Sabtu, 29 Januari 2011

Code: Sebuah Kampung Unik


Kali Code terlihat sangat bersih dengan rumah-rumah yang tertata rapi. Saat pertama Anda memasuki gapura kelurahan, di kanan jalan terdapat rumah panggung dengan beberapa sekat mirip rumah susun. Rumah inilah karya arsitektur pertama Romo Mangun yang dibangun tahun 1984. Rumah-rumah tersebut tidak boleh diklaim oleh siapapun. Yang boleh menempati rumah tersebut adalah warga Code yang benar-benar belum memiliki rumah atau bagi gelandangan (homeless) dengan biaya sangat murah, hanya Rp. 1.000,00 per bulan.

TikJi TikBeh = Mukti Siji Mukti Kabeh, Mati Siji Mati Kabeh...



Kata – kata tersebut di atas adalah slogan yang digunakan sebagai pondasi semangat kerjasama dan persaudaraan warga kampung code. Penerapan slogan tersebut sebagai contoh terlihat pada saat perayaan Hari Raya Idul Fitri ketika ada pembagian zakat maka semua warga akan mendapatkan zakat tanpa membedakan suku dan agama orang tersebut.

Saat ini untuk pendatang baru sudah tidak bisa diterima karena masalah kepadatan. Tiap awal bulan slalu ada evaluasi yang berhubungan dengan pembangunan kampung. Acara evaluasi ini diselenggarakan di balai serbaguna yang bisa berfungsi untuk pernikahan, sunatan, rapat, arisan, dll.

Mata pencaharian mayoritas: pemulung, tukang becak, PRT, ada yg punya usaha sendiri, usaha kecil spt kios ban, servis elektronik. Sekarang usia anak – anak sekolah sudah tidak ada yang drop out bahkan sudah ada yang kuliah (4 orang mahasiswa).

Agama di kampung ini 50% muslim dan 50% non muslim. Sejak 2008 struktur kampung seksi kerohanian dihapuskan oleh Pak Darsam (RT baru), beliau berasal dari Tuban Jawa Timur, alumni FKIP UNY, yang menempati kampung tersebut sejak 20 tahun silam. Penghapusan seksi itu dirasa utk menghormati antar umat beragama (menjadi kewenangan individu masing – masing).

Untuk pembangunan kampung, biasanya ada sumbangan dari tamu. Terbaru mendapatkan restorasi dengan dana dari Perancis (2009). Pengalaman dulu ketika Romo Mangun masih ada, setiap ada tamu biasanya ada sumbangan. Maka mental yang disebut mental kere tersebut sempat berbenturan dengan masyarakat luar yang akan berkunjung ke kampung itu entah untuk penelitian mahasiswa, bisnis atau apapun. Stereotype yang muncul adalah “berharap” pemasukan dana dari kedatangan tamu.

Namun bagaimanapun juga perkembangan sudah cukup signifikan karena sekarang sudah tidak ada lagi penduduk setempat yang bekerja sebagai karyawan “bank” (bank-jo atau lampu abang ijo). Mantan pengemis yang sudah tinggal 3 – 4 orang tersebut kini sudah pensiun melakukan pekerjaan sebagai peminta – minta dikarenakan faktor usia selain karena faktor perubahan pola pikir. Sedangkan interaksi dengan masyarakat di sekitar kampung tersebut, biasanya melalui acara yang bergabung dengan masyarakat luar seperti acara Ultah kodya dengan masyarakat kelurahan kotabaru seperti panggung hiburan dan pertunjukan wayang semalam suntuk.

Kampung Code menyediakan berbagai fasilitas yang memudahkan orang luar untuk menikmatinya. Beberapa rumah warga Kampung Code disewakan untuk pengunjung yang ingin menginap dengan harga sewa yang cukup terjangkau. Hal ini membantu tujuan seseorang untuk meneliti kehidupan sosial masyarakat di Kampung Code, karena dengan begitu peneliti dapat bersosialisasi secara langsung dengan warga yang diteliti.

Tidak ada komentar: