Selasa, 11 Desember 2012

CIMB Niaga For The Young & Restless




            Ada sisi unik dari bank bernama CIMB ini yang membuat penulis tergelitik untuk menulis artikel tentang tools Integrated Marketing Communication yang digunakannya. Penulis mulai menjadi nasabah bank ini tahun 2011 lalu ketika pindah kerja di sebuah instansi kesehatan dan mengharuskan karyawan memiliki rekening CIMB Niaga untuk transfer payroll gaji.
            Awalnya penulis merasa terpaksa untuk membuka rekening di bank ini karena harus menuruti aturan perusahaan tempat penulis bekerja saat itu. Namun kini bahkan ketika penulis sudah tidak bekerja di perusahaan yang dulu mengharuskannya memiliki rekening CIMB Niaga, justru penulis mempertahankan rekening tersebut dan merasa nyaman untuk bertransaksi via produk layanan CIMB Niaga.
            Seiring jalannya waktu, penulis semakin merasa memiliki chemistry dengan produk perbankan ini. Oleh sebab itu, penulis mendeskripsikan CIMB Niaga sebagai produk perbankan bagi orang yang berjiwa young and restless yaitu muda dan gigih. Kenapa penulis bisa mendeskripsikan CIMB Niaga seperti itu? Hal tersebut dinilai dari cara komunikasi CIMB Niaga terhadap target pasarnya.
            Bila pembaca termasuk kategori orang yang gemar nonton di bioskop, pasti sering melihat iklan produk Go Mobile dari CIMB Niaga di Studio 21 dan Cinema XXI berikut ini:

            Dalam iklan tersebut digambarkan seorang perempuan muda yang sekaligus sutradara film sedang syuting film di suatu daerah terpencil. Sedangkan di kota, adiknya yang merasa tidak mencukupi waktunya untuk ke atm melakukan transfer uang akhirnya menghubungi kakaknya si perempuan muda itu untuk melakukan transfer via go mobile. Karakter perempuan muda dalam iklan tersebut menggambarkan sosok jiwa yang muda, dinamis, penuh aktivitas dan high connected karena di pra-sarana-i oleh keberadaan gadget.
            Iklan CIMB Niaga sebelum pemutaran film dimulai di teater bioskop Studio 21 dan Cinema XI tersebut, diintegrasikan dengan program loyalty member berupa gratis pop corn setiap pembelian tiket film di Studio 21 dan Cinema XXI dengan menggunakan kartu debit CIMB Niaga. Dalam benak penulis, sepertinya CIMB Niaga cukup matang memikirkan konsep ini, produk perbankan ini seolah-olah menyadari bahwa karakter segmen pasarnya yang young and restless ini menyukai acara nonton di bioskop untuk mengisi waktu luang di tengah-tengah kesibukan mereka.

Program gratis pop corn bagi pemegang kartu debit CIMB Niaga saat ini masih terlihat berlaku di Cinema XXI Jln Urip Sumoharjo Jogja.
            Sebagai bagian dari mengintegrasikan fitur produk Go Mobile dengan pergerakan serta dinamika target pasarnya maka CIMB Niaga bekerja sama dengan Air Asia membuat bundling program: Air Asia Savers yaitu pembelian tiket pesawatt Air Asia dengan harga khusus bagi pemegang kartu debit CIMB Niaga dan pembelian dilakukan melalui fitur layanan internet banking CIMB Clicks. Dengan demikian, CIMB Niaga seperti menyampaikan pada nasabahnya bahwa “kami ngerti lho Anda suka mobile kemana-mana, nah dengan CIMB Niaga Air Asia Savers, Anda bisa travelling hemat kemana saja plus nikmati kemudahan bertransaksi di mana saja dan kapan saja dengan fitur layanan Go Mobile”.
            Sebagai sebuah produk perbankan, CIMB Niaga juga menawarkan gaya hidup untuk jiwa-jiwa yang merasa young and restless itu tadi supaya berani berinvestasi melalui reksadana. Sebelumnya, CIMB Niaga cukup dianggap kredibel sebagai bank kustodian investasi reksadana setelah bank BCA. Berbekal “nama” itulah akhirnya CIMB Niaga membuat produk investasi reksadana sendiri dengan investasi awal hanya Rp 100.000.

            Dari beberapa tools Integrated Marketing Communication, yang digunakan CIMB Niaga adalah berupa: iklan seperti yang ditampilkan sebelum pemutaran film bioskop; Public Relation seperti pembuatan press conference dan juga mengaktifkan loyalty program terhadap nasabah dan Internet sebagai tools andalan CIMB Niaga dalam mempromosikan produknya. Kemungkinan CIMB Niaga juga menggunakan tools lain dalam aktivitas IMC-nya. Namun memang tiga tools tersebut tampak mendominasi dalam penilaian penulis.

Tidak ada komentar: