Rabu, 12 Desember 2018

Langkah Forriz Hotel, Sejalan Dengan Perkembangan Bisnis di Yogyakarta


Yogyakarta kini, selain masih kental dengan julukan kota pelajar dan budaya juga sudah berkembang menjadi kota bisnis. Majemuk-nya masyarakat yang tinggal maupun berkunjung di Jogja telah membuka banyak peluang potensi bisnis dan juga wisata, tak terkecuali industri ramah-tamah seperti perhotelan. Forriz hotel adalah salah satu bagian yang turut andil dalam merespon potensi bisnis di kota yang juga dikenal dengan kota sejuta kenangan.

Dimiliki oleh PT Forriz Sentral Gemilang, hotel yang terletak di Jln. HOS Cokroaminoto No. 60 Pakuncen, Yogyakarta ini hadir memenuhi permintaan pasar industri ramah-tamah di Yogyakarta mulai bulan Juni 2017 silam. Saat itu Forriz hotel melakukan soft opening pada tanggal 26 Juni 2017 guna merespon permintaan pasar pada momentum lebaran di tahun tersebut.

Sebagai hotel bisnis dengan peringkat bintang 3+, Forriz hotel memiliki fasilitas sebanyak 116 kamar dengan klasifikasi superior, deluxe dan suite. Untuk mendukung aktivitas bisnis,  disediakan ballroom yang sanggup menampung 500pax dan dua meeting room yang masing-masing berkapasitas 40 pax. Terdapat pula fasilitas seperti lounge, coffee shop dan swimming pool untuk mengakomodir social activity maupun kebugaran para tamu.

Sumardi selaku General Manager menyampaikan bahwa melalui konsep dan fasilitas hotel yang ditawarkan, Forriz hotel memiliki segmentasi pasar utama pada tiga tipe yakni corporate, government dan incentive. Dari sisi corporate, tamu-tamu banyak berasal dari perusahaan consumer goods, universities, perbankan, asuransi. Dari government tentu saja didominasi oleh instansi pemerintahan seperti kementrian, pemerintah daerah dan lain sebagainya. Sedangkan segmentasi incentive banyak berasal dari klien travel agent maupun event organizer.

Meski didominasi oleh segmentasi bisnis, bukan berarti Forriz hotel tidak menjangkau pasar personal atau keluarga. Oleh sebab itu kerjasama dengan OTA (Online Travel Agent) tetap dilakukan dalam bentuk promosi sewa kamar seperti dengan Traveloka, Pegi-Pegi maupun Agoda. Promosi untuk walk in guests juga rutin dimunculkan seperti free tambahan breakfast menjadi 6 pax untuk booking 2 kamar dan paket makan siang murah selama weekdays maupun BBQ nite saat weekend.

Banyaknya saran dari para pelanggan setia untuk menambah fasilitaspun telah memotivasi manajemen untuk berusaha meningkatkan peringkat Forriz hotel menjadi bintang empat. Melihat potensi pasar yang ada, ke depannya hotel yang dikembangkan selain Forriz ada di Kulonprogo yang akan berdekatan dengan New Yogyakarta International Airport.


Rabu, 21 November 2018

Diferensiasi Pelayanan Toko Oleh-Oleh Bakpia & Batik Wong Jogja


Memadukan bisnis dan potensi pariwisata sudah menjadi hal yang lumrah di Yogyakarta. Tentu saja persaingan dalam sektor ini cukup kuat, setiap pemilik brand yang berkorelasi dengan dunia pariwisata harus kreatif dalam menonjolkan diferensiasi maupun keunggulan produk serta layanannya. Demikian pula yang dilakukan Toko Oleh-Oleh Bakpia & Batik Wong Jogja yang mengusung konsep one stop shopping untuk pembelian oleh-oleh khas Yogyakarta.

Keunikan lain yang dimiliki Bakpia & Batik Wong Jogja dibanding toko oleh-oleh lainnya adalah pelayanan tim di lini depan yang memiliki standard hospitality service layaknya tim di industri perhotelan ataupun fine dining restaurant. Demi mempertahankan kualitas pelayanannya, pada Rabu, 14 November 2018, manajemen Bakpia & Batik Wong Jogja mempercayakan training pelayanan tim lini depannya kepada Ardhi Widjaya & Co - Public Relations & Marketing Communication Consulting. Tema yang disampaikan pada training tersebut adalah "Personal Branding in Excellence Service".

Personal branding adalah sebuah cara memasarkan diri atau imej kita secara individu. Sebenarnya konsep ini cukup mudah. Jika sebelumnya praktik "memasarkan diri dan karier" lebih berdasarkan pada teknik manajemen self-help improvement, personal branding adalah konsep yang lebih menekankan bahwa kesuksesan datang dari self-packaging. Dengan demikian, mengemas diri untuk memiliki performa semenarik mungkin melalui kompetensi, integritas dan tampilan luar akan memberikan dukungan dalam pembentukan personal branding yang baik.

Bila seorang perwakilan perusahaan mampu membangun personal branding yang mumpuni, maka hasil yang tampak adalah para klien atau konsumen akan merasa dilayani dengan optimal. Branding perusahaan-pun akan semakin naik, hal ini akan memudahkan tim yang berada di lini depan sebuah perusahaan seperti sales atau marketing akan lebih mudah mencapai targetnya berupa excellent service. Tentu saja dikarenakan branding yang baik membuat target pasar lebih mudah mendapatkan keyakinan bahwa produk yang ditawarkan perusahaan tersebut bagus dan layak dikonsumsi atau bahkan menjadi bagian dari gaya hidup mereka, sehingga konsumen bangga dan merekomendasikan produk kita kepada khalayak lainnya.

Dimulai dari diri sendiri, antar tim dalam sebuah perusahaan adalah penting membangun personal branding. Dengan melakukan personal branding, kepercayaan diri akan meningkat dan  tentunya bekerja menjadi lebih berbahagia. 


Kamis, 01 November 2018

Beriklan Tanpa "Ngiklan" Via Native Advertising


Di dunia publikasi konvensional, tentu kita mengenal istilah advertorial.Yakni sebuah iklan yang terpampang di media cetak seperti surat kabar atau majalah dalam bentuk menyerupai sebuah artikel. Biasanya advertorial ini diberi tanda kolom khusus sebagai pembeda antara berita umum dengan berita iklan.

Kini, ketika perkembangan teknologi memunculkan new wave media sebagai wujud disrupsi dunia digital, advertorial hampir nyaris terlihat seperti benar-benar sebuah berita dalam sebuah portal online. Inilah yang oleh para ahli digital marketing sebut dengan Native Advertising.

Jika dalam advertorial media cetakkonvensional pembaca sudah diberi tanda bahwa materi tersebut berupa iklan, berbeda halnya dengan native advertising. Konsep iklan yang muncul sebagai artikel dalam portal berita online ini benar-benar menyuguhkan informasi yang erat hubungannya dengan insight maupun kebutuhan netizen (masyarakat) sehari-hari. Konten atau materi yang disuguhkan begitu mengalir informasinya hingga diberi klimaks berupa promosi brand yang berhubungan dengan konten berita atau informasi tersebut.

Salah satu contoh Native Advertising yang cukup unik adalah pembuatan microsite ceritatemanmakan.hipwee.com. Dalam kontennya, disampaikan tentang cerita unik soal hubungan pertemanan dari yang gemar makan bersama,hingga jadi sahabat atau bahkan jadi pacar. Semua ulasan informasi dan story telling yang disampaikan oleh microsite dari hipwee tersebut ternyata adalah untuk mempromosikan Bir Bintang Radler 0%.


Proses pengolahan sebuah Native Advertising, untuk mencapai minimal kepada awareness target audiens, secara ringkas meliputi beberapa hal sebagai berikut:
  1. Memilih media online berdasarkan segmentasi konsumen
  2. Menentukan grand issue yang akan digulirkan untuk menyentuh insight dari para target konsumen
  3. Mengklasifikan grand issue ke dalam beberapa sub tema konten yang relevan
  4. Membuat call-to-action supaya target konsumen dapat bertindak sesuai dengan yang diinginkan oleh brand yang sedang berpromosi tersebut.
Saat ini, sebagai PR & MarComm Consulting, Ardhi Widjaya & Co juga bertindak sebagai eksekutor content marketing untuk kebutuhan komunikasi brand klien di ranah digital melalui platform blog di website perusahaan milik para klien kami. Pola kerja ini merupakan hasil adaptasi perilaku konsumen yang sudah banyak "eksis" di dunia digital dan mencari segala sesuatu informasi yang dibutuhkannya melalui mbah Google.


Rabu, 26 September 2018

The Exquisite Brands Exposure at Crazy Rich Asians


Sering memang kita mengetahui iklan yang disisipkan dalam adegan film. Tapi rasanya akan menjadi hal yang mengganggu bila pemain dalam film tersebut menampilkan aktivitas atau dialog yang benar-benar seperti menunjukkan sebuah iklan, seperti membayar belanjaan dengan kartu kredit hingga di-zoom jenis kartu kredit yang digunakan. Saat menonton film Crazy Rich Asians yang muncul sejak akhir Agustus 2018 lalu, entah iklan atau tidak tapi beberapa brand ternama yang muncul dalam film ini begitu menarik perhatian penontonnya.

  1. Vogue. Secara explisit, majalah high end ini memang tidak dimunculkan dalam film Crazy Rich Asians. Tapi namanya disebut di dalam cerita film ini. Pada bagian pemotretan keluarga sepupu Nick Young yang bernama Eddie Chen. Pada scene tersebut, Eddie menggerutu dengan istrinya yang hanya mampu melobi majalah Vogue HongKong padahal dia ingin foto keluarganya terpampang di Vogue Amerika. Sebagai sebuah media cetak, Vogue yang lahir di Amerika Serikat pada tahun 1892. Dalam The New York Times edisi Desember 2006, digambarkan Vogue sebagai "majalah mode yang paling berpengaruh di dunia
  2. Richard Mille. Bagi yang bermata jeli, coba perhatikan ada satu scene ketika Eleanor Young yang diperankan Michelle Yeoh mengenakan jam tangan vintage Richard Mille seri Daytona Chronograph. Richard Mille sendiri terbilang brand jam tangan mewah yang usianya masih "muda" dibanding produk serupa yang berusia senior. Didirikan oleh Richard Mille pada tahun 1999, sebelumnya, pria kelahiran tahun 1951 yang lulusan ilmu marketing tersebut pernah bekerja di perusahaan jam tangan lokal bernama Finhor lalu tahun 1981 perusahaan tersebut dibeli oleh perusahaan jam bernama Matra. Saat Finhor diakuisisi Matra, Richard Mille dijadikan co-founder untuk menjalankan bisnis tersebut.
  3. Rolex. Konflik pemeran pembantu dari sudut Astrid Leong dan suaminya Michael, mampu menarik perhatian tersendiri bagi penonton film ini, terutama pesan moral soal komunikasi pasangan dalam rumah tangga. Tidak hanya itu, konon adegan Astrid memberi hadiah ke Michael berupa jam tangan Rolex MK15 Oyster Newman produksi tahun 60an membutuhkan energi extra dibalik layar. Perlu penjagaan ekstra untuk jam tangan seharga US$ 17.8 juta tersebut.
  4. Marchesa. Ingin tampil berkesan sebagai "a valuable bitch", seolah-olah hal itu yang ingin ditunjukan tokoh Rachel Chu saat mengenakan gaun rancangan Marchesa pada scene pernikahan Amintara & Collin. Marchesa sendiri juga merupakan rumah mode yang terbilang masih muda karena didirikan pada tahun 2004 oleh Georgina Chapman & Keren Craig. Tentu hal ini berkesan bagi Marchesa ketika sebagai ikon fashion high end yang terbilang muda, dia mampu bersanding dengan brand-brand high end senior lainnya di film ini seperti Ralph Lauren, Dior maupun Gucci.
  5. Malaysian Proud. Ini bukanlah nama sebuah brand, tapi berbagai sumber menyampaikan bahwa tokoh sentral "prince of charming" si Nick Young dalam film ini mengenakan berbagai setelan hasil rancangan desainer lokal Malaysia. Meski demikian tidak dapat dipungkiri, segala outfit yang dikenakan Nick terlihat dapper & stunning.

Konon Singapore Airlines menolak menjadi sponsor film ini karena dikhawatirkan Crazy Rich Asians menjadi film yang kurang diminati. Akhirnya adegan kabin mewah dalam penerbangan kelas pertama armada fiktif bernama "Pacific ASEAN Airlines" didesain oleh desainer produk muda dari Indonesia yang bernama Teddy Setiawan, sepatutnya kita juga turut berbangga mengetahui berita ini.


Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Vogue_(majalah)
https://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Mille
http://www.marchesa.com/about
https://www.msn.com/en-ph/entertainment/celebrity/7-things-you-didn’t-know-about-the-new-movie-crazy-rich-asians/ar-BBLTEnI
https://www.voaindonesia.com/a/karya-desain-teddy-setiawan-angkat-kemegahan-film-crazy-rich-asians/4572422.html

Minggu, 23 September 2018

Optimasi SDM Dengan Talent Acquisition


Kebanyakan dari kita sudah terbiasa dengan proses rekrutmen SDM. Mulai dari seleksi administratif dari CV, lalu front interview, psikotest, wawancara dengan user dan bila perlu ada medical check up. Ada hal lain yang perlu diperhatikan untuk mengeksplorasi SDM supaya kompetensinya dapat dimaksimalkan dalam menjalankan kinerjanya dalam perusahaan yakni dengan metode talent acquisition.

Metode talent acquisition berguna untuk memastikan si SDM tersebut cocok untuk bekerja pada sebuah perusahaan, tidak hanya dalam hal kompetensi tapi juga perilakunya yang senada dengan budaya perusahaan. Berikut adalah lima tahapan talent acquisition menurut eskill.com:

  1. Perencanaan dan Strategi. Menetapkan strategi talent acquisition yang solid membutuhkan banyak perencanaan. Tidak seperti perekrutan, perolehan SDM memerlukan pandangan yang lebih dalam pada sifat bisnis Anda dan pemahaman tentang kebutuhan kompetensi SDM di masa mendatang. 
  2. Employer Branding. Memastikan bahwa branding perusahaan Anda jelas dan menarik adalah elemen utama dalam talent acquisition. Ini melibatkan pengembangan citra positif dan budaya perusahaan, serta membangun reputasi yang baik berdasarkan produk dan layanan berkualitas. Branding yang solid menarik kandidat teratas sembari memberi mereka pandangan tentang bagaimana rasanya bekerja untuk perusahaan Anda.
  3. Segmentasi Jabatan. Pengambilan SDM bergantung pada pemahaman segmen pekerjaan/ jabatan yang berbeda di dalam perusahaan, serta posisi yang berbeda dalam segmen tersebut. Tidak hanya Anda membutuhkan pemahaman mendalam tentang pekerjaan internal perusahaan Anda, Anda juga harus mengetahui keterampilan, pengalaman, dan kompetensi yang dibutuhkan oleh masing-masing posisi/ jabatan tersebut.
  4. Klasifikasi Kompetensi. Kompetensi yang baik berasal dari berbagai latar belakang SDM. Melalui talent acquisition, Anda meneliti dan mengenali berbagai tempat di mana Anda dapat memperoleh kandidat. Setelah Anda menjalin kontak dengan kandidat potensial, Anda harus mempertahankan dan membangun hubungan tersebut. 
  5. Matriks & Analisis. Akhirnya, tidak ada strategi talent acquisition yang lengkap tanpa menggunakan matriks untuk melakukan pelacakan dan analisis yang tepat. Dengan mengumpulkan dan menganalisis informasi terkait, Anda dapat terus meningkatkan proses perekrutan Anda dan membuat keputusan perekrutan yang lebih baik, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas SDM hasil rekrutan Anda.