Minggu, 20 Maret 2016

Love Me - Love Me Not - Tele Marketing

At the first time you're in: YOU'RE IN!




Seperti itulah ketika pengajuan aplikasi kartu kredit pertama kita mendapatkan approval. Sekali masuk ke dunia kartu kredit maka akan banyak tawaran produk yang berkorelasi dengan transaksi kartu kredit berdatangan. Seperti asuransi, paket voucher liburan dan penawaran untuk pendaftaran kartu kredit dari bank lain. Semuanya akan menghampiri kita melalui panggilan ke ponsel dari para tele marketing.
     Sebelum mendapatkan kartu kredit pertama kita, suara tele marketing adalah hal yang begitu dirindukan, memastikan verifikasi data mendapatkan persetujuan dan kebutuhan bertransaksi dengan kartu kredit akan dapat segera terpenuhi. Tapi ibarat setiap hari kita
 disuguhi dengan menu yang sama, mendapatkan panggilan dari tele marketing menjadi hal yang menjemukan apalagi apabila kita dihubungi di tengah-tengah kesibukan yang sedang kita kerjakan. Target konsumenpun juga menjadi sensitif dan dramatis ketika ibaratnya "perhatian" lebih sering didapatkan dari tele-marketing ketimbang pasangan masing-masing. 
       Sebegitukah panggilan tele marketing perlu diabaikan? Sebagai praktisi yang berkecimpung di dunia pemasaran, kita tentu memahami peran penting dari tele marketing dalam pengembangan sebuah brand. Namun kenapa kita sendiri merasa terganggu dengan kebanyakan aktivitas tele marketing? Berikut penulis coba ulas secara eksploratif:
  1. Merasa Data Kita Diperjual Belikan: Mungkin di awal kita mendaftar kartu kredit A, tapi kenapa asuransi B, C sampai Z tahu kita menggunakan kartu kredit jenis apa dan no HP kita? Sebagai konsumen, kita tentu merasa "Saya apply kartu kredit Anda bukan buat tujuan data saya diperjual belikan". 
  2. Tidak Melihat Kognisi Target Konsumen: Komunikasi yang disampaikan para tele marketer kebanyakan default setting alias sama semua untuk semua orang yang mereka hubungi. Mereka seperti tidak mau paham apakah orang itu hanya menggunakan kartu kredit untuk membeli bahan baku dalam bisnis manufaktur-nya, kenapa ditawari voucher paket liburan yang dalam kebiasaan si konsumen tidak ada hal seperti itu.
  3. Agresif: Kebanyakan tele marketer masih bertujuan "belilah atau bertransaksilah" bukan menyampaikan value dari produk yang mereka tawarkan dan korelasi-nya dengan kebutuhan target konsumen.
  4. Fokus Pada Tujuan Satu Pihak (Si Tele Marketer) Saja: Ketika seorang tele marketer menginginkan si target konsumen menyimak penawarannya, dia akan memastikan kapan si target bisa dihubungi walaupun si target bilang sedang sibuk di berbagai waktu. Ibaratnya pekerjaan tele marketing seperti sedang dilakukan oleh para robot yang tidak bisa memahami sedang dalam kondisi apa si penerima telepon di seberang sana.
Dari empat poin di atas, nomor 1 menjadi poin yang dianggap paling mengganggu. Wajar saja, karena si target konsumen merasa tidak pernah memberikan informasi pribadinya pada perusahaan tempat si tele marketer bekerja. 
      Menurut penulis, esensi dari tele marketing sebenarnya lebih pada menjaga intensitas hubungan antara brand dengan target konsumennya. Dalam artian, si target yang dihubungi adalah pihak-pihak yang memang pernah memberikan informasi data pribadinya seperti no telepon maupun nomor KTP di saat mereka membeli/ mengkonsumsi atau hanya sekedar mencoba (as a tester) produk brand tersebut. Konsep tele marketing seperti ini (yang didapat tidak dengan memperjual belikan data konsumen), setidaknya akan lebih mengena karena si target konsumen akan di-recall mengenai pengalaman mereka mengkonsumsi brand yang ditawarkan si tele marketer.

Sumber Gambar:
http://www.amgmarketing.com.au/call-centers.php

Minggu, 06 Maret 2016

Apalah Arti Sebuah Nama (Merek) ?


Sebutkan apa yang ada dalam benak Anda ketika mendapat daftar informasi sebagai berikut:

  • Obat masuk angin
  • Sabun pencuci piring
  • Deterjen pakaian
Apakah Anda menjawab: Tolak Angin, Sunlight dan Rinso? Atau setidaknya daftar merek itu yang ada di benak penulis ketika mendapatkan daftar informasi tersebut di atas. Sekarang coba kita berandai-andai ketika kita sudah bertemu dan berkenalan dengan seseorang namun ketika bertemu kembali, orang tersebut tidak ingat dengan nama kita. Walaupun suasana tersebut akan menjadi an awkward moment, tidak ada salahnya bagi kita untuk kembali memperkenalkan diri, itulah yang disebut bagian dari fungsi marketing. 
     Bisa dibilang ini adalah sebuah kesuksesan ketika sebuah nama merek berada dalam top of mind audiens. David Aaker dalam buku Managing Brand Equity mendefinisikan nama merek sebagai indikator utama dari merek serta dasar bagi awareness pelanggan terhadap merek dan usaha komunikasi yang dilakukan perusahaan terhadap merek.
      Kevin Keller dalam buku Strategic Brand Management menjabarkan enam prosedur pembuatan nama merek perusahaan sbb:
  1. Define branding objectives. Tujuan merek harus memenuhi kriteria seperti: apakah namanya mudah dipahami? apakah sudah mencerminkan klasifikasi produk? apakah sudah koherens dengan logo? apakah sudah sah secara hukum dan hak cipta? Hal-hal tersebut menjadi penting karena harus dapat mendefinisikan makna dari merek yang akan diambil.
  2. Generating as many names and concept. Bagian ini adalah proses pengumpulan nama sebanyak mungkin dari berbagai sumber potensial seperti: karyawan, agensi iklan, konsumen, manajemen perusahaan dll.
  3. Name screening based on the branding and marketing objecives. Menyeleksi daftar nama yang telah dikumpulkan berdasarkan klasifikasi berikut: tidak bermakna ganda, mudah diucapkan, tidak melanggar hap cipta merek perusahaan lain, sesuai dengan positioning produk.
  4. Collecting more extensive information of screened names. Pada tahap ini perlu dicarikan data pendukung terhadap nama-nama yang terpilih pada tahap sebelumnya. Misal nama tersebut dalam berbagai bahasa Internasional tetap berasosiasi positif sesuai dengan ekspektasi dan value dari produk.
  5. Consumer research. Riset pasar dilakukan untuk mengkonfirmasi ekspektasi manajemen yang menginginkan nama yang mudah serta memiliki makna. Cara sederhana untuk tes pasar ini dengan menunjukkan produk ke konsumen (kemasa, manfaat, harga) sehingga konsumen dapat memahami nama merek.
  6. Name choosing that maximized the firm's branding. Tahap final adalah memilih nama yang tepat sesuai dengan tujuan pemasaran dan meningkatkan corporate branding. 
Sumber:
Aaker, D.A. Managing Brand Equity. Free Press: 1991
Keller, Kevin. Strategic Brand Management. Prentice Hall: 1998
Handayani, Desi., Andrizal, dkk. Brand Operation (The Official Markplus Institute of Marketing
        Academy Coursebook). Esensi - Erlangga Group: 2010

Sumber gambar:
http://www.seputarukm.com/ini-nih-tips-membuat-merek-bisnis-yang-baik/