Senin, 28 September 2009

Pemimpi(n)

sumber gambar - http://www.tembi.org/bothekan/2008-10-002.jpg


Seorang pemimpin pada setiap sektor, seharusnya memiliki level kecerdasan emosi yang lebih tinggi daripada bawahannya.
Apabila seorang pimpinan justru terpancing oleh emosi bawahannya yang meledak - ledak dan justru ditanggapi dengan lebih meledak - ledak lagi, kalo kayak gini mana bawahan, mana atasan, coba?.
.
Menurut gw, staf adalah aset berharga setiap perusahaan dimana naik turunnya profit akan sangat dipengaruhi oleh kinerja mereka.
.
Leader yang down to earth bukan berarti akan terlihat ngesot dan dijadikan mainan oleh staf mereka. Tapi leader seperti ini akan terlihat lebih elegan dan berusaha mengatur stafnya untuk bisa concern terhadap jobdesc mereka dan achieve atas target kinerja mereka sendiri tanpa adanya celoteh yg berkesan otoriter.
.
Secara signifikan berbeda dengan seorang leader yang masih redundant (rancu) dengan stereotype "kayak gimana sih seorang pemimpin?" Tipe pemimpin dadakan seperti ini akan mengira bahwa dengan muka garang dan komando penuh atas otoritasnya akan mampu menstimulasi kerja para bawahannya dan dihormati atas posisinya. Menurut gw, seorang leader harus sudah punya banyak triumph (tidak hanya victory points): kemenangan atas mengontrol emosi bawahannya karena emosinya sendiri sudah berada pada posisi proporsional sehingga mampu mengajak para staf tersebut untuk achieve terhadap target kinerja mereka masing - masing. THAT'S GONNA BE THE REAL TRIUMPH.

Senin, 07 September 2009

Choleric VS Megalomaniac


Aku mo nyoba menemukan sisi perbedaan antara orang koleris dengan megalomaniak, ya ini hanya berdasarkan pengamatan di sekitarku. Kalo ada lebih kurangnya, saran dari kamu semua aku tunggu, makasih.
Ciri2 orang koleris:
1. Ogah dikomando
Bagi orang koleris, menerima perintah adalah hal yang cukup menyebalkan. Kalo dia diperintah, sering dalam hatinya menggumam “Iya-iya, ga usah disuruh juga gue dah tau”. Tapi dalam dunia karir, tentang masalah ini, orang koleris cukup menyadari fungsi dan kedudukannya dalam sebuah institusi. So, dia cukup profesional. Tapi bukan berarti ketika dia jadi bawahan dia ga  pingin ngasi' perintah ke atasannya. Sang Koleris berusaha sesempurna mungkin untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ketika menghadapi pemimpin yang egois, dia akan merasa bisa membuktikan bakat kepemimpinannya ketika menemukan kesalahan atasan yang arogan.
2. Optimis
Bisa dibilang si koleris ini pemimpi juga. Dan dia juga optimis bahwa mimpinya itu akan dapat diwujudkannya. Prinsipnya; mimpi itu penting untuk berkembang. Tapi setelah mimpi dia harus bangun, cuci muka dan segera bertindak untuk mewujudkan mimpinya. (Kutipan dari Anggun C. Sasmi. red)
3. Faster thinker
Meski kadang agak gegabah dan srudak – sruduk, orang koleris paling cepat mengambil keputusan. Dan justru keputusan yg serba dadakan itu juga sering ditunggu oleh para relasinya yang plegmatis/ phlegmatic (anonim dari choleric.red).
4. 8 GB memory buat menyimpan kritikan
Kenapa aku bilang 8 Giga Byte memory buat nyimpan kritikan, soalnya orang koleris selalu menggunakan kritik yang dia dapet buat dijadiin cambuk biar dia tambah maju. Mungkin jadi terkesan pendendam, tapi dia hanya pingin buktiin ke orang yang udah ngritik bahwa “Ini lho gue bisa! Dan kritikan loe tuh ga kebukti!”
5. Inovatif
Walau sering mentok kalo lagi ga mood, tapi orang koleris tuh hampir ga pernah mati ide deh pokoknya. Dia selalu aja pengen nemuin n nyoba hal baru coz they're not afraid of challenge.
Kalo megalomaniak itu.....:
1. "Prinsip gue yg paling ideal" menurutnya
Itu landasan hidup seorang megalomaniak. Makanya dia suka ngatur-ngatur dan mengintervensi orang untuk jadi sosok seperti dia (karena menurutnya dia itu ideal begitu!red)
2. Suka nyalahin keadaan
Contoh buat kasus ini tuh misalnya dalam dunia kerja ketika dia ada pada posisi staf (wah kalo bos kayak gini, buang ke laut aja deh kayaknya he...he...he...red), misalnya komputer nge-hang trus ada rekan kerja lain tuh kan pada sibuk dengan urusannya sendiri – sendiri. Ketika ditanyain bos mana deadline pekerjaannya dia akan melakukan pembenaran dengan menyalahkan komputer yang nge-hang dan rekan kerja yang tidak mau bekerja sama.
3. Maunya menang sendiri
Masih dalam dunia kerja, contohnya kayak gini nih, misal lagi si megalomaniak ini sebagai staf. Trus ada rekan kerja lain yang menurutnya kerjanya ga ideal dan menurut dia juga manajemen kantor itu tidak sesuai dengan idealismenya, so, dari mulut sang Megaloman bisa sering muncul “Gue pinginnya kantor ini tuh punya sistem yang ...bla...bla...bla...” (Yee... Emang perusahaan moyang loe?!red)
4. Ga pernah merasa bersalah
Dia justru akan menyalahkan orang lain ato melempar kesalahan ketika dirinya diketahui guilty. Baginya:
Pasal 1 Gue ga pernah salah
Pasal 2 Gue salah kembali ke pasal 1 (Undang – undang dari mana yah?! red)
5. Ogah dikomando (juga)
Kalo ini udah jelas, magaloman tuh mana mau sih dikomando.
Kalo konklusi dari aku, orang megalomaniak itu pasti punya sisi koleris, tapi orang koleris belum tentu megalomaniak. Megaloman punya IQ yang tinggi tapi kurang ditunjang oleh kecerdasan lain. Bersifat Koleris akan lebih bagus bila diimbangi dengan karakter friendhopper dan juga pendalaman keimanan terhadap Tuhan tentunya. Orang Koleris yang berhasil menyeimbangkan IESQ-nya insya 4JJI hidupnya akan penuh warna dan makna.