Kamis, 01 November 2018

Beriklan Tanpa "Ngiklan" Via Native Advertising


Di dunia publikasi konvensional, tentu kita mengenal istilah advertorial.Yakni sebuah iklan yang terpampang di media cetak seperti surat kabar atau majalah dalam bentuk menyerupai sebuah artikel. Biasanya advertorial ini diberi tanda kolom khusus sebagai pembeda antara berita umum dengan berita iklan.

Kini, ketika perkembangan teknologi memunculkan new wave media sebagai wujud disrupsi dunia digital, advertorial hampir nyaris terlihat seperti benar-benar sebuah berita dalam sebuah portal online. Inilah yang oleh para ahli digital marketing sebut dengan Native Advertising.

Jika dalam advertorial media cetakkonvensional pembaca sudah diberi tanda bahwa materi tersebut berupa iklan, berbeda halnya dengan native advertising. Konsep iklan yang muncul sebagai artikel dalam portal berita online ini benar-benar menyuguhkan informasi yang erat hubungannya dengan insight maupun kebutuhan netizen (masyarakat) sehari-hari. Konten atau materi yang disuguhkan begitu mengalir informasinya hingga diberi klimaks berupa promosi brand yang berhubungan dengan konten berita atau informasi tersebut.

Salah satu contoh Native Advertising yang cukup unik adalah pembuatan microsite ceritatemanmakan.hipwee.com. Dalam kontennya, disampaikan tentang cerita unik soal hubungan pertemanan dari yang gemar makan bersama,hingga jadi sahabat atau bahkan jadi pacar. Semua ulasan informasi dan story telling yang disampaikan oleh microsite dari hipwee tersebut ternyata adalah untuk mempromosikan Bir Bintang Radler 0%.


Proses pengolahan sebuah Native Advertising, untuk mencapai minimal kepada awareness target audiens, secara ringkas meliputi beberapa hal sebagai berikut:
  1. Memilih media online berdasarkan segmentasi konsumen
  2. Menentukan grand issue yang akan digulirkan untuk menyentuh insight dari para target konsumen
  3. Mengklasifikan grand issue ke dalam beberapa sub tema konten yang relevan
  4. Membuat call-to-action supaya target konsumen dapat bertindak sesuai dengan yang diinginkan oleh brand yang sedang berpromosi tersebut.
Saat ini, sebagai PR & MarComm Consulting, Ardhi Widjaya & Co juga bertindak sebagai eksekutor content marketing untuk kebutuhan komunikasi brand klien di ranah digital melalui platform blog di website perusahaan milik para klien kami. Pola kerja ini merupakan hasil adaptasi perilaku konsumen yang sudah banyak "eksis" di dunia digital dan mencari segala sesuatu informasi yang dibutuhkannya melalui mbah Google.


Rabu, 26 September 2018

The Exquisite Brands Exposure at Crazy Rich Asians


Sering memang kita mengetahui iklan yang disisipkan dalam adegan film. Tapi rasanya akan menjadi hal yang mengganggu bila pemain dalam film tersebut menampilkan aktivitas atau dialog yang benar-benar seperti menunjukkan sebuah iklan, seperti membayar belanjaan dengan kartu kredit hingga di-zoom jenis kartu kredit yang digunakan. Saat menonton film Crazy Rich Asians yang muncul sejak akhir Agustus 2018 lalu, entah iklan atau tidak tapi beberapa brand ternama yang muncul dalam film ini begitu menarik perhatian penontonnya.

  1. Vogue. Secara explisit, majalah high end ini memang tidak dimunculkan dalam film Crazy Rich Asians. Tapi namanya disebut di dalam cerita film ini. Pada bagian pemotretan keluarga sepupu Nick Young yang bernama Eddie Chen. Pada scene tersebut, Eddie menggerutu dengan istrinya yang hanya mampu melobi majalah Vogue HongKong padahal dia ingin foto keluarganya terpampang di Vogue Amerika. Sebagai sebuah media cetak, Vogue yang lahir di Amerika Serikat pada tahun 1892. Dalam The New York Times edisi Desember 2006, digambarkan Vogue sebagai "majalah mode yang paling berpengaruh di dunia
  2. Richard Mille. Bagi yang bermata jeli, coba perhatikan ada satu scene ketika Eleanor Young yang diperankan Michelle Yeoh mengenakan jam tangan vintage Richard Mille seri Daytona Chronograph. Richard Mille sendiri terbilang brand jam tangan mewah yang usianya masih "muda" dibanding produk serupa yang berusia senior. Didirikan oleh Richard Mille pada tahun 1999, sebelumnya, pria kelahiran tahun 1951 yang lulusan ilmu marketing tersebut pernah bekerja di perusahaan jam tangan lokal bernama Finhor lalu tahun 1981 perusahaan tersebut dibeli oleh perusahaan jam bernama Matra. Saat Finhor diakuisisi Matra, Richard Mille dijadikan co-founder untuk menjalankan bisnis tersebut.
  3. Rolex. Konflik pemeran pembantu dari sudut Astrid Leong dan suaminya Michael, mampu menarik perhatian tersendiri bagi penonton film ini, terutama pesan moral soal komunikasi pasangan dalam rumah tangga. Tidak hanya itu, konon adegan Astrid memberi hadiah ke Michael berupa jam tangan Rolex MK15 Oyster Newman produksi tahun 60an membutuhkan energi extra dibalik layar. Perlu penjagaan ekstra untuk jam tangan seharga US$ 17.8 juta tersebut.
  4. Marchesa. Ingin tampil berkesan sebagai "a valuable bitch", seolah-olah hal itu yang ingin ditunjukan tokoh Rachel Chu saat mengenakan gaun rancangan Marchesa pada scene pernikahan Amintara & Collin. Marchesa sendiri juga merupakan rumah mode yang terbilang masih muda karena didirikan pada tahun 2004 oleh Georgina Chapman & Keren Craig. Tentu hal ini berkesan bagi Marchesa ketika sebagai ikon fashion high end yang terbilang muda, dia mampu bersanding dengan brand-brand high end senior lainnya di film ini seperti Ralph Lauren, Dior maupun Gucci.
  5. Malaysian Proud. Ini bukanlah nama sebuah brand, tapi berbagai sumber menyampaikan bahwa tokoh sentral "prince of charming" si Nick Young dalam film ini mengenakan berbagai setelan hasil rancangan desainer lokal Malaysia. Meski demikian tidak dapat dipungkiri, segala outfit yang dikenakan Nick terlihat dapper & stunning.

Konon Singapore Airlines menolak menjadi sponsor film ini karena dikhawatirkan Crazy Rich Asians menjadi film yang kurang diminati. Akhirnya adegan kabin mewah dalam penerbangan kelas pertama armada fiktif bernama "Pacific ASEAN Airlines" didesain oleh desainer produk muda dari Indonesia yang bernama Teddy Setiawan, sepatutnya kita juga turut berbangga mengetahui berita ini.


Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Vogue_(majalah)
https://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Mille
http://www.marchesa.com/about
https://www.msn.com/en-ph/entertainment/celebrity/7-things-you-didn’t-know-about-the-new-movie-crazy-rich-asians/ar-BBLTEnI
https://www.voaindonesia.com/a/karya-desain-teddy-setiawan-angkat-kemegahan-film-crazy-rich-asians/4572422.html

Minggu, 23 September 2018

Optimasi SDM Dengan Talent Acquisition


Kebanyakan dari kita sudah terbiasa dengan proses rekrutmen SDM. Mulai dari seleksi administratif dari CV, lalu front interview, psikotest, wawancara dengan user dan bila perlu ada medical check up. Ada hal lain yang perlu diperhatikan untuk mengeksplorasi SDM supaya kompetensinya dapat dimaksimalkan dalam menjalankan kinerjanya dalam perusahaan yakni dengan metode talent acquisition.

Metode talent acquisition berguna untuk memastikan si SDM tersebut cocok untuk bekerja pada sebuah perusahaan, tidak hanya dalam hal kompetensi tapi juga perilakunya yang senada dengan budaya perusahaan. Berikut adalah lima tahapan talent acquisition menurut eskill.com:

  1. Perencanaan dan Strategi. Menetapkan strategi talent acquisition yang solid membutuhkan banyak perencanaan. Tidak seperti perekrutan, perolehan SDM memerlukan pandangan yang lebih dalam pada sifat bisnis Anda dan pemahaman tentang kebutuhan kompetensi SDM di masa mendatang. 
  2. Employer Branding. Memastikan bahwa branding perusahaan Anda jelas dan menarik adalah elemen utama dalam talent acquisition. Ini melibatkan pengembangan citra positif dan budaya perusahaan, serta membangun reputasi yang baik berdasarkan produk dan layanan berkualitas. Branding yang solid menarik kandidat teratas sembari memberi mereka pandangan tentang bagaimana rasanya bekerja untuk perusahaan Anda.
  3. Segmentasi Jabatan. Pengambilan SDM bergantung pada pemahaman segmen pekerjaan/ jabatan yang berbeda di dalam perusahaan, serta posisi yang berbeda dalam segmen tersebut. Tidak hanya Anda membutuhkan pemahaman mendalam tentang pekerjaan internal perusahaan Anda, Anda juga harus mengetahui keterampilan, pengalaman, dan kompetensi yang dibutuhkan oleh masing-masing posisi/ jabatan tersebut.
  4. Klasifikasi Kompetensi. Kompetensi yang baik berasal dari berbagai latar belakang SDM. Melalui talent acquisition, Anda meneliti dan mengenali berbagai tempat di mana Anda dapat memperoleh kandidat. Setelah Anda menjalin kontak dengan kandidat potensial, Anda harus mempertahankan dan membangun hubungan tersebut. 
  5. Matriks & Analisis. Akhirnya, tidak ada strategi talent acquisition yang lengkap tanpa menggunakan matriks untuk melakukan pelacakan dan analisis yang tepat. Dengan mengumpulkan dan menganalisis informasi terkait, Anda dapat terus meningkatkan proses perekrutan Anda dan membuat keputusan perekrutan yang lebih baik, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas SDM hasil rekrutan Anda.

Senin, 10 September 2018

Eksplorasi SDM Milenial dengan Smart Class


Beberapa kali Ardhi Widjaya & Co pernah menemui ungkapan sebagian orang SDM yang menyampaikan ribetnya mengurusi SDM milenial. Saat pekerjaan ada SOP dan aturan, mereka merasa punya aturan sendiri, saat hasil kurang maksimal yang disalahkan instruksi yang kurang clear atau standardisasi manajemen yang menurutnya jauh dari ekspektasi si SDM milenial tersebut. Tidak jarang pula dari mereka yang menggunakan perusahaan sebagai ajang eksistensi semata "ini lho gue kerja di tempat famous which is banyak orang-orang keren kerja di sini". Giliran berhadapan dengan target, deadline dan aturan perusahaan mereka "keok". 

Meski demikian stereotype milenial, mereka juga memiliki energi yang tinggi dan ide yang cukup brilian untuk pengembangan perusahaan. Lalu, bagaimana caranya membuat mereka bisa "engage" dengan perusahaan termasuk dengan budaya dan aturan-aturannya? Salah satu cara menurut Ardhi Widjaya & Co, PR & MarComm consulting adalah bisa menggunakan metode smart class.

Inilah metode yang membuat mereka merasa bisa didengar, dilihat eksistensinya dan diketahui maunya (visinya) apa. Ajak mereka untuk membagi segala hal yang mereka ketahui dan menurut mereka, mereka cukup expert di bidang itu. Entah itu memotret, menulis konten, tips traveling hemat atau bahkan mengedit foto selfie terbaik dengan kamera "jahat" sekalipun. 

Biarkan mereka menyampaikan dengan gaya bahasa yang peer to peers meski mereka tidak hanya presentasi di hadapan rekan kerja sejawat tetapi juga di depan jajaran manajemen. Meskipun kadang materi yang disampaikannya tidak berhubungan langsung atau bahkan tidak ada hubungan sama sekali dengan pekerjaannya, setidaknya dengan merasa sudah "diakui kelebihannya" membuat mereka bisa lebih mau membaur dengan hal-hal hierarkis perusahaan.

Senin, 04 Juni 2018

Tantangan Public Relations Dalam Disrupsi Digital


Begitulah judul talkshow yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Komunikasi - Universitas Mercu Buana Yogyakarta di hotel Dafam Fortuna Seturan pada Minggu, 3 Juni 2018. Talkshow yang sekaligus digabung dengan acara buka puasa ini dihadiri sekitar enam puluh mahasiswa dan alumni FIKOM UMBY.

Tiga pembicara dihadirkan dalam kesempatan tersebut yakni Daru Wibowo selaku ketua Perhumas Yogyakarta, Khairul Anwar sebagai perwakilan H3Y (Himpunan Humas Yogyakarta sekaligus MarComm Manager Royal Ambarrukmo dan Ardhi Widjaya - Managing Partners Ardhi Widjaya & Co - PR & MarComm Consulting.

Daru Wibowo banyak memaparkan tentang perubahan perilaku sebelum dan sesudah disrupsi digital. Seperti contoh jaman dulu, penanda tempat makan yang enak adalah banyak kalendernya. Namun sekarang orang akan lebih banyak mempercayai ulasan di google, trip advisor maupun portal sejenis lainnya.

Khairul Anwar menjelaskan tentang pentingnya eksposisi visual baik fotografi maupun video sebagai sarana pemasaran brand di dunia digital. Beliau banyak menjelaskan contoh yang digunakan oleh Royal Ambarrukmo, Hotel Tentrem dan juga Hyatt Regency.

Untuk melengkapi ketiga pembicara, Ardhi Widjaya menyampaikan tentang cara pengiriman pesan kepada netizen melalui dunia digital. Hal tersebut dapat diupayakan dengan pembuatan konten blog dan caption social media yang menarik. Selain itu pemilihan influncer atau KOL (Key Opinion Leader) di social media selayaknya tidak hanya mempertimbangkan nominal subscriber atau follower-nya saja, tapi sejauh mana influencer tersebut memiliki engagement yang tinggi dengan para followernya.

Kristina Andriyani, M.Ikom selaku Kaprodi FIKOM UMBY menyampaikan bahwa talkshow ini adalah bagian dari eksplorasi kemampuan komunikasi mahasiswa dalam ruang lingkup Public Relations. Hal itu meliputi dari koordinasi dalam perancangan event, komunikasi relasi dengan vendor dan juga event management.