Langsung ke konten utama

Motivasi "Plastic" Pembentuk Mental Masokis Bangsa



Saya memang sempat menjadi narrow minded dengan kata masokis yang sepemahaman saya hanya sebatas gangguan psikologis dalam hal seksualitas. Namun secara filsafat, masokis tidak hanya sebatas itu meski tetap mengacu pada merasa nyaman dan nikmat dengan mendramatisasi penderitaan diri.
     Sebuah hal yang lucu menurut saya ketika melihat rekan saya menanggapi tayangan Jika Aku Menjadi sebagai sebuah tayangan yang memotivasi. Sungguh, bagian mana yang memotivasi coba? Apakah kita rela dan tega melihat nenek-nenek tua memanggul batu di atas kepalanya tapi justru diatur oleh script, disyuting dan dipertontonkan dihadapan jutaan warga negara Indonesia demi profit yang berlipat-lipat? Tidak ada yang bisa dijadikan cerminan di sini kecuali ketika kejadian tersebut kita lihat secara fakta di alam nyata disekitar kita, bukan dari dunia virtual yaitu televisi. no real reality show shown in TVs.
    Tergelitik juga dengan sebuah tayangan dialog motivasi di sebuah TV swasta yang terkenal dengan "salam super"-nya itu ketika saya mulai merasa kurang "sreg" dengan cara tersenyum si motivator yang berkesan terlalu dibuat jaim itu. Fenomena menjual motivasi menurut saya lebih berorientasi pada menjual imej. Makin banyak orang yang merasa hidupnya perlu "dukungan" seorang motivator, makin larislah seorang motivator itu, dalam hal ini seolah-olah atmosfer yang ingin dimunculkan adalah "kultuskan aku".
    Tidak hanya itu saja tayangan motivasi di televisi, ada banyak memang meski tidak sebanyak sinetron. Even if many people consider that "sinetron" are not educating TV shows, such kind of these motivation shows are neither for me. Kenapa saya bisa menganalogikan seperti itu? Kita lihat sekarang siapa-siapa yang ada di balik dunia media khususnya pertelevisian di Indonesia? Kalau kita telusur satu persatu, muncullah nama-nama tokoh yang berpengaruh dalam dunia politik di negeri ini yang mungkin adalah orang yang Anda benci dan sering mengkritisinya, tapi tanpa disadari, kita mencintai produknya: tayangan dialog motivasi yang ada di dalam konglomerasi usahanya yaitu TV swasta. Mau tidak mau, secara langsung kita sudah memperkaya si tokoh politik yang kita benci itu, rating acara naik, iklan banyak masuk, profit membumbung, kita terdogma dengan acara itu untuk tetap bergantung dengan kata-kata motivasi orang lain yang kita anggap hebat namun kita tetap membenci politikus pemilik TV itu.
     Ironis, lagipula si politikus tidak peduli kita membenci mereka atau tidak? profit dan kapitalisasi adalah poin utama yang ingin mereka raih. Dan dengan banyaknya profit yang masuk, politikus ini akan makin mudah memperlebar konglomerasi usahanya ke bentuk-bentuk perusahaan kapital yang menguasai pasar di negara ini. Uang berbicara dan menentukan kekuasaan, itulah mengapa kasus korupsi tidak pernah ada yang dituntaskan. Tapi kita ada di sini, selalu sebal dengan tindakan pemerintah yang pasif tapi cenderung sok sibuk tapi tetap menikmati tayangan televisi dan selalu mensugesti diri (baca: menipu diri sendiri) "saya luar biasa hari ini" dan menjadi tidak luar biasa ketika tidak menonton atau mengikuti kata-kata super si motivator secara rutin. For me it's fake, it's plastic!





Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOCIAL JUDGMENT THEORY OLEH MUZAFER SHERIF

Apa yang muncul dalam benak Anda ketika mendapatkan tawaran kredit 0% dari sebuah produk kartu kredit? Bisa macam – macam, mulai dari muncul pertanyaan “Do I need this?”, nanti kalau terlambat pembayaran bunganya akan membumbung, kok bisa bunga 0%? Ah jadi curiga sama banknya nih, bagus dan menarik (sekedar pernyataan begitu saja) atau malah “Aku mau!”. Dari beberapa frasa tersebut, mana yang menurut Anda paling sesuai dengan diri Anda? Dengan begitu, dapat diketahui mengenai Teori Penilaian Sosial (Social Judgment Theory) yang muncul dari perspektif Anda tentang kredit bunga 0% kartu kredit tersebut. Social Judgment Theory (selanjutnya disebut SJT) dipopulerkan oleh Muzafer Sherif, seorang psikolog yang berasosiasi dengan Oklahoma University (meninggal 16 Oktober 1988). Teori ini berarti sebuah penilaian atau pertimbangan atas pesan yang diterima dengan membandingkannya terhadap isu terkini. EGO LATITUDES: ACCEPTANCE, REJECTION & NON COMMITMENT Ungkapan – ungkapan

Segmentation & Consumer Behavior

Masih relevankah saat ini kalau kita membuat segmentasi pasar berdasar Social Economic Strata (SES) saja? Seperti menengah ke atas dan menengah ke bawah. Bagi penulis, saat ini meski secara finansial memiliki kemampuan daya beli namun belum tentu bisa dikategorikan segmentasi pasar yang dituju oleh sebuah merk. Berdasar pengalaman menjalani konsultasi di beberapa klien, perilaku konsumen atau consumer behavior menjadi hal kuat yang melandasi terbentuknya segmentasi pasar. Dalam artikel ini, konsep consumer behavior sendiri akan dibahas tidak hanya sebatas proses si konsumen dari mulai mengenal, memilih hingga memutuskan mengkonsumsi suatu produk melainkan perilaku yang menjadi kebiasaannya dalam menjalankan aktivitasnya dan berhubungan dengan suatu produk yang sedang berupaya menentukan segmentasi pasarnya.  Seperti yang terjadi di ranah pemasaran online yakni e-commerce. Untuk produk yang dijual di portal e-commerce bisa jadi sama antara portal satu dengan yang lainnya. N

Apalah Arti Sebuah Nama (Merek) ?

Sebutkan apa yang ada dalam benak Anda ketika mendapat daftar informasi sebagai berikut: Obat masuk angin Sabun pencuci piring Deterjen pakaian Apakah Anda menjawab: Tolak Angin, Sunlight dan Rinso? Atau setidaknya daftar merek itu yang ada di benak penulis ketika mendapatkan daftar informasi tersebut di atas. Sekarang coba kita berandai-andai ketika kita sudah bertemu dan berkenalan dengan seseorang namun ketika bertemu kembali, orang tersebut tidak ingat dengan nama kita. Walaupun suasana tersebut akan menjadi an awkward moment,  tidak ada salahnya bagi kita untuk kembali memperkenalkan diri, itulah yang disebut bagian dari fungsi marketing.       Bisa dibilang ini adalah sebuah kesuksesan ketika sebuah nama merek berada dalam top of mind audiens. David Aaker dalam buku Managing Brand Equity mendefinisikan nama merek sebagai indikator utama dari merek serta dasar bagi awareness pelanggan terhadap merek dan usaha komunikasi yang dilakukan perusahaan terhadap merek.