Senin, 05 November 2012

Etika Public Relation Dalam Penerapan CSR



            Anne Gregory menyampaikan: dinamis, bergerak cepat dan selalu berkembang dalam tindakannya adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan Public Relations di Abad 21. Dinamisme dalam era saat ini seharusnya dijalankan seorang Public Relation dengan terus berinovasi untuk tujuan kesuksesan komunikasi perusahaan terhadap masyarakat.
            Perlu disadari bahwa Public Relation menjadi unsur kunci bagi setiap program Corporate Social Responsibility (CSR). Karena CSR menjadi bagian krusial dalam menjaga keberlangsungan interaksi antara perusahaan dengan masyarakat maka konsistensi etika PR dalam menjalankan pekerjaannya menjadi sangat penting.
            Peran PR untuk memegang teguh etika begitu krusial karena sebagai kalangan profesional yang punya keahlian khusus, PR memiliki kekuasaan besar dalam membuat keputusan yang mempengaruhi setiap aspek masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan kode etik PR yang disahkan oleh Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Indonesia dalam pasal berikut:
Pasal 1 Komitmen Pribadi
Anggota Perhumas harus :
a)      Memiliki dan menerapkan standar moral serta reputasi setinggi mungkin dalam menjalankan profesi kehumasan;
b)      Berperan secara nyata dan sungguh-sungguh dalan upaya memasyarakatkan kepentingan Indonesia;
c)      Menumbuhkan dan mengembangkan hubungan antarwarga Negara Indonesia yang serasi dan selaras demi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa.
Oleh sebab itu, ketika dalam menjalankan program CSR perusahaan, seorang PR harus berorientasi pada menjaga moralitas pribadinya demi menjaga reputasi perusahaan dan dengan konsisten menjaga hubungan antar masyarakat dengan perusahaan (sustainable).
            Sebagai contoh dalam praktik kegiatan tersebut misalkan PR membuat program CSR berupa aktivitas “Go Green” berarti dari proses hulu hingga hilir seorang PR harus mampu mendampingi dan mengarahkan masyarakat untuk menjalankan program tersebut dengan bantuan publikasi media. Misalkan mulai dari melibatkan masyarakat melakukan kegiatan penanaman bibit pohon, konservasi keberadaan lahan hijau supaya tidak dirusak pihak-pihak yang beritikad buruk, pengawasan terhadap keberlangsungan bibit pohon yang di tanam, dan seterusnya. Dalam hal ini dimaksudkan supaya hubungan antara perusahaan dan masyarakat tidak hanya berhenti sampai pada penanaman bibit pohon saja. Karena ada tanggung jawab bersama dengan dibentuk ikatan antara perusahaan dengan masyarakat melalui peran PR. Hal ini sesuai dengan segi positif PR yang bertanggung jawab secara sosial “PR memenuhi tanggung jawab sosialnya untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dengan membantu sistem sosial beradaptasi dengan perubahan dan lingkungan”.
            Praktik tersebut kiranya harus dijaga segi positifnya dengan senantiasa berada di jalur kode etik PR. Sebab dalam praktik-nya dapat muncul kemungkinan segi negatif seperti: PR mendapat keuntungan karena mempromosikan dan mendukung kepentingan khusus, terkadang dengan mengorbankan kesejahteraan publik. Tampak dalam hal ini, integritas dari seorang PR menjadi sangat penting seperti ungkapan Alan Smith “Public Relation yang baik adalah pemikiran bisnis yang baik”.
           

Referensi:
Gregory, Anne, et.al. Public Relations Dalam Praktik. 2004. Penerbit Erlangga: Jakarta
http://biasta.files.wordpress.com/2008/10/kode-etik-humas.pdf

2 komentar:

m-fahrin mengatakan...

mantap gan, thank infonya telah berbagi share, jd nambah ilmu,he

Ardhi Widjaya mengatakan...

Sama2, thx juga sudah mampir, sukses selalu yaa