Sabtu, 25 Juli 2015

Fungsi PR Dalam Kasus Go-jek VS Ojek Pangkalan

Bagi yang tinggal di Jakarta pasti paham betul bahwa kemunculan Go-jek ini merupakan moda transportasi alternatif untuk menebus liarnya kemacetan ibukota. Ya, sejak mulai melayani di 2011, Go-jek seakan menuai manisnya sebuah bisnis kurang lebih setahun terakhir. Manisnya layanan Go-jek ini lantaran munculnya aplikasi untuk smart phone yang memudahkan calon penumpang mendapat layanan ojek sepeda motor. Respon yang baik oleh warga ibukota membuat founding father-nya, Nadiem Makarim, mengembangkan lagi layanan Go-Jek menjadi layanan kurir, belanja, dan jasa layanan antar makanan. Meski awal dibuatnya Go-jek adalah untuk mengorganisir jasa abang tukang ojek di ibukota namun dalam perkembangannya  Go-jek ini justru kemudian mampu merubah citra masyarakat terhadap layanan ojek motor menjadi layanan tranportasi yang aman, nyaman, serta jujur dalam pricing.
     Meski demikian, kesuksesan Go-jek ini bukan tanpa rintangan. Juni 2015 lalu, ramai di sosial media yang menceritakan perlakuan diskriminatif oleh pelaku jasa ojek konvensional terhadap driver Go-jek. Beberapa dari cerita tersebut menyebutkan bahwa driver Go-jek mendapat ancaman dan perlakuan tidak menyenangkan dari abang tukang ojek yang biasa mangkal di pangkalan ojek. Hal tersebut kemudian justru mendapat respon positif dari masyarakat yang biasa menggunakan jasa Go-jek berupa dukungan untuk terus memberikan layanan prima. 
     Tak lama berselang, pihak korporasi Go-jek langsung memberikan statement yang menyatakan bahwa kehadiran go-jek bukan untuk menyaingi keberadaan ojek pangkalan tapi justru mengajak untuk sama – sama berkembang memberi layanan prima pada warga ibukota. Hal ini menjadi good publication dan positioning baik untuk go-jek yang menjadi salah satu perusahaan swasta penyedia layanan transportasi publik yang baik. 

     Fungsi PR yang baik muncul dalam kasus go-jek vs ojek pangkalan ini, barangkali bisa menjadi contoh bagaimana sebuah (per)usaha(an) perlu memiliki fungsi (seorang) PR yang menjadi ujung tombak dalam manajemen krisis. Selain tentunya sebagai pelaku usaha jasa mempunyai misi utama memberikan layanan prima kepada masyarakat.
     Bagi penulis, layak ditunggu sepak terjang Go-jek lainnya dalam memberikan jasa layanan transportasi bagi warga ibukota yang konon sesaat lagi juga akan masuk ke beberapa kota besar lain seperti Bandung & Surabaya. Patut ditunggu pula, fungsi PR yang akan diusung Go-jek ketika berhadapan dengan “regulasi jalanan” kota – kota besar lainnya. 
(Ditulis oleh: Eduardo Herlangga)

Minggu, 12 Juli 2015

Inovasi Batik Kreasi KATUNA

Jogja sudah cukup terkenal sebagai kota "ladang batik". Di sisi lain, kreativitas juga merupakan hal yang kental di kota ini. Katuna, sebuah produk batik dari Jogjakarta yang memiliki inovasi berbeda dalam kreasi desainnya telah hadir menambah warna dalam industri kreatif di Jogja. 
     Yuvita seorang alumnus Institut Seni Indonesia telah mengembangkan brand Katuna sejak 2013. Bersama sang suami, Yuvita menyadari bahwa persaingan industri kreatif terutama untuk produk batik sangatlah tinggi di Jogja ini. Untuk itu, sepasang suami istri ini berpikir bahwa produk Katuna yang mereka kembangkan haruslah memiliki diferensiasi sehingga memiliki positioning yang kuat serta target pasar yang tepat. 
     Akhirnya, Katuna dikembangkan dengan ciri utama sebagai batik dengan teknik Shibori, sebuah teknik membatik khas Jepang yang kurang lebih proses pembuatannya adalah dengan cara celup-ikat. Teknik ini juga lebih dikenal dengan sebutan Tie-Dye.

Sumber: fanpage "Katuna Studio"

     Meski mengunggulkan batik Shibori, Katuna juga memiliki varian batik tulis maupun batik cap dengan motif tumbuhan atau buah-buahan. 
     Saat ini, Yuvita beserta suami menjalankan proses produksi di studio mereka yang terletak dekat ex-kampus mereka dulu (ISI) yakni di daerah Sewon-Bantul. Dalam memasarkan produknya, saat ini Katuna mendapatkan respon yang cukup tinggi dari netizen pengguna media sosial Instagram, kebanyakan konsumen adalah orang Jakarta yang memang menginginkan value dari setiap produk yang mereka konsumsi serta praktis dalam belanja online.


     Selain melakukan penjualan online, Katuna juga memasarkan produknya secara offline dengan mengikuti acara promo atau bazaar termasuk acara Pop-Up Space yang diadakan di GreenHost hotel Jogja pada 11-12 Juli 2015 ini.

Senin, 06 Juli 2015

Pelanggan Adalah (Bukan) Raja


Bisa dikatakan, analogi "pelanggan adalah raja" is so last season. Menjadi seorang marketer, saat ini tidak harus melulu memperlakukan customer-nya sebagai raja. Ada hal esensial lain guna menjaga hubungan dengan customer dalam jangka panjang yakni dengan menjadikan pelanggan atau customer sebagai partner atau mitra. 
     "Pelanggan adalah raja" lebih menggambarkan bahwa keinginan pelanggan adalah prioritas utama. Ibarat seorang raja, maka permintaan pelanggan adalah absolut. Dalam dunia marketing terkini, proses interaksi tersebut sudah tidak terlalu valid untuk dijalankan. Dengan mengajak pelanggan menjadi mitra atau partner lebih membuat ikatan jangka panjang dalam interaksi hubungan bisnis di antara marketer dengan pelanggannya. 
     Menjadi mitra bagi sebuah brand/ produk berarti pelanggan merasa menjadi bagian dari brand itu, dia ingin "mitra"nya ini selalu bersahabat dengannya, ketika ditemukan kekurangan maka si pelanggan akan memberikan saran demi peningkatan kualitas si produk tersebut. Dengan demikian, ketika seorang marketer memiliki mindset bahwa pelanggan adalah mitra, di saat pelanggan memberi komplein maka seorang marketer akan menanggapi hal tersebut sebagai saran si mitra demi pengembangan brand yang diampu si marketer. Beda ketika anggapan masih kepada pelanggan adalah raja, respon pelanggan terhadap sebuah brand hanya akan menjadi baik atau jelek saja. Hal ini menyebabkan kurangnya informasi komprehensif untuk pengembangan sebuah brand atau produk dalam strategi pemasarannya.
    Terlebih lagi, dunia bisnis dan marketing adalah dunia yang borderless, kasus jual beli seringkali bergerak dinamis. Sehingga bisa jadi kadang satu pihak menjadi pemasar bagi pihak lainnya yang bertindak sebagai konsumen dan di kasus lain kondisi menjadi berkebalikan. Dengan demikian hubungan sebagai mitra dan mitra akan lebih nyaman untuk kerjasama jangka panjang daripada hubungan antara raja dan hamba (pemasar).