Kamis, 08 Desember 2016

The MSI "Game" With Assassin's Creed


Bagi kebanyakan orang, bermain game mungkin menjadi sekedar sarana mengusir kebosanan. Tapi bagi sebagian yang lain, game bisa jadi hal yang sangat menarik antusiasme dan menjadi bagian dari aktivitas mereka sehari-hari. Ceruk pasar inilah yang membuat berbagai produsen notebook dan PC gaming ikut-ikutan berkompetisi untuk memenangkan "game" dalam market ini, tak terkecuali MSI.
    MSI sebagai salah satu produsen notebook dan PC dari Taiwan yang secara khusus menyasar segmentasi gamer memunculkan gerakan dahsyat di penghujung 2016 dan awal 2017 ini. Ibarat gerakan parkour yang lincah dan gesit, begitu pula cara MSI bertarung dengan para kompetitornya melalui kolaborasinya dengan game Assassin's Creed dan 20th Century Fox.

     Sudah banyak memang cerita film yang diangkat dari game fenomenal, seperti Mortal Kombat, Street Fighter, Tomb Raider dan sebagainya, namun Assassin's Creed memberikan gebrakan fantastis dengan kolaborasi-nya bersama perusahaan-perusahaan ternama. Game besutan Ubisoft ini mampu menarik minat Sony Pictures untuk mengangkatnya ke layar lebar yang saat itu memulai negosiasinya di tahun 2011. Kini, film yang disutradarai oleh Justin Kurzel dengan pemeran utama Michael Fassbender ini mulai didistribusikan oleh 20th Century Fox di minggu terakhir Desember 2016 ke bioskop di seluruh dunia.

     Bagi penggemar game Assassin's Creed, memiliki pengalaman merasakan permainan yang selama ini hanya mereka mainkan di dunia maya kemudian menjadi kenyataan bisa disebut sebagai cita-cita dalam naluri gamer sejati. Mengacu pada insight tersebut, MSI kemudian mengambil peran dalam menjalankan activation yang berorientasi pada upaya mendongkrak penjualan notebook dan PC gaming yang diproduksinya. Korelasi yang kemudian muncul adalah adanya "Assassin's Creed Movie Lucky Draw", di mana MSI akan memberikan kesempatan gamer sekaligus fans Assassin's Creed sejati untuk merasakan pengalaman berpetualang ala Aguilar de Nerha melalui perjalanan eksklusif bertama game ini di London atau Tokyo, syaratnya tentu saja dengan membeli notebook/ PC gaming MSI tipe tertentu. Hebatnya, kontes ini diselenggarakan serentak di 15 negara. Jadi, buat Anda yang mendambakan petualangan Assassin's Creed, sudah siapkah bertarung dengan "Assassin" dari negara lain?

Sources:
http://www.jagatreview.com/2016/12/gelar-screening-film-assassins-creed-msi-siap-bagikan-beragam-hadiah-menarik/

https://id.wikipedia.org/wiki/Assassin's_Creed_(film)

Selasa, 29 November 2016

Why The Copycat Brands Exist?


Siapa nama murid paling populer ketika Anda masih berada di bangku sekolah? Berapa banyak anak yang ingin menjadi sepertinya? Mengapa dia bisa terkenal, adalah frasa yang kemudian menjadi latar belakang banyak siswa lain yang ingin mendapatkan kepopuleran seperti si charming itu.
     Begitu pula ketika sebuah bisnis ingin dikembangkan, banyak start up yang ogah bertarung di liarnya persaingan bisnis sehingga membuat produk dengan konsep dan jenis yang memiliki kemiripan dengan produk yang telah sukses terlebih dahulu. Alasan-alasan secara terperinci lain yang melatarbelakangi unsur copycat ini menurut penulis antara lain:

  1. Produk Daily Needs: Sudah dipastikan sebelumnya oleh si pembuat produk bahwa produk yang  akan dipasarkannya adalah produk yang lazim dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari, dia tiru keunggulan dari produk yang sudah terkenal lebih dulu sebelumnya lalu mengemas dengan konsep yang sedikit berbeda (merk baru) tapi tetap ada kemiripan dengan harga cenderung lebih rendah.
  2. Pecah Kongsi: Ini juga alasan yang sering muncul ketika sebuah produk dengan merk tertentu memunculkan peniru atau copycat. Apalagi ketika owner yang satu dengan owner yang lain sama-sama dikenal kuat oleh publik sebagai kreator merk tersebut. 
  3. Stalker: Sedikit menyeramkan ya istilahnya, tapi memang kompetitor survey selalu akan digencarkan oleh para kompetitor. Mereka bisa saja menguntit dan mencari tahu rahasia kesuksesan sebuah brand dan ketika mereka mendapatkan investor atau pendanaan yang kuat, mereka akan berusaha menggempur pertahanan si merek yang sebelumnya sudah kuat di pasaran.
The Anticipation:
Persaingan memang semakin gila-gilaan, penulis sendiri kaget menyadari ketika toletries favoritnya yaitu merk "Original Source" keluaran Cussons yang hanya dijual di hiper market tertentu seperti Carrefour, ternyata secara produk dan konsep desain grafis kemasan ditiru oleh merk "Wake Up!" keluaran perusahaan toiletries Tesco. 
Dengan demikian perlu disadari bahwa persaingan di pasar memang seperti "concrete jungle", bagi pemilik produk dan merk yang merasa menjadi keluaran pertama sebaiknya tetap menjaga brand humbleness selain ciri otentik dan keunggulannya. Jangan sampai mengeluarkan statement "mereka bukan kelas kita karena meniru", sebab apabila muncul arogansi, tanpa disadari si peniru bisa saja lebih banyak berinovasi dan melakukan manuver canggih untuk melibas produk "keluaran pertama" yang sudah sukses sebelumnya.

Minggu, 30 Oktober 2016

Pasarpolis.com, Solusi Di Tengah Pasar yang Meragu


Kehadiran teknologi dalam memudahkan kehidupan sehari-hari membuat sebagian besar entitas bisnis bergerak mengikuti perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir begitu pesat perkembangan berbagai lini bisnis yang masuk ke ranah teknologi, tidak terkecuali bisnis financial atau yang kini kerap disebut Fintech (Financial Technology). Fintech diharapkan dapat memudahkan masyarakat dalam mengelola maupun mempermudah transaksi dalam kehidupan sehari-hari seperti pembayaran e-commerce, transportasi, asuransi, dan berbagai macam kebutuhan yang berkenaan dengan pembayaran.

Hal pertama apa yang pertama kali Anda pikirkan jika mendengar asuransi? kebingungan memilih dan membandingkan berbagai macam asuransi atau justru kesal karena ditawarkan asuransi yang tidak Anda butuhkan saat ini? . Asuransi sendiri di Indonesia telah hadir sekitar tahun 1920-1940an , pada masa tersebut  kebutuhan masyarakat cenderung berbeda dengan kebutuhan asuransi pada saat ini. Jika dahulu kelangsungan bisnis merupakan salah satu hal utama maka perusahaan asuransi pada saat itu cenderung membantu para pemilik bisnis untuk menghadapi risiko yang mungkin akan terjadi pada bisnis mereka. Berbeda dengan sekarang, asuransi jauh lebih fleksibel dan banyak macamnya.



Risiko yang mungkin terjadi pada setiap orang membuat perusahaan asuransi berlomba menghadirkan solusi untuk masyarakat agar dapat membantu mereka yang memiliki rasa khawatir pada berbagai hal. Asuransi yang paling umum seperti asuransi kesehatan dan asuransi properti, serta berbagai macam produk asuransi yang  semakin berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Begitu banyaknya perusahaan asuransi ternyata justru menghadirkan "masalah baru" untuk masyarakat, yakni kebingungan untuk membandingkan secara cepat dan mudah. Pasarpolis.com mengakomodir masyarakat yang ingin membandingkan dan memilih produk asuransi. Secara sederhana pasarpolis menghubungkan calon pengguna asuransi dengan penyedia layanan asuransi.

Keberadaan fintech asuransi seharusnya disambut baik oleh para pengguna yang masih ragu untuk menggunakan jasa asuransi. Pengguna tidak akan lagi dipersulit dengan berbagai macam brosur yang justru lebih membingungkan belum lagi perhitungan premi yang sama membingungkannya dengan benefit yang akan didapat. keberadaan pasarpolis.com contohnya akan menampilkan biaya premi secara realtime.
  


Pasarpolis.com hingga saat ini menjadi satu-satunya platform yang memudahkan masyarakat untuk membandingkan produk dari berbagai macam ansuransi, mungkin jika dibandingkan dengan platform yang mirip adalah cekaja.com, situs pembanding kartu kredit. Hingga saat ini pasarpolis.com telah bekerjasama dengan lebih dari 20 brand penyedia asuransi yang dengan berbagai pilihan layanan seperti asuransi kesehatan, kendaraan, kecelekaan diri, properti, jiwa dan perjalanan.

Jika pada umumnya pengguna akan dibingungkan dari agen-agen marketing perusahaan asuransi, berbeda dengan pasarpolis.com. Pengguna yang ingin menggunakan asuransi kesehatan misalnya cukup memasukan tanggal kelahiran mereka maka kebutuhan asuransi yang dibutuhkan  akan muncul berbagai paket seusai dengan jasa penyedia asuransi. Tampilan visual di pasarpolis.com sangat memudahkan pengguna untuk membandingkan antara satu penyedia dengan penyedia lain, tentu saja hal ini akan menguntungkan pengguna dalam hal kecepatan memilih. Pasarpolis.com selain menghadirkan kemudahan menggunakan platform yang disediakan , pasarpolis.com juga menghadirkan layanan via customer service sehingga pengguna juga dapat dengan mudah berkonsultasi secara langsung.


Pertumbuhan pengguna smartphone di Indonesia yang mencapai angka 125 juta memberikan angin segar terhadap bisnis yang sedang beradaptasi ke ranah digital. Salah satunya tentu bisnis asuransi yang masuk dalam kategori financial technology. Apalagi dengan nilai pasar asuransi di Indonesia yang ditaksir senilai $300.000.000 di tahun 2018.

Rabu, 19 Oktober 2016

The Tangible Assets Named Human Resource

Sebagian besar dari netizen sudah terbiasa untuk memberikan ulasan atau review untuk tempat makan, hotel atau tempat wisata. Kira-kira, sudah lazimkah kita me-review secara online tempat kerja? Ternyata situs pencari kerja online jobstreet memiliki fitur memberikan ulasan mengenai sebuah tempat kerja.

Pada era lama hingga awal tahun dua ribuan, mendapatkan pekerjaan adalah hal yang menantang. Beberapa perusahaan tampil kokoh sebagai institusi yang superior sehingga alur komunikasi hierarkis secara vertikal (atasan dan bawahan) di internal begitu terlihat dominan. Faktor yang mendukung budaya tersebut di era itu adalah dikarenakan: mencari pekerjaan itu sulit dan banyak SDM yang berminat pada posisi pekerjaan tersebut. 

Apa yang dilakukan Jobstreet dengan membuat fitur ulasan perusahaan tersebut, memiliki kemungkinan karena melihat fenomena yang berkembang saat ini. Fenomena tersebut yakni, banyak SDM yang lebih menyukai pola kerja dinamis dengan kultur komunikasi horizontal atau setara tanpa mengesampingkan hierarkis atau struktur organisasi perusahaan. Hal ini berarti, konsep yang semula memerintah menjadi mengajak melakukan tugas dan memberikan arahan, serta berbagai pola komunikasi sejenis yang lainnya. 

Selain itu, bila menggunakan pemikiran "everyone is a marketer", maka melakukan maintenance terhadap tingkat kepuasan dan produktivitas karyawan menjadi sangat penting. Sehingga perusahaan dapat terus sustainable karena profit yang bagus. Semuanya menjadi bagian dari pola karyawan senang, bekerja riang dan perusahaan berjalan gemilang. 

Dari sisi Public Relation, dikenal istilah internal communication untuk menjaga pola komunikasi internal sebuah perusahaan. Hal ini bertujuan, budaya yang ingin dibentuk seperti penyampaian komunikasi internal secara horizontal dapat berjalan dengan baik. Tujuannya supaya karyawan tidak merasa ditekan dan pihak pimpinan juga tidak merasa insecure apakah akan dicurangi karyawannya atau tidak.

Minggu, 09 Oktober 2016

Sense of Story and Sex

Apa yang ada dalam benak Anda ketika ditanyakan soal alat kontrasepsi berupa kondom? Bisa jadi persepsi setiap orang akan berbeda, tapi mungkin kebanyakan akan menjawab untuk menjaga kualitas sex yang aman dan mencegah kehamilan. Lalu bagaimana kalau Anda ditanya, merk kondom apa yang paling Anda kenal? Penulis yakin, Anda bisa menjawab lebih dari 1 merk. Hanya saja ada satu merk yang khusus akan dibahas dalam tulisan kali ini, Durex.

Bahkan soal urusan sex, kini Durex bermain dengan simbol-simbol yang lebih halus. Dalam kampanye terbarunya yang digulirkan di dunia maya dengan hashtag #EnaknyaDilamain, Durex menggunakan tanda yang implisit berupa chemistry antara dua sejoli yang saling memiliki ketertarikan secara fisik (dan sex). Sebagai alat kontrasepsi yang berfungsi untuk menjaga hubungan sex secara aman dan sehat dengan demikian, Durex juga ingin menunjukkan bahwa produk kontrasepsi ini adalah sarana untuk memberikan ekspresi cinta kepada pasangan. Iya, bahwa karena cinta, seseorang harus saling menjaga bagi dirinya maupun pasangannya, salah satunya dengan berhubungan sex secara aman dan sehat.



#EnaknyaDilamain diwujudkan dalam pesan berbentuk cerita bersambung melalui channel video Youtube. Episode pertamanya yang baru tayang tanggal 8 Oktober 2016 ini mengisahkan dua sejoli, tampilan eksekutif muda yang bertemu di lift. Sepintas pikiran "liar" kita mungkin berpikir mereka akan melakukan aksi seperti Anastasia Steele dan Christian Grey dalam film Fifty Shades of Grey. Tapi ternyata tidak, mereka tampak tertarik satu sama lain namun masih malu-malu. Mereka seperti berusaha menghentikan waktu yang hanya singkat itu, hanya untuk mereka habiskan berdua saja. 

Video episode pertama tersebut diakhiri dengan masuknya "pengganggu" yang seolah-olah membuat mereka berpikir "bagaimana ya caranya kami bisa berinteraksi lebih lama dan tanpa gangguan?". Dari pertanyaan tersirat itu, seolah-olah Durex muncul sebagai solusi untuk memberikan waktu yang lebih longgar, leluasa untuk ekspresi cinta. Kini, Durex membuat iklan kondom tidak harus berhubungan dengan baju seksi, bahasa tubuh yang sensual maupun verbal yang bernada eksplisit. Jadi, apakah Anda juga menginginkan rasa #EnaknyaDilamain?

Jumat, 05 Agustus 2016

DELL in The Battle With JASON BOURNE


Serial film Bourne mengeluarkan seri terbarunya akhir Juli 2016 ini bertajuk Jason Bourne. Kisah sang agen rahasia kembali dikulik setelah dia dianggap pemberontak oleh CIA dan berniat menggali informasi tentang masa lalunya. Dukungan teknologi informasi menjadi bagian dari senjata dalam pertarungan Bourne kali ini.

Teknologi informasi yang terintegrasi dalam database, media sosial dan device dikemas dalam intrik yang berkontribusi dalam pertarungan secara fisik yang sengit antara Jason Bourne dengan musuh-musuhnya. Device menjadi properti paling menonjol sebagai representasi teknologi informasi dalam film Jason Bourne dan DELL hadir sebagai device dalam pertarungan di film jason Bourne di ranah digital.

Dalam film ini secara eksplisit ditampilkan antar notebook dan PC dari DELL yang bertarung dalam menjaga serta merebut data yang menjadi sumber masalah bagi Bourne maupun CIA. Tentu saja, selain ketangguhan Bourne dalam bertarung, penonton juga menjadi penasaran akan ketangguhan produk DELL dalam bertarung di dunia digital dalam film ini.

Pemilihan DELL sebagai pendukung dalam Jason Bourne secara mutlak memiliki kesamaan dengan tema serta karakter utama dalam film besutan sutradara Paul Greengrass ini; strict (tegas) secara tampilan, performa yang tangguh dan akses yang cepat. Karakteristik tersebut cocok dengan tokoh film laga seperti Jason Bourne yang lebih mengedepankan penampilan fisik yang kokoh daripada gaya fashion flamboyan seperti James Bond, serta tangguh dan gesit dalam pertarungan.


Minggu, 10 Juli 2016

Sharing for Caring?


Setiap kali kita berinteraksi dengan internet, senantiasa kita menerima sajian berbagai macam informasi yang dibagikan (sharing) oleh netizen yang berada dalam ruang lingkup sosial kita di dunia maya, baik kontak di email, chat, ataupun media sosial. Bagi sebagian dari kita, informasi yang dibagikan tersebut bisa saja bermanfaat, biasa saja atau tidak berpengaruh namun bisa juga terasa mengganggu. 
     Terlepas dari apa latar belakang atau tujuan netizen untuk membagikan informasi melalui internet, mari kita coba kenali tipe-tipe sharer atau pembagi informasi di internet berikut:
  1. HIPSTER: Tipikal sharer yang sering ambil andil dalam istilah kekinian. Semua informasi yang dianggap nge-hits atau kekinian menjadi objek yang sangat digandrungi kaum hipster untuk dibagikan. Kebanyakan dari mereka merasa penting untuk ikut membahas topik yang sedang ramai diperbincangkan, apapun itu mulai dari gaya hidup, keluarga hingga politik.
  2. CAREERIST: Tipikal sharer yang peduli untuk menginformasikan hal-hal yang berhubungan dengan dunia karir seperti tips bekerja efektif, lowongan pekerjaan dan lain-lain. Saluran yang biasa mereka gunakan antara lain email dan media sosial seperti Linkedin.
  3. ALTRUIST: Tipikal sharer yang membagi informasi secara tersegmentasi. Sharer jenis ini benar-benar selektif untuk membagikan informasi hanya kepada pihak yang sesuai untuk menerima informasi tersebut. Oleh sebab itu, Altruist lebih memilih untuk membagikan informasi melalui email.
  4. SELECTIVE: Hampir mirip dengan altruist, hanya saja tipikal selective masih mau membagi informasi di media sosial, hanya saja dia banyak melakukan kroscek akan keabsahan informasi yang dibagikan olehnya.
  5. BOOMERANGS: Sharer jenis ini memang memiliki tendensi secara khusus untuk menyebarkan isu yang dikemas dalam bentuk informasi propagandis. Sehingga segala informasi yang disampaikannya digunakan untuk mengukur dampak yang dihasilkan dari penyebaran informasi tersebut.
  6. CONNECTOR: Tipikal sharer yang merasa perlu membagi informasi kepada netizen yang dianggap "senasib" dengannya. Misalkan ibu-ibu yang sama-sama sedang menyusui, lalu membagi info tentang tips menyusui kepada ibu-ibu yang lain di akun media sosialnya. Biasanya tipikal ini tidak hanya terhubung di dunia maya tapi juga di dunia nyata.
Berdasar berbagai jenis sharer tersebut, kita perlu mengklasifikasikan informasi yang seperti apa sih yang tersebar di media sosial/ email kita. Dengan demikian, kita akan mampu lebih cerdas untuk meliterasi setiap informasi yang kita dapatkan.

Sumber:
http://wersm.com/why-do-we-share-a-post-on-social-media/
http://www.statpro.com

Rabu, 29 Juni 2016

The Exquisite of Brand Equity


Impian setiap brand manager bisa jadi adalah membuat brand yang dikembangkannya menjadi bagian dari kehidupan konsumennya. Dari mulai bangun tidur, beraktivitas hingga si konsumen beristirahat, brand-brand tersebut mengiringi hari-hari si konsumen dan dia menggunakannya dengan pride atau penuh kebanggaan. 
    
"I need that brand, since its valuable for me"
"I want this one, always put it on my top list, yeah it defines me when I wore it"

Menjadi kalimat yang diharapkan oleh brand manager untuk keluar dari mulut target market yang disasar oleh sebuah brand. Kemunculan ungkapan demikian dari konsumen telah menjadi penanda bahwa sebuah brand telah memiliki ekuitas (brand equity). Lalu, hal-hal apa sajakah yang membuat sebuah brand atau merek bisa memunculkan ekuitas?


Menurut Aaker (1991: 39), terdapat empat elemen dalam ekuitas merek ini 

  1. Brand awareness (kesadaran akan merek), yakni kemampuan konsumen untuk mengenali atau mengingat bahwa sebuah merek merupakan anggota dari kategori produk tertentu.
  2. Perceived quality (persepsi terhadap merek), penilaian konsumen terhadap keunggulan atau superioritas produk secara keseluruhan, dimana hal ini didasarkan pada evaluasi subyektif konsumen terhadap kualitas produk.
  3. Brand association (asosiasi merek), segala sesuatu yang terkait dengan memori terhadap sebuah merek, bisa jadi asosiasi dari makna tertentu.
  4. Brand loyalty (loyalitas merek), keterkaitan pelanggan terhadap suatu merek.
Tantangan yang muncul adalah ketika ekuitas merek atau brand equity dapat tersaji dalam sebuah citra yang EXQUISITE.



Source:
Aaker, A. David. 1991. Managing Brand Equity: Capitalyzing on The Value of Brand Name. New York: The Free Press.

Selasa, 31 Mei 2016

Burza Hotel Story: From Automotive to Hospitality Service


Perkembangan hotel di Yogyakarta saat ini bagi penulis diibaratkan seperti dongeng "Jack and The Beanstalk". Dalam dongeng tersebut, si Jack yang anak petani, hari ini menabur biji kacang di kebun dan besoknya sudah tumbuh pohon kacang raksasa. Demikian ibaratnya pembangunan hotel di Jogja, hari ini peletakan batu pertama, tidak lama lagi hotelpun sudah opening. Persaingan industri hospitality-pun menjadi semakin rigid, terutama pada segmentasi budget hotel. Fenomena inipula yang dihadapi oleh Burza Hotel Yogyakarta.
    Terletak di area selatan kota Jogja tepatnya di Jalan Jogokaryan, Burza Hotel yang dimiliki oleh PT Lautan Berlian Utama Motor, menyajikan konsep budget hotel bintang 3 dengan value yang berbeda dibanding budget hotel lainnya. Diferensiasi yang diusung oleh Burza Hotel Yogyakarta adalah konsep yang menonjolkan unsur seni dan budaya lokal. Tema seni dan budaya yang ditampilkan oleh Burza Hotel Yogyakarta adalah falsafah tokoh pewayangan "Punakawan". Sehingga dari segi desain dan dekorasi bangunannya, Burza Hotel Yogyakarta memunculkan konsep yang humble, diwujudkan melalui lobi yang terbuka dengan pilar-pilar khas joglo Jawa (soko guru) dan nuansa yang ceria seperti karakter punakawan. 
   Korelasi konsep yang diusung Burza Hotel Yogyakarta tersebut juga didukung oleh kedekatan manajemen hotel dengan komunitas seni setempat seperti komunitas seni rupa seniman terkemuka dari Bantul bernama Joko Pekik. Maka jangan heran ketika kita berkunjung ke hotel ini akan menemui berbagai atribut seni rupa etnis yang menggambarkan tokoh Punakawan.
    PT Lautan Berlian Utama Motor selaku pemilik dari Burza Hotel Yogyakarta berusaha memberikan pelayanan yang terbaik dengan menggunakan jasa manajemen hotel dari Gumilang Hospitality - Bandung sejak hotel ini berdiri pada Juni 2015. Burza Hotel Yogyakarta mampu mengakomodir kebutuhan tamu untuk stay dengan nyaman dalam fasilitas yang dimilikinya yakni: 100 kamar deluxe, 1 suite room, ruang meeting dengan kapasitas hingga 200 pax serta 1 unit pendopo yang bisa digunakan untuk pertemuan konsep round table sebanyak 60pax. 
    Selain meng-ekspansi bisnisnya dalam industri perhotelan di Yogyakarta, PT Lautan Berlian Utama Motor juga menempatkan Burza Hotel di Lubuk Linggau Sumatra Selatan. Kota tersebut dianggap prospektif untuk mengembangkan bisnis hotel dikarenakan banyak target konsumen korporat PT Lautan Berlian Utama Motor di kota tersebut. Selanjutnya Burza Hotel juga berencana melanjutkan ekspansi ke Bali. Jadi, kita tunggu cerita Burza selanjutnya....


     

Selasa, 17 Mei 2016

The AXElerate & Scented Keenan Pearce


Membangun branding dengan story telling bukanlah hal yang asing lagi saat ini. Tapi, siapa bilang kalau alur branding dengan cara ini hanya cocok untuk segmentasi perempuan saja? Kita bicara tentang AXE, produk body spray deodoran yang segmentasinya didominasi oleh kaum adam ini mulai mengikuti alur story telling dalam kegiatan branding-nya.
     Bertahun-tahun kita disuguhi imej AXE sebagai merk deodoran  dengan aroma seducing, seperti ditampilkannya iklan tentang pria yang selalu menarik hasrat para wanita (secara seksual) setelah mereka menyemprotkan deodoran AXE ini pada badan mereka. Kini, AXE dengan cara yang lebih sophisticated, membangun cerita tentang karakteristik brand-nya melalui kampanye AXElerate. 
     Adalah Keenan Pearce, satu dari tiga endorser varian terbaru dari deodoran AXE ini. AXE yang mulai membranding produknya dengan kampanye cowok kalem, mengajak Keenan untuk membangun story telling akan imej baru AXE tersebut, ditambah lagi adanya sentuhan imaji sutradara Angga Dwimas Sasonggo dalam AXElerate Web Series makin menghidupkan nuansa elegan dalam cerita yang disajikan.

     Cerita yang diperankan Keenan dalam AXElerate Web Series, sudah tidak lagi menampilkan gaya cowok AXE yang hanya sebatas menonjolkan sex appeal semata. Dalam hal ini aroma AXE dicitrakan sebagai bagian dari gaya hidup akselerasi yang mendukung si aktor untuk membangun cita dan cintanya. AXE senantiasa hidup dalam setiap kisah yang dialami Keenan sebagai si aktor untuk mengiringi akselerasi hidupnya. Gambaran AXElerate yang dicitrakan AXEpun bukanlah hal yang instan karena cowok adalah sosok yang diharapkan penuh perjuangan, demikian pula story telling yang dikembangkan dalam web series tersebut.
     Selain Keenan Pearce, endorser lain yang dipercaya AXE antara lain Chicco Jericko dan Arifin Putra. Lalu menurut Anda, apakah kini AXE telah berhasil menggeser imej yang dulu sudah diciptakan dengan imej terkini berupa aroma cowok kalem?

Selasa, 26 April 2016

Raline and Flagrant Couture by BerryBenka


Kolaborasi menjadi strategi endorsing baru ala BerryBenka. Dengan cara ini, BerryBenka tidak hanya menayangkan sosok endorser sebagai duta sekaligus model untuk produk yang dibawakannya tetapi menampilkan mereka layaknya style creator. 
     Di tahun 2016 ini, online fashion &beauty retail ini mengajak kolaborasi 3 ikon perempuan sesuai dengan segmentasi masing-masing yakni Jessica Mila yang mewakili segmen remaja aktif, Raline Shah yang mewakili citra perempuan lajang modern dan Marsha Timothy yang mewakili ibu-ibu muda dinamis. Secara spesifik ulasan di artikel ini akan membahas kolaborasi BerryBenka dengan Raline Shah.
     Tampaknya segmentasi perempuan lajang lebih mendominasi dalam produk yang dijual oleh BerryBenka, mengapa demikian? Bila kita lihat porsi kolaborasi antara Jessica Mila, Raline Shah dan Marsha Timothy maka Raline Shah terlihat paling banyak mengusung klasifikasi produk di mana kolaborator lain hanya mengusung 1 paket koleksi yang terdiri dari beberapa item.

     Raline dalam kolaborasi tersebut dieksplorasi untuk membawakan tiga seri koleksi yakni: Sporty Edgy, Classic Heritage & Sparkling Glam. Korelasi yang sesuai dengan segmentasinya karena tiga gaya tersebut jugalah yang menjadi incaran perempuan lajang untuk bergaya. Bahkan secara eksklusif Raline juga tampil dalam video teaser berdurasi 16 detik tentang koleksi yang dibawakannya tersebut.

Jumat, 08 April 2016

Ada Apa Dengan Co-Branding?


Berapa purnama yang harus dilewati Cinta dan Rangga setelah 14 tahun berpisah? Tampaknya penantian cinta antara dua insan yang pada tahun 2002 lalu masih diceritakan sebagai remaja usia SMA juga dinantikan banyak "mantan" remaja yang dulu menyukai kisah mereka. Sehingga di bulan April 2016 ini, tak ayal Ada Apa Dengan Cinta 2 menjadi salah satu film yang diprediksi akan memunculkan antrian panjang di bioskop.

Metamorfosa tokoh-tokoh dalam AADC2 dengan cerita sebelumnya kemudian menjadi angin segar bagi para pemilik brand untuk melakukan promosi. Tentu saja hal ini menjadi nilai positif untuk tingkat komersial film AADC2 itu sendiri. Karakter Cinta, Rangga dan teman-temannya berusaha dikorelasikan dengan karakteristik beberapa brand yang terlibat sebagai sponsor film ini. 

Banyak sekali brand yang sudah terlibat, tampaknya mereka berlomba-lomba untuk engage dengan reunian genk Cinta ini. Dari sekian sponsor yang berkolaborasi dalam komunikasi pemasaran Ada Apa Dengan Cinta 2, berikut penulis ulas beberapa yang memunculkan co-branding dengan unik:

Line dengan fitur Find Alumni
Teaser yang muncul di tahun 2014 inilah yang menjadi awal gregetan audiens akan kisah cinta antara Rangga dan Cinta. Fitur yang diiklankan aplikasi chat & social media Line ini dirasa cocok dengan cerita Ada Apa Dengan Cinta. Karena ini dianggap menjadi hal yang sangat dekat dengan kehidupan sosial yakni mencari teman lama di waktu SMA dulu, apalagi jika sosok tersebut adalah cinta pertama.

Lenovo dengan seri #Goodweird




Notebook Yoga seri 900 adalah produk baru yang menjadi unggulan Lenovo. Promosi brand ini mengusung tagline #Goodweird. Dalam kolaborasi-nya dengan AADC2, Rangga mendapatkan "garis bawah" untuk pengkarakteran #Goodweird dari Lenovo. Iya sosok yang aneh tapi punya pengaruh baik. Sama seperti fitur dan tampilan Lenovo Yoga 900 yang unik, aneh karena cenderung berbeda dengan notebook flip 360 derajat lainnya tapi aplikatif dan bermanfaat bagi usernya. Co branding karakter ini juga dibuat digital activation-nya di aadc2.lenovo.com. 

L'Oreal ala Genk Cinta

Metamorfosa dari teman-teman Cinta seperti Mili, Karmen dan Maura tentu saja tidak hanya sebatas pembawaan diri yang lebih dewasa tetapi juga tampilan make up. Demikian adanya karena mereka bukan anak SMA lagi. Lagipula Dian Sastrowardoyo sebagai Cinta juga pernah bertugas sebagai endorser L'Oreal. dan akhirnya mereka reunian kembali! Sama halnya yang dilakukan Lenovo. kolaborasi karakter L'oreal dengan Genk Cinta ini juga ditayangkan melalui laman web yang bisa diakses di lorealaadc2.com.

Selain brand-brand tersebut, brand lain yang melakukan promosi baik berupa co-branding mapun sponsorship antara lain: Aqua, Mitsubishi juga es krim Magnum. 

Bagi penggemar AADC tahun 2002 tentu bisa mengamati soal teknologi yang digunakan untuk berkomunikasi di antara genk cinta. Benar mereka masih menggunakan telepon rumah. In 2016, monumental things could happen: dari komunikasi pemasaran film ini saja tenryata sudah sangat digitalize dibandingkan film terdahulunya. Anda penasaran? saya juga!

Selasa, 05 April 2016

ASUS and Sustainable Technology


Sebagaimana tagline yang sudah melekat padanya: In Search of Incredible, Asus senantiasa berusaha memberikan hal-hal ajaib kepada target penggunanya melalui inovasi maupun strategi pemasarannya. Dalam pengamatan penulis, sebagai brand yang mengusung "Incredible", Asus membentuk dua keunggulan dalam strategi pemasarannya yaitu untuk menjadi historical serta sustainable.
     Dalam berbagai medan, Asus berusaha mencatat sejarah (historical) akan performa produk serta teknologi yang dibawanya. Sebagaimana yang disampaikan dalam Asus Commercial Business Catalog terbarunya, teknologi yang dibawa perusahaan asal Taiwan ini berhasil menunjukan daya saing dengan mengandalkan ketahanannya:

Di Jalan
Teknologi dari Asus terintegrasi dengan GPS untuk menampilkan peta dinamis di balapan PATAGONIA 2000 sekaligus sebagai perangkat komunikasi mobile. Kemampuan teknologinya sebanding dengan daya tahannya dalam melewati panasnya gurun dan pegunungan berselimut salju dalam balapan tersebut.

Di Ujung Dunia
Dua orang pendaki gunung benama Shi Wang dan Jian Liu membawa notebook Asus S200N dalam pendakian mereka di puncak gunung Vinson Antartika setinggi 16.000 kaki pada tahun 2003. Produk Asus tersebut mereka gunakan untuk merekam dan mencatat pengalaman pendakian yang mereka lakukan.

Di Puncak Tertinggi Dunia
Kapten Wang Yongfong, pernah memimpin ekspedisi pendakian Everest. Notebook Asus seri U5 yang dibawanya bertahan hingga ketinggian 8.848 meter, di saat notebook dari merk lain hanya bisa bertahan hingga ketinggian 5.000 meter.

Di Udara
Notebook Asus juga digunakan oleh NRMA Careflight yakni unit medis melalui jalur udara dengan sarana helikopter yang beroperasi di New South Wales Australia. Daya tahan Asus terbilang kuat terhadap goncangan helikopter.

Di Aero Space
Kosmonot Rusia bernama Sergei Avdeev menggunakan dua jenis notebook Asus yang menemani perjalanannya ke antariksa selama 600 hari.

     Bagi Asus, tampaknya kecanggihan teknologi tanpa kepedulian terhadap lingkungan akan menjadi tidak berarti apa-apa. Sehingga, sebagaimana disampaikan penulis di awal, Asus juga menjadikan unsur sustainability sebagai bagian dari strategi pemasaran produknya.
     Setiap produk yang dipasarkan Asus didesain ramah lingkungan, dalam artian produk-produknya memiliki masa pakai lebih panjang dan mudah didaur ulang. Dalam proses produksinya, tentu Asus juga mengedepankan keramahan terhadap lingkungan. Hal ini ditunjukkan dengan peran aktif Asus dalam program peduli lingkungan seperti EPEAT (Electronic Product Environmental Assesment Tool). EPEAT sendiri mengambil fungsi penting sebagai standard pengaplikasian produk elektronik berbasis teknologi ramah lingkungan.

Sumber gambar:
http://csr.asus.com/english/

Minggu, 20 Maret 2016

Love Me - Love Me Not - Tele Marketing

At the first time you're in: YOU'RE IN!




Seperti itulah ketika pengajuan aplikasi kartu kredit pertama kita mendapatkan approval. Sekali masuk ke dunia kartu kredit maka akan banyak tawaran produk yang berkorelasi dengan transaksi kartu kredit berdatangan. Seperti asuransi, paket voucher liburan dan penawaran untuk pendaftaran kartu kredit dari bank lain. Semuanya akan menghampiri kita melalui panggilan ke ponsel dari para tele marketing.
     Sebelum mendapatkan kartu kredit pertama kita, suara tele marketing adalah hal yang begitu dirindukan, memastikan verifikasi data mendapatkan persetujuan dan kebutuhan bertransaksi dengan kartu kredit akan dapat segera terpenuhi. Tapi ibarat setiap hari kita
 disuguhi dengan menu yang sama, mendapatkan panggilan dari tele marketing menjadi hal yang menjemukan apalagi apabila kita dihubungi di tengah-tengah kesibukan yang sedang kita kerjakan. Target konsumenpun juga menjadi sensitif dan dramatis ketika ibaratnya "perhatian" lebih sering didapatkan dari tele-marketing ketimbang pasangan masing-masing. 
       Sebegitukah panggilan tele marketing perlu diabaikan? Sebagai praktisi yang berkecimpung di dunia pemasaran, kita tentu memahami peran penting dari tele marketing dalam pengembangan sebuah brand. Namun kenapa kita sendiri merasa terganggu dengan kebanyakan aktivitas tele marketing? Berikut penulis coba ulas secara eksploratif:
  1. Merasa Data Kita Diperjual Belikan: Mungkin di awal kita mendaftar kartu kredit A, tapi kenapa asuransi B, C sampai Z tahu kita menggunakan kartu kredit jenis apa dan no HP kita? Sebagai konsumen, kita tentu merasa "Saya apply kartu kredit Anda bukan buat tujuan data saya diperjual belikan". 
  2. Tidak Melihat Kognisi Target Konsumen: Komunikasi yang disampaikan para tele marketer kebanyakan default setting alias sama semua untuk semua orang yang mereka hubungi. Mereka seperti tidak mau paham apakah orang itu hanya menggunakan kartu kredit untuk membeli bahan baku dalam bisnis manufaktur-nya, kenapa ditawari voucher paket liburan yang dalam kebiasaan si konsumen tidak ada hal seperti itu.
  3. Agresif: Kebanyakan tele marketer masih bertujuan "belilah atau bertransaksilah" bukan menyampaikan value dari produk yang mereka tawarkan dan korelasi-nya dengan kebutuhan target konsumen.
  4. Fokus Pada Tujuan Satu Pihak (Si Tele Marketer) Saja: Ketika seorang tele marketer menginginkan si target konsumen menyimak penawarannya, dia akan memastikan kapan si target bisa dihubungi walaupun si target bilang sedang sibuk di berbagai waktu. Ibaratnya pekerjaan tele marketing seperti sedang dilakukan oleh para robot yang tidak bisa memahami sedang dalam kondisi apa si penerima telepon di seberang sana.
Dari empat poin di atas, nomor 1 menjadi poin yang dianggap paling mengganggu. Wajar saja, karena si target konsumen merasa tidak pernah memberikan informasi pribadinya pada perusahaan tempat si tele marketer bekerja. 
      Menurut penulis, esensi dari tele marketing sebenarnya lebih pada menjaga intensitas hubungan antara brand dengan target konsumennya. Dalam artian, si target yang dihubungi adalah pihak-pihak yang memang pernah memberikan informasi data pribadinya seperti no telepon maupun nomor KTP di saat mereka membeli/ mengkonsumsi atau hanya sekedar mencoba (as a tester) produk brand tersebut. Konsep tele marketing seperti ini (yang didapat tidak dengan memperjual belikan data konsumen), setidaknya akan lebih mengena karena si target konsumen akan di-recall mengenai pengalaman mereka mengkonsumsi brand yang ditawarkan si tele marketer.

Sumber Gambar:
http://www.amgmarketing.com.au/call-centers.php

Minggu, 06 Maret 2016

Apalah Arti Sebuah Nama (Merek) ?


Sebutkan apa yang ada dalam benak Anda ketika mendapat daftar informasi sebagai berikut:

  • Obat masuk angin
  • Sabun pencuci piring
  • Deterjen pakaian
Apakah Anda menjawab: Tolak Angin, Sunlight dan Rinso? Atau setidaknya daftar merek itu yang ada di benak penulis ketika mendapatkan daftar informasi tersebut di atas. Sekarang coba kita berandai-andai ketika kita sudah bertemu dan berkenalan dengan seseorang namun ketika bertemu kembali, orang tersebut tidak ingat dengan nama kita. Walaupun suasana tersebut akan menjadi an awkward moment, tidak ada salahnya bagi kita untuk kembali memperkenalkan diri, itulah yang disebut bagian dari fungsi marketing. 
     Bisa dibilang ini adalah sebuah kesuksesan ketika sebuah nama merek berada dalam top of mind audiens. David Aaker dalam buku Managing Brand Equity mendefinisikan nama merek sebagai indikator utama dari merek serta dasar bagi awareness pelanggan terhadap merek dan usaha komunikasi yang dilakukan perusahaan terhadap merek.
      Kevin Keller dalam buku Strategic Brand Management menjabarkan enam prosedur pembuatan nama merek perusahaan sbb:
  1. Define branding objectives. Tujuan merek harus memenuhi kriteria seperti: apakah namanya mudah dipahami? apakah sudah mencerminkan klasifikasi produk? apakah sudah koherens dengan logo? apakah sudah sah secara hukum dan hak cipta? Hal-hal tersebut menjadi penting karena harus dapat mendefinisikan makna dari merek yang akan diambil.
  2. Generating as many names and concept. Bagian ini adalah proses pengumpulan nama sebanyak mungkin dari berbagai sumber potensial seperti: karyawan, agensi iklan, konsumen, manajemen perusahaan dll.
  3. Name screening based on the branding and marketing objecives. Menyeleksi daftar nama yang telah dikumpulkan berdasarkan klasifikasi berikut: tidak bermakna ganda, mudah diucapkan, tidak melanggar hap cipta merek perusahaan lain, sesuai dengan positioning produk.
  4. Collecting more extensive information of screened names. Pada tahap ini perlu dicarikan data pendukung terhadap nama-nama yang terpilih pada tahap sebelumnya. Misal nama tersebut dalam berbagai bahasa Internasional tetap berasosiasi positif sesuai dengan ekspektasi dan value dari produk.
  5. Consumer research. Riset pasar dilakukan untuk mengkonfirmasi ekspektasi manajemen yang menginginkan nama yang mudah serta memiliki makna. Cara sederhana untuk tes pasar ini dengan menunjukkan produk ke konsumen (kemasa, manfaat, harga) sehingga konsumen dapat memahami nama merek.
  6. Name choosing that maximized the firm's branding. Tahap final adalah memilih nama yang tepat sesuai dengan tujuan pemasaran dan meningkatkan corporate branding. 
Sumber:
Aaker, D.A. Managing Brand Equity. Free Press: 1991
Keller, Kevin. Strategic Brand Management. Prentice Hall: 1998
Handayani, Desi., Andrizal, dkk. Brand Operation (The Official Markplus Institute of Marketing
        Academy Coursebook). Esensi - Erlangga Group: 2010

Sumber gambar:
http://www.seputarukm.com/ini-nih-tips-membuat-merek-bisnis-yang-baik/

Minggu, 14 Februari 2016

How To Advertise At Social Media Buzzer

Beriklan secara konvensional biasa dijalankan melalui media seperti TV, koran, radio dan majalah. Ketika sebuah brand membuat iklan dengan menggandeng seorang endorser, sudah wajar apabila si endorser di-create untuk membawakan karakter seperti yang brand tersebut inginkan. Dengan demikian, audiens yang menerima informasi melalui iklan tersebut dapat mengkorelasikan antara value dari brand dengan karakter si endorser. Seperti ketika produk shampoo Tresemme menggandeng Velove Vexia, selebriti muda yang pengkarakter-annya di mata publik belum terlalu kuat, oleh Tresemme dibentuklah citra sesuai dengan karakter brand shampoo tersebut.


Namun, bagaimana bila sebuah brand ingin beriklan di posting-an milik buzzer atau social media celebrity? Brand yang beriklan pada buzzer hanya bisa memberikan brief namun tidak memiliki kuasa penuh untuk merubah karakter si buzzer sesuai dengan brand yang akan dipromosikan. Sehingga, pemilik brand perlu memperhatikan beberapa hal berikut bila ingin beriklan pada social media buzzer:
  1. Tentukan segmentasi merek, sasarannya siapa dengan karakter seperti apa
  2. Carilah buzzer yang sesuai dengan segmentasi dan karakter merek yang hendak dipromosikan
  3. Berikan brief yang jelas kepada buzzer tersebut
  4. Biarkan buzzer berekspresi sesuai dengan kebiasaan dalam postingan mereka namun mintalah proofread/ proofing materi dulu sebelum diposting untuk memastikan iklan digulirkan secara proper
Sisi yang menarik dengan beriklan melalui buzzer adalah, netizen yang mengikuti postingan si buzzer tersebut adalah segmentasi pelanggan yang kita sasar, karena mereka secara intens mengikuti apa yang digulirkan si social media celebrity pada setiap materi yang mereka posting. Berikut contoh buzzing yang dilakukan stand up comedian "Skinny Indonesian 24" tentang Indomie pada akun social media mereka.


Bagi Anda yang merencanakan pemilihan media untuk beriklan, bisa mencoba cara konvensional atau melalui social media buzzer. Cukup pastikan bahwa pesan yang dikemas haruslah berbeda, tergantung channel dan media yang kita pilih.

Minggu, 10 Januari 2016

Netflix - Caught In The Middle


Kehidupan masyarakat urban yang makin sibuk sangat dimungkinkan untuk membutuhkan refreshment di tengah-tengah kesibukan mereka. Apalagi sarana hiburan yang mudah diakses, ada dalam genggaman dan tidak menyita banyak waktu? Tentu saja adalah gadget. Netflix muncul ditengah-tengah "kegalauan" akan masyarakat urban tersebut di awal 2016 ini. Brand ini menyajikan hiburan berupa streaming film dengan praktis dan bisa diakses secara online di manapun dan kapanpun.
     Bagi penulis, kemunculan Netflix juga tidak hanya di tengah-tengah hiruk pikuk-nya masyarakat urban tetapi juga kesesuaian tarif dengan gaya hidup kelas menengah serta usia pertengahan atau muda-dewasa (25-35 tahun). Yak, seolah-olah Netflix telah caught in the middle atau ditangkap oleh segmentasi pasar kelas menengah. Bagi mereka yang hobi menonton film, menyajikannya sebagai hiburan dengan akses yang mudah akan menjadi kebutuhan dan Netflix memunculkan prioritas tersebut. Adapun rate paket berlangganan Netflix juga masih terjangkau karena berkisar di angka seratus ribuan.
     Apabila jaringan TV kabel hanya bisa dinikmati pada perangkat yang tidak bisa dibawa ke mana-mana, Netflix memberikan kemudahan berupa mobile access. Sehingga Anda bisa men-download aplikasi ini pada platform iOS, Windows Phone maupun Android. Selain itu, Netflix juga dapat dinikmati pada perangkat PC maupun laptop yang terkoneksi secara online. Simak cara daftar Netflix pada link di sini.
     Netflix yang didirikan sejak tahun 1997 oleh Reed Hastings ini menjadi sarana penyedia hiburan streaming film yang tingkat peminatnya meledak sejak tahun 2010. Dan sejak 2013, Reed Hastings menempatkan 4 petinggi penting di Netflix. Berikut adalah gambar yang memberikan informasi terkait hal tersebut:





Sumber gambar:

https://vulcanpost.com/371081/netflix-launch-singapore-2016/
https://spideroak.com/about/our-passion
http://www.wsj.com/articles/SB10001424052702303277704579348774128548520
http://www.bloomberg.com/bw/articles/2013-05-09/netflix-reed-hastings-survive-missteps-to-join-silicon-valleys-elite#p2