan mengadakan acara bertajuk Golek Garwo (Cari Jodoh) yang berlangsung di kantor kecamatan Sewon - Bantul , Yogyakarta pada Minggu, 2 Agustus 2015.
     Fortais sendiri yang dibentuk oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Sewon - Bantul, Yogyakarta di tahun 2010 ini menjadi sebuah aktivasi yang bertujuan mempersuasi masyarakat terutama para jomblo (lajang belum nikah, janda atau duda) mengenai kaidah pernikahan sebagai suatu sarana untuk beribadah. Jalannya sebuah persuasi memang tidak akan mudah diterima oleh publik apabila tidak adanya dukungan bukti yang kuat mengenai esensi dari suatu kampanye tersebut. Tampaknya, Fortais  tidak kekurangan akal untuk mengupayakan persuasi-nya dapat menyentuh sisi kognitif target audiens-nya yaitu para jomblo itu sendiri. Sebagaimana citra kreatif dari propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Fortais juga berupaya mengemas acaranya sekreatif mungkin. Salah satunya adalah dengan memilih MC yang telah merasakan manfaat mengikuti alur kegiatan Fortais hingga akhirnya dia mendapatkan pasangan untuk dinikahi. 

     Acara yang diikuti sekitar 100 peserta usia 25 - 70 tahun dengan dominasi peserta pria 60% dan berlangsung selama 3 jam dari jam 10.00 hingga 13.00 ini diawali dengan membuat permainan yang diupayakan mampu mengakrabkan antara peserta pria dan wanita yang tentu saja disesuaikan dengan kaidah syariah sebagaimana nama forum tersebut. Contoh permainannya adalah menebak nama benda. Salah satu peserta ditutup matanya lalu diminta mengambil lima buah benda dari "kotak mimpi", si lawan jenis yang melihat benda itu lalu mencatat nama bendanya. Pihak yang matanya ditutup harus menebak nama kelima benda itu. Apabila antara si pria dan wanita semakin banyak memberi nama benda-benda itu dengan nama yang sama maka oleh MC yang sekaligus juri maka pasangan ini dianggap memiliki chemistry.
     Program Golek Garwo yang dicanangkan oleh Fortais ini rencananya akan bergulir rutin bulanan di hari Minggu, minggu ke-tiga setiap bulannya. Dengan tujuan untuk men-ta'arufkan (mengenalkan) antara sesama jomblo, Fortais juga memberikan informasi data para anggota berupa nama, profil singkat dan nomor kontak kepada para peserta. Hal ini dapat dimanfaatkan bagi para peserta yang masih belum berani membuka diri untuk berkenalan langsung dengan sesama peserta pada saat acara berlangsung.
     Tak disangka, istilah jomblo yang selama ini sering digunakan bahan bercanda dalam pergaulan sehari-hari, dapat diketengahkan oleh Fortais menjadi topik yang layak untuk ditindaklanjuti secara serius. Di penghujung acara, ditampilkan pula sosok yang telah merasakan manfaat kegiatan Fortais dengan datang bersama pasangan yang telah resmi menjadi suami istri serta memberikan testimoni. Meski usia mereka tidak bisa dibilang muda lagi, setidaknya semangatnya untuk menghargai pernikahan sebagai sebuah upaya untuk beribadah layak untuk dicermati. 
 
     Bahkan dalam upaya menjangkau publik yang lebih luas, Fortais tak segan-segan untuk menerapkan startegi media relation untuk mengkomunikasikan programnya. Hal yang sederhana namun tepat adalah memilih Facebook fanpage sebagai social media untuk penerapan viral marketing. Bagaimana-pun juga, facebook masih menjadi media sosial yang mampu diakses oleh netizen dari berbagai karakteristik baik dari psikografi, demografi bahkan juga etnografi. Cara lain yang ditempuh addalah langkah standard di dunia kehumasan yakni dengan cara media rilis, media partner bahkan liputan audio visual seperti yang dilakukan oleh reporter TV swasta nasional seperti Metro TV. Selain 'Golek Garwo", saat ini program Fortais yang sudah sukses dijalankan sejak awal berdirinya dulu adalah "Nikah Bareng", sebuah kegiatan prosesi pernikahan unik yang telah berhasil menikahkan ratusan pasangan sejak 2010 silam.

Sabtu, 25 Juli 2015

Fungsi PR Dalam Kasus Go-jek VS Ojek Pangkalan

Bagi yang tinggal di Jakarta pasti paham betul bahwa kemunculan Go-jek ini merupakan moda transportasi alternatif untuk menebus liarnya kemacetan ibukota. Ya, sejak mulai melayani di 2011, Go-jek seakan menuai manisnya sebuah bisnis kurang lebih setahun terakhir. Manisnya layanan Go-jek ini lantaran munculnya aplikasi untuk smart phone yang memudahkan calon penumpang mendapat layanan ojek sepeda motor. Respon yang baik oleh warga ibukota membuat founding father-nya, Nadiem Makarim, mengembangkan lagi layanan Go-Jek menjadi layanan kurir, belanja, dan jasa layanan antar makanan. Meski awal dibuatnya Go-jek adalah untuk mengorganisir jasa abang tukang ojek di ibukota namun dalam perkembangannya  Go-jek ini justru kemudian mampu merubah citra masyarakat terhadap layanan ojek motor menjadi layanan tranportasi yang aman, nyaman, serta jujur dalam pricing.
     Meski demikian, kesuksesan Go-jek ini bukan tanpa rintangan. Juni 2015 lalu, ramai di sosial media yang menceritakan perlakuan diskriminatif oleh pelaku jasa ojek konvensional terhadap driver Go-jek. Beberapa dari cerita tersebut menyebutkan bahwa driver Go-jek mendapat ancaman dan perlakuan tidak menyenangkan dari abang tukang ojek yang biasa mangkal di pangkalan ojek. Hal tersebut kemudian justru mendapat respon positif dari masyarakat yang biasa menggunakan jasa Go-jek berupa dukungan untuk terus memberikan layanan prima. 
     Tak lama berselang, pihak korporasi Go-jek langsung memberikan statement yang menyatakan bahwa kehadiran go-jek bukan untuk menyaingi keberadaan ojek pangkalan tapi justru mengajak untuk sama – sama berkembang memberi layanan prima pada warga ibukota. Hal ini menjadi good publication dan positioning baik untuk go-jek yang menjadi salah satu perusahaan swasta penyedia layanan transportasi publik yang baik. 

     Fungsi PR yang baik muncul dalam kasus go-jek vs ojek pangkalan ini, barangkali bisa menjadi contoh bagaimana sebuah (per)usaha(an) perlu memiliki fungsi (seorang) PR yang menjadi ujung tombak dalam manajemen krisis. Selain tentunya sebagai pelaku usaha jasa mempunyai misi utama memberikan layanan prima kepada masyarakat.
     Bagi penulis, layak ditunggu sepak terjang Go-jek lainnya dalam memberikan jasa layanan transportasi bagi warga ibukota yang konon sesaat lagi juga akan masuk ke beberapa kota besar lain seperti Bandung & Surabaya. Patut ditunggu pula, fungsi PR yang akan diusung Go-jek ketika berhadapan dengan “regulasi jalanan” kota – kota besar lainnya. 
(Ditulis oleh: Eduardo Herlangga)

Minggu, 12 Juli 2015

Inovasi Batik Kreasi KATUNA

Jogja sudah cukup terkenal sebagai kota "ladang batik". Di sisi lain, kreativitas juga merupakan hal yang kental di kota ini. Katuna, sebuah produk batik dari Jogjakarta yang memiliki inovasi berbeda dalam kreasi desainnya telah hadir menambah warna dalam industri kreatif di Jogja. 
     Yuvita seorang alumnus Institut Seni Indonesia telah mengembangkan brand Katuna sejak 2013. Bersama sang suami, Yuvita menyadari bahwa persaingan industri kreatif terutama untuk produk batik sangatlah tinggi di Jogja ini. Untuk itu, sepasang suami istri ini berpikir bahwa produk Katuna yang mereka kembangkan haruslah memiliki diferensiasi sehingga memiliki positioning yang kuat serta target pasar yang tepat. 
     Akhirnya, Katuna dikembangkan dengan ciri utama sebagai batik dengan teknik Shibori, sebuah teknik membatik khas Jepang yang kurang lebih proses pembuatannya adalah dengan cara celup-ikat. Teknik ini juga lebih dikenal dengan sebutan Tie-Dye.

Sumber: fanpage "Katuna Studio"

     Meski mengunggulkan batik Shibori, Katuna juga memiliki varian batik tulis maupun batik cap dengan motif tumbuhan atau buah-buahan. 
     Saat ini, Yuvita beserta suami menjalankan proses produksi di studio mereka yang terletak dekat ex-kampus mereka dulu (ISI) yakni di daerah Sewon-Bantul. Dalam memasarkan produknya, saat ini Katuna mendapatkan respon yang cukup tinggi dari netizen pengguna media sosial Instagram, kebanyakan konsumen adalah orang Jakarta yang memang menginginkan value dari setiap produk yang mereka konsumsi serta praktis dalam belanja online.


     Selain melakukan penjualan online, Katuna juga memasarkan produknya secara offline dengan mengikuti acara promo atau bazaar termasuk acara Pop-Up Space yang diadakan di GreenHost hotel Jogja pada 11-12 Juli 2015 ini.

Senin, 06 Juli 2015

Pelanggan Adalah (Bukan) Raja


Bisa dikatakan, analogi "pelanggan adalah raja" is so last season. Menjadi seorang marketer, saat ini tidak harus melulu memperlakukan customer-nya sebagai raja. Ada hal esensial lain guna menjaga hubungan dengan customer dalam jangka panjang yakni dengan menjadikan pelanggan atau customer sebagai partner atau mitra. 
     "Pelanggan adalah raja" lebih menggambarkan bahwa keinginan pelanggan adalah prioritas utama. Ibarat seorang raja, maka permintaan pelanggan adalah absolut. Dalam dunia marketing terkini, proses interaksi tersebut sudah tidak terlalu valid untuk dijalankan. Dengan mengajak pelanggan menjadi mitra atau partner lebih membuat ikatan jangka panjang dalam interaksi hubungan bisnis di antara marketer dengan pelanggannya. 
     Menjadi mitra bagi sebuah brand/ produk berarti pelanggan merasa menjadi bagian dari brand itu, dia ingin "mitra"nya ini selalu bersahabat dengannya, ketika ditemukan kekurangan maka si pelanggan akan memberikan saran demi peningkatan kualitas si produk tersebut. Dengan demikian, ketika seorang marketer memiliki mindset bahwa pelanggan adalah mitra, di saat pelanggan memberi komplein maka seorang marketer akan menanggapi hal tersebut sebagai saran si mitra demi pengembangan brand yang diampu si marketer. Beda ketika anggapan masih kepada pelanggan adalah raja, respon pelanggan terhadap sebuah brand hanya akan menjadi baik atau jelek saja. Hal ini menyebabkan kurangnya informasi komprehensif untuk pengembangan sebuah brand atau produk dalam strategi pemasarannya.
    Terlebih lagi, dunia bisnis dan marketing adalah dunia yang borderless, kasus jual beli seringkali bergerak dinamis. Sehingga bisa jadi kadang satu pihak menjadi pemasar bagi pihak lainnya yang bertindak sebagai konsumen dan di kasus lain kondisi menjadi berkebalikan. Dengan demikian hubungan sebagai mitra dan mitra akan lebih nyaman untuk kerjasama jangka panjang daripada hubungan antara raja dan hamba (pemasar).

Jumat, 19 Juni 2015

Serunya Bangun Positioning Merk


pic source: plusrsolutions.com

Faktor memenangkan peluang dalam pemenuhan kebutuhan konsumen menjadi hal esensial dalam membentuk positioning merk. Tentu saja, dikarenakan konsumen perlu menangkap dengan mudah pesan yang disampaikan oleh sebuah merk maka komunikasi efektif dalam membangun positioning sangatlah diperlukan. Yuk, kita ikuti serunya membangun positioning merk:

Melihat Tren
Tren bersifat dinamis dan dinamika inilah yang sering melibatkan perilaku konsumen. Dengan melihat tren kita bisa coba pahami perubahan perilaku konsumen. Sebuah merk perlu mengkondisikan positioning-nya dengan tren yang ada supaya dapat tetap dapat eksis di benak target konsumennya.

Different
Sebagai kreator, kita harus mengolah ide yang aplikatif namun unik dan berbeda dari kompetitor. Ingat, sesuatu yang tidak seperti kebanyakan hal, akan lebih mudah menarik antusiasme target.

K.I.S.S
Keep It Short & Simple. Meskipun kita harus merancang positioning yang unik dan berbeda, dengan kreativitas yang kita miliki, kita juga harus membuatnya menjadi positioning yang tidak bertele-tele dan mudah dimengerti. Banyak sekali informasi yang didapat target konsumen kita setiap detiknya. Positioning yang unik namun singkat, padat dan jelas akan membuat informasi yang kita sampaikan lebih lama tertancap di benak target konsumen.

Speak Their Language
Kalau ingin "berteman" dengan target konsumen, kita perlu menyapanya dengan bahasa yang sesuai dengan gaya hidup mereka. Misal target market kita adalah ibu-ibu usia 25-35 tahun yang hobi memajang foto anak-anaknya di media social, lihat cara mereka menyampaikan pesan dan kita pahami keinginannya lalu sampaikan dengan bahasa sebagaimana mereka menyampaikan pesan.

Konsistensi
Kita boleh fleksibel terhadap tren namun konsistensi karakter merk harus tetap dijaga. Positioning ibarat gaya. gaya boleh berubah sesuai tren tapi jangan pernah merubah karakter.

Selasa, 02 Juni 2015

Co-Creation & Kekinian


Beberapa waktu lalu, sewaktu penulis mengadakan acara potluck party di rumah bersama rekan-rekan semasa kuliah, begitu seru ketika masing-masing rekan membawa berbagai jenis makanan, minuman dan juga cemilan. Sebagai salah satu penggemar es krim, penulis langsung menyerbu ice cream bucket Wall's Selection edisi Hershey's yang dibawa oleh salah satu rekan. Ya, es krim vanilla dari Wall's ini dipadukan dengan produk cokelat susu dalam bentuk choco chips produksi merk Hershey's. Entah kenapa, dibanding perpaduan yang lain seperti Oreo atau Tim Tam, bagi penulis, perpaduan es krim Vanilla ini dengan Hershey's choco chips terasa lebih istimewa.
     Selain rasa, lalu apa yang menarik dari es krim ini? Mari kita bahas tentang "co-creation". Co-creation muncul ketika dua brand atau lebih disatukan untuk memenuhi market demand. Apabila co-branding hanya sekedar menyandingkan dua brand atau lebih, maka co-creation adalah upaya menyatukan brand-brand tersebut, termasuk memadukan keistimewaan masing-masing. 
      Kekinian yang ada saat ini dan sering kita temui adalah tipikal konsumen yang suka memadukan antara jenis makanan, minuman atau cemilan favoritnya dengan produk pelengkap makanan dengan merk yang (dianggap) ternama. Sehingga tidak jarang kita temui jenis-jenis makanan/ minuman seperti: Martabak Nuttella, Brownies Ovomaltine atau Milkshake Oreo menjamur di pasaran, 
     Apakah Wall's Selection melakukan co-creation juga untuk mengikuti kekinian tersebut? Yang jelas, melakukan co-creation terhadap es krim vanilla Wall's dengan produk cemilan seperti cokelat Hershey's, Oreo ataupun Tim Tam bukanlah sekedar latah kekinian. Menurut penulis, es krim vanilla Wall's memiliki unsur netral, fleksibel untuk dipadukan. Sehingga menempatkan produk dari brand lain yang secara rasa memang mampu menghasilkan perpaduan yang disukai konsumen, telah menjadi strategi pemasaran yang menarik serta cukup efektif untuk menyasar segmentasi lain dari konsumen Wall's. Berbeda memang dengan Magnum yang mungkin saja cokelat yang menjadi lapisan luar es krim Magnum juga merupakan hasil co-creation, namun brand Magnum telah dikonsep oleh Wall's untuk menjadi dominan. Hal itu ditunjukkan dengan hanya menyebut lapisan cokelat es krim Magnum dengan sebutan "Belgium Chocolate".

Minggu, 10 Mei 2015

Meningkatkan Produktivitas Tim Dengan Coaching


Kegiatan rutin apa yang sering dilakukan supervisor terhadap tim-nya? Dalam divisi sales misalnya, hal rutin yang dilakukan oleh seorang supervisor dan jawaban paling sering untuk pertanyaan di kalimat pertama paragraf ini muncul adalah seperti briefing, mapping target, evaluasi serta appraisal. Namun tanpa disadari, peran supervisor terkadang penting untuk tidak terlalu terlihat superior di antara tim-nya.
     Coaching, salah satu trik pengelolaan SDM yang bisa menjadi sarana untuk mendukung tim mencapai performa terbaiknya. Menurut Graham Alexander dan Ben Renshaw (penulis buku Supercoaching), coaching merupakan suatu pendekatan individu untuk mengurangi intervensi yang menghambat potensi kerja seseorang untuk memberikan performa terbaik. Namun selayaknya coaching tidak hanya diberikan pada tim yang kurang produktif saja. Memang dalam kasus untuk tim yang kurang produktif tentu memerlukan coaching lebih intensif. 
     Supaya agenda coaching tidak membuat tim merasa seperti di-kepo masalahnya, berikut beberapa hal yang bisa dicoba dalam menjalankan coaching di kalangan supervisor:

Make Friends Outside The Office
     Pada dasarnya peran kita sebagai mahluk sosial di luar urusan pekerjaan tidak bisa disandingkan dengan urusan kantor. Namun hubungan interpersonal yang lebih mudah dibentuk di luar kantor itu mampu menumbuhkan rasa kepercayaan antar tim di lingkungan pekerjaan. Supervisor tidak harus selalu mentraktir ketika membuat acara santai di luar jam kantor beserta tim-nya karena ini adalah acara antar-teman. Suasana yang cair dari luar kantor tersebut dapat lebih mudah digunakan supervisor untuk bertanya tentang hal-hal yang dialami oleh tim-nya ketika bekerja, baik yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan terutama yang berhubungan dengan pihak luar seperti klien.

Never Judging
     Upayakan untuk tidak mengeluarkan pernyataan "itu kamu yang salah" ketika tim kita mengalami kendala dalam pekerjaannya dikarenakan mengambil langkah yang kurang tepat. Biarkan mereka belajar dari setiap langkah yang mereka pilih, sebagai supervisor, ketika hal ini terjadi, coba kita ajak mereka diskusi bagaimana untuk mengatasi masalah yang timbul tersebut. Setidaknya memberikan tanggung jawab kepada tim untuk penyelesaian masalah yang telah mereka buat itu akan lebih membuat mereka tertangtang untuk meningkatkan performa daripada sekedar menyalahkan.

Example & Link Back
     Sebagai supervisor, tentu kita pernah berada dan menghadapi masalah di posisi mereka, jangan ragu untuk memberikan contoh hal buruk maupun hal baik yang pernah kita lakukan dalam mencari alternatif penyelesaian masalah. Buat mereka berpikir untuk menemukan hal yang aplikatif untuk diterapkan pada masalah yang dihadapinya atau bisa juga sebagai langkah antisipatif.

     Overall, sebagai supervisor yang memiliki supervisi atau visi yang lebih dibandingkan dengan tim maka itulah fungsi kita untuk membantu tim memperkaya visi mereka. Dengan visi yang semakin kuat dalam tim, tidak diragukan performa anggota tentu akan meningkat.

Rabu, 29 April 2015

"Sihir" Scheherazade Dalam Marketing


Ingat cerita 1001 malam? Iya, tersebutlah seorang putri dari Persia bernama Scheherazade yang mengajukan diri menjadi istri kesekian dari seorang raja lalim yang punya kebiasaan menikahi perawan lalu menghukum penggal kepala si istri di keesokan harinya. Namun karena kecerdasan Scheherazade yang mampu menyajikan cerita-cerita menarik bagi Sang Raja selama 1001 malam, akhirnya dia menjadi istri yang betul-betul dicintai Sang Raja bahkan hingga mampu merubah perangai buruk sang raja.
     Kepiawaian Scheherazade dalam story telling inilah yang membuatnya mendapatkan hati Sang Raja. Begitu pula dengan story telling dalam marketing bagi sebuah brand, terlepas dari unsur kekinian, hal ini dirasa penting untuk menempatkan positioning merk dalam top of mind target pasarnya. Berdasarkan dari strategi ala Scheherazade, penyampaian story telling dalam marketing sebuah brand harus berorientasi pada perubahan perilaku konsumen yang akan menjadikan brand tersebut memiliki engagement atau keterikatan terhadap si konsumen. Trik yang bisa ditempuh dalam penyajian story telling ini antara lain:

Bring Drama To Life
     Sajikan cerita yang dekat dengan kehidupan target konsumen lalu bumbui dengan drama, buat mereka terbuai dengan dramatisasi bila kisah itu ada dalam kehidupan mereka. Contoh dalam hal ini adalah brand campaign "Unforgettable Girl" dari Lux yang iklannya sering muncul di link video Youtube sejak Maret 2015 ini. Lux mengungkap sisi karakter si charming penuh misteri yang mampu membuat para selebriti terpukau. Di sini, Lux mengeksplorasi target konsumennya untuk merasa menjadi bagian dari misteri si "Unforgettable Girl".


Trigger for Hormones
     Cerita yang memacu adrenalin juga mampu membuat sebuah brand lebih lekat tidak hanya di benak konsumen tapi juga perilaku sehari-harinya. Banyak orang tidak ingin hidupnya monoton, selalu ada cerita baru setiap harinya, maka brand yang menyajikan nuansa serta petualangan baru akan lebih mudah menarik hati para konsumennya yang berkarakter dinamis. Sebagai contoh adalah brand activation yang dikemas dalam bentuk "Petualang Beneran" dari Gadget Samsung ini.

Social Life Touch
    Sisi humanis juga merupakan hal yang layak diutamakan untuk menyajikan cerita dalam pemasaran sebuah brand. Hal sederhana yang bisa dijadikan contoh adalah cerita yang menyentuh perasaan, biasanya dihubungkan dengan sosok orang tua atau keluarga. Seperti kampanye "Cita Rasa Masakan Rumah" ala Royco yang menampilkan masakan Ibu akan selalu dirindukan oleh anaknya.

     Bila ditarik benang merah, story telling yang dirasa menarik dalam pemasaran sebuah brand, kalau kemasannya mendukung unsur Pride, Curious & Challenge serta Empathy. jadi, kini saatnya memasarkan sembari bercerita, yuk!

Sabtu, 11 April 2015

Advokasi Merk

Dalam salah satu kasus yang ditemui penulis, terdapat sebuah brand yang ketika tim sales-nya membuat customer comment card, agak mengejutkan ketika hasil yang didapat dari pertanyaan "How did you know about our product?" jawaban terbanyak adalah "friend's recommendation". Berarti brand tersebut memiliki kekuatan di Word of Mouth (WOM) marketing. 
     That was amazing for such a viral marketing indeed, meraih kepercayaan konsumen memang terkadang mudah namun mempertahankannya itu perlu tantangan. Bila suatu merk mampu berkembang pesat lantaran promosi yang dijalankan secara bergulir (viral) oleh para konsumennya, maka tidak menutup kemungkinan sisi buruk suatu merk juga bisa bergulir layaknya bola salju begitu cepatnya lantaran pelanggan loyalnya merasa dikecewakan.
     Penulis mencoba mengambil contoh dari konflik yang sering muncul dari keluhan pelanggan kartu kredit yang tidak jauh-jauh dari: tagihan tidak sesuai atau debt collector yang bertindak di luar batas kewajaran. Berikut adalah contoh keluhan pelanggan kartu kredit bank Mega yang digulirkan melalui situs salah satu media sosial lokal:
   Sisi baiknya dari berbagi pengalaman buruk di sosial media tersebut tidak melulu ditanggapi dengan respon "kompor" oleh pengguna sosial media lainnya. Terdapat pemilik akun lain (netizen) yang memberikan pendapat objektif mengenai hal yang menjadi keluhan si pembuat topik, yakni:
    Penulis menarik simpulan, kenapa ada netizen lain yang mengadvokasi (membela) kartu kredit Bank Mega? Bisa jadi dikarenakan netizen tersebut memiliki pemahaman akan seluk beluk kartu kredit termasuk prosedur penagihan dengan menggunakan jasa penagih hutang (debt collector). Dengan demikian, memberikan edukasi kepada pelanggan menjadi hal yang esensial, setidaknya hal tersebut bisa dijadikan "investasi advokasi" ketika suatu saat pelanggan menemukan kekurangan atau kesalahan dari suatu produk/ merk yang membuatnya mempublikasikan ungkapan kekecewaannya. 

Sabtu, 21 Maret 2015

Minggu Sore Seru Bersama STEREO

     
NET TV menyajikan tayangan seru terbaru yaitu drama musikal STEREO yang mulai tayang Minggu, 22 Maret 2015 jam 18.00. Serial ini memberi warna baru bagi anak muda Indonesia di ranah hiburan layar kaca. Serial yang dibintangi Tatjana Saphira, Pradikta Wicaksono dan Vidi Aldiano ini mengangkat problematika anak kuliahan yang penuh semangat dalam mengejar cita dan cinta.
     Jazzy MU yang menulis naskah STEREO ini beserta Haqi Ahmad mengungkapkan bahwa serial ini dibuat selain untuk memberikan nuansa baru dalam serial remaja di TV nasional juga turut mendukung eksistensi blantika musik Indonesia sebab pemeran dalam serial ini juga berkompeten dalam kualitas vokal maupun musik.
     Konflik dalam serial musikal ini muncul ketika Dara (Tatjana Saphira), mahasiswi yang pernah menjadi Presiden Mahasiswa di kampusnya mendapatkan tantangan untuk kembali mempertahankan Club Vokal STEREO di kampusnya supaya tidak dibubarkan oleh pihak kampus lantaran sudah lama tidak menyumbangkan prestasi. Kemudian Dara berupaya keras memberi semangat teman-temannya untuk maju dalam kompetisi musik bergengsi Super Choir. Perjuangan Dara membangkitkan semangat teman-temannya serta adanya bumbu percintaan ala dunia perkuliahan makin membuat serial ini sarat akan keceriaan dan pesan bagi penontonnya.
     STEREO akan tayang selama seminggu sekali dan di season pertamanya, serial ini akan tayang selama tiga belas episode. Berikut adalah sneak peak STEREO di Official Youtube Net TV:

Minggu, 08 Maret 2015

Menempatkan Ide "Out of The Box" Ke Dalam Box

pic source: bisnisukm.com

Strategi maupun ide pengembangan perusahaan selayaknya sudah wajar menjadi konsentrasi kaum eksekutif di level manajerial. Persaingan usaha yang begitu ketat menuntut para manajer untuk berpikir keras mengatur ide dan strategi yang berbeda (out of the box) demi memenangkan persaingan bisnis.
     Terkadang, optimisme ketika menyusun sebuah strategi mendadak menjadi hilang ketika dicegat oleh tanggapan dari top management yang susah memahami pengaplikasian dari strategi yang dianggap nyeleneh tersebut. Terlepas dari nantinya strategi ini akan berhasil atau tidak, sebagai seorang risk taker, para manajer tentu menghendaki strategi yang dibuatnya ini layak untuk dicoba dan dijalankan. Lalu bagaimana cara menempatkan ide yang out of the box ini ke dalam "box" di jajaran top management? Berikut tips yang layak untuk dicoba:

Pahami Perbedaan Generasi
     Apabila memang jajaran Top Management di perusahaan tempat kita bekerja adalah sekumpulan orang yang secara usia lebih dewasa dibanding kita, maka kita perlu sadar walau pemahaman akan strategi yang kita miliki lebih up to date namun pengalaman hidup mereka jauh lebih banyak. Tidak ada salahnya ketika kita berusaha menempatkan diri sebagai "anak" yang ingin belajar pengalaman hidup pada orang yang lebih tua. Setelah itu cari celah dengan menyampaikan contoh kasus yang belum pernah terjadi dalam pengalaman mereka dan sedang terjadi saat ini, lalu tanyakan pendapat mereka mengenai hal tersebut kemudian coba usulkan ide dan strategi kita.

Top Management = Owner? Telusuri Ideologinya!
     Terkadang, para pemilik bisnis bukanlah orang yang memiliki latar belakang di bidang bisnis yang digelutinya tersebut. Bisa saja karena warisan orang tua, karena menangkap peluang yang ada atau karena hobi. Mungkin sebagai manajer yang direkrut oleh mereka, kita punya banyak pengalaman dan latar belakang terhadap bisnis yang mereka bangun tersebut. Namun, sebagai pemilik atau pendiri, mereka tentu punya ideologi dan kultur yang perlu kita telusuri dan adaptasi. Jika dalam proses penelusuran dan adaptasi terhadap ideologi maupun kultur owner tersebut kita tidak mengalami masalah, maka kita akan dapat berada pada posisi ber-chemistry dengan bisnis yang mereka bangun. Sehingga saatnya kita menyusun strategi pengembangan yang memiliki persinggungan terhadap ideologi yang dimiliki oleh si owner tersebut.

    Harapannya, ketika kita menjalankan strategi dengan cara membuat para top management menyatu dengan alur yang kita susun, maka ketika katakanlah strategi tersebut tidak berhasil, setidaknya banyak pihak yang merasa ikut terlibat untuk menyusun strategi baru berikutnya. Dengan demikian tidak akan ada yang merasa aneh ketika strategi out of the box yang baru kemudian dimunculkan.
     

Selasa, 24 Februari 2015

Premium Taste of Picho Bakpia

Mengusung ke-khas-an lokal di Yogyakarta, Agung Wicaksono turut menyemarakkan hal tersebut dengan menciptakan bakpia karyanya dengan nama Picho Bakpia. nama Picho berawal dari "Princess-Chocolate" yakni produk cokelat Praline yang telah dibuat oleh istrinya sebelum muncul Picho Bakpia tersebut. 
    Pada Agustus 2014, Agung beserta istri kemudian mendirikan Picho Resto yang beralamatkan di Jln. Perumnas 123, Seturan Yogyakarta. Di resto yang buka dari jam sebelas siang hingga sepuluh malam inilah yang sekaligus menjadi outlet utama penjualan Picho Bakpia. Sedangkan cokelat Praline olahan sang istri dijadikan makanan pendamping minuman seperti teh atau kopi dan disajikan saat momentum promo seperti hari Valentine. 
     Keberadaan Picho Resto tersebut juga menjadi outlet utama untuk penjualan Picho Bakpia. Bakpia yang mempunyai lima varian rasa ini: keju, susu, coklat, kacang hijau dan ubi ungu, juga dijual di Superindo-Jogokaryan, Jejamuran Resto dan beberapa pusat oleh-oleh lain di Yogyakarta. Dalam enam bulan perjalanannya, Picho Bakpia kini telah tersebar di delapan outlet.
    Harga untuk satu box Picho Bakpia isian dua puluh adalah senilai tiga puluh delapan ribu rupiah. Keistimewaan Picho Bakpia terletak pada kulitnya yang krispi serta gurih karena mengandung high quality butter. Keunggulan lain terletak pada Bakpia dengan varian isi cokelat yang menggunakan liquor choco yang mengandung cokelat pekat dengan hanya sedikit kandungan cocoa butter.

    Meskipun terbilang pemain baru di ranah oleh-oleh khas Yogyakarta, Picho bakpia tidak ingin ketinggalan untuk berpromosi. Saat ini beberapa agenda promosi telah dijalankan seperti Buy 1 Get 1 Free, pameran kuliner serta menjadi merchant kulineran.com.