Senin, 28 Desember 2015

Gengsi Sales Executive


Citra pekerjaan sales sempat mendapat stigma negatif (dalam pandangan penulis) di kurun waktu tahun 90-an hingga awal 2000-an. Apa hal yang melatarbelakangi itu? Kemungkinan dikarenakan cara kerja atau strategi berjualan yang agresif (mendesak). Sebagai contohnya adalah hal yang pernah dialami penulis ketika masih kecil. Saat itu pintu rumahnya diketuk oleh seorang sales pisau dapur. Mbak-mbak sales ini menyapa dengan memberikan kuis: "Adek, apa nama negara yang terkenal sebagai produsen jam tangan?" dengan spontan oleh penulis yang baru berusia sepuluh tahun dijawab "Jerman". Kemudian sales tersebut menyampaikan bahwa "si adek" berhak mendapatkan jam tangan digital gratis dengan cara membeli seperangkat pisau dapur senilai Rp. 100.000.
     Itulah yang penulis sebut sebagai strategi komunikasi yang agresif atau mendesak: kalau mau dapat hadiah ya harus beli produk utamanya. Pada akhirnya di setiap kompleks perumahan atau gang-gang perkampungan kemudian dimunculkan mini baliho bertuliskan "Sales harap lapor RT/ RW". Sehingga saat itu pekerjaan sales sempat mendapatkan stigma negatif dari masyarakat sebagai si tukang maksa untuk beli atau tukang tipu-tipu jualan produk biasa dengan harga tinggi.
     Padahal sales person adalah lini terdepan di perusahaan yang memegang peranan penting untuk tingkat ekuitas perusahaan (dalam hal keuntungan tentunya). Berbeda dengan marketing yang melakukan pemetaan supaya brand yang diusung lebih merata persebarannya untuk mencapai target market, maka sales executive (sebutan terkini) adalah eksekutor di lapangan akan pemetaan target market yang sudah dibuat oleh marketing supaya brand yang berwujud produk tersebut mampu membuat target market yakin akan value-nya sehingga mereka terpacu (memiliki desire) untuk mengkonsumsi-nya.
     Memang seorang sales executive harus jualan atau istilahnya hard selling. Dalam melakukan hard selling juga selayaknya tidak perlu gengsi. Karena gengsi membuat target market tidak kenal dengan produk dari brand yang kita usung, mereka tidak paham value-nya apalagi ada keinginan untuk mengkonsumsinya. 
     Pola komunikasi yang dijalankan sales executive saat ini memang sudah banyak yang berorientasi pada tindakan asertif yakni lugas dan efektif daripada sekedar agresif: belilah! Salah satu contoh hal sederhana dalam hal ini adalah; semisal kita sudah pernah memiliki database konsumen potensial, lalu kita kirimi SMS/ email blast mengenai informasi produk/.layanan baru yang kita jual. Konsumen akan sepintas lalu saja ketika menerima informasi yang diberikan secara blasting, namun apabila setelah blasting kita kontak satu persatu dari database tersebut, sebut namanya dan tanyakan "Bapak/ Ibu (nama) sudah menerima informasi terbaru produk kami yang saya kirimkan via email kemarin?" lalu tanyakan pula kesediaannya untuk bertemu supaya bisa menyajikan presentasi mengenai keunggulan produk/ layanan terbaru tersebut. Upaya ini akan lebih elegan, kita lugas pada tujuan kita yakni jualan dan jujur terhadap nilai produk/ layanan yang kita jual. Ingat tidak ada istilah gengsi untuk menjadi seorang sales executive, tapi kita bisa menjadi sales executive yang bergengsi!

Sumber gambar: 

Minggu, 13 Desember 2015

Perencanaan Media (Sosial)

Melakukan promosi di media konvensional seperti televisi, radio, koran dan sebagainya tentu memerlukan biaya yang bisa dibilang cukup besar. Bagi pelaku bisnis start up maupun UMKM tentu hal ini menjadi hal yang perlu dipikirkan berkali-kali untuk mengeluarkan budget dalam pembelanjaan iklan atau promosi di media. Namun dengan semakin maraknya media sosial, usaha yang baru merintis tidak terlalu pusing lagi memikirkan cara berpromosi karena media jenis ini dapat menjadi sarana berpromosi secara gratis. 
     Tentu saja ada hal yang perlu dipahami supaya cara berpromosi kita di media sosial ini bisa berhasil. Dengan melihat apa yang sudah dilakukan oleh pelaku start up sebelumnya, berikut penulis rangkum cara perencanaan media sosial yang dapat dicontoh:

Identifikasi Target
       Kenali produk yang ingin kita promosikan, apakah target konsumennya perempuan dengan range usia tertentu, remaja putra dan sebagainya. Lihat perilaku target market kita di media sosial, mereka lebih sering mengakses media sosial apa. Dengan demikian kita bisa memilih untuk berpromo menggunakan media sosial yang paling banyak diakses oleh target market kita. 
   Di Yogyakarta, dikenal salah satu ethnic fashion designer yakni Lulu Lutfi Labibi yang membangun brand awareness melalui Instagram. Menurut penulis sasaran yang ingin dicapai Lulu Lutfi Labibi adalah para penggemar fashion yang memiliki benchmark para selebriti dengan konsen terhadap kesederhanaan budaya dan falsafah lokal, setidaknya, itu pesan yang tampak dibangun dalam akun instagram yang berfollower lebih dari 36ribu akun ini.




Mengemas Pesan
    Setiap produk yang ingin kita promosikan harus mempunyai nilai sehingga keberlangsungan produk ini bisa bertahan lama di benak target marketnya. Misal produk makanan, sejauh mana sih makanan ini layak dikonsumsi target market? Kita sentuh sisi kecenderungan mereka dalam memilih produk makanan. Kalau banyak yang waspada terhadap kandungan msg dan bahan pengawet, kita bisa mengedukasi target market akan kandungan yang baik bagi kesehatan dalam bahan-bahan makanan yang kita promosikan.
     Konsep edukasi kepada target market bisa kita lihat pada apa yang dilakukan oleh Little Bee Boutique online yang menjual produk fashion muslim anak-anak perempuan ini.


   
Pahami Perbedaan Peran Media Sosial
      Terdapat beberapa media soaial yang paling sering digunakan untuk berpromosi para start up maupun UMKM, yakni Facebook, Instagram, Twitter dan Path. Memang dengan media sosial, interaksi antara produk dengan target market terasa begitu dekat. Facebook dan Instagram cocok untuk hardsell serta membangun story telling, Twitter bisa digunakan seperti blasting promotion atau pesan satu arah dan biarkan konsumen yang tertarik bisa mem-viralkan promo tersebut dan Google+ bisa digunakan untuk memunculkan pesan produk kita ke dalam grup-grup diskusi yang aktif yang disesuaikan dengan target market kita. 

Tuntaskan perencanaan media sosial ini dengan mengatur jam-jam atau waktu untuk posting materi. Lebih efektif kalau di saat kita posting, banyak netizen yang sedang mengakses media sosial mereka kan?
      

Senin, 07 Desember 2015

Segarnya Pasar Muslim Indonesia

Syariah di dunia marketing saat ini tidak hanya bertindak sebagai arahan atau standardisasi untuk keabsahan suatu merk yang dibangun atau dibentuk sesuai kaidah dan ajaran agama islam saja. Syariah menjadi label yang muncul dalam ekspektasi audiens sebagai bagian dari produk atau merk yang layak mereka konsumsi. Keberadaan syariah sebagai label di dunia marketing ini, bagi penulis kemudian telah memunculkan insights atau beberapa pandangan para audiens akan merk yang mereka konsumsi sebagai berikut:

Harus Syar'i (Halal):
Karakteristik konsumen yang menginginkan hal-hal murni syariah. Audiens tipikal ini memiliki konsen untuk berusaha mematuhi ajaran yang disampaikan sesuai syariat Islam, tingkat ke-halal-an produk dan merk yang dikonsumsi-pun akan diperhatikan secara detil. Dalam dunia perbankan misalnya. Seorang konsumen yang menuntut totalitas syariah bisa saja mengajukan pertanyaan detil mengenai konsep bagi hasil bank tersebut. Bahkan bisa saja ketika dia menyimpan uang di bank (syariah) yang diharapkan hanya faktor keamanan saja, dia tidak mengharapkan bagi hasil. Dalam hal ini, contohnya bank Muamalat memberikan fasilitas produk Tabungan dengan skema Wadiah yakni tabungan yang tidak memberikan bagi hasil. Nasabah bisa merasa nyaman atas keabsahan nilai syariah dana yang disimpannya di bank tersebut.

Sumber gambar: bankmuamalat.co.id 


Syariah dan Kekinian:
Ada juga tipe audiens yang menginginkan mengkonsumsi produk syariah sebagai tuntutan label kekinian. Semenjak hijab tutorial marak di dunia maya, banyak netizen perempuan menganggap bahwa menggunakan hijab (mengikuti syariat Islam) adalah hal terkini yang harus diikuti supaya tidak ketinggalan trend. Keinginan audiens ini contohnya, sudah cukup diakomodir oleh produsen fashion hijab terkemuka seperti Dian Pelangi dan Jenahara. Pergerakan dua brand tersebut di dunia maya juga cukup gencar mengingat dari sanalah viral fashion hijab tersebut berasal.

Sumber gambar: jenahara.blogspot.co.id




Nyamannya Produk Halal:
Suatu produk dinyatakan halal tentu setelah melewati berbagai macam uji coba terutama secara klinis. Ketika sebuah produk telah dilabeli sesuai syariat yaitu halal maka konsumen akan merasa lebih nyaman untuk mengonsumsinya. Sekali lagi konsumen perempuan yang memiliki sifat dasar konsumtif namun selektif menjadi sasarn utama produk seperti ini. Disaat mereka ingin tampil cantik maka kecantikan merekapun harus alami dan mereka harus nyaman untuk tampil cantik. Seperti kemunculan kosmetik Wardah, label halal dan varian produknya ternyata tidak hanya diminati konsumen muslim saja. Mengapa demikian? sederhana saja, kosmetik halal membuat pemakainya merasa yakin produknya aman (karena bahan-bahan yang dinyatakan halal sudah tentu baik untuk dikonsumsi) dan tetap bisa untuk mempercantik diri.



Dari ketiga hal yang ditemukan penulis akan konsen audiens terhadap merk dan produk syariah, apakah pembaca memiliki konsen lain?