Langsung ke konten utama

Masa Pandemi/ Tidak, Begini Sebaiknya Cara Kampus Swasta Bermanuver!



Dengan semakin berkembangnya potensi karir dan bisnis, hal ini membuat bermunculan berbagai macam pekerjaan maupun profesi yang belum pernah ada sebelumnya. Sebagai penunjang kompetensi dalam merespon disrupsi tersebut, tidak heran banyak sekolah tinggi atau institut yang melakukan inovasi dengan memperluas segmentasi pasar mahasiswanya dengan menjadikannya sebagai sebuah universitas (swasta). Tentu saja sebagai universitas, lembaga pendidikan swasta ini akan memiliki beberapa fakultas dengan jurusan-jurusan yang aplikatif di dunia kerja maupun bisnis. Namun jika ditinjau dari sisi pemasaran, apakah hal itu sudah dirasa cukup?

Sales Call
Hampir semua universitas swasta melakukan canvasing ke daerah-daerah untuk menggaet calon mahasiswa baru. Meski klasik, pendekatan model ini masih menjadi sarana pemasaran yang aplikatif. Untuk pelaksanaannya di era "new normal", tetap dapat dilakukan dengan membuka kerjasama dengan sekolah untuk berkomunikasi melalui daring. Setidaknya melalui metode ini, pihak universitas swasta dapat melihat secara langsung apa yang dibutuhkan pangsa pasarnya di lapangan, termasuk adanya kenyataan bahwa banyak lulusan SMA/K di beberapa daerah lebih memutuskan untuk bekerja di pabrik dengan gaji dua kali atau lebih dari UMR daripada melanjutkan kuliah.

Stakeholders’ Personal Branding
Hal lain yang cukup mudah untuk menarik minat calon mahasiswa bagi universitas swasta dan mudah dijalankan adalah menggunakan metode personal branding dari para stakeholder di institusi tersebut. Personal branding di sini bukan berarti mengiklankan sosok figur yang dianggap berpengaruh, melainkan mengajak figur-figur di ranah internal institusi dengan portofolio baik sebagai influencer untuk meyakinkan calon mahasiswa tentang prospek besar yang akan mereka capai saat bergabung dalam civitas akademika ini.

Contoh implementasi personal branding dari stakeholder kampus dalam metode pemasarannya adalah sebagai berikut: Yang pertama sosok akademisi dan jejaringnya, entah itu petinggi universitas seperti rektor atau dekan. Saat beliau-beliau ini memiliki portofolio yang mumpuni tentu akan kredibel di mata jejaring, terutama yang berada di luar negeri. Potensi ini dapat dijadikan sarana membuka peluang kerjasama mutual. Yang kedua adalah dengan memanfaatKan The Power of Alumni. Yakni cara alumni untuk mengajak calon mahasiswa mengikuti jejak success story mereka dengan kuliah di kampus yang sama. Apalagi jika salah satu dari alumni tersebut memiliki daya relasi yang kuat dengan audiensnya.

Personal Touch
Jika diibaratkan sebagai bola yang sukses dijemput, para mahasiwa ini perlu disajikan berbagai metode pengajaran dan fasilitas kampus yang memenuhi kebutuhan dan jika memungkinkan sesuai ekspektasi mereka. Dalam situasi pandemik COVID 19, tantangan terbesar dalam memberikan pengalaman kuliah dengan banyak  manfaat adalah dominasi pengajaran secara online. Dimulai dari jaringan internet yang kurang stabil hingga susahnya penerapan komunikasi dua arah dalam forum yang besar. Pengayaan metode pengajaran “new normal” inilah justru yang memegang peranan penting sebagai bentuk value added dalam fasilitas kampus swasta. Tidak jarang, banyak dosen yang setelah menjalankan kelas online dengan kelompok mahasiswa pada perkuliahannya, masih ditambahi dengan konsultasi privat lanjutan per-mahasiswa demi tercapainya penyampaian materi yang komprehensif.

Mind-Setting
Satu hal yang layak ditekankan sebagai strategi pengembangan kampus swasta adalah dengan penguatan mental mahasiswanya. Hal ini berupa membentuk keyakinan bahwa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri atau swasta bukanlah menjadi tolok ukur utama dalam hal kesuksesan para lulusannya. Setidaknya kita bisa mencontoh profil Massachusetts Institute of Technologhy (MIT), sebuah universitas swasta di Amerika Serikat yang pada 2020 ini menduduki peringkat pertama, merajai bidang studi sains, teknologi, biologi serta ekonomi berdasar QS World University Rankings, mengalahkan universitas negeri seperti Stanford (2) dan Harvard (3).

Di sekitar kita, tidak dipungkiri bahwa banyak stakeholder universitas swasta yang berpendapat jika universitas negeri sudah memiliki branding yang kuat, sehingga merekalah yang dicari calon mahasiswa. Jika para universitas swasta tidak banyak berinovasi untuk merengkuh dan menjadikan target pasar mahasiswa ini sebagai mitra, tentu bisnis pendidikan tinggi ini akan susah berkompetisi.  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOCIAL JUDGMENT THEORY OLEH MUZAFER SHERIF

Apa yang muncul dalam benak Anda ketika mendapatkan tawaran kredit 0% dari sebuah produk kartu kredit? Bisa macam – macam, mulai dari muncul pertanyaan “Do I need this?”, nanti kalau terlambat pembayaran bunganya akan membumbung, kok bisa bunga 0%? Ah jadi curiga sama banknya nih, bagus dan menarik (sekedar pernyataan begitu saja) atau malah “Aku mau!”. Dari beberapa frasa tersebut, mana yang menurut Anda paling sesuai dengan diri Anda? Dengan begitu, dapat diketahui mengenai Teori Penilaian Sosial (Social Judgment Theory) yang muncul dari perspektif Anda tentang kredit bunga 0% kartu kredit tersebut. Social Judgment Theory (selanjutnya disebut SJT) dipopulerkan oleh Muzafer Sherif, seorang psikolog yang berasosiasi dengan Oklahoma University (meninggal 16 Oktober 1988). Teori ini berarti sebuah penilaian atau pertimbangan atas pesan yang diterima dengan membandingkannya terhadap isu terkini. EGO LATITUDES: ACCEPTANCE, REJECTION & NON COMMITMENT Ungkapan – ungkapan

Cara Bercerita Leonie, Tako & Ruth Lewat Cupcakestory

  Pepatah lama pernah mengatakan “say it with flower!” Tapi sekarang, tiga ibu kreatif bernama Leonie, Ruth dan Tako dapat mengganti pepatah tersebut dengan “say it with cupcake!” Sebab produk cupcake dengan brand Cupcakestory yang mereka kreasikan memang menyajikan kue dalam wadah kecil – cup – yang dihiasi dekorasi penuh cerita sesuai dengan keinginan pemesannya, dikemas secara personal. Lalu, bagaimana usaha unik ini terbentuk dan apa latar belakang ketiga perempuan ini? Berawal dari Leonie, yang berlatar belakang wirausaha coffeeshop dan homestay yang ingin menjadi lebih produktif di masa pandemi. Perempuan bernama lengkap Leonie Maria Christianti ini sebenarnya sudah lebih dari satu dekade berkutat dengan dunia cupcake decorating namun belum pernah dibranding secara lebih serius. Saat pandemi muncul di quarter kedua 2020, Leonie memaksimalkan potensinya dengan mengadakan kelas online mendekorasi cupcake dan masih tanpa brand. Aktivitas yang dikerjakan Leonie membuat dua rekannya

Love Your Job But....

  Apa pembaca pernah mendengar quote motivasi seperti " love your job but never do love your company "? Kesannya kalau kita mencintai perusahaan, nantinya akan merugikan diri kita sendiri, apa memang demikian? Sebagai SDM dan tentunya manusia, wajar jika kita mempunyai perasaan, termasuk mencintai tempat kerja. It seems this is not wrong just to fall in love with a workplace . Sebagai lembaga yang concern terhadap Public Relations, kami mencoba bertanya ke sebagian relasi yang memiliki pengalaman kerja lebih dari 7 tahun dan ternyata mereka pernah merasakannya: jatuh cinta dengan tempat kerja. Kalau jatuh cinta, lalu apa pernah patah hati? Tentu, oleh sebab itu, rata-rata sudah tidak bersama lagi dengan tempat kerja tersebut. Namun ternyata hal ini bukan berarti berhenti mencintai. Rasa cinta terhadap tempat kerja itu kemudian berubah menjadi peduli yang tidak dapat dipungkiri akan tetap ada. Bahkan sesekali “ stalking ” urusan kantor lama untuk mencari tahu “apa dia leb