Rabu, 06 November 2013

Dibalik Krisis Toyota Tahun 2010

Toyota yang dikenal sebagai raksasa perusahaan otomotif dari jepang-pun ternyata pernah mengalami krisis pada tahun 2010. Diawali dengan ditariknya 3,8juta unit mobil Toyota di Amerika Serikat pada September 2009 menyusul ratusan ribu unit lainnya di negara-negara lain seperti Timur Tengah, Amerika Latin dan Afrika. Amerika Serikat menjadi Negara yang pertama dengan jumlah penarikan unit mobil Toyota terbesar dikarenakan Kementrian Transportasi AS telah menerima sekitar 100 laporan mengenai kecelakaan akibat pedal gas yang terblokir. 17 laporan diantaranya berakhir dengan kecelakaan di mana 5 orang tewas. Namun pada akhirnya Toyota mulai bernafas lega, sistem elektronik pedal gas mobil yang diproduksinya terbukti tidak bermasalah. Teknisi badan antariksa NASA memeriksa kemudian meloloskan mobil Jepang itu usai inspeksi yang berlangsung selama 10 bulan. Masalah gas pedal Toyota disorot khusus, karena sejumlah orang mengalami kecelakaan, bahkan tewas, setelah mobil yang dikendarai semakin cepat meluncur akibat pedal-gas yang tak bisa dikontrol. 
            Meski penelitian pada akhirnya membuktikan bahwa tidak ada kesalahan produksi dalam mobil Toyota, namun pemberitaan miring mengenai perusahaan ini bergulir dengan cepat. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh cara penyampaian pihak Toyota ke publik melalui media yang berkesan kurang ramah, seperti yang dicantumkan pada website resminya sebagai berikut:

            Opini publik yang muncul ketika membaca klarifikasi tersebut adalah pihak Toyota seolah-olah seperti lepas tanggung jawab dan menyerahkan penanganan komplain kepada dealer. Di sisi lain, ternyata rilis pernyataan tersebut ke website maupun media adalah dalam rangka publikasi upaya penanganan krisis yang dialami oleh Toyota. Mengapa demikian sebab ternyata, CEO Toyota waktu itu yang bernama Akio Toyoda, mengunjungi sendiri dealer-dealer di negara-negara yang tercantum di atas dan memastikan penarikan mobil Toyota dalam jumlah besar baik yang dianggap bermasalah maupun tidak. Kunjungan CEO Toyota tersebut tentu saja untuk mengarahkan pihak dealer supaya turut membantu penanganan komplain atau memberikan klarifikasi atas isu yang menerpa Toyota saat itu.
            Krisis yang terjadi pada Toyota di tahun 2010 menjadi momen titik balik yang dapat membuat sesuatu tambah baik atau tambah buruk. Membangun citra Toyota yang menurun sangat sulit, karena mereka merupakan perusahaan yang sudah bertahun-tahun mendapat kepercayaan fanatik masyarakat. Tanpa dipungkiri isu krisis yang dialami Toyota tersebut juga berimbas pada Toyota Indonesia. Langkah Toyota Indonesia dalam membangun citra yang sempat terpuruk adalah dengan membuat iklan Toyota besar-besaran serta memberikan layanan call center 24 jam dalam 7 hari, gratis ganti oli terhadap mobil Toyota, dan memberikan diskon khusus bagi pengguna innova untuk makan gratis di food court di supermarket besar yang sudah bekerja sama dengan Toyota.

Daftar Pustaka
Rosady Ruslan, S.H.,M.M. 2006. Etika Kehumasan (Konsepsi dan Aplikasi). PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
http://blog.tempointeraktif.com/ekonomi-bisnis/memulihkan-merek/
http://maverick.co.id/pr-communications/2010/02/toyota-crisis-management-not-a-good-example/





Tidak ada komentar: