Sabtu, 08 Maret 2014

The Passion of Walking Walking


Exposure yang terlihat di social media milik Endah Iswantie memang tampak menggiurkan yakni sering jalan-jalan murah ke luar negeri. Semua orang pasti ingin bisa mendapatkan kesempatan seperti Endah tapi tidak banyak yang bersedia atau memiliki passion untuk “berdarah-darah” mencari peluang tiket promo atau tur ke luar negeri tersebut, apalagi hingga mengembangkannya menjadi sebuah bisnis. Klasik seperti pepatah bilang, semuanya berawal dari mimpi, itu pula yang dialami Endah bersama bisnis di bidang jalan-jalan ini. Tentu saja mimpi tidak akan mudah terwujud apabila tidak ada ketekunan dan hal inilah yang fokus dijalankan Endah.
             Berawal dari rasa “ingin seperti” sahabatnya yang bisa ke Singapura gratis di tahun 2008, Endahpun merasa yakin suatu saat pasti bisa seperti dia. Endah juga tahu kalau apa yang diraih sahabatnya itu bukanlah hal yang instan karena si sahabat sudah berhasil mengembangkan bisnis jaringan (MLM) yang ditekuninya.
           Tahun 2009, Endah mulai “menggila” dengan hunting tiket promo Air Asia. Saat itu Endah masih bekerja sebagai tim desainer grafis di sebuah media surat kabar Nasional kantor redaksi Yogyakarta. Berhubung tidak mempunyai kartu kredit, Endah sempat iseng mencoba hold tiket promo Jogja-Singapura PP seharga Rp 400.000 dengan no seri kartu debitnya dan ternyata bisa. Namun untuk pembayaran, Endah akhirnya mendapatkan pinjaman kartu kredit kerabatnya.
               
The First Travel Mates

Jalan-jalan ke luar negeri bisa jadi kurang seru tanpa hadirnya teman. Walau sempat terkendala tidak ada teman di Jogja yang mau diajak jalan-jalan murah ke Singapura tersebut, Endah tidak kekurangan akal. Dia buat thread di Kaskus untuk mencari Travel Mates. Di thread Kaskus itulah Endah menemukan 2 Travel Mates pertamanya, cowok-cowok dari Jakarta. Mereka melakukan meeting point di Orchard Road dan di situlah petualangan mereka dimulai. Tidak hanya di Singapura saja. Endah bersama 2 travel mates-nya juga jalan-jalan ke Malaysia. Untuk menghemat akomodasi. Mereka melakukan perjalanan malam sehingga menjadikan bus sebagai tempat menginap. Setelah itu Endah rutin berburu tiket promo, bahkan pernah dia mendapatkan penerbangan Jogja-Bali hanya senilai Rp 30.000.



Jasa Titip Beli
                Endah lalu berpikir, kalau dia bisa membuat dirinya jalan-jalan ke luar negeri dengan biaya murah, kenapa dia tidak membuat orang lain bisa mendapatkan hal itu? Endah menyadari banyak orang yang ingin liburan murah ke luar negeri tapi tidak terlalu giat dalam “berjuang” mencari tiket promo seperti yang Endah lakukan. Maka tahun 2010 Endah mulai menawarkan jasa “titip beli” tiket promo ke luar negeri dengan fee sukarela dari teman-teman dan kerabatnya. Makin lama makin banyak yang berminat “titip beli” ke Endah.
          Naluri bisnis Endah kemudian jalan seiring dengan peluang “titip beli” tersebut. Berdasarkan banyaknya tenaga, pikiran ekstra serta konsentrasi yang harus dijaga untuk berburu tiket promo, Endah kemudian meyakinkan dirinya bahwa hal ini harus dikembangkan secara bisnis dan bukan hanya sekedar urusan pertemanan. Rata-rata, tiket promo dirilis oleh armada penerbangan mulai jam sebelas malam, maka benar-benar harus ada harga yang “dibayar” untuk perburuan itu. Masih di tahun 2010, Endah lalu menerapkan standard fee untuk tiket promo yang dia jual. Fee tersebut nominalnya variatif tergantung jenis promo yang didapat oleh kliennya. Dalam perkembangannya, pernah hanya dalam kurun waktu kurang dari dua minggu, Endah mendapatkan keuntungan sekitar tiga juta rupiah dari dua puluhan transaksi tiket promo.

Social Media Sebagai Pilihan Untuk Promo
                Bisnis yang dijalankan Endah ini memang cocok menggunakan sarana social media untuk promo, Endah awalnya menggunakan Facebook reguler (bukan fanpage). Pemilihan friend list-pun mulai dijalankan dengan me-add orang-orang yang sering komentar di Facebook milik maskapai-maskapai penerbangan. Tidak sulit untuk dilakukan dan Facebook bisnis ticketing Endah mulai banyak mendapatkan teman serta peminat.

Walking Walking Travel Organizer
            
          Karena banyak yang ingin ikut merasakan pengalaman jalan-jalan ke luar negeri seperti yang dirasakan Endah, mulailah bermunculan orang-orang yang ingin liburannya di-arrange oleh Endah. Endah-pun tidak sembarangan mengambil peluang, dia harus meyakinkan dulu bahwa dia memang fasih untuk menjadi travel organizer. Tidak lama kemudian, Endah melakukan trial sebagai travel organizer dengan cara mencari vendor jasa perjalanan wisata di tahun 2012. Upaya Endah membuahkan hasil karena uji coba pertamanya ke Bangkok-Pattaya terbilang sukses, semua vendor yang dipilih Endah ternyata layak dipercaya. Kebetulan di tahun 2012 ini, Endah yang semula bekerja di divisi desain grafis, mulai memberanikan diri pindah ke divisi marketing iklan di media surat kabar Nasional tersebut. Dengan demikian, Endah semakin antusias untuk eksis sebagai seorang marketer. Kini bersama temannya, Walking Walking Travel Organizer siap untuk berkompetisi sebagai bagian dari start up di posisi Travel Directory & Organizer, pembaca bisa klik link berikut >> www.walking2.me
            Selama Walking-Walking Travel Organizer ini berdiri, Endah sudah beberapa kali membawa kliennya keliling Asia, tidak hanya Singapura saja, tetapi juga sampai ke Thailand, Hongkong dan Korea. Keuntungan yang didapat Endah adalah bisa jalan-jalan gratis bersama kliennya.


Risiko dan How to Handle
                Selama ini belum ada risiko yang signifikan dari bisnis yang dijalankan Endah ini. Namun bukan berarti tanpa kendala, Endah juga pernah tertipu oleh pelanggannya yang semula pembayaran lancar namun kemudian macet dan “menghilang”. Belajar dari hal tersebut, Endah tetap menerapkan sistem booking fee sebelum rilis tiket baik terhadap pelanggan lama maupun pelanggan baru.

Mengedukasi Pelanggan
                Sudah sering Endah mendapatkan pelanggan yang sangat ingin ke luar negeri tapi khawatir dengan beberapa hal seperti kendala bahasa serta kurs mata uang. Endah menyebutnya kalau masih takut hanya karena bahasa dan kurs rupiah yang rendah dibanding mata uang negara tersebut itu tandanya orang tersebut masih belum bisa move on. “Bagaimanapun juga untuk mendapatkan liburan murah juga perlu perjuangan, kita sendirilah yang bisa membuatnya menjadi begitu menyenangkan” kata Endah.

Keliling Asia tidak membuat Endah cukup puas. Berburu tiket murah terus dijalankan secara rutin. Tahun 2014 ini di bulan Juli, Endah beruntung mendapatkan tiket PP ke Paris hanya sebesar tujuh juta rupiah. Nah, siapa yang ingin menjadi travel mates Endah untuk “Walking Walking” di Paris Summer Holiday?


Pic Source: FB Endah Iswantie

Tidak ada komentar: