Selasa, 11 Desember 2012

ETIKA & ESTETIKA DALAM IKLAN




            Persaingan dalam dunia bisnis kian ketat, berbagai perusahaan berlomba-lomba berkreasi se-kreatif mungkin untuk membuat program marketingnya termasuk pengolahan ide iklan. Lihat saja di televisi, berbagai iklan diputar di sela-sela tayangan program televisi tersebut. Bila iklan tidak dibuat semenarik mungkin, maka orang akan lebih memilih untuk mengganti channel televisi daripada melihat iklannya. Sama juga dengan iklan di media pajang seperti billboard. Laju kendaraan dan padatnya lalu lintas membuat orang sulit untuk fokus pada suatu iklan tertentu. Berdasar dari insight itulah, berbagai pembuat iklan selalu berusaha membuat iklan yang unik, berbeda dan menarik.

Etika?
Ilmu tentang apa yang  baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral  (KBBI).

            Unik dan menarik-nya sebuah iklan bisa menimbulkan kontroversi apabila tidak mengacu pada kaidah etika. Selayaknya pembuatan konsep kreatif sebuah iklan mengacu pada ciri iklan yang baik yaitu:
·         Etis: berkaitan dengan kepantasan.
·         Estetis: berkaitan dengan kelayakan (target market, target audiennya, kapan harus ditayangkan?).
·         Artistik: bernilai seni sehingga mengundang daya tarik khalayak.
·         Jujur : tidak memuat konten yang tidak sesuai dengan kondisi produk yang diiklankan
·         Tidak memicu konflik SARA
·         Tidak mengandung pornografi
·         Tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
·         Tidak melanggar etika bisnis, ex: saling menjatuhkan produk tertentu dan sebagainya.
·         Tidak plagiat

Sejarah Etika Periklanan Di Indonesia
Aturan, tata cara dan etika dalam beriklan sempat menjadi perbincangan di masa periklanan modern Indonesia pada tahun 1978 yaitu inisiatif untuk melahirkan Tata Krama Periklanan Indonesia. Contohnya saat itu pemerintah Indonesia mendukung dibentuknya Dewan Periklanan Nasional yang beranggotakan PPPI (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia), SPS (Seikat Penerbit Surat kabar), TVRI & RRI, PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia, GPBSI (Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia) dan YLKI (yayasan Lembaga Konsumen Indonesia). Sayangnya dewan itu hanya berusia satu tahun sebelum pada akhirnya dibubarkan. Tata Krama Periklanan Indonesia yang dicita-citakan akan lahir dari Dewan Periklanan Nasional tidak sempat menjadi kenyataan. Beberapa pendapat mengatakan beberapa hal bahwa terutama ini karena tekanan dari pengelola media cetak yang menginginkan agar kode etik periklanan mengacu pada Kode Etik Penerbitan Pers yang sudahh dimiliki dan diberlakukan oleh SPS bagi par anggotanya.
Pada pertengahan tahun 1980, Aspindo (Asosiasi Pemrakarsa dan Penyantun Iklan Indonesia) memprakarsai sebuah Simposium Periklanan Nasional bersama PPPI, SPS dan PRSSNI. Semua draft dan butir-butir pikiran Tata Krama Periklanan Indonesia yang pernah dirumuskan di masing-masing organisasi “dipertemukan” dalam simposium ini dan dibahas secara bersama.
Menjelang akhir tahun 1980, sebagai kelanjutan dalam Simposium Periklanan Nasional, diselenggarakan Konvensi Masyarakat Periklanan Indonesia untuk mencoba merumuskan sebuah rancangan Tata Krama Periklanan Indonesia yang dapat disepakati bersama. Setelah melalui persidangan sebanyak 68 kali dalam waktu delapan bulan, akhirnya lahirlah Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia. (TKTCPI).

ETIKA PARIWARA INDONESIA (EPI)
(Disepakati Organisasi Periklanan dan Media Massa, 2005). EPI merupakan acuan terkini dalam mengatur pembuatan iklan supaya tetap mengacu kaidah etika sesuai dengan norma dan hukum yang berlaku di Indonesia. Terdapat dua puluh tujuh poin yang menjadi aturan atau etika dalam beriklan di indonesia.
            Melalui tulisan ini, penulis tidak akan menjabarkan ke-dua puluh tujuh poin tersebut. Namun penulis akan mengacu pada beberapa poin saja yang disinkronkan dengan iklan media cetak berikut ini:


            Iklan tersebut di atas bukan hasil produksi dari insan periklanan di Indonesia. Dalam asumsi penulis, iklan sebuah produk soft drink ini bermaksud mengusung imej sebagai minuman yang mampu menghilangkan rasa takut dan memunculkan rasa senang. Oleh sebab itu kreator menggambarkannya dengan orang yang akan dihukum gantung namun justru berekspresi senang melalui senyumannya ketika minum soft drink tersebut.
            Bila dikorelasikan dengan aturan etika periklanan dalam Etika Pariwara Indonesia, iklan media cetak tersebut berbenturan dengan dua poin dalam aturan ini yaitu poin ke sembilan dan ke sepuluh yang berbunyi sebagai berikut:
9. Rasa Takut dan Takhayul: Iklan tidak boleh menimbulkan atau mempermainkan rasa takut, maupun memanfaatkan kepercayaan orang terhadap takhayul, kecuali untuk tujuan positif.
10. Kekerasan: Iklan tidak boleh – langsung maupun tidak langsung -menampilkan adegan kekerasan yang merangsang atau memberi kesan membenarkan terjadinya tindakan kekerasan.
            Iklan tersebut menjadi berbenturan dengan EPI karena secara visual dapat menimbulkan rasa takut melalui gambaran kekerasan (algojo dan hukum gantung).
Disangkutkan dengan hal lainnya, pada bulan Juni 2012 lalu, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) DKI Jakarta bekerjasama dengan PT Fonterra Brands Indonesia, perusahaan susu yang berpusat di Auckland, New Zealand, baru-baru ini menggelar diskusi “Etika Periklanan: Pedoman Periklanan Produk Pangan” di Ritz Carlton, Jakarta. Diskusi tersebut merupakan wadah komunikasi terbuka antar semua pihak yang terlibat dalam penayangan pariwara, yaitu industri periklanan, pebisnis, pemerintah, dan lembaga swadaya masyarakat terkait.
Membuka acara diskusi, Ketua P3I DKI Jakarta, Irfan Ramli mengatakan bahwa pedoman periklanan yang ada saat ini belum cukup sempurna untuk dapat mengikuti perkembangan dunia iklan baik dari segi kreativitas, maupun media sehingga diperlukan adanya pembaruan periklanan. Banyak biro iklan yang belum termasuk dalam keanggotaan P3I, sehingga P3I sendiri cukup kesulitan untuk memantau semua konten media beriklan. Untuk menayangkan iklan produk pangan pada khususnya, banyak kepentingan yang terlibat. Namun dengan adanya ketentuan-ketentuan periklanan seharusnya pekerjaan ini bisa lebih mudah. Agensi iklan tetap bisa menjaga kreativitasnya di jalur yang sesuai dan produsen tetap bisa mengiklankan produknya, meskipun harus tetap mengikuti pedoman periklanan produk pangan dari BPOM.
Mengenai keterkaitan Badan POM dalam hal ini, Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan POM RI Roy A. Sparringa dalam pertemuan tersebut menyampaikan bahwa  dalam membuat peraturan terkait keamanan pangan, selama ini BPOM berpegang pada pedoman CODEX, yaitu komisi di bawah Food andAgricultural Organization (FAO) dan World Health Organization (WHO) yang mengatur standardisasi keamanan pangan. CODEX juga sudah banyak diperhatikan oleh perusahaan besar. Saat ini, Badan POM tengah mengembangkan dan memperbaiki pedoman yang mengatur mengenai produk pangan, khususnya tentang periklanan. Pedoman ini memiliki ketentuan dasar bahwa sebuah iklan harus benar dan tidak menyesatkan, mengingat eratnya hubungan antara iklan dengan persepsi konsumen.
Dalam pembuatan iklan sendiri, menurut Roy A. Sparringa, terlebih mengenai penayangan iklan di media elektronik, masyarakat khususnya anak-anak cenderung mudah menyerap pesan dari iklan-iklan yang ditayangkan di TV, sehingga para pelaku iklan harus lebih cermat dan memahami perilaku konsumen. Di sinilah etika mulai berperan dalam memberikan tata krama dan tata cara beriklan agar pelaku usaha sebagai pengiklan dan asosiasi iklan bertindak sesuai dengan aturan.
Dapat disimpulkan dari diskusi ini bahwa dalam melaksanakan etika periklanan, khususnya untuk produk makanan dan minuman, diperlukan kerjasama yang kondusif antara badan yang berwenang dan pihak pengontrol iklan yakni industri, pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian etika periklanan menjadi usaha nyata untuk memberikan informasi yang benar dan mendidik kepada konsumen serta meningkatkan kualitas industri periklanan sesuai dengan perkembangannya.
Penulis juga ingin menyampaikan tentang pandangan kritis konsumen Indonesia saat ini selain mengenai kandungan dalam produk makanan dan minuman juga adalah status halal dan haramnya produk konsumsi tersebut. Jadi dalam pandangan penulis, dalam iklan produk makanan dan minuman seharusnya memegang etika periklanan dengan mencantumkan keterangan lolos uji klinis BPOM serta keterangan halal dari MUI.
Merujuk pada contoh kasus iklan media cetak di atas, apabila iklan tersebut muncul di Indonesia, selain melanggar 2 poin dalam Etika Pariwara Indonesia, menurut penulis juga iklan minuman tersebut belum memenuhi norma iklan di Indonesia untuk mencantumkan lolos uji klinis BPOM RI dan juga keterangan halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia).

Daftar Pustaka
Winarno, Bondan. Rumah Iklan: Upaya Matari Menjadikan Periklanan Indonesia Tuan Rumah Di negeri Sendiri. 2008. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
http://ruangdosen.wordpress.com/2010/04/04/etika-dalam-periklanan/
http://the-marketeers.com/archives/peran-etika-periklanan-produk-makanan-dan-minuman.html

CIMB Niaga For The Young & Restless




            Ada sisi unik dari bank bernama CIMB ini yang membuat penulis tergelitik untuk menulis artikel tentang tools Integrated Marketing Communication yang digunakannya. Penulis mulai menjadi nasabah bank ini tahun 2011 lalu ketika pindah kerja di sebuah instansi kesehatan dan mengharuskan karyawan memiliki rekening CIMB Niaga untuk transfer payroll gaji.
            Awalnya penulis merasa terpaksa untuk membuka rekening di bank ini karena harus menuruti aturan perusahaan tempat penulis bekerja saat itu. Namun kini bahkan ketika penulis sudah tidak bekerja di perusahaan yang dulu mengharuskannya memiliki rekening CIMB Niaga, justru penulis mempertahankan rekening tersebut dan merasa nyaman untuk bertransaksi via produk layanan CIMB Niaga.
            Seiring jalannya waktu, penulis semakin merasa memiliki chemistry dengan produk perbankan ini. Oleh sebab itu, penulis mendeskripsikan CIMB Niaga sebagai produk perbankan bagi orang yang berjiwa young and restless yaitu muda dan gigih. Kenapa penulis bisa mendeskripsikan CIMB Niaga seperti itu? Hal tersebut dinilai dari cara komunikasi CIMB Niaga terhadap target pasarnya.
            Bila pembaca termasuk kategori orang yang gemar nonton di bioskop, pasti sering melihat iklan produk Go Mobile dari CIMB Niaga di Studio 21 dan Cinema XXI berikut ini:

            Dalam iklan tersebut digambarkan seorang perempuan muda yang sekaligus sutradara film sedang syuting film di suatu daerah terpencil. Sedangkan di kota, adiknya yang merasa tidak mencukupi waktunya untuk ke atm melakukan transfer uang akhirnya menghubungi kakaknya si perempuan muda itu untuk melakukan transfer via go mobile. Karakter perempuan muda dalam iklan tersebut menggambarkan sosok jiwa yang muda, dinamis, penuh aktivitas dan high connected karena di pra-sarana-i oleh keberadaan gadget.
            Iklan CIMB Niaga sebelum pemutaran film dimulai di teater bioskop Studio 21 dan Cinema XI tersebut, diintegrasikan dengan program loyalty member berupa gratis pop corn setiap pembelian tiket film di Studio 21 dan Cinema XXI dengan menggunakan kartu debit CIMB Niaga. Dalam benak penulis, sepertinya CIMB Niaga cukup matang memikirkan konsep ini, produk perbankan ini seolah-olah menyadari bahwa karakter segmen pasarnya yang young and restless ini menyukai acara nonton di bioskop untuk mengisi waktu luang di tengah-tengah kesibukan mereka.

Program gratis pop corn bagi pemegang kartu debit CIMB Niaga saat ini masih terlihat berlaku di Cinema XXI Jln Urip Sumoharjo Jogja.
            Sebagai bagian dari mengintegrasikan fitur produk Go Mobile dengan pergerakan serta dinamika target pasarnya maka CIMB Niaga bekerja sama dengan Air Asia membuat bundling program: Air Asia Savers yaitu pembelian tiket pesawatt Air Asia dengan harga khusus bagi pemegang kartu debit CIMB Niaga dan pembelian dilakukan melalui fitur layanan internet banking CIMB Clicks. Dengan demikian, CIMB Niaga seperti menyampaikan pada nasabahnya bahwa “kami ngerti lho Anda suka mobile kemana-mana, nah dengan CIMB Niaga Air Asia Savers, Anda bisa travelling hemat kemana saja plus nikmati kemudahan bertransaksi di mana saja dan kapan saja dengan fitur layanan Go Mobile”.
            Sebagai sebuah produk perbankan, CIMB Niaga juga menawarkan gaya hidup untuk jiwa-jiwa yang merasa young and restless itu tadi supaya berani berinvestasi melalui reksadana. Sebelumnya, CIMB Niaga cukup dianggap kredibel sebagai bank kustodian investasi reksadana setelah bank BCA. Berbekal “nama” itulah akhirnya CIMB Niaga membuat produk investasi reksadana sendiri dengan investasi awal hanya Rp 100.000.

            Dari beberapa tools Integrated Marketing Communication, yang digunakan CIMB Niaga adalah berupa: iklan seperti yang ditampilkan sebelum pemutaran film bioskop; Public Relation seperti pembuatan press conference dan juga mengaktifkan loyalty program terhadap nasabah dan Internet sebagai tools andalan CIMB Niaga dalam mempromosikan produknya. Kemungkinan CIMB Niaga juga menggunakan tools lain dalam aktivitas IMC-nya. Namun memang tiga tools tersebut tampak mendominasi dalam penilaian penulis.

Jumat, 30 November 2012

Menyelami Kreativitas Indonesia


Rempah-rempah boleh-lah pernah dirampas oleh penjajah, kesenian kita bisa diakui oleh negara lain. Tapi 1 hal yang tidak akan pernah habis adalah kreativitas. Memang sudah banyak perjuangan untuk membebaskan diri dari penjajah, memperjuangkan hak cipta kesenian budaya yang diklaim negara lain namun kreativitas bangsa tidak akan bisa diambil atau ditiru secara identik oleh negara lain. Inilah yang membanggakan dari Indonesia, bangsa-nya tidak pernah berhenti untuk berkreasi.
     Dalam sektor ekonomi, kreativitas saat ini menjadi suatu komoditi yang sangat menguntungkan dan mampu memberikan kontribusi secara signifikan bagi perekonomian negara. Geliat Usaha Kecil Menengah dan Industri Kreatif mulai mendapat perhatian serius dari pemerintah. Pemerintah menjadi begitu perhatian dalam pemberdayaan UKM dan industri kreatif ini karena secara fakta industri ini tidak tergantung hutang luar negri, menggunakan sumber daya lokal serta berorientasi ekspor.
        Penulis percaya bahwa insan di UKM serta industri kreatif ini memiliki nilai unik dalam mengembangkan usaha kreatif mereka yaitu mengusung kearifan lokal sehingga mampu membuat bisnis mereka sustainable. Sebagai contohnya adalah apa yang telah dilakukan para pelaku industri kreatif di desa wisata Kasongan Yogyakarta. Mereka yang terkenal dalam pembuatan kerajinan keramik dan gerabah ini harus memulai lagi bisnis mereka dari nol bahkan minus ketika gempa bumi di Yogyakarta pada 27 Mei 2006 telah menghancurkan usaha mereka.

sumber gambar: nvidiandy.blogspot.com 

      Meskipun telah hancur, masyarakat Kasongan berpikir bagaimana caranya supaya bisnis mereka mampu bangkit kembali meski sempat dalam waktu tiga bulan paska gempa tidak ada pergerakan sama sekali. Walau produk keramik dan gerabah berisiko mudah hancur ketika terjadi gempa namun mereka tetap fokus pada bisnis ini. Hal tersebut dilakukan karena secara filosofis, desa wisata Kasongan merupakan warisan dari Kyai Song, salah satu pengikut pangeran Diponegoro yang mengembangkan pembuatan gerabah dan tembikar di kawasan tersebut pada tahun 1675 untuk pembuatan peralatan dapur. Baru kemudian pada tahun 1875 mulai dikembangkanlah produk gerabah untuk celengan dan hiasan dinding. Sekarang mereka percaya bahwa tidak hanya kawasan kasongan saja yang diwariskan terhadap mereka melainkan semangat dan kreativitas nenek moyang mereka juga telah diturunkan pada mereka. Bahkan kini nilai ekspor produk Kasongan sudah jauh melampaui nilai ekspor sebelum gempa Mei 2006 silam dan prospek tersebut sudah tampak pada tahun 2009, sebuah perjuangan yang luar biasa.
      Penulis yang menulis artikel ini dalam rangka Lomba Blogging Marketeers, memiliki mimpi untuk bisa menyelami potensi-potensi kreatif lainnya di berbagai belahan Nusantara yang kaya akan ragam budaya ini. Terus kreatif dan semangat Indonesia-ku!

Rabu, 07 November 2012

Kalau Sabun Bikin “Opera Sabun”



Pengalaman, itulah yang ingin disajikan sebuah merk ketika merilis program marketingnya kepada konsumen. Kali ini, penulis akan membahas mengenai pengalaman konsumen menggunakan sabun Lux dengan berandai-andai menjadi seorang perempuan yang selalu ingin tampil mempesona.
            Tahukah Anda dengan istilah “Star Rising”? Menurut penulis, Star Rising adalah bagian dari “opera sabun” yang dibuat oleh sabun Lux sebagai kampanye program marketingnya beberapa tahun lalu. Muncullah nama Mariana Renata, seorang model berparas lembut yang akhirnya namanya mencuat dan mampu meraih perhatian publik ketika dia membintangi sebuah film berjudul “Janji Joni” yang juga disponsori oleh sabun Lux di saat Lux sendiri sedang melancarkan kampanye “Pancarkan Pesona Bintangmu”.

            Mariana Renata yang waktu itu baru saja datang ke Indonesia setelah lama tinggal di luar negeri telah di-set sedemikian rupa oleh Lux sehingga seolah-olah Lux telah berhasil memancarkan pesona bintang dalam diri Mariana Renata ketika dia tampil membintangi film “Janji Joni” bersama Nicholas Saputra. Cerita itulah yang ingin diarahkan menjadi pengalaman para konsumen ketika menggunakan sabun Lux.
            Mengeksplorasi para perempuan yang selalu ingin tampil mempesona menjadi tujuan utama Lux. Jadi, seandainya penulis sebagai perempuan yang menggunakan sabun Lux, akan lebih berorientasi pada pengalaman sebagai konsumennya, yaitu punya pesona bintang yang akan makin terpancarkan setelah menggunakan sabun Lux. Selain itu, dalam kampanye tersebut, sepertinya Lux juga menyasar kaum perempuan dari sisi “drama queen” mereka. Dengan menyentuh sisi “drama queen” konsumennya, Lux juga tampil sebagai motivator bagi para perempuan untuk konsisten dengan tujuan dan cita-cita dengan selalu memancarkan pesona bintang hingga mereka dapat menjadi se-berkilau Mariana Renata. Apalagi karakter Mariana Renata dalam film “Janji Joni” disandingkan dengan Nicholas Saputra dimana hal itu menjadi impian perempuan-perempuan muda lainnya. Engagement yang dibentuk oleh Lux melalui “Pancarkan Pesona Bintangmu” adalah menyajikan pengalaman kepada pemakai sabunnya untuk lebih percaya diri dengan memancarkan aura bintang setelah menggunakan sabun Lux.
            Sebagai komparasi, kebetulan penulis saat ini tidak menggunakan sabun Lux. Ada beberapa alasan kenapa penulis memilih produk sabun lain untuk digunakan. Saat ini penulis menggunakan sabun anti kuman Dettol, bukan lantaran semata-mata terpengaruh iklan. Namun lebih karena penulis yang menyadari memiliki kulit berminyak sehingga membutuhkan sabun anti kuman yang berfungsi menekan sebaran kuman sehingga mampu mencegah keringat berlebih dan bau badan.

            Bicara soal sabun anti kuman sebenarnya ada banyak sabun anti kuman yang ditawarkan di pasaran ini. Dari variasi produk sabun anti kuman tersebut, barulah penulis dipengaruhi oleh iklan. Penulis memilih Dettol sebenarnya simpel, karena kemasan serta logo-nya yang didominasi warna hijau. Hijau adalah warna favorit penulis yang penulis yakini warna hijau adalah simbol kepercayaan diri baginya. Sebenarnya ada Lifebuoy yang pada dasarnya telah muncul sebagai Top of Mind sebagai sabun anti kuman bagi konsumennya. Namun penulis tetap meilih Dettol karena merasa ada bagian yang nyambung antara konsep produk anti kuman serta kemasan warna hijau-nya dengan hal yang diinginkan penulis untuk sebuah produk sabun. Entah apakah ketika kemasan dan logo Dettol berubah nantinya menjadi tidak didominasi hijau, penulis masih akan tetap menggunakannya? Let’s see later!
            Kembali kepada sabun Lux. Kenapa Lux memilih target perempuan? Termasuk hingga membuat program “Pancarkan Pesona Bintangmu”? Mari kita lihat esensi dari pentingnya penentuan target pasar dalam komunikasi pemasaran. Tim Markplus Institute of Marketing mengungkapkan; Menetapkan sasaran pasar penting bagi perusahaan karena dua hal berikut:
1.      Pelanggan memiliki karakter dan kebutuhan yang beragam sehingga harus dikelompokkan ke dalam segmen-segmen terkecil dengan karakter yang sama.
2.      Perusahaan memiliki sumber daya yang terbatas untuk ditawarkan ke semua pasar, sehingga perusahaan harus memilah alokasi sumber daya yang tepat ke pasar yang tepat.
Dengan memperhatikan pernyataan dari tim Markplus Institute of Marketing tersebut maka tampak bahwa Lux mengamini hal tersebut karena paham akan pentingnya menentukan target pasar. Dan ternyata, dengan menyasar target perempuan, Lux dirasa telah mampu menyentuh sisi emotional konsumennya secara personal. Pada tingkat ini, proses internalisasi merek mulai dipromosikan keluar, membuat hubungan merek dengan konsumen sebagai bagian budaya yang experiental (membuat pengalaman) sehingga konsumen akan merasa telah “tidur”, “makan” dan “menikmati hari” bersama merek tersebut. Seperti Lux yang mampu membuat para perempuan senantiasa merasa memancarkan pesona bintangnya.

Referensi:
Tim Markplus. The Official MIM Academy Coursebook: Brand Operation. Esensi-Erlangga Group. Jakarta: 2010

Senin, 05 November 2012

Etika Public Relation Dalam Penerapan CSR



            Anne Gregory menyampaikan: dinamis, bergerak cepat dan selalu berkembang dalam tindakannya adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan Public Relations di Abad 21. Dinamisme dalam era saat ini seharusnya dijalankan seorang Public Relation dengan terus berinovasi untuk tujuan kesuksesan komunikasi perusahaan terhadap masyarakat.
            Perlu disadari bahwa Public Relation menjadi unsur kunci bagi setiap program Corporate Social Responsibility (CSR). Karena CSR menjadi bagian krusial dalam menjaga keberlangsungan interaksi antara perusahaan dengan masyarakat maka konsistensi etika PR dalam menjalankan pekerjaannya menjadi sangat penting.
            Peran PR untuk memegang teguh etika begitu krusial karena sebagai kalangan profesional yang punya keahlian khusus, PR memiliki kekuasaan besar dalam membuat keputusan yang mempengaruhi setiap aspek masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan kode etik PR yang disahkan oleh Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Indonesia dalam pasal berikut:
Pasal 1 Komitmen Pribadi
Anggota Perhumas harus :
a)      Memiliki dan menerapkan standar moral serta reputasi setinggi mungkin dalam menjalankan profesi kehumasan;
b)      Berperan secara nyata dan sungguh-sungguh dalan upaya memasyarakatkan kepentingan Indonesia;
c)      Menumbuhkan dan mengembangkan hubungan antarwarga Negara Indonesia yang serasi dan selaras demi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa.
Oleh sebab itu, ketika dalam menjalankan program CSR perusahaan, seorang PR harus berorientasi pada menjaga moralitas pribadinya demi menjaga reputasi perusahaan dan dengan konsisten menjaga hubungan antar masyarakat dengan perusahaan (sustainable).
            Sebagai contoh dalam praktik kegiatan tersebut misalkan PR membuat program CSR berupa aktivitas “Go Green” berarti dari proses hulu hingga hilir seorang PR harus mampu mendampingi dan mengarahkan masyarakat untuk menjalankan program tersebut dengan bantuan publikasi media. Misalkan mulai dari melibatkan masyarakat melakukan kegiatan penanaman bibit pohon, konservasi keberadaan lahan hijau supaya tidak dirusak pihak-pihak yang beritikad buruk, pengawasan terhadap keberlangsungan bibit pohon yang di tanam, dan seterusnya. Dalam hal ini dimaksudkan supaya hubungan antara perusahaan dan masyarakat tidak hanya berhenti sampai pada penanaman bibit pohon saja. Karena ada tanggung jawab bersama dengan dibentuk ikatan antara perusahaan dengan masyarakat melalui peran PR. Hal ini sesuai dengan segi positif PR yang bertanggung jawab secara sosial “PR memenuhi tanggung jawab sosialnya untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dengan membantu sistem sosial beradaptasi dengan perubahan dan lingkungan”.
            Praktik tersebut kiranya harus dijaga segi positifnya dengan senantiasa berada di jalur kode etik PR. Sebab dalam praktik-nya dapat muncul kemungkinan segi negatif seperti: PR mendapat keuntungan karena mempromosikan dan mendukung kepentingan khusus, terkadang dengan mengorbankan kesejahteraan publik. Tampak dalam hal ini, integritas dari seorang PR menjadi sangat penting seperti ungkapan Alan Smith “Public Relation yang baik adalah pemikiran bisnis yang baik”.
           

Referensi:
Gregory, Anne, et.al. Public Relations Dalam Praktik. 2004. Penerbit Erlangga: Jakarta
http://biasta.files.wordpress.com/2008/10/kode-etik-humas.pdf

Kamis, 01 November 2012

Sustainable Responsibility for Sustainable Corporate




Peran perusahaan dalam menjaga keseimbangan alam ternyata sudah diterapkan beribu tahun sebelum masehi. Hal tersebut tercantum dalam Kode Hammurabi (1700-an SM) yang berisi 282 hukum telah memuat sanksi bagi para pengusaha yang lalai dalam menjaga kenyamanan warga atau menyebabkan kematian bagi pelanggannya. Dalam Kode Hammurabi disebutkan bahwa hukuman mati diberikan kepada orang-orang yang menyalahgunakan izin penjualan minuman, pelayanan yang buruk dan melakukan pembangunan gedung di bawah standar sehingga menyebabkan kematian orang lain. Ke-282 hukum dalam Kode Hammurabi itulah sebagai tonggak awal munculnya Corporates Social Responsibility.
           Lebih dari 4.000 tahun kemudian, banyak perusahaan (corporate) berlomba-lomba mensosialisasikan program Corporate Social Responsibility (CSR) mereka melalui media massa. Karena selain untuk menjaga keseimbangan alam, CSR ternyata juga berperan penting untuk publisitas dan pembentukan citra sebuah perusahaan. Pakar teori manajemen Peter F. Drucker membahas secara serius bidang CSR pada tahun 1984, Drucker berpendapat: ”But the proper ‘social responsibility’ of business is to tame the dragon, that is to turn a social problem into economic opportunity and economic benefit, into productive capacity, into human competence, into well-paid jobs, and into wealth”. Pernyataan tersebut telah memberikan ide baru agar korporasi dapat mengelola aktivitas CSR yang dilakukannya dengan sedemikian rupa sehingga tetap akan menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Sehingga perlu dilakukan aktivitas CSR yang memiliki keberlanjutan demi keberlangsungan perusahaan (sustainable responsibility for sustainable corporate).
            Melalui esai ini, penulis akan menyampaikan ulasan mengenai program CSR dari beberapa perusahaan, tentang tingkat sustainability-nya serta pencitraan yang terbentuk.

Body Shop and The “Woods Positive”
            Sebagai perusahaan kosmetik yang beritikad untuk menjaga keberlangsungan perusahannya, Body Shop juga telah menerapkan “no animal tested” yaitu tidak menguji cobakan secara klinis kandungan yang terdapat dalam kosmetiknya kepada binatang. Karena isu penyelamatan binatang di negara maju khususnya Eropa dan Amerika menjadi hal yang sangat sensitif. Namun bukan hal itu yang ingin penulis kaji lebih dalam, melainkan tentang program “Woods Positive” yang dijalankan oleh Body Shop.
            Woods Positive merupakan program CSR Body Shop untuk penyelamatan hutan sekaligus kampanye kemasan ramah lingkungan karena Body Shop menggunakan kertas yang telah disertifikasi eco-label untuk mengemas produknya. Woods Positive memiliki fokus terhadap 2 dari kategori hutan terbesar di dunia yaitu Atlantic Rainforest di Brazil serta Southern Andes di Ekuador.
            2 hutan tersebut menjadi fokus utama Body Shop karena selain terdapat pohon-pohon besar yang berusia ratusan tahun yang berkontribusi sebagai “paru-paru dunia, hutan-hutan tersebut juga tempat bernaung hewan-hewan yang nyaris punah seperti beruang, tapir dan puma. Sepanjang 2012 ini, Body Shop mencanangkan untuk melindungi sebanyak 45.000 pohon serta melakukan penanaman sebanyak 55.000 bibit pohon.
   


         Melihat program ini, penulis menilai bahwa Body Shop memahami pentingnya artinya konservasi dari sekedar reboisasi. Karena bagaimanapun juga peran pohon-pohon besar di hutan-hutan tersebut tidak bisa langsung digantikan oleh bibit-bibit pohon yang ditanam. Secara publisitas, dalam CSR ini Body Shop telah menjadi top of mind bagi konsumennya sebagai produk kosmetik premium yang ramah lingkungan.

Pertamina Scholarship
Pertamina adalah sebuah perusahaan pertambangan minyyak dan gas bumi terbesar milik pemerintah. Dengan konsep perusahaan yang produknya mengambil dari Sumber Daya Alam, seharusnya dalam program CSR-nya, Pertamina banyak melakukan program untuk pemulihan alam. Entah sudah dilakukan atau belum, namun melalui website www.pertamina.com yang dipublikasikan adalah program Pertamina Scholarship sebagai mana dikutip penulis sebagai berikut “....Kepada mahasiswa ITB, Pertamina mengeluarkan anggaran Rp 1 milyar. Sementara untuk beasiswa S-2 PNS, Pertamina mengeluarkan anggaran Rp 1,8 milyar. Angka yang besar ini tentu harus diikuti dengan target. Tidak hanya prestasi akademik mahasiswa, tetapi kemanfaatan beasiswa itu bagi tumbuhnya kemandirian, kemajuan dan pembangunan bangsa ke depan. Disinilah pentingnya melihat isu-isu pembangunan strategis yang menjadi prioritas bidang keilmuan yang perlu mendapatkan perhatian untuk diberikan beasiswa.
Pengaturan CSR di Indonesia terdapat pada Undang – Undang 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Undang – Undang 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Dalam UUPT pengaturan tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan hanya di atur dalam pasal 74, pasal tersebut berisi tentang: “1. perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan;”
Berarti selain tanggung jawab sosial, Pertamina seharusnya memiliki tanggung jawab lingkungan. Dari publisitas yang dilakukan, menurut penulis, program CSR yang dijalankan Pertamina juga dirasa kuurang relevan karena beasiswa yang diberikan kurang mengacu pada aspek sosial yang lebih komprehensif semisal pemberdayaan pendidikan di daerah terpencil yang masih banyak anak putus sekolah, bukan di universitas ternama atau bahkan untuk S2 PNS.

Djarum and the “Cultural Initiatives”
            Menurut penulis, publisitas akan kegiatan CSR Djarum sudah dilakukan dengan baik. Nyaris semua sektor oleh Djarum dibuat CSR-nya mulai dari lingkungan, pendidikan, olahraga bahkan seni dan budaya. Belum banyak perusahaan yang mengeksplorasi budaya untuk program CSR-nya. Kebetulan Djarum menjadi salah satu yang memiliki kepedulian terhadap hal tersebut.
            Dalam program Cultural Initiatives-nya, Djarum membuat kampanye “Indonesia Kaya” yang disosialisaikan secara online maupun offline. Untuk online, dibuatlah website www.IndonesiaKaya.com serta interaksi dengan fans maupun follower melalui facebook IndonesiaKaya dan twitter @IndonesiaKaya.
            Sedangkan untuk kegiatan offline, secara berkesinambungan Djarum menjadi sponsor acara-acar yang memiliki kepedulian terhadap seni dan budaya, contohnya pertunjukkan Beta Cinta Nusantara karya Guruh Soekarno Putra dan Modern Library of Indonesia.


Coca Cola: Penyelamatan Lingkungan Sekaligus Perluasan Lapangan Kerja
            Sejak 2008, Coca Cola bekerja sama dengan QuickSilver membuat gerakan Bali Beach Clean Up and Turtle Conservation. Kegiatan ini melibatkan pemuda-pemuda lokal untuk melakukan pembersihan di pantai-pantai di Bali secara reguler demi menjaga keberlangsungan ekosistem laut termasuk melakukan konservasi terhadap penyu. Berikut kutipan di web www.coca-colaamatil.co.id Masyarakat setempat mengatakan bahwa lebih banyak  penyu menetaskan telur mereka di pantai. Hal ini memicu kami untuk mengembangkan fasilitas pembenihan yang dikenal sebagai Kuta Beach Sea Turtle Conservation (KBSTC) ntuk melindungi penyu dan membantu mereka kembali ke habitat alami mereka. Sejak pembangunannya, kami telah melindungi sekitar 7.600 telur penyu”.
            Dengam melibatkan masyarakat setempat, dalam hal ini Coca Cola telah melakukan kegiatan CSR dalam aspek sosial sekaligus lingkungan. Namun dari segi publisitas, program ini sepertinya gaungnya hanya terdengar di Bali saja.

            Simpulan yang bisa disampaikan dalam uraian ini adalah perlunya kesadaran bagi setiap perusahaan bahwa dalam menjalankan usahanya mereka telah mengambil potensi baik dari sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Sehingga perlu dilakukan keseimbangan dengan melaksanakan program CSR dalam lingkup sosial dan lingkungan demi keberlangsungan usaha dan aspek-aspek di sekitar yang mendukung usaha tersebut.


Referensi:
Hendrik Budi Untung, Corporate social responsibility , Sinar Grafika, Jakarta, 2008, hlm 1.
Isa Wahyudi, Busyra Azheri, Corporate Social Responsibility, In-Trans Publishing, Malang, 2008, hlm 35-36.
http://blog.auditor-internal.com/?p=8

Senin, 22 Oktober 2012

For Pleasure Seekers!




Ingin merasa istimewa dan memiliki gaya kelas atas serta mengutamakan kenikmatan hidup (pleasure), itulah karakter yang dijadikan target pasar utama dari es krim Magnum. Tentu sangat sesuai bila es krim yang menganggap dirinya premium ini mengusung tagline: for pleasure seekers yang berarti sesuai bagi pencari kenikmatan hidup sejati.
            Dalam pelaksanaan Integrated Marketing Communication-nya, Magnum terbilang sukses untuk meraih target pasar yang diinginkan. Banyak program yang dijalankan untuk semakin “mendekatkan” Magnum di kalangan pleasure seekers, antara lain: Above The Line meliputi TV Commercial, Billboard, Iklan media cetak; Below The Line meliputi beberapa brand activation dan juga loyalty program. Untuk mengakomodir keinginan pleasure seekers, Magnum juga menyediakan varian rasa dalam produknya. Meski begitu ada beberapa jenis produk yang begitu ditonjolkan promosinya seperti Magnum Gold?! contohnya.
            Mari kita perhatikan “serangan” IMC dari Magnum melalui Above The Line:

TV Commercial & Billboard

“Damn!!” Itulah ungkapan penulis ketika melihat TVC Magnum Gold keluar pertama kali. Menyajikan konsep yang out-of-the-box dengan mengkonsep iklan seperti layaknya sebuah trailer film box office membuat iklan ini mampu mencuri perhatian orang yang melihatnya. Kehadiran TVC Magnum Gold dengan konsep trailer film action ini juga didukung dengan keberadaan billboard yangg hadir di jalan-jalan besar perkotaan dengan menonjolkan Benicio Del Torro serta Caroline Correa sebagai endorser produk ini. Dengan demikian, “as good as GOLD” diupayakan untuk mendoktrin target konsumen tentang value es krim ini melalui TVC juga billboard-nya.

Brand Activation

            Ingatkah Anda dengan iklan pertama Magnum yang bercerita tentang seorang perempuan yang merasa penat di dalam sebuah kereta commuter, namun setelah menyantap es krim Magnum dia merasa suasana menjadi nikmat dan nyaman dan dia diperlakukan layaknya putri bangsawan di istana dengan suasana nan royal? Konsep itulah yang diusung Magnum Cafe sebagai bagian dari brand activation es krim Magnum supaya engagement dengan target konsumennya dapat terjalin lebih erat. Sebab, tujuan utama brand activation memang untuk membuat target konsumen memiliki keterikatan secara emosional dengan brand yang sedang dibangun kegiatan IMC-nya tersebut. Konsep Magnum Cafe yang semi permanen di mall-mall mewah di kota besar membuat pelanggan di kota lain menantri kehadiran Magnum Cafe di kota mereka. Impact yang didapatkan tentu saja adalah word of mouth dan citra for pleasure seekers bagi es krim Magnum semakin kuat.

            Ada pula “Tweet For Gold Invitation” yang diadakan sebagai bentuk brand activation es krim Magnum. Pemanfaatan social media twitter masih dirasa cukup efektif untuk dijadikan sarana utama dalam kegiatan ini. Kemewahan-pun tetap ditawarkan oleh Magnum dalam konsep kegiatan ini yakni mengajak pleasure seekers mendapatkan kesempatkan menonton konser simfoni orkestra bersama Magnum.

Loyalty Program

Pada dasarnya, loyalty program terbilang sesuatu hal yang umum di dalam pelaksanaan IMC, namun Magnum tetap menjalankannya karna bagaimanapun juga, setiap orang masih merasa bangga apabila dianggap pelanggan prioritas.

            Berbagai macam channel (alur promo) yang dijalankan oleh es krim Magnum seperti melalui iklan TV, media cetak, activation dan sebagainya ini menurut penulis telah mampu membuat pleasure seekers merasa semakin di-nyamankan dengan Magnum melalui sebuah gaya hidup yang lux and passionate.