Minggu, 30 Agustus 2015

Nike Usung Daya Magis Feminin Dalam Sepakbola



Sepakbola, sebuah olahraga yang cukup populer di dunia. Olahraga yang dikenal sejak abad pertengahan ini mempertandingkan  11 lawan 11 pemain. Memang sebagian besar perhelatan olahraga ini lebih banyak melibatkan kaum adam, yang lekat dengan unsur maskulinitas. Namun demikian, tidak membuat kaum hawa tidak mengenal atau terlibat di olahraga bola sepak ini. Berawal dari sekedar menggemari, kaum hawa  ini kemudian juga turut membentuk tim untuk bertanding dan mengadu skill dengan pemain lawan. Bak gayung bersambut, badan otoritas sepakbola dunia, FIFA, mulai melirik sepakbola wanita untuk dimasukkan dalam agenda resmi mereka terhitung sejak 1991. Amerika Serikat, Brazil, Nigeria, Jepang, adalah negara – negara yang  mengirimkan wakilnya di perhelatan piala dunia wanita dan menjela menjadi tim yang kuat dibanding kontestan lainnya. Pada perhelatan dunia wanita edisi perdana Amerika Serikat menjadi juaranya, melahirkan nama Carin Jennings sebagai pemain terbaiknya.

Kini sejak sepakbola wanita mendapat pengakuan dari dunia atas eksistensinya, sepakbola wanita menjadi ajang untuk tidak sekedar mengadu skill akan tetapi jadi lahan basah bagi merk-merk dunia untuk menancapkan taringnya di industri kelas dunia ini. Setidaknya hal itu yang dilakukan oleh Nike, brand kenamaan asal Amerika Serikat ini menjadi “juara” dalam turnamen piala dunia wanita 2015  yang dihelat di Kanada beberapa waktu yang lalu. Berlaga seperti di tanah sendiri, Alex Morgan dkk berhasil menjadi jawara dengan mengalahkan juara bertahan Jepang sekaligus mencatatatkan rekor sebagai juara dunia sepakbola wanita terbanyak dengan merengkuh 3 kali juara. Tidak hanya itu, sponsor apparel tim sepakbola AS, Nike juga meluncurkan sepatu sepakbola edisi khusus untuk wanita. Sepatu yang didominasi dengan warna biru dan hijau ini di klaim menjadi kombinasi warna yang cukup padu ketika dipakai oleh para punggawa timnas AS. Tidak cuma soal urusan desain, Nike juga secara khusus mendesain sepatu edisi khusus tersebut disesuaikan dengan konstruksi kaki para wanita. Menurut pihak Nike, konstruksi kaki pria dan wanita yang berbeda membuat Nike berinovasi pada produk sepatu bola.

Inovasi brand swoosh itu nyatanya membawa dampak positif tidak hanya di lapangan namun juga di luar lapangan.  Kesuksesan tersebut di dapat manakala Alex Morgan yang merupakan ikon dari timnas AS sekaligus brand ambassador Nike USA berhasil membuat decak kagum kala bermain di lapangan dan attitudenya di luar lapangan. Alex Morgan, bagi penulis adalah karakter atlet yang kuat secara personality  dan skill layak disebut bintang lapangan hijau di dunia sepakbola wanita. Wanita kelahiran California 26 tahun lalu Ini berhasil meruntuhkan hati para lelaki pemujanya dengan skill-nya mengolah si kulit bundar juga karena parasnya yang cantik. Bila dikomparasi dengan lawan jenisnya di dunia sepakbola pria, barangkali Alex Morgan ini dapat “disejajarkan” dengan Christiano Ronaldo, mega bintang yang juga bagian dari Nike.

Dipilihnya Alex Morgan oleh Nike bukan tanpa sebab tentu, di tim AS sendiri masih punya Hope Solo, kiper sekaligus kapten kesebelasan timnas AS yang lebih senior dibandingkan dengan Alex Morgan. Namun, keputusan tersebut nyatanya tidak salah, Meski Alex Morgan sendiri tidak tercatat namanya dalam daftar pencetak gol di laga final melawann Jepang, namun aksinya telah membuat mata para lelaki dan wanita tentunya jadi semakin terbuka. Keharmonisan kehidupannya di luar lapangan bersama sang suami juga menjadi alasan kenapa Alex Morgan layak dijadikan ikon oleh Nike. Kini, meski perhelatan piala dunia wanita sudah usai, rasanya masih pantas kita menyebut Alex Morgan sebagai primadona lapangan hijau. Di sisi lain seperti yang dikutip penulis dari Fortune.com yang dirilis pada 6 Juli 2015 lalu juga menyebutkan bahwa “pemenang” dari piala dunia wanita 2015 adalah Nike. Hal tersebut dikuatkan dengan tidak hanya kesuksesan AS dan nike di lapangan tapi juga kesuksesan Nike memenuhi timeline di dunia maya. Lengkap sudah kesuksesan sebuah brand dalam mengangkat image di sebuah ajang kelas dunia. Kesuksesan yang direngkuh Alex Morgan pun dijadikan role model bagi para wanita di dunia untuk terus berprestasi di berbagai bidang dan olahraga adalah salah satunya.
(Ditulis oleh: Eduardo Herlangga).

Sabtu, 15 Agustus 2015

Ajakan "Move On" Di HUT RI Ke-70


Apa yang kita rayakan setiap tanggal 17 Agustus? Iya, hari kemerdekaan Republik Indonesia. Lalu bagaimana cara kita merayakannya? Tahun ini, di ulang tahun kemerdekaan negara kita yang ke-70, kita (seolah-olah) diajak ikut merayakan pesta kemerdekaan ini dengan cara "Ayo Kerja". Hal ini menjadi demikian dengan ditunjukkannya logo HUT RI ke-70 yang sudah mulai beredar di awal Agustus 2015 ini. 
     Sesuai dengan pemahaman semiotika visual ala Roland Barthes bahwa terdapat dua klasifikasi tanda di dalam sebuah komunikasi visual yakni tanda implisit dan juga tanda eksplisit. Tanda implisit dalam logo HUT RI ke-70, menurut penulis bisa dimaknai dari gambar siluet burung Garuda yang membentuk angka 70 melambangkan karakter bangsa Indonesia yang perkasa dengan latar belakang merah yang menandakan keberanian bangsa serta warna putih di siluet tersebut menunjukkan kemurnian jiwa bangsa. Simbol eksplisit tampak dari siluet burung Garuda yang membentuk angka "70" karena memang tahun ini negara kita telah merdeka 70 tahun dan juga tulisan 'Ayo Kerja" secara eksplisit menunjukkan ajakan untuk bergerak di usia yang baru ini. Shafiq Muljanto selaku creative director dari Dentsu Strat, sebuah agensi periklanan di Jakarta yang memenangkan pitching pembuatan logo HUT RI ke-70 ini juga menjelaskan makna dari logo baru tersebut yang dapat Anda cermati di sini.
      Selama sepuluh tahun terakhir, pemaknaan logo HUT RI, bagi penulis lebih kepada penjelasan bahwa logo tersebut merupakan logo untuk merayakan HUT RI ke-sekian dan dijelaskan dengan frasa "Kemerdekaan Republik Indonesia". Inilah yang membuat pemerintahan baru ingin menyajikan diferensiasi di HUT RI ke-70 ini.
     Apa yang dipaparkan sebagai makna dari logo HUT RI ke-70 ini seperti mengetengahkan "Move On" sebagai topik utama: move on dari 10 tahun pemerintahan sebelumnya serta move on dari cara gerak kita sebagai rakyat untuk Indonesia di usianya yang baru dengan cara "Ayo Kerja".
     
     

Sabtu, 08 Agustus 2015

Periscope: Cara Public Figure Makin Dekat Denganmu!




Adakah yang masih ingat di medio 2005 muncul istilah SMS PREMIUM dari artis kenamaan? “SMS yang kamu terima langsung dari hp aku” kira – kira demikian bunyi salah satu iklan yang muncul. Kala itu, dimana sosial media belum se-bombatis sekarang dari jumlah user dan dampaknya, sms premium muncul sebagai sarana bagi artis untuk “menjual” informasi kegiatannya. Wajar saja demikian, karena sebagai public figure segala aktivitasnya jadi terkesan layak untuk diikuti. Di sisi lain, provider telepon selular melihat peluang lain yakni dengan menjual ketenaran artis tadi berbungkus SMS Premium. Penulis sendiri tidak melakukan penelusuran lebih jauh soal tingkat keberhasilan kampanye ini tapi setidaknya ini membuka pintu lain di era sekarang untuk berbagi informasi tentang apa yang sedang kita kerjakan, kita lihat, dan dengarkan.
     Dimulai dengan suatu pertanyaan,tentang apa yang sedang dilihat seseorang di belahan bumi lain saat itu atau berbagi pengalaman melihat tentang menikmati keindahan sunset di sebuah dermaga nan aduhai di salah satu pantai tropis di dunia. Setahun lalu, dengan berbekal pertanyaan tersebut yang ada di kepalanya seorang pemuda bernama Kayvon Beykpour asal Stanford University bersama rekannya Tom O’Neill dan Harry Glaser menciptakan  sebuah aplikasi bernama Periscope. Meski baru setahun umurnya, nampaknya Periscope mulai digandrungi oleh para pegiat social media.  Tak terkecuali para public figure di negeri ini. Berdasarkan fungsi yang terlihat saat ini, Periscope dimanfaatkan para public figure (selebtwit masuk di dalamnya) untuk lebih mendekatkan diri dengan para followers-nya melalui sebuah interaksi audio visual. Setidaknya para followers-nya pun jadi lebih tahu apa yang sedang dikerjakan atau yang menjadi concern sang public figure tersebut. Terlepas dari isu penting tidaknya setidaknya ada konten dan interaksi antara 2 pihak di situ.
    Mengaca pada kasus tersebut, terlihat ada kemiripan antara konten SMS premium dengan pemanfaatan Periscope yakni sebagai sarana untuk meng-grab followers dan menjalin interaksi lebih dekat. Ada unsur kedekatan yang kemudian para followers terkesan lebih dekat meski interaksi video di media sosial ini hanya 1 sisi saja yakni dari sisi sang broadcaster dalam hal ini artis yang bersangkutan, yak si followers tak lain hanya sebagai viewer yang interaksinya terjadi dengan menuliskan komentar yang dapat dibaca oleh semua pihak yang saat itu turut menjadi viewer. Di sisi lain, Periscope tampak diminati karena pemanfaatannya yang nyaris gratis. Benar, kedua pihak baik broadcaster maupun followers tidak perlu membeli aplikasi tersebut namun ada biaya lain tak lain adalah langganan internet atau wifi. 
    Periscope sebagai media sosial ini tentu saja sudah bisa dimanfaatkan lebih jauh lagi untuk mengajak dan menggerakkan orang terhadap sebuah isu (yang positif). Mengajak followers untuk peduli seperti yang dilakukan oleh Pandji (Pragiwaksono) yang sering mengajak followersya untuk ngobol banyak topik yang tak melulu soal jualan produknya tapi juga mengajak followersnya berinteraksi soal topik sepakbola dan mengajak iuran untuk renovasi sebuah masjid paska insiden di Tolikara. Menarik? Tentu saja. Jadi, setidaknya lewat media sosial ini frasa “ langsung dari hp aku” yang diucapkan sang artis terpenuhi kan? 
(Ditulis oleh: Eduardo Herlangga)

Minggu, 02 Agustus 2015

Fortais Sentuh Etnografi Kaum Jomblo

Antara ingin menikmati masa kejayaan menjadi lajang bahagia tanpa ikatan, namun juga keinginan memenuhi kebutuhan naluriah untuk hidup berpasangan layaknya kebanyakan orang yang menikah lainnya adalah problematika etnografi kaum jomblo pada umumnya. Fortais atau Forum Ta'aruf Indonesia menyentuh sisi etnografi kaum jomblo tersebut dengan mengadakan acara bertajuk Golek Garwo (Cari Jodoh) yang berlangsung di kantor kecamatan Sewon - Bantul , Yogyakarta pada Minggu, 2 Agustus 2015.
     Fortais sendiri yang dibentuk oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Sewon - Bantul, Yogyakarta di tahun 2010 ini menjadi sebuah aktivasi yang bertujuan mempersuasi masyarakat terutama para jomblo (lajang belum nikah, janda atau duda) mengenai kaidah pernikahan sebagai suatu sarana untuk beribadah. Jalannya sebuah persuasi memang tidak akan mudah diterima oleh publik apabila tidak adanya dukungan bukti yang kuat mengenai esensi dari suatu kampanye tersebut. Tampaknya, Fortais  tidak kekurangan akal untuk mengupayakan persuasi-nya dapat menyentuh sisi kognitif target audiens-nya yaitu para jomblo itu sendiri. Sebagaimana citra kreatif dari propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Fortais juga berupaya mengemas acaranya sekreatif mungkin. Salah satunya adalah dengan memilih MC yang telah merasakan manfaat mengikuti alur kegiatan Fortais hingga akhirnya dia mendapatkan pasangan untuk dinikahi. 

     Acara yang diikuti sekitar 100 peserta usia 25 - 70 tahun dengan dominasi peserta pria 60% dan berlangsung selama 3 jam dari jam 10.00 hingga 13.00 ini diawali dengan membuat permainan yang diupayakan mampu mengakrabkan antara peserta pria dan wanita yang tentu saja disesuaikan dengan kaidah syariah sebagaimana nama forum tersebut. Contoh permainannya adalah menebak nama benda. Salah satu peserta ditutup matanya lalu diminta mengambil lima buah benda dari "kotak mimpi", si lawan jenis yang melihat benda itu lalu mencatat nama bendanya. Pihak yang matanya ditutup harus menebak nama kelima benda itu. Apabila antara si pria dan wanita semakin banyak memberi nama benda-benda itu dengan nama yang sama maka oleh MC yang sekaligus juri maka pasangan ini dianggap memiliki chemistry.
     Program Golek Garwo yang dicanangkan oleh Fortais ini rencananya akan bergulir rutin bulanan di hari Minggu, minggu ke-tiga setiap bulannya. Dengan tujuan untuk men-ta'arufkan (mengenalkan) antara sesama jomblo, Fortais juga memberikan informasi data para anggota berupa nama, profil singkat dan nomor kontak kepada para peserta. Hal ini dapat dimanfaatkan bagi para peserta yang masih belum berani membuka diri untuk berkenalan langsung dengan sesama peserta pada saat acara berlangsung.
     Tak disangka, istilah jomblo yang selama ini sering digunakan bahan bercanda dalam pergaulan sehari-hari, dapat diketengahkan oleh Fortais menjadi topik yang layak untuk ditindaklanjuti secara serius. Di penghujung acara, ditampilkan pula sosok yang telah merasakan manfaat kegiatan Fortais dengan datang bersama pasangan yang telah resmi menjadi suami istri serta memberikan testimoni. Meski usia mereka tidak bisa dibilang muda lagi, setidaknya semangatnya untuk menghargai pernikahan sebagai sebuah upaya untuk beribadah layak untuk dicermati. 
 
     Bahkan dalam upaya menjangkau publik yang lebih luas, Fortais tak segan-segan untuk menerapkan startegi media relation untuk mengkomunikasikan programnya. Hal yang sederhana namun tepat adalah memilih Facebook fanpage sebagai social media untuk penerapan viral marketing. Bagaimana-pun juga, facebook masih menjadi media sosial yang mampu diakses oleh netizen dari berbagai karakteristik baik dari psikografi, demografi bahkan juga etnografi. Cara lain yang ditempuh addalah langkah standard di dunia kehumasan yakni dengan cara media rilis, media partner bahkan liputan audio visual seperti yang dilakukan oleh reporter TV swasta nasional seperti Metro TV. Selain 'Golek Garwo", saat ini program Fortais yang sudah sukses dijalankan sejak awal berdirinya dulu adalah "Nikah Bareng", sebuah kegiatan prosesi pernikahan unik yang telah berhasil menikahkan ratusan pasangan sejak 2010 silam.