Langsung ke konten utama

Pelanggan Adalah (Bukan) Raja


Bisa dikatakan, analogi "pelanggan adalah raja" is so last season. Menjadi seorang marketer, saat ini tidak harus melulu memperlakukan customer-nya sebagai raja. Ada hal esensial lain guna menjaga hubungan dengan customer dalam jangka panjang yakni dengan menjadikan pelanggan atau customer sebagai partner atau mitra. 
     "Pelanggan adalah raja" lebih menggambarkan bahwa keinginan pelanggan adalah prioritas utama. Ibarat seorang raja, maka permintaan pelanggan adalah absolut. Dalam dunia marketing terkini, proses interaksi tersebut sudah tidak terlalu valid untuk dijalankan. Dengan mengajak pelanggan menjadi mitra atau partner lebih membuat ikatan jangka panjang dalam interaksi hubungan bisnis di antara marketer dengan pelanggannya. 
     Menjadi mitra bagi sebuah brand/ produk berarti pelanggan merasa menjadi bagian dari brand itu, dia ingin "mitra"nya ini selalu bersahabat dengannya, ketika ditemukan kekurangan maka si pelanggan akan memberikan saran demi peningkatan kualitas si produk tersebut. Dengan demikian, ketika seorang marketer memiliki mindset bahwa pelanggan adalah mitra, di saat pelanggan memberi komplein maka seorang marketer akan menanggapi hal tersebut sebagai saran si mitra demi pengembangan brand yang diampu si marketer. Beda ketika anggapan masih kepada pelanggan adalah raja, respon pelanggan terhadap sebuah brand hanya akan menjadi baik atau jelek saja. Hal ini menyebabkan kurangnya informasi komprehensif untuk pengembangan sebuah brand atau produk dalam strategi pemasarannya.
    Terlebih lagi, dunia bisnis dan marketing adalah dunia yang borderless, kasus jual beli seringkali bergerak dinamis. Sehingga bisa jadi kadang satu pihak menjadi pemasar bagi pihak lainnya yang bertindak sebagai konsumen dan di kasus lain kondisi menjadi berkebalikan. Dengan demikian hubungan sebagai mitra dan mitra akan lebih nyaman untuk kerjasama jangka panjang daripada hubungan antara raja dan hamba (pemasar).

Komentar

Fandhy Achmad R mengatakan…
terkadang pembeli memang bukan seperti raja -_-
Fandhy Achmad R mengatakan…
terkadang pembeli memang bukan seperti raja -_-
Unknown mengatakan…
Halooo, Kak! Yuk, ikutan Lomba Blog "Terios 7 Wonders, Borneo Wild Adventure".
Tiga blogger terbaik akan diajak menjelajah Kalimantan dan berkesempatan mendapatkan grand prize, Macbook Pro.
Info selengkapnya: http://log.viva.co.id/terios7wonders2015

Jangan sampai ketinggalan, ya!

Postingan populer dari blog ini

SOCIAL JUDGMENT THEORY OLEH MUZAFER SHERIF

Apa yang muncul dalam benak Anda ketika mendapatkan tawaran kredit 0% dari sebuah produk kartu kredit? Bisa macam – macam, mulai dari muncul pertanyaan “Do I need this?”, nanti kalau terlambat pembayaran bunganya akan membumbung, kok bisa bunga 0%? Ah jadi curiga sama banknya nih, bagus dan menarik (sekedar pernyataan begitu saja) atau malah “Aku mau!”. Dari beberapa frasa tersebut, mana yang menurut Anda paling sesuai dengan diri Anda? Dengan begitu, dapat diketahui mengenai Teori Penilaian Sosial (Social Judgment Theory) yang muncul dari perspektif Anda tentang kredit bunga 0% kartu kredit tersebut. Social Judgment Theory (selanjutnya disebut SJT) dipopulerkan oleh Muzafer Sherif, seorang psikolog yang berasosiasi dengan Oklahoma University (meninggal 16 Oktober 1988). Teori ini berarti sebuah penilaian atau pertimbangan atas pesan yang diterima dengan membandingkannya terhadap isu terkini. EGO LATITUDES: ACCEPTANCE, REJECTION & NON COMMITMENT Ungkapan – ungkapan

Segmentation & Consumer Behavior

Masih relevankah saat ini kalau kita membuat segmentasi pasar berdasar Social Economic Strata (SES) saja? Seperti menengah ke atas dan menengah ke bawah. Bagi penulis, saat ini meski secara finansial memiliki kemampuan daya beli namun belum tentu bisa dikategorikan segmentasi pasar yang dituju oleh sebuah merk. Berdasar pengalaman menjalani konsultasi di beberapa klien, perilaku konsumen atau consumer behavior menjadi hal kuat yang melandasi terbentuknya segmentasi pasar. Dalam artikel ini, konsep consumer behavior sendiri akan dibahas tidak hanya sebatas proses si konsumen dari mulai mengenal, memilih hingga memutuskan mengkonsumsi suatu produk melainkan perilaku yang menjadi kebiasaannya dalam menjalankan aktivitasnya dan berhubungan dengan suatu produk yang sedang berupaya menentukan segmentasi pasarnya.  Seperti yang terjadi di ranah pemasaran online yakni e-commerce. Untuk produk yang dijual di portal e-commerce bisa jadi sama antara portal satu dengan yang lainnya. N

Apalah Arti Sebuah Nama (Merek) ?

Sebutkan apa yang ada dalam benak Anda ketika mendapat daftar informasi sebagai berikut: Obat masuk angin Sabun pencuci piring Deterjen pakaian Apakah Anda menjawab: Tolak Angin, Sunlight dan Rinso? Atau setidaknya daftar merek itu yang ada di benak penulis ketika mendapatkan daftar informasi tersebut di atas. Sekarang coba kita berandai-andai ketika kita sudah bertemu dan berkenalan dengan seseorang namun ketika bertemu kembali, orang tersebut tidak ingat dengan nama kita. Walaupun suasana tersebut akan menjadi an awkward moment,  tidak ada salahnya bagi kita untuk kembali memperkenalkan diri, itulah yang disebut bagian dari fungsi marketing.       Bisa dibilang ini adalah sebuah kesuksesan ketika sebuah nama merek berada dalam top of mind audiens. David Aaker dalam buku Managing Brand Equity mendefinisikan nama merek sebagai indikator utama dari merek serta dasar bagi awareness pelanggan terhadap merek dan usaha komunikasi yang dilakukan perusahaan terhadap merek.