Langsung ke konten utama

Start Up & Millennial, Can You Relate?


The description of start-up companies filled by millennial generation is relevant today. The dynamics of the rapidly developing IT world are identical with the cheerful and energetic millennial spirit. Likewise with Empat Kali, a Fintech (Financial Technology) platform with a peer to peer lending system that offers flexible payments through 0% interest installments for four times on several online store websites that have collaborated with it.

Ghaldy - Social Media Strategist & CRM

One of the millennial profiles in the Empat Kali Company that contributed to the start-up marketing process is Ghaldy Baldy Glend, Social Media Strategist & Customer Relations Manager. For Ghaldy, working at a start-up company under a foreign auspices requires extensive creative power. Moreover, since last June 2020, Empat Kali has been under the auspices of Afterpay from Australia.

Even though Empat Kali is a Fintech industry, its services are closely related to the millennial lifestyle. Ghaldy explained that currently, Empat Kali has been working with dozens of merchants who are associated with millennial fashion and lifestyle. Among them, the top merchants are Brodo, Deus Ex Machina and Hijab Chic.

Empat Kali headquarter office

Considering the orientation of the Empat Kali as a platform that makes easier for its market segments to get the goods needed with interest-free installments, this Fintech marketing concept is also geared towards capturing massive online sales. "Empat Kali is really focused and serious about choosing targets in running ads, both on Google Ads and Social Media ads via Instagram and Facebook. Hopefully they are interested and immediately make transactions with Empat Kali" said Ghaldy.

In order to achieve optimal work results, as the leader of his division, Ghaldy also considers bonding with the team to create an effective output and maintain cohesiveness. "We always debate in determining the creative content to be released, but besides that we also usually carry out exciting afterhour activities together, such as Muay Thai practice or just playing Play Station" he concluded.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOCIAL JUDGMENT THEORY OLEH MUZAFER SHERIF

Apa yang muncul dalam benak Anda ketika mendapatkan tawaran kredit 0% dari sebuah produk kartu kredit? Bisa macam – macam, mulai dari muncul pertanyaan “Do I need this?”, nanti kalau terlambat pembayaran bunganya akan membumbung, kok bisa bunga 0%? Ah jadi curiga sama banknya nih, bagus dan menarik (sekedar pernyataan begitu saja) atau malah “Aku mau!”. Dari beberapa frasa tersebut, mana yang menurut Anda paling sesuai dengan diri Anda? Dengan begitu, dapat diketahui mengenai Teori Penilaian Sosial (Social Judgment Theory) yang muncul dari perspektif Anda tentang kredit bunga 0% kartu kredit tersebut. Social Judgment Theory (selanjutnya disebut SJT) dipopulerkan oleh Muzafer Sherif, seorang psikolog yang berasosiasi dengan Oklahoma University (meninggal 16 Oktober 1988). Teori ini berarti sebuah penilaian atau pertimbangan atas pesan yang diterima dengan membandingkannya terhadap isu terkini. EGO LATITUDES: ACCEPTANCE, REJECTION & NON COMMITMENT Ungkapan – ungkapan

HIPERSEMIOTIKA

Berbicara mengenai hipersemiotika, akan menjadi terasa terlampau jauh apabila belum menguraikan mengenai apa itu semiotika. Dimulai dari Umberto Eco yang mendefinisikan semiotika sebagai sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu untuk berdusta (lie). Maksud definisi Umberto Eco tersebut adalah “bila sesuatu tidak dapat digunakan untuk mengungkapkan dusta, maka sebaliknya sesuatu tersebut juga tidak dapat digunakan untuk mengungkapkan kebenaran, sehingga pada dasarya tidak dapat digunakan untuk mrngungkapkan apa-apa”. Merujuk pada apa yang dinyatakan Umberto Eco tersebut, dapat disimpulkan bahwa selain sebagai teori kedustaan, semiotika juga menjadi sebuah teori kebenaran.         Sebagai teori kedustaan sekaligus teori kebenaran,  semiotika digunakan untuk mempelajari tanda yang ada dalam segala aspek sosial untuk mengungkap kedustaan atau kebenaran itu sendiri. Hal ini berkorelasi dengan apa yang dijelaskan oleh Ferdinand de Saussure yang menyampaikan bahwa semiotika mer

Langkah Forriz Hotel, Sejalan Dengan Perkembangan Bisnis di Yogyakarta

Yogyakarta kini, selain masih kental dengan julukan kota pelajar dan budaya juga sudah berkembang menjadi kota bisnis. Majemuk-nya masyarakat yang tinggal maupun berkunjung di Jogja telah membuka banyak peluang potensi bisnis dan juga wisata, tak terkecuali industri ramah-tamah seperti perhotelan. Forriz hotel adalah salah satu bagian yang turut andil dalam merespon potensi bisnis di kota yang juga dikenal dengan kota sejuta kenangan. Dimiliki oleh PT Forriz Sentral Gemilang, hotel yang terletak di Jln. HOS Cokroaminoto No. 60 Pakuncen, Yogyakarta ini hadir memenuhi permintaan pasar industri ramah-tamah di Yogyakarta mulai bulan Juni 2017 silam. Saat itu Forriz hotel melakukan soft opening pada tanggal 26 Juni 2017 guna merespon permintaan pasar pada momentum lebaran di tahun tersebut. Sebagai hotel bisnis dengan peringkat bintang 3+, Forriz hotel memiliki fasilitas sebanyak 116 kamar dengan klasifikasi superior, deluxe dan suite. Untuk mendukung aktivitas bisnis,  disedi