Jumat, 29 April 2011

dari Palapa ke Cakrawarta


Beberapa dekade yang lampau, Indonesia memiliki kekuatan dalam teknologi komunikasi dengan memiliki satelit palapa. Satelit tersebut waktu itu dimanfaatkan oleh beberapa Negara lain di Asia Tenggara untuk memperlancar arus komunikasi melalui teknologi di Negara mereka dengan cara menyewa ke Indonesia. Apakah fenomena tersebut masih berlaku sampai sekarang? Sepertinya pembaca sudah mampu menjawab bahwa tentu tidak.

Teknologi berkembang begitu pesat termasuk teknologi komunikasi. Penyedia satelit justru menjadi usaha yang saat ini bersaing secara kompetitif. Hampir semua Negara di dunia ini telah memiliki satelit sendiri untuk kemudahan akses komunikasi penduduk Negara tersebut. Palapa adalah satelit yang bersejarah di Indonesia karena sempat dimanfaatkan aksesnya se-Asia Tenggara, mirip dengan perjuangan Patih Gajah Mada yang bersumpah palapa untuk dapat menyatukan nusantara (Asia Tenggara). Lalu, bagaimana perkembangan satelit teknologi komunikasi di Indonesia setelah Negara-negara di Asia Tenggara memiliki satelit sendiri?

Banyak perkembangan-perkembangan baru setelah diluncurkannya Satelit Palapa C1 & C2 beberapa tahun yang lalu. Seperti misalnya ditaburkannya satelit komunikasi di atas langit Indonesia oleh perusahaan-perusahaan asing di mana banyak pengusaha Indonesia terlibat dalam kepemilikan saham di dalamnya, di antaranya adalah PT. Bakri Communication Corporation pada Irridium Project, sebuah proyek telepon satelit dunia untuk memecahkan masalah blank spot pada telepon selular biasa, AMPS atau GSM. Indosat pun masuk menjadi salah satu pemodal pada konsorsium ICO Global Communication (ICO-GC), sebuah telepon satelit setelah Irridium.

Pada November 2007, PT. Media Citra Indostar telah meluncurkan satelit Cakrawarta-1 untuk menggantikan kerja Satelit Palapa C2 dalam mengudarakan siaran Indovision. Dengan satelit ini Indovision kelak akan menyelenggarakan layanan yang bisa disebut layanan interaktif, karena akan tersedia antara lain layanan teleconference, Video on Demand (VoD), home shopping, home banking dan komunikasi data (internet). Ada dua perusahaan multimedia baru lainnya yang segera akan beroperasi dengan jaringan kabel serat optik, yaitu PT Indonusa Telemedia dan Multimedia Nusantara.  Perusahaan-perusahaan multimedia lainnya adalah: PT Multi Media Asia Indonesia, PT Yasawirya Tama Cipta. Sehingga Indonesia boleh disebut sekarang telah memasuki era industri multimedia.

 Mengenai multimedia, publik kebanyakan masih berpersepsi bahwa multimedia merupakan sarana teknologi yang diolah melalui computer (PC) untuk menghasilkan bentuk audio visual seperti DVD, mini DV, VCD dan lainnya. Sesungguhnya, Multimedia merupakan perpaduan teknologi informasi (misalnya komputer) dengan teknologi komunikasi (misalnya jaringan kabel coaxial atau satelit). Kalau dipisahkan berdasarkan etimologi kata multimedia terdiri dari multi dan media. Multi berarti beragam, sedangkan Media berarti sarana penyampaian informasi.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa jasa penyedia satelit saat ini dijadikan ajang bisnis, terlihat bahwa masyarakat Indonesia begitu antusias dengan perkembangan teknologi komunikasi. Evidens mengenai perkembangan ini, di Indonesia dapat ditunjukkan dengan diminatinya penggunaan 3G pada telepon seluler dan banyaknya penggunaan akses fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh BlackBerry.

Jumat, 22 April 2011

Level Hierarki Makna Dalam Kehidupan Eksekutif



Dinamika kehidupan eksekutif atau kaum intelektualitas pekerja setiap harinya dituntut untuk mampu memberikan informasi dan menyerap informasi secara efektif. Teori untuk mencapai pemahaman tersebut adalah Coordinated Management of Meaning (CMM), atau dalam bahasa Indonesia hal ini disebut Manajemen Koordinasi Makna.

Setiap orang membentuk makna atas setiap komunikasi atau interaksi yang dibentuk dengan orang lain tidak terlepas dari beberapa tingkatan level hierarki yang nantinya menjadi satu kesatuan dengan CMM (Manajemen Koordinasi Makna) itu sendiri. Tingkatan level hierarki itu sendiri antara lain: Isi, Tindak Tutur, Episode, Hubungan (kontrak), Naskah Kehidupan (autobiografi) serta Pola Budaya. Pada dasarnya level hierarki ini bukanlah aturan secara berurutan, karena yang terpenting adalah makna yang didapatkan pada tiap-tiap hierarki makna tersebut. Berikut, penulis akan mengeksplorasi contoh pada masing-masing hierarki makna dalam kehidupan kantoran yang dialami penulis sehari-hari.

Hierarki makna –Isi, merupakan langkah awal ketika data mentah dikonversikan menjadi makna. Selama beberapa kali pindah tempat bekerja, penulis merasakan berada pada level “isi” ketika menjadi calon karyawan baru; HRD melihat data berdasarkan dari CV dan mengolah makna apakah penulis cocok bekerja di perusahaan tersebut atau tidak.

Ketika sudah diterima menjadi karyawan dan perkenalan mulai dilakukan dengan karyawan lain, ada interaksi lain dalam ruang lingkup kehidupan kantoran tersebut seperti mendelegasikan atau didelegasikan sebuah pekerjaan, meminta bantuan rekan kerja, mengkritisi sebuah ide di rapat dan lain. Inilah yang disebut hierarki makna – Tindak Tutur.

Banyak interaksi selanjutnya akan muncul dalam kehidupan relasi di kantor, seperti negosiasi lintas departemen, munculnya conflict of interest, semuanya berawal dari level hierarki makna “Episode” yaitu segala tindak tutur yang memiliki awal.

Level hierarki makna berikutnya adalah Hubungan. Hubungan dapat dikatakan seperti kontrak, di mana terdapat tuntutan dalam berperilaku. Level hubungan menyatakan bahwa batasan-batasan hubungan dalam parameter tersebut diciptakan untuk tindakan dan perilaku. Interaksi dalam relasi kantor di level hierarki ini, sering penulis lihat antara peran manajer/ supervisor kepada bawahannya yang kadang bisa bertindak sebagai teman yang menampung keluh kesah bawahan dalam menghadapi pekerjaan mereka, namun juga harus tegas memberikan instruksi dan mendelegasikan pekerjaan.

Orang yang sudah punya pengalaman pekerjaan, biasanya akan menggunakan system kinerja yang positif di tempat kerja yang lama dan dikoordinasikan bersama tim di tempat kerja yang baru sebagai alternatif penyelesaian pekerjaan. Pola seperti itu juga masuk dalam level hierarki makna yang disebut dengan Naskah Kehidupan (autobiografi). Penjelasan dari hierarki makna ini adalah kelompok-kelompok episode masa lalu dan masa kini yang menciptakan suatu sistem makna yang dapat dikelola bersama dengan orang lain.

Kita kemungkinan juga sering mendengar tentang corporate culture yaitu pola budaya yang dibentuk oleh sebuah perusahaan untuk mencitrakan perusahaan tersebut di mata masyarakat. Dan level hierarki makna Pola Budaya ini tentu saja terbentuk secara integrasi dari level-level hierarki makna yang lain tersebut di atas dalam suatu ruang lingkup perusahaan.

Selasa, 12 April 2011

25/8


Dalam hitungan waktu secara normal, kita biasa mengenal 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Namun, kehidupan menjadi berbeda manakala komunikasi berada dalam tools yang sangat mutakhir sehingga memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan banyak orang dalam waktu singkat dan efektif. Hal tersebut tak terkecuali untuk memicu kita sebagai manusia untuk terpaku pada sarana mutakhir teknologi komunikasi tersebut yang seolah-olah mengorientasikan kita untuk selalu dekat dengannya selama 25/8 atau seolah-olah 25 jam sehari dan 8 hari selama seminggu karena intensitas yang begitu tinggi untuk dekat dengan alat-alat tersebut.     
     Sebut saja smartphone seperti blackberry, windowsphone, Android phone yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi yang merujuk pada arti etimologi-nya saja yaitu “phone”. Saat ini telepon genggam semacam itu sudah bertransformasi sebagai sarana berkomunitas dan juga bekerja yang memudahkan akses komunikasi penggunanya dengan banyak pengguna sarana yang sama di area yang jauh jaraknya dalam waktu relatif singkat.     
     BBM atau Blackberry Messenger misalnya, melalui chat group di BBM, kita dapat menyebarkan satu pesan kepada seluruh anggota di grup tersebut. Ketika digunakan untuk agenda meeting dengan kolega hal tersebut lebih fungsional daripada sekedar SMS broadcast karena dapat difungsikan sekalian untuk conference chat.     
     Lalu bagaimana ketika kebutuhan tidak hanya sekedar berbincang-bincang melalui chat atau conference room? Ketika seorang pengguna telepon seluler dengan akses internet mulai membutuhkan membaca data yang dilampirkan melalui email, akhirnya muncul juga Windowsphone sehingga memudahkan penggunanya untuk menerima email kemudian membaca data yang berformat office. Sedangkan keberadaan telepon seluler dengan perangkat lunak Android merupakan alternative yang kompetitif di pasar smartphone.    
     Lelucon yang saat ini sering dilontarkan oleh kebanyakan orang yang sudah berbaur dengan teknologi komunikasi mutakhir adalah “HP semacam nyawa kedua” karena memang banyak hal semacam berinteraksi baik secara kasual atau secara resmi dalam lingkup pekerjaan banyak terbantu oleh hasil teknologi komunikasi bertajuk telepon seluler pintar ini.