Langsung ke konten utama

Choleric VS Megalomaniac


Aku mo nyoba menemukan sisi perbedaan antara orang koleris dengan megalomaniak, ya ini hanya berdasarkan pengamatan di sekitarku. Kalo ada lebih kurangnya, saran dari kamu semua aku tunggu, makasih.
Ciri2 orang koleris:
1. Ogah dikomando
Bagi orang koleris, menerima perintah adalah hal yang cukup menyebalkan. Kalo dia diperintah, sering dalam hatinya menggumam “Iya-iya, ga usah disuruh juga gue dah tau”. Tapi dalam dunia karir, tentang masalah ini, orang koleris cukup menyadari fungsi dan kedudukannya dalam sebuah institusi. So, dia cukup profesional. Tapi bukan berarti ketika dia jadi bawahan dia ga  pingin ngasi' perintah ke atasannya. Sang Koleris berusaha sesempurna mungkin untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ketika menghadapi pemimpin yang egois, dia akan merasa bisa membuktikan bakat kepemimpinannya ketika menemukan kesalahan atasan yang arogan.
2. Optimis
Bisa dibilang si koleris ini pemimpi juga. Dan dia juga optimis bahwa mimpinya itu akan dapat diwujudkannya. Prinsipnya; mimpi itu penting untuk berkembang. Tapi setelah mimpi dia harus bangun, cuci muka dan segera bertindak untuk mewujudkan mimpinya. (Kutipan dari Anggun C. Sasmi. red)
3. Faster thinker
Meski kadang agak gegabah dan srudak – sruduk, orang koleris paling cepat mengambil keputusan. Dan justru keputusan yg serba dadakan itu juga sering ditunggu oleh para relasinya yang plegmatis/ phlegmatic (anonim dari choleric.red).
4. 8 GB memory buat menyimpan kritikan
Kenapa aku bilang 8 Giga Byte memory buat nyimpan kritikan, soalnya orang koleris selalu menggunakan kritik yang dia dapet buat dijadiin cambuk biar dia tambah maju. Mungkin jadi terkesan pendendam, tapi dia hanya pingin buktiin ke orang yang udah ngritik bahwa “Ini lho gue bisa! Dan kritikan loe tuh ga kebukti!”
5. Inovatif
Walau sering mentok kalo lagi ga mood, tapi orang koleris tuh hampir ga pernah mati ide deh pokoknya. Dia selalu aja pengen nemuin n nyoba hal baru coz they're not afraid of challenge.
Kalo megalomaniak itu.....:
1. "Prinsip gue yg paling ideal" menurutnya
Itu landasan hidup seorang megalomaniak. Makanya dia suka ngatur-ngatur dan mengintervensi orang untuk jadi sosok seperti dia (karena menurutnya dia itu ideal begitu!red)
2. Suka nyalahin keadaan
Contoh buat kasus ini tuh misalnya dalam dunia kerja ketika dia ada pada posisi staf (wah kalo bos kayak gini, buang ke laut aja deh kayaknya he...he...he...red), misalnya komputer nge-hang trus ada rekan kerja lain tuh kan pada sibuk dengan urusannya sendiri – sendiri. Ketika ditanyain bos mana deadline pekerjaannya dia akan melakukan pembenaran dengan menyalahkan komputer yang nge-hang dan rekan kerja yang tidak mau bekerja sama.
3. Maunya menang sendiri
Masih dalam dunia kerja, contohnya kayak gini nih, misal lagi si megalomaniak ini sebagai staf. Trus ada rekan kerja lain yang menurutnya kerjanya ga ideal dan menurut dia juga manajemen kantor itu tidak sesuai dengan idealismenya, so, dari mulut sang Megaloman bisa sering muncul “Gue pinginnya kantor ini tuh punya sistem yang ...bla...bla...bla...” (Yee... Emang perusahaan moyang loe?!red)
4. Ga pernah merasa bersalah
Dia justru akan menyalahkan orang lain ato melempar kesalahan ketika dirinya diketahui guilty. Baginya:
Pasal 1 Gue ga pernah salah
Pasal 2 Gue salah kembali ke pasal 1 (Undang – undang dari mana yah?! red)
5. Ogah dikomando (juga)
Kalo ini udah jelas, magaloman tuh mana mau sih dikomando.
Kalo konklusi dari aku, orang megalomaniak itu pasti punya sisi koleris, tapi orang koleris belum tentu megalomaniak. Megaloman punya IQ yang tinggi tapi kurang ditunjang oleh kecerdasan lain. Bersifat Koleris akan lebih bagus bila diimbangi dengan karakter friendhopper dan juga pendalaman keimanan terhadap Tuhan tentunya. Orang Koleris yang berhasil menyeimbangkan IESQ-nya insya 4JJI hidupnya akan penuh warna dan makna.

Komentar

Anonim mengatakan…
Your blog keeps getting better and better! Your older articles are not as good as newer ones you have a lot more creativity and originality now keep it up!

Postingan populer dari blog ini

Cara Bercerita Leonie, Tako & Ruth Lewat Cupcakestory

  Pepatah lama pernah mengatakan “say it with flower!” Tapi sekarang, tiga ibu kreatif bernama Leonie, Ruth dan Tako dapat mengganti pepatah tersebut dengan “say it with cupcake!” Sebab produk cupcake dengan brand Cupcakestory yang mereka kreasikan memang menyajikan kue dalam wadah kecil – cup – yang dihiasi dekorasi penuh cerita sesuai dengan keinginan pemesannya, dikemas secara personal. Lalu, bagaimana usaha unik ini terbentuk dan apa latar belakang ketiga perempuan ini? Berawal dari Leonie, yang berlatar belakang wirausaha coffeeshop dan homestay yang ingin menjadi lebih produktif di masa pandemi. Perempuan bernama lengkap Leonie Maria Christianti ini sebenarnya sudah lebih dari satu dekade berkutat dengan dunia cupcake decorating namun belum pernah dibranding secara lebih serius. Saat pandemi muncul di quarter kedua 2020, Leonie memaksimalkan potensinya dengan mengadakan kelas online mendekorasi cupcake dan masih tanpa brand. Aktivitas yang dikerjakan Leonie membuat dua rekannya

SOCIAL JUDGMENT THEORY OLEH MUZAFER SHERIF

Apa yang muncul dalam benak Anda ketika mendapatkan tawaran kredit 0% dari sebuah produk kartu kredit? Bisa macam – macam, mulai dari muncul pertanyaan “Do I need this?”, nanti kalau terlambat pembayaran bunganya akan membumbung, kok bisa bunga 0%? Ah jadi curiga sama banknya nih, bagus dan menarik (sekedar pernyataan begitu saja) atau malah “Aku mau!”. Dari beberapa frasa tersebut, mana yang menurut Anda paling sesuai dengan diri Anda? Dengan begitu, dapat diketahui mengenai Teori Penilaian Sosial (Social Judgment Theory) yang muncul dari perspektif Anda tentang kredit bunga 0% kartu kredit tersebut. Social Judgment Theory (selanjutnya disebut SJT) dipopulerkan oleh Muzafer Sherif, seorang psikolog yang berasosiasi dengan Oklahoma University (meninggal 16 Oktober 1988). Teori ini berarti sebuah penilaian atau pertimbangan atas pesan yang diterima dengan membandingkannya terhadap isu terkini. EGO LATITUDES: ACCEPTANCE, REJECTION & NON COMMITMENT Ungkapan – ungkapan

Love Your Job But....

  Apa pembaca pernah mendengar quote motivasi seperti " love your job but never do love your company "? Kesannya kalau kita mencintai perusahaan, nantinya akan merugikan diri kita sendiri, apa memang demikian? Sebagai SDM dan tentunya manusia, wajar jika kita mempunyai perasaan, termasuk mencintai tempat kerja. It seems this is not wrong just to fall in love with a workplace . Sebagai lembaga yang concern terhadap Public Relations, kami mencoba bertanya ke sebagian relasi yang memiliki pengalaman kerja lebih dari 7 tahun dan ternyata mereka pernah merasakannya: jatuh cinta dengan tempat kerja. Kalau jatuh cinta, lalu apa pernah patah hati? Tentu, oleh sebab itu, rata-rata sudah tidak bersama lagi dengan tempat kerja tersebut. Namun ternyata hal ini bukan berarti berhenti mencintai. Rasa cinta terhadap tempat kerja itu kemudian berubah menjadi peduli yang tidak dapat dipungkiri akan tetap ada. Bahkan sesekali “ stalking ” urusan kantor lama untuk mencari tahu “apa dia leb