Jumat, 30 November 2012

Menyelami Kreativitas Indonesia


Rempah-rempah boleh-lah pernah dirampas oleh penjajah, kesenian kita bisa diakui oleh negara lain. Tapi 1 hal yang tidak akan pernah habis adalah kreativitas. Memang sudah banyak perjuangan untuk membebaskan diri dari penjajah, memperjuangkan hak cipta kesenian budaya yang diklaim negara lain namun kreativitas bangsa tidak akan bisa diambil atau ditiru secara identik oleh negara lain. Inilah yang membanggakan dari Indonesia, bangsa-nya tidak pernah berhenti untuk berkreasi.
     Dalam sektor ekonomi, kreativitas saat ini menjadi suatu komoditi yang sangat menguntungkan dan mampu memberikan kontribusi secara signifikan bagi perekonomian negara. Geliat Usaha Kecil Menengah dan Industri Kreatif mulai mendapat perhatian serius dari pemerintah. Pemerintah menjadi begitu perhatian dalam pemberdayaan UKM dan industri kreatif ini karena secara fakta industri ini tidak tergantung hutang luar negri, menggunakan sumber daya lokal serta berorientasi ekspor.
        Penulis percaya bahwa insan di UKM serta industri kreatif ini memiliki nilai unik dalam mengembangkan usaha kreatif mereka yaitu mengusung kearifan lokal sehingga mampu membuat bisnis mereka sustainable. Sebagai contohnya adalah apa yang telah dilakukan para pelaku industri kreatif di desa wisata Kasongan Yogyakarta. Mereka yang terkenal dalam pembuatan kerajinan keramik dan gerabah ini harus memulai lagi bisnis mereka dari nol bahkan minus ketika gempa bumi di Yogyakarta pada 27 Mei 2006 telah menghancurkan usaha mereka.

sumber gambar: nvidiandy.blogspot.com 

      Meskipun telah hancur, masyarakat Kasongan berpikir bagaimana caranya supaya bisnis mereka mampu bangkit kembali meski sempat dalam waktu tiga bulan paska gempa tidak ada pergerakan sama sekali. Walau produk keramik dan gerabah berisiko mudah hancur ketika terjadi gempa namun mereka tetap fokus pada bisnis ini. Hal tersebut dilakukan karena secara filosofis, desa wisata Kasongan merupakan warisan dari Kyai Song, salah satu pengikut pangeran Diponegoro yang mengembangkan pembuatan gerabah dan tembikar di kawasan tersebut pada tahun 1675 untuk pembuatan peralatan dapur. Baru kemudian pada tahun 1875 mulai dikembangkanlah produk gerabah untuk celengan dan hiasan dinding. Sekarang mereka percaya bahwa tidak hanya kawasan kasongan saja yang diwariskan terhadap mereka melainkan semangat dan kreativitas nenek moyang mereka juga telah diturunkan pada mereka. Bahkan kini nilai ekspor produk Kasongan sudah jauh melampaui nilai ekspor sebelum gempa Mei 2006 silam dan prospek tersebut sudah tampak pada tahun 2009, sebuah perjuangan yang luar biasa.
      Penulis yang menulis artikel ini dalam rangka Lomba Blogging Marketeers, memiliki mimpi untuk bisa menyelami potensi-potensi kreatif lainnya di berbagai belahan Nusantara yang kaya akan ragam budaya ini. Terus kreatif dan semangat Indonesia-ku!

Rabu, 07 November 2012

Kalau Sabun Bikin “Opera Sabun”



Pengalaman, itulah yang ingin disajikan sebuah merk ketika merilis program marketingnya kepada konsumen. Kali ini, penulis akan membahas mengenai pengalaman konsumen menggunakan sabun Lux dengan berandai-andai menjadi seorang perempuan yang selalu ingin tampil mempesona.
            Tahukah Anda dengan istilah “Star Rising”? Menurut penulis, Star Rising adalah bagian dari “opera sabun” yang dibuat oleh sabun Lux sebagai kampanye program marketingnya beberapa tahun lalu. Muncullah nama Mariana Renata, seorang model berparas lembut yang akhirnya namanya mencuat dan mampu meraih perhatian publik ketika dia membintangi sebuah film berjudul “Janji Joni” yang juga disponsori oleh sabun Lux di saat Lux sendiri sedang melancarkan kampanye “Pancarkan Pesona Bintangmu”.

            Mariana Renata yang waktu itu baru saja datang ke Indonesia setelah lama tinggal di luar negeri telah di-set sedemikian rupa oleh Lux sehingga seolah-olah Lux telah berhasil memancarkan pesona bintang dalam diri Mariana Renata ketika dia tampil membintangi film “Janji Joni” bersama Nicholas Saputra. Cerita itulah yang ingin diarahkan menjadi pengalaman para konsumen ketika menggunakan sabun Lux.
            Mengeksplorasi para perempuan yang selalu ingin tampil mempesona menjadi tujuan utama Lux. Jadi, seandainya penulis sebagai perempuan yang menggunakan sabun Lux, akan lebih berorientasi pada pengalaman sebagai konsumennya, yaitu punya pesona bintang yang akan makin terpancarkan setelah menggunakan sabun Lux. Selain itu, dalam kampanye tersebut, sepertinya Lux juga menyasar kaum perempuan dari sisi “drama queen” mereka. Dengan menyentuh sisi “drama queen” konsumennya, Lux juga tampil sebagai motivator bagi para perempuan untuk konsisten dengan tujuan dan cita-cita dengan selalu memancarkan pesona bintang hingga mereka dapat menjadi se-berkilau Mariana Renata. Apalagi karakter Mariana Renata dalam film “Janji Joni” disandingkan dengan Nicholas Saputra dimana hal itu menjadi impian perempuan-perempuan muda lainnya. Engagement yang dibentuk oleh Lux melalui “Pancarkan Pesona Bintangmu” adalah menyajikan pengalaman kepada pemakai sabunnya untuk lebih percaya diri dengan memancarkan aura bintang setelah menggunakan sabun Lux.
            Sebagai komparasi, kebetulan penulis saat ini tidak menggunakan sabun Lux. Ada beberapa alasan kenapa penulis memilih produk sabun lain untuk digunakan. Saat ini penulis menggunakan sabun anti kuman Dettol, bukan lantaran semata-mata terpengaruh iklan. Namun lebih karena penulis yang menyadari memiliki kulit berminyak sehingga membutuhkan sabun anti kuman yang berfungsi menekan sebaran kuman sehingga mampu mencegah keringat berlebih dan bau badan.

            Bicara soal sabun anti kuman sebenarnya ada banyak sabun anti kuman yang ditawarkan di pasaran ini. Dari variasi produk sabun anti kuman tersebut, barulah penulis dipengaruhi oleh iklan. Penulis memilih Dettol sebenarnya simpel, karena kemasan serta logo-nya yang didominasi warna hijau. Hijau adalah warna favorit penulis yang penulis yakini warna hijau adalah simbol kepercayaan diri baginya. Sebenarnya ada Lifebuoy yang pada dasarnya telah muncul sebagai Top of Mind sebagai sabun anti kuman bagi konsumennya. Namun penulis tetap meilih Dettol karena merasa ada bagian yang nyambung antara konsep produk anti kuman serta kemasan warna hijau-nya dengan hal yang diinginkan penulis untuk sebuah produk sabun. Entah apakah ketika kemasan dan logo Dettol berubah nantinya menjadi tidak didominasi hijau, penulis masih akan tetap menggunakannya? Let’s see later!
            Kembali kepada sabun Lux. Kenapa Lux memilih target perempuan? Termasuk hingga membuat program “Pancarkan Pesona Bintangmu”? Mari kita lihat esensi dari pentingnya penentuan target pasar dalam komunikasi pemasaran. Tim Markplus Institute of Marketing mengungkapkan; Menetapkan sasaran pasar penting bagi perusahaan karena dua hal berikut:
1.      Pelanggan memiliki karakter dan kebutuhan yang beragam sehingga harus dikelompokkan ke dalam segmen-segmen terkecil dengan karakter yang sama.
2.      Perusahaan memiliki sumber daya yang terbatas untuk ditawarkan ke semua pasar, sehingga perusahaan harus memilah alokasi sumber daya yang tepat ke pasar yang tepat.
Dengan memperhatikan pernyataan dari tim Markplus Institute of Marketing tersebut maka tampak bahwa Lux mengamini hal tersebut karena paham akan pentingnya menentukan target pasar. Dan ternyata, dengan menyasar target perempuan, Lux dirasa telah mampu menyentuh sisi emotional konsumennya secara personal. Pada tingkat ini, proses internalisasi merek mulai dipromosikan keluar, membuat hubungan merek dengan konsumen sebagai bagian budaya yang experiental (membuat pengalaman) sehingga konsumen akan merasa telah “tidur”, “makan” dan “menikmati hari” bersama merek tersebut. Seperti Lux yang mampu membuat para perempuan senantiasa merasa memancarkan pesona bintangnya.

Referensi:
Tim Markplus. The Official MIM Academy Coursebook: Brand Operation. Esensi-Erlangga Group. Jakarta: 2010

Senin, 05 November 2012

Etika Public Relation Dalam Penerapan CSR



            Anne Gregory menyampaikan: dinamis, bergerak cepat dan selalu berkembang dalam tindakannya adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan Public Relations di Abad 21. Dinamisme dalam era saat ini seharusnya dijalankan seorang Public Relation dengan terus berinovasi untuk tujuan kesuksesan komunikasi perusahaan terhadap masyarakat.
            Perlu disadari bahwa Public Relation menjadi unsur kunci bagi setiap program Corporate Social Responsibility (CSR). Karena CSR menjadi bagian krusial dalam menjaga keberlangsungan interaksi antara perusahaan dengan masyarakat maka konsistensi etika PR dalam menjalankan pekerjaannya menjadi sangat penting.
            Peran PR untuk memegang teguh etika begitu krusial karena sebagai kalangan profesional yang punya keahlian khusus, PR memiliki kekuasaan besar dalam membuat keputusan yang mempengaruhi setiap aspek masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan kode etik PR yang disahkan oleh Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Indonesia dalam pasal berikut:
Pasal 1 Komitmen Pribadi
Anggota Perhumas harus :
a)      Memiliki dan menerapkan standar moral serta reputasi setinggi mungkin dalam menjalankan profesi kehumasan;
b)      Berperan secara nyata dan sungguh-sungguh dalan upaya memasyarakatkan kepentingan Indonesia;
c)      Menumbuhkan dan mengembangkan hubungan antarwarga Negara Indonesia yang serasi dan selaras demi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa.
Oleh sebab itu, ketika dalam menjalankan program CSR perusahaan, seorang PR harus berorientasi pada menjaga moralitas pribadinya demi menjaga reputasi perusahaan dan dengan konsisten menjaga hubungan antar masyarakat dengan perusahaan (sustainable).
            Sebagai contoh dalam praktik kegiatan tersebut misalkan PR membuat program CSR berupa aktivitas “Go Green” berarti dari proses hulu hingga hilir seorang PR harus mampu mendampingi dan mengarahkan masyarakat untuk menjalankan program tersebut dengan bantuan publikasi media. Misalkan mulai dari melibatkan masyarakat melakukan kegiatan penanaman bibit pohon, konservasi keberadaan lahan hijau supaya tidak dirusak pihak-pihak yang beritikad buruk, pengawasan terhadap keberlangsungan bibit pohon yang di tanam, dan seterusnya. Dalam hal ini dimaksudkan supaya hubungan antara perusahaan dan masyarakat tidak hanya berhenti sampai pada penanaman bibit pohon saja. Karena ada tanggung jawab bersama dengan dibentuk ikatan antara perusahaan dengan masyarakat melalui peran PR. Hal ini sesuai dengan segi positif PR yang bertanggung jawab secara sosial “PR memenuhi tanggung jawab sosialnya untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dengan membantu sistem sosial beradaptasi dengan perubahan dan lingkungan”.
            Praktik tersebut kiranya harus dijaga segi positifnya dengan senantiasa berada di jalur kode etik PR. Sebab dalam praktik-nya dapat muncul kemungkinan segi negatif seperti: PR mendapat keuntungan karena mempromosikan dan mendukung kepentingan khusus, terkadang dengan mengorbankan kesejahteraan publik. Tampak dalam hal ini, integritas dari seorang PR menjadi sangat penting seperti ungkapan Alan Smith “Public Relation yang baik adalah pemikiran bisnis yang baik”.
           

Referensi:
Gregory, Anne, et.al. Public Relations Dalam Praktik. 2004. Penerbit Erlangga: Jakarta
http://biasta.files.wordpress.com/2008/10/kode-etik-humas.pdf

Kamis, 01 November 2012

Sustainable Responsibility for Sustainable Corporate




Peran perusahaan dalam menjaga keseimbangan alam ternyata sudah diterapkan beribu tahun sebelum masehi. Hal tersebut tercantum dalam Kode Hammurabi (1700-an SM) yang berisi 282 hukum telah memuat sanksi bagi para pengusaha yang lalai dalam menjaga kenyamanan warga atau menyebabkan kematian bagi pelanggannya. Dalam Kode Hammurabi disebutkan bahwa hukuman mati diberikan kepada orang-orang yang menyalahgunakan izin penjualan minuman, pelayanan yang buruk dan melakukan pembangunan gedung di bawah standar sehingga menyebabkan kematian orang lain. Ke-282 hukum dalam Kode Hammurabi itulah sebagai tonggak awal munculnya Corporates Social Responsibility.
           Lebih dari 4.000 tahun kemudian, banyak perusahaan (corporate) berlomba-lomba mensosialisasikan program Corporate Social Responsibility (CSR) mereka melalui media massa. Karena selain untuk menjaga keseimbangan alam, CSR ternyata juga berperan penting untuk publisitas dan pembentukan citra sebuah perusahaan. Pakar teori manajemen Peter F. Drucker membahas secara serius bidang CSR pada tahun 1984, Drucker berpendapat: ”But the proper ‘social responsibility’ of business is to tame the dragon, that is to turn a social problem into economic opportunity and economic benefit, into productive capacity, into human competence, into well-paid jobs, and into wealth”. Pernyataan tersebut telah memberikan ide baru agar korporasi dapat mengelola aktivitas CSR yang dilakukannya dengan sedemikian rupa sehingga tetap akan menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Sehingga perlu dilakukan aktivitas CSR yang memiliki keberlanjutan demi keberlangsungan perusahaan (sustainable responsibility for sustainable corporate).
            Melalui esai ini, penulis akan menyampaikan ulasan mengenai program CSR dari beberapa perusahaan, tentang tingkat sustainability-nya serta pencitraan yang terbentuk.

Body Shop and The “Woods Positive”
            Sebagai perusahaan kosmetik yang beritikad untuk menjaga keberlangsungan perusahannya, Body Shop juga telah menerapkan “no animal tested” yaitu tidak menguji cobakan secara klinis kandungan yang terdapat dalam kosmetiknya kepada binatang. Karena isu penyelamatan binatang di negara maju khususnya Eropa dan Amerika menjadi hal yang sangat sensitif. Namun bukan hal itu yang ingin penulis kaji lebih dalam, melainkan tentang program “Woods Positive” yang dijalankan oleh Body Shop.
            Woods Positive merupakan program CSR Body Shop untuk penyelamatan hutan sekaligus kampanye kemasan ramah lingkungan karena Body Shop menggunakan kertas yang telah disertifikasi eco-label untuk mengemas produknya. Woods Positive memiliki fokus terhadap 2 dari kategori hutan terbesar di dunia yaitu Atlantic Rainforest di Brazil serta Southern Andes di Ekuador.
            2 hutan tersebut menjadi fokus utama Body Shop karena selain terdapat pohon-pohon besar yang berusia ratusan tahun yang berkontribusi sebagai “paru-paru dunia, hutan-hutan tersebut juga tempat bernaung hewan-hewan yang nyaris punah seperti beruang, tapir dan puma. Sepanjang 2012 ini, Body Shop mencanangkan untuk melindungi sebanyak 45.000 pohon serta melakukan penanaman sebanyak 55.000 bibit pohon.
   


         Melihat program ini, penulis menilai bahwa Body Shop memahami pentingnya artinya konservasi dari sekedar reboisasi. Karena bagaimanapun juga peran pohon-pohon besar di hutan-hutan tersebut tidak bisa langsung digantikan oleh bibit-bibit pohon yang ditanam. Secara publisitas, dalam CSR ini Body Shop telah menjadi top of mind bagi konsumennya sebagai produk kosmetik premium yang ramah lingkungan.

Pertamina Scholarship
Pertamina adalah sebuah perusahaan pertambangan minyyak dan gas bumi terbesar milik pemerintah. Dengan konsep perusahaan yang produknya mengambil dari Sumber Daya Alam, seharusnya dalam program CSR-nya, Pertamina banyak melakukan program untuk pemulihan alam. Entah sudah dilakukan atau belum, namun melalui website www.pertamina.com yang dipublikasikan adalah program Pertamina Scholarship sebagai mana dikutip penulis sebagai berikut “....Kepada mahasiswa ITB, Pertamina mengeluarkan anggaran Rp 1 milyar. Sementara untuk beasiswa S-2 PNS, Pertamina mengeluarkan anggaran Rp 1,8 milyar. Angka yang besar ini tentu harus diikuti dengan target. Tidak hanya prestasi akademik mahasiswa, tetapi kemanfaatan beasiswa itu bagi tumbuhnya kemandirian, kemajuan dan pembangunan bangsa ke depan. Disinilah pentingnya melihat isu-isu pembangunan strategis yang menjadi prioritas bidang keilmuan yang perlu mendapatkan perhatian untuk diberikan beasiswa.
Pengaturan CSR di Indonesia terdapat pada Undang – Undang 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Undang – Undang 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Dalam UUPT pengaturan tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan hanya di atur dalam pasal 74, pasal tersebut berisi tentang: “1. perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan;”
Berarti selain tanggung jawab sosial, Pertamina seharusnya memiliki tanggung jawab lingkungan. Dari publisitas yang dilakukan, menurut penulis, program CSR yang dijalankan Pertamina juga dirasa kuurang relevan karena beasiswa yang diberikan kurang mengacu pada aspek sosial yang lebih komprehensif semisal pemberdayaan pendidikan di daerah terpencil yang masih banyak anak putus sekolah, bukan di universitas ternama atau bahkan untuk S2 PNS.

Djarum and the “Cultural Initiatives”
            Menurut penulis, publisitas akan kegiatan CSR Djarum sudah dilakukan dengan baik. Nyaris semua sektor oleh Djarum dibuat CSR-nya mulai dari lingkungan, pendidikan, olahraga bahkan seni dan budaya. Belum banyak perusahaan yang mengeksplorasi budaya untuk program CSR-nya. Kebetulan Djarum menjadi salah satu yang memiliki kepedulian terhadap hal tersebut.
            Dalam program Cultural Initiatives-nya, Djarum membuat kampanye “Indonesia Kaya” yang disosialisaikan secara online maupun offline. Untuk online, dibuatlah website www.IndonesiaKaya.com serta interaksi dengan fans maupun follower melalui facebook IndonesiaKaya dan twitter @IndonesiaKaya.
            Sedangkan untuk kegiatan offline, secara berkesinambungan Djarum menjadi sponsor acara-acar yang memiliki kepedulian terhadap seni dan budaya, contohnya pertunjukkan Beta Cinta Nusantara karya Guruh Soekarno Putra dan Modern Library of Indonesia.


Coca Cola: Penyelamatan Lingkungan Sekaligus Perluasan Lapangan Kerja
            Sejak 2008, Coca Cola bekerja sama dengan QuickSilver membuat gerakan Bali Beach Clean Up and Turtle Conservation. Kegiatan ini melibatkan pemuda-pemuda lokal untuk melakukan pembersihan di pantai-pantai di Bali secara reguler demi menjaga keberlangsungan ekosistem laut termasuk melakukan konservasi terhadap penyu. Berikut kutipan di web www.coca-colaamatil.co.id Masyarakat setempat mengatakan bahwa lebih banyak  penyu menetaskan telur mereka di pantai. Hal ini memicu kami untuk mengembangkan fasilitas pembenihan yang dikenal sebagai Kuta Beach Sea Turtle Conservation (KBSTC) ntuk melindungi penyu dan membantu mereka kembali ke habitat alami mereka. Sejak pembangunannya, kami telah melindungi sekitar 7.600 telur penyu”.
            Dengam melibatkan masyarakat setempat, dalam hal ini Coca Cola telah melakukan kegiatan CSR dalam aspek sosial sekaligus lingkungan. Namun dari segi publisitas, program ini sepertinya gaungnya hanya terdengar di Bali saja.

            Simpulan yang bisa disampaikan dalam uraian ini adalah perlunya kesadaran bagi setiap perusahaan bahwa dalam menjalankan usahanya mereka telah mengambil potensi baik dari sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Sehingga perlu dilakukan keseimbangan dengan melaksanakan program CSR dalam lingkup sosial dan lingkungan demi keberlangsungan usaha dan aspek-aspek di sekitar yang mendukung usaha tersebut.


Referensi:
Hendrik Budi Untung, Corporate social responsibility , Sinar Grafika, Jakarta, 2008, hlm 1.
Isa Wahyudi, Busyra Azheri, Corporate Social Responsibility, In-Trans Publishing, Malang, 2008, hlm 35-36.
http://blog.auditor-internal.com/?p=8