Langsung ke konten utama

Eksplorasi SDM Milenial dengan Smart Class


Beberapa kali Ardhi Widjaya & Co pernah menemui ungkapan sebagian orang SDM yang menyampaikan ribetnya mengurusi SDM milenial. Saat pekerjaan ada SOP dan aturan, mereka merasa punya aturan sendiri, saat hasil kurang maksimal yang disalahkan instruksi yang kurang clear atau standardisasi manajemen yang menurutnya jauh dari ekspektasi si SDM milenial tersebut. Tidak jarang pula dari mereka yang menggunakan perusahaan sebagai ajang eksistensi semata "ini lho gue kerja di tempat famous which is banyak orang-orang keren kerja di sini". Giliran berhadapan dengan target, deadline dan aturan perusahaan mereka "keok". 

Meski demikian stereotype milenial, mereka juga memiliki energi yang tinggi dan ide yang cukup brilian untuk pengembangan perusahaan. Lalu, bagaimana caranya membuat mereka bisa "engage" dengan perusahaan termasuk dengan budaya dan aturan-aturannya? Salah satu cara menurut Ardhi Widjaya & Co, PR & MarComm consulting adalah bisa menggunakan metode smart class.

Inilah metode yang membuat mereka merasa bisa didengar, dilihat eksistensinya dan diketahui maunya (visinya) apa. Ajak mereka untuk membagi segala hal yang mereka ketahui dan menurut mereka, mereka cukup expert di bidang itu. Entah itu memotret, menulis konten, tips traveling hemat atau bahkan mengedit foto selfie terbaik dengan kamera "jahat" sekalipun. 

Biarkan mereka menyampaikan dengan gaya bahasa yang peer to peers meski mereka tidak hanya presentasi di hadapan rekan kerja sejawat tetapi juga di depan jajaran manajemen. Meskipun kadang materi yang disampaikannya tidak berhubungan langsung atau bahkan tidak ada hubungan sama sekali dengan pekerjaannya, setidaknya dengan merasa sudah "diakui kelebihannya" membuat mereka bisa lebih mau membaur dengan hal-hal hierarkis perusahaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOCIAL JUDGMENT THEORY OLEH MUZAFER SHERIF

Apa yang muncul dalam benak Anda ketika mendapatkan tawaran kredit 0% dari sebuah produk kartu kredit? Bisa macam – macam, mulai dari muncul pertanyaan “Do I need this?”, nanti kalau terlambat pembayaran bunganya akan membumbung, kok bisa bunga 0%? Ah jadi curiga sama banknya nih, bagus dan menarik (sekedar pernyataan begitu saja) atau malah “Aku mau!”. Dari beberapa frasa tersebut, mana yang menurut Anda paling sesuai dengan diri Anda? Dengan begitu, dapat diketahui mengenai Teori Penilaian Sosial (Social Judgment Theory) yang muncul dari perspektif Anda tentang kredit bunga 0% kartu kredit tersebut. Social Judgment Theory (selanjutnya disebut SJT) dipopulerkan oleh Muzafer Sherif, seorang psikolog yang berasosiasi dengan Oklahoma University (meninggal 16 Oktober 1988). Teori ini berarti sebuah penilaian atau pertimbangan atas pesan yang diterima dengan membandingkannya terhadap isu terkini. EGO LATITUDES: ACCEPTANCE, REJECTION & NON COMMITMENT Ungkapan – ungkapan

Cara Bercerita Leonie, Tako & Ruth Lewat Cupcakestory

  Pepatah lama pernah mengatakan “say it with flower!” Tapi sekarang, tiga ibu kreatif bernama Leonie, Ruth dan Tako dapat mengganti pepatah tersebut dengan “say it with cupcake!” Sebab produk cupcake dengan brand Cupcakestory yang mereka kreasikan memang menyajikan kue dalam wadah kecil – cup – yang dihiasi dekorasi penuh cerita sesuai dengan keinginan pemesannya, dikemas secara personal. Lalu, bagaimana usaha unik ini terbentuk dan apa latar belakang ketiga perempuan ini? Berawal dari Leonie, yang berlatar belakang wirausaha coffeeshop dan homestay yang ingin menjadi lebih produktif di masa pandemi. Perempuan bernama lengkap Leonie Maria Christianti ini sebenarnya sudah lebih dari satu dekade berkutat dengan dunia cupcake decorating namun belum pernah dibranding secara lebih serius. Saat pandemi muncul di quarter kedua 2020, Leonie memaksimalkan potensinya dengan mengadakan kelas online mendekorasi cupcake dan masih tanpa brand. Aktivitas yang dikerjakan Leonie membuat dua rekannya

Love Your Job But....

  Apa pembaca pernah mendengar quote motivasi seperti " love your job but never do love your company "? Kesannya kalau kita mencintai perusahaan, nantinya akan merugikan diri kita sendiri, apa memang demikian? Sebagai SDM dan tentunya manusia, wajar jika kita mempunyai perasaan, termasuk mencintai tempat kerja. It seems this is not wrong just to fall in love with a workplace . Sebagai lembaga yang concern terhadap Public Relations, kami mencoba bertanya ke sebagian relasi yang memiliki pengalaman kerja lebih dari 7 tahun dan ternyata mereka pernah merasakannya: jatuh cinta dengan tempat kerja. Kalau jatuh cinta, lalu apa pernah patah hati? Tentu, oleh sebab itu, rata-rata sudah tidak bersama lagi dengan tempat kerja tersebut. Namun ternyata hal ini bukan berarti berhenti mencintai. Rasa cinta terhadap tempat kerja itu kemudian berubah menjadi peduli yang tidak dapat dipungkiri akan tetap ada. Bahkan sesekali “ stalking ” urusan kantor lama untuk mencari tahu “apa dia leb