Langsung ke konten utama

Segmentation & Consumer Behavior


Masih relevankah saat ini kalau kita membuat segmentasi pasar berdasar Social Economic Strata (SES) saja? Seperti menengah ke atas dan menengah ke bawah. Bagi penulis, saat ini meski secara finansial memiliki kemampuan daya beli namun belum tentu bisa dikategorikan segmentasi pasar yang dituju oleh sebuah merk. Berdasar pengalaman menjalani konsultasi di beberapa klien, perilaku konsumen atau consumer behavior menjadi hal kuat yang melandasi terbentuknya segmentasi pasar.

Dalam artikel ini, konsep consumer behavior sendiri akan dibahas tidak hanya sebatas proses si konsumen dari mulai mengenal, memilih hingga memutuskan mengkonsumsi suatu produk melainkan perilaku yang menjadi kebiasaannya dalam menjalankan aktivitasnya dan berhubungan dengan suatu produk yang sedang berupaya menentukan segmentasi pasarnya. 

Seperti yang terjadi di ranah pemasaran online yakni e-commerce. Untuk produk yang dijual di portal e-commerce bisa jadi sama antara portal satu dengan yang lainnya. Namun, setiap portal e-commerce memiliki segmentasi yang berbeda-beda. Seperti elevenia dan mataharimall.com yang secara tampilan akan lebih menarik target pasar yang menyukai belanja fashion sembari mencari produk lain. Sedangkan Lazada dan Tokopedia cukup memiliki citra sebagai perwakilan e-commerce terpercaya untuk konsumen yang berniat  belanja produk elektronik serta belanja produk lain sebagai pilihan sekunder.

Membahas soal Lazada dan Tokopedia, entah dapat dibilang apple to apple atau bukan karena Lazada adalah perusahaan multinasional sedangkan Tokopedia adalah portal e-commerce dalam negeri, yang akan disampaikan di sini lebih kepada cara memperlakukan segmentasi pasar mereka. Tokopedia yang memiliki orientasi target pasar dalam negeri terlihat sejak awal berusaha cukup memahami segmentasi pasarnya yang punya kebiasaan "tanya-tanya" pada pembeli secara langsung. Sedangkan Lazada baru saja di awal 2017 ini merilis fitur kirim pesan kepada penjual, sebelumnya pertanyaan ditangani oleh customer service Lazada yang terkadang belum seakurat si penjual langsung dalam memberikan jawaban. Dengan adanya fitur kirim pesan ke penjual yang mulai disajikan oleh Lazada (Indonesia) tersebut, terlihat bahwa dia juga tidak ingin kehilangan segmentasi pasar yang memiliki perilaku "suka tanya-tanya" pada penjual langsung.

Bagi pebisnis start up, layaknya bisa menilik dari apa yang dilakukan perusahaan besar seperti Lazada maupun Tokopedia dalam menentukan segmentasi pasarnya. Dengan berusaha memahami perilaku konsumen yang disesuaikan dengan konsep produk kita maka akan lebih mudah untuk menemukan segmentasi pasar dan menjadi ceruk potensial bagi bisnis kita.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Bercerita Leonie, Tako & Ruth Lewat Cupcakestory

  Pepatah lama pernah mengatakan “say it with flower!” Tapi sekarang, tiga ibu kreatif bernama Leonie, Ruth dan Tako dapat mengganti pepatah tersebut dengan “say it with cupcake!” Sebab produk cupcake dengan brand Cupcakestory yang mereka kreasikan memang menyajikan kue dalam wadah kecil – cup – yang dihiasi dekorasi penuh cerita sesuai dengan keinginan pemesannya, dikemas secara personal. Lalu, bagaimana usaha unik ini terbentuk dan apa latar belakang ketiga perempuan ini? Berawal dari Leonie, yang berlatar belakang wirausaha coffeeshop dan homestay yang ingin menjadi lebih produktif di masa pandemi. Perempuan bernama lengkap Leonie Maria Christianti ini sebenarnya sudah lebih dari satu dekade berkutat dengan dunia cupcake decorating namun belum pernah dibranding secara lebih serius. Saat pandemi muncul di quarter kedua 2020, Leonie memaksimalkan potensinya dengan mengadakan kelas online mendekorasi cupcake dan masih tanpa brand. Aktivitas yang dikerjakan Leonie membuat dua rekannya

SOCIAL JUDGMENT THEORY OLEH MUZAFER SHERIF

Apa yang muncul dalam benak Anda ketika mendapatkan tawaran kredit 0% dari sebuah produk kartu kredit? Bisa macam – macam, mulai dari muncul pertanyaan “Do I need this?”, nanti kalau terlambat pembayaran bunganya akan membumbung, kok bisa bunga 0%? Ah jadi curiga sama banknya nih, bagus dan menarik (sekedar pernyataan begitu saja) atau malah “Aku mau!”. Dari beberapa frasa tersebut, mana yang menurut Anda paling sesuai dengan diri Anda? Dengan begitu, dapat diketahui mengenai Teori Penilaian Sosial (Social Judgment Theory) yang muncul dari perspektif Anda tentang kredit bunga 0% kartu kredit tersebut. Social Judgment Theory (selanjutnya disebut SJT) dipopulerkan oleh Muzafer Sherif, seorang psikolog yang berasosiasi dengan Oklahoma University (meninggal 16 Oktober 1988). Teori ini berarti sebuah penilaian atau pertimbangan atas pesan yang diterima dengan membandingkannya terhadap isu terkini. EGO LATITUDES: ACCEPTANCE, REJECTION & NON COMMITMENT Ungkapan – ungkapan

Kaleidoscope 2021 – Fearless to Step Ahead

  Perputaran bisnis di tahun 2021 ini tantangannya lebih terjal, terutama dengan kemunculan kebijakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) berlevel di semester kedua-nya. Seperti prediksi tahun lalu, kami banyak mengerahkan energi konsultansi di ranah hubungan internal dan manajemen krisis untuk mempertahankan keberlangsungan energi dan semangat klien dalam menjalankan bisnisnya. Februari-April tahun ini menjadi bulan di mana kami nyaris melayani klien tanpa libur, bisnis sempat memiliki perkembangan yang baik pada momen tersebut. Bagaimanapun juga, sebagai Public Relations & MarComm Consulting, kami sungguh menikmati fluktuasi dan dinamika gerakan ini. Terima kasih para klien dan project yang telah membersamai kami. Berikut rangkuman kaleidoskop Ardhi Widjaya & Co selama tahun 2021.   PROJECTS OUTLOOK Suwatu by Mil & Bay Restauran yang berada di perbukitan Sumberwatu daerah Prambanan ini cepat mendapat antusiasme pasar karena pemandangannya yang ind