Rabu, 02 Agustus 2017

Your Device Showing What You Do


Bicara soal pekerjaan, kini tidak hanya soal kantoran dan bukan kantoran melainkan ada lapangan, rumahan, dan kerja di manapun. Bicara soal jenis pekerjaan, tentu memerlukan perangkat pendukung. Dalam artikel ini, mari kita kulik perangkat komputer seperti apa yang mendukung berbagai jenis dan tipe pekerjaan saat ini.

Desk Centric
Ini yang istilahnya banyak orang sebut sebagai "kerja kantoran" yakni duduk di depan komputer. Tipe desk centric adalah jenis pekerjaan yang membutuhkan kecermatan mengamati data-data di depan si pekrja baik berupa data hardcopy yang bertumpuk di meja maupun soft copy di komputer. Tipe pekerjaan ini cocok menggunakan desktop PC maupun All In One PC.


Corridor Warrior
Kalau pembaca pernah mendengar istilah juggling with times alias jadwal yang padat merayap dalam pekerjaan seperti dalam satu jam meeting di gedung A, lalu sejam berikutnya pindah ke kantor B dan mengejar flight untuk meeting di kota lain. Tipikal corridor warrior membutuhkan perangkat komputer yang fleksinel dengan tampilan versatile seperti pola kerjanya. Jenis device atau perangkat yang bisa digunakan antara lain 2in1 Notebook.



On The Go Pro
Bekerja sambil travelling, siapa yang tidak suka? Buat pekerja yang punya passion di bidang ini, memastikan perangkat komputer yang mereka pakai memiliki daya tahan baterai yang awet adalah hal esensial. Untuk itu, memilih laptop atau notebook yang menggunakan prosesor M menjadi salah satu solusi yang terbaik bagi travel worker.



Remote

Ada sedikit perbedaan antara tipe pekerja On The Go Pro dan Remote, meskipun mereka sama-sama tidak bekerja di lingkungan kantor, seorang remote worker bisa kerja di mana saja tapi tidak harus dalam rangka travelling. Bisa saja dia kerja di rumah sambil mengurus anak. Memilih notebook berlayar lebar yang bisa digunakan menonton drama korea sebagai selingan saat lelah menangani pekerjaan jarak jauh menjadi hal yang menyenangkan baginya



Rugged
Jenis pekerjaan yang sangat spesifik, biasanya perangkat komputer rugged digunakan di kalangan militer. Tapi jenis perangkat rugged yang lain juga bisa untuk para gamer, pekerja desain arsitektur yang kerap membawa notebook mereka ke lokasi pembangunan dan sebagainya. Dari desain, tipe device rugged biasanya tampak kokoh selain didukung hardware berspesifikasi tinggi.

Memilih perangkat komputer yang sesuai dengan pekerjaan kita menjadi hal yang menyenangkan. Apalagi jika perangkat tersebut juga mampu mendefinisikan jiwa serta karakter kita: we will work with passion and style indeed.

Jumat, 23 Juni 2017

Gaya Personal Branding TKI Milenial

Anda suka traveling ke luar negeri? Menyenangkan memang menjadi pengunjung Negara lain yang berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan Negara tersebut. Sebagai konsumen alias wisatawan, tentu kita ingin menikmati dan memiliki pengalaman yang menyenangkan ketika traveling. Lalu bagaimana jika bekerja di luar negeri, seberapa banyak dari kita yang berminat? Salah satu milenial Indonesia yang profilnya kali ini akan dibahas adalah Anjas Asmara, pemuda asal Lampung yang bekerja sebagai dosen Bahasa Inggris di Thailand.

Mengawali karir di Yogyakarta sebagai presenter radio dan televisi lokal, Anjas yang saat itu masih berstatus mahasiswa Sastra Inggris di salah satu universitas swasta di Yogyakarta tampak enjoy untuk mendalami dunia broadcasting dan juga Bahasa Inggris. Karirnya di bidang penyiaran lanjut ke tingkat nasional dengan menjadi tim jurnalis di TV One dan Trans 7 milik Trans Corp selama lebih dari 2 tahun Sebagai milenial yang menyukai pola komunikasi dengan Bahasa Inggris, dalam perjalanannya Anjas melanjutkan studi master pendidikan Bahasa Inggris di Suranaree University of Technology (SUT) Thailand. Anjas menyelesaikan program master ini dalam waktu 1 tahun 9 bulan yang tercatat sebagai wisudawan Master tercepat di SUT.  Sebelum lulus dari pendidikan masternya itupun, Anjas telah menjadi dosen pengajar Bahasa Indonesia di SUT di tahun kedua perkuliahannya selama setahun.

Karena passion Anjas adalah mengajar Bahasa Inggris maka dia memutuskan untuk pindah mengajar ke kampus lain di Thailand. Kini Anjas berkarir sebagai dosen Bahasa Inggris di Mae Fah Luang University – Thailand. Upayanya dalam mencapai cita-citanya tersebut tidaklah mudah karena dia harus bersaing dengan puluhan calon dosen native speakers. Hal menarik yang disampaikannya ketika wawancara kerja adalah dengan memilihnya sebagai dosen Bahasa Inggris maka ikatan emosi untuk mengajak mahasiswa Thailand belajar Bahasa Inggris lebih kuat karena Anjas adalah non native speaker yang mencapai level pendidikan sampai master tersebut adalah dengan proses panjang dan proses inilah yang dapat dijadikan modalnya dalam memberikan motivasi kepada mahasiswa-nya kelak, berbeda dengan native speaker yang memang telah fasih berbahasa Inggris sejak dini.

Membawa Indonesia di Negara asing sesungguhnya juga merupakan bagian dari tanggung jawab Anjas selaku Tenaga Kerja Indonesia (TKI) apalagi ruang lingkup pekerjaannya di bidang edukasi. Ketika ditanya soal bagaimana caranya membentuk personal branding di kalangan Sumber Daya Manusia Thailand dan Asing lainnya, Anjas menyampaikan bahwa dia mencoba untuk bergaul seluas mungkin sesuai dengan minatnya yakni di dunia jurnalistik dan pariwisata. Anjas yang sempat menjadi Duta Pariwisata Yogyakarta dan Duta Bahasa Lampung juga membuka pergaulan dengan Duta Pariwisata dari Thailand yakni dengan alumnus Miss Universe Thailand 2013, Chalita Yaemwannang.

Nalurinya di dunia penyiaran dan public speaking-pun masih tetap disalurkan dengan kerap menjadi host atau MC berBahasa Inggris di tempat dia bekerja serta membuat vlog tentang travelling dan aktivitasnya sebagai dosen di Thailand melalui Youtube channel. Anjas menyampaikan bahwa Vlog yang dia buat mirip dengan CV karena semua berisi aktivitas profesionalnya. Vlog Anjas yang belum genap setahun-pun kini sudah ditonton oleh lebih dari 25.000 views. Tidak hanya itu, Anjas juga kerap mengirimkan video “jalan-jalannya" ke berbagai negara ke stasiun TV Nasional Indonesia, NET TV dalam program Citizen Journalism.

Meski awalnya Anjas belum mengetahui kalau apa yang dilakukannya adalah bentuk personal branding, setidaknya pola komunikasi yang dia sajikan selama menjadi TKI di Thailand memiliki kesesuaian dengan  teori yang dikemukakan oleh Peter Montoya yakni Personal Branding adalah sebuah seni dalam menarik dan memelihara lebih banyak klien dengan cara membentuk persepsi publik secara aktif (Montoya, 2002). Apabila diringkas langkah Anjas dalam melakukan personal branding sesuai teori Montoya, dilakukannya dengan 2 cara sebagai berikut:
  1.   Cross Culture Understanding - Anjas dengan bakatnya di bidang public speaking mempermudahnya membuka pergaulan dengan sharing antar budaya terhadap rekan-rekannya yang berasal tidak hanya dari Thailand tetapi juga dari Negara lain. Beberapa yang menjadi rekan Anjaspun adalah milenial yang berperan sebagai influencer bagi generasinya, seperti Miss Universe Thailand. Otomatis dalam aktivitas ini, Anjas dapat mengedukasi mereka tentang Indonesia. Dengan demikian rekan-rekannya yang berasal dari Negara lain tersebut dapat memiliki persepsi positif tentang Anjas dan Indonesia, di mana Anjas menjadi warga negaranya.
  2.     Publishing - Membuat vlog dan mengirimkan beberapa video liputan pribadinya ke TV Nasional Indonesia seperti NET TV adalah upaya Anjas dalam membentuk persistensi dirinya sebagai seorang dosen bahasa Inggris yang juga memiliki bakat di bidang jurnalistik serta pengetahuan wisata. Tidak hanya sekedar narsis khas milenial, setiap vlog dan video yang ditampilkan Anjas selalu memiliki unsur edukasi sesuai dengan ketertarikannya, bidang Bahasa Inggris dan pariwisata.
Pedoman penting yang dapat disampaikan di sini dalam menjalankan personal branding adalah adanya edukasi yang disampaikan secara konsisten kepada publik dan dilakukan pula publikasi untuk memperluas aspek pencitraan (branding) terhadap kompetensi personal yang dimiliki. Kesemua hal tersebut perlu berjalan secara komprehensif sebab personal branding tidak hanya soal eksistensi dan narsisme semata.

Sumber Video:

Sumber Pustaka:
Montoya, Peter. The Personal Branding Phenomenon. Vaughan Printing: 2002

Jumat, 05 Mei 2017

Swiss Cafe Ciptakan Citarasa 1001 Malam


Kuliner kini tidak hanya soal menikmati makanan. Dari pola gaya hidup yang berkembang membuat kuliner menjadi sarana untuk mengeksplorasi soal rasa, budaya dan tentu saja selera. Swiss Cafe yang berada di Swiss BelHotel Yogyakarta juga menggunakan kuliner sebagai materi yang mampu memberikan rasa yang membangkitkan selera sekaligus memberikan nuansa etnik budaya tertentu dalam tema sajiannya. Dengan demikian, Swiss Cafe rutin membuat program bulanan untuk pemasaran Food & Beverage-nya berupa Cultural Buffet dinner tematis yang tersedia setiap hari Rabu dan Sabtu. 


Pada Rabu, 3 Mei 2017 lalu, diluncurkanlah tema cultural dinner terbaru yakni Sahara - Middle East Food Festival. Diiringi dengan tari perut khas Timur Tengah sebagai pembuka, program yang diluncurkan oleh Dedik Abdillah selaku General Manager Swiss BelHotel Yogyakarta ini menawarkan berbagai menu khas Timur Tengah dalam sajian buffet. Nuansa hiburan yang dihadirkan serta aroma rempah khas masakan Timur Tengah membuat serasa berada dalam kisah 1001 malam ketika hadir di acara tersebut. Dari beberapa menu yang dimunculkan, ada beberapa yang bisa dibilang modifikasi dari menu yang sudah lebih banyak dikenal para penikmat kuliner hanya saja secara ciri khas tetap menonjolkan rempah-rempah khas timur tengah.

Kita mungkin sudah sangat familiar dengan potato wedges. Dalam versi Timur Tengah, khususnya Lebanon, dikenal Batata Harrah, yakni sejenis potato wedges yang memiliki aroma rempah lebih kuat dan rasa cenderung pedas. Selain itu, kalau kita biasa mengenal Nachos dari Mexico yang nikmat disantap dengan saus tomato salsa atau chili con carne, di Sahara - Middle East Food Festival terdapat Babaghanous, semacam "Arabic Nachos" yang disantap dengan cocolan saus eggplant (terong bakar yang dilembutkan menjadi saus). Selain kedua menu tersebut, terdapat berbagai jenis menu khas timur tengah yang kental dengan aroma rempah dan olahan daging domba-nya.

Konsep cultural buffet dinner yang tematis setiap bulan dari Swiss Cafe yang menjadi bagian dari Swiss BelHotel Jogja ini tentu saja turut menyemarakkan varian wisata kuliner di Yogyakarta. Hal ini juga memperlihatkan bahwa hotel kini tidak hanya sebagai tempat singgah para wisatawan untuk bermalam atau para pebisnis untuk meeting saja. Kini hotel juga menjadi bagian dari gaya hidup yang ikonik, tak terkecuali Swiss BelHotel Jogja sebagai salah satu hotel bintang lima yang hadir sebagai salah satu ikon baru kota Yogyakarta.

Rabu, 03 Mei 2017

Esensi Corporate Communication Bagi Sales & Marketing


Selama ini banyak sekali pembahasan yang menyampaikan strategi pengembangan sales atau pembuatan program marketing yang efektif bagi sebuah brand. Hal yang tidak bisa terlepas dari pengembangan strategi dalam sales & marketing bahkan seluruh departemen yang ada dalam sebuah perusahaan adalah peran corporate communication.

Bagi sebuah perusahaan, corporate communication berperan sebagai sarana yang menjembatani antara keinginan pemilik modal atau para pemegang saham dengan langkah-langkah strategis yang akan dijalankan oleh direktur serta para manager dalam perusahaan tersebut, tak terkecuali sales & marketing sebagai divisi yang menjadi ujung tombak keberlangsungan sebuah perusahaan. Ketika seorang investor menempatkan modalnya untuk sebuah pengembangan usaha, salah satu tujuan utamanya tentu adalah pengembangan modal usahanya tersebut. Dalam hal ini sales & marketing akan mengambil peran utama dalam hasil akhir yang diinginkan sang investor. 

Lalu bagaimana supaya alur menjadi seiring sejalan antara pola kinerja sales & marketing dengan output yang dicita-citakan investor? Hal mendasar yang patut disadari adalah pertama perlunya trust dari pihak investor bahwa tim yang dibentuk oleh direksi dan manager mampu bergerak progresif. Lalu yang kedua adalah di jajaran top manajemen perlu menghindari melakukan over promising ke investor seperti jaminan bahwa strategi yang dijalankannya akan growth dalam kurun waktu tertentu. Menempatkan target dengan optimis itu memang perlu tapi tetap diberikan SWOT analysis supaya tidak berujung pada over expectation dari si investor. 

Dua landasan alur komunikasi tersebut selanjutnya perlu dibuatkan cetak biru berupa langkah-langkah pengembangan strategi perusahaan terutama dalam ruang lingkup sales & marketing. Kemudian setelah alur kinerja mulai berjalan dan adanya trial and error, kita minimalkan kemungkinan fraud dengan membuat SOP (Standard Operational Procedure) jadi alur koordinasi sales & marketing dengan divisi terkait lainnya jelas dan mampu mengurangi conflict of interest antar departemen dalam perusahaan. 

Secara sederhana, peningkatan pencapaian perusahaan atas kinerja sales & marketing memang sangat dipengaruhi hasil kinerja yang terintegrasi dengan departemen lainnya. Dimulai dari trust dari pemodal dan jajaran top manajemen, pembentukan strategi corporate communication-lah yang diharapkan mampu mensinergikan cita-cita antar SDM dalam sebuah perusahaan. 

Sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/epublicist/8757719565

Senin, 03 April 2017

Sakanti: Adaptif Dengan Perkembangan Hotel di Yogyakarta


Destinasi mana saja yang menjadi tujuan utama para pelancong apabila ke Jogja? Malioboro bisa dipastikan akan banyak mendapat tempat teratas dalam daftar kunjungan mereka. Dengan demikian, persaingan industri ramah-tamah khususnya perhotelan di daerah Malioboro dan sekitar-nya pun menjadi sangat ketat. Hotel-hotel ini kemudian berlomba-lomba mempercantik diri, mengatur strategi dan meningkatkan pelayanannya demi kepuasan para tamu. Hal demikian pula yang dilakukan oleh Sakanti Malioboro Hotel – Yogyakarta.
Terletak di Jalan Gowongan Kidul No. 34 yang hanya berjarak satu kilometer dari Jalan Malioboro memang menjadi nilai strategis yang diharapkan kebanyakan para tamu serta pelancong. Hanya saja, jumlah hotel dengan rate serupa juga banyak sekali di daerah tersebut. Tak heran bila Sakanti juga harus “berbagi kue” dengan hotel-hotel lain yang bahkan banyak juga yang merupakan chain hotel management.
Geliat Sakanti dalam menghadapi persaingan mulai muncul pada tahun 2015. Saat itu hotel ini melakukan renovasi dengan menambah kamar dengan total jumlah 51 kamar. Selain itu, Sakanti juga mempercantik tampilan fasad hotel dan memperluas lahan parkir demi peningkatan kenyamanan tamu, tidak lupa tersedia pula swimming pool yang nyaman digunakan oleh dewasa maupun anak-anak. Atas konsep baru yang diusung Sakanti, hotel spesifikasi bintang 3 ini menawarkan rate yang affordable yakni terjangkau namun segala fasilitas kenyamanan dan kemewahan hotel berbintang tetap dapat dirasakan oleh para tamu kesayangannya.
Dalam menghadapi persaingan, memang setiap industri harus adaptif dengan perkembangan dan peka terhadap strategi para kompetitor. Hal inilah yang coba dieksplorasi oleh Sakanti Malioboro Hotel di tengah maraknya munculnya hotel-hotel baru di Yogyakarta.